
Sima shao mengajak wang yi dan Sima rui untuk mengobrol sejenak. Setelah mengetahui identitas wang yi yang sebenarnya, setidaknya sebagai kepala negara ia harus menyambutnya secara pribadi.
" Maaf karena tidak memberikan sambutan sebagaimana mestinya. " Suara Sima shao penuh sesal.
" Tidak Yang mulia tolong jangan merasa tidak enak. Sayalah yang bersalah karena datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. " Ucap wang yi.
" Jangan seperti itu. Jika bukan karena putraku yang merahasiakannya. Aku pasti bisa memberikan sambutan untuk mu setidaknya sebuah jamuan sederhana. "
Tekanan darah Sima rui langsung tinggi setelah ayahnya melempar kesalahan padanya.
" Ayah, tahukah kau melempar lumpur pada orang lain itu sebuah tindakan tidak bertanggung jawab dan kekanakan. " Sindir Sima rui.
Mendengar itu Sima shao mencibir. " Lebih kekanakan mana denganmu. Gara-gara saran mu kemarin, ibumu hampir mengusir dan melarang ku tidur dengannya. " Sima rui merasa tertampar dengan pernyataan ayahnya. Ia berdeham mencairkan rasa malunya.
Mengingat istrinya yang marah-marah saat dirinya menyarankan agar jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan asam. Namun yang sima shao dapatkan bukan adegan dimana seorang istri yang patuh dengan ucapan suami, melainkan sang istri yang marah dan mengancamnya tidur di luar. Betapa mengerikannya amarah istrinya, sudah seperti banteng liar yang sulit di kendalikan.
Karena hanya ada mereka bertiga. Sima rui tidak sungkan untuk berbicara pedas pada sang ayah. Begitu pun dengan Sima shao yang seolah melupakan martabat dan harga dirinya sebagai kaisar. Berdebat dengan sang putra tanpa melihat situasi dan kondisi.
Wang yi yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya hanya bisa diam menyamarkan keberadaannya. Berharap keduanya tak sadar bahwa dirinya masih setia menonton perdebatan mereka. Ia sungguh bingung dengan hubungan ayah anak itu.
' Hubungan yang tidak biasa. ' Monolog wang yi dalam hati.
Seorang kasim berlari dengan tergopoh-gopoh. Wajah pias penuh peluh karena cuaca panas membuatnya seolah baru saja mengikuti lari maraton panjang.
" Lapor Yang mulia. " Ucap kasim itu setelah menormalkan napasnya yang tersengal dan jantung yang dag dig dug sejak tadi.
" Ada apa? " Sima shao melihat heran kasim yang berbicara padanya.
" Huang guifei. Huang guifei baru saja pingsan Yang mulia. Tabib istana sudah pergi ke sana untuk memeriksa beliau. "
" Kenapa kau baru mengatakannya! " Sentak Sima shao yang langsung bangkit dan berjalan meninggalkan Sima rui dan wang yi. Sementara kasim liu dengan setia mengekor di belakang Sima shao.
Sedang kasim yang baru saja melapor hanya bisa melongo ketika disalahkan atas apa yang tidak ia mengerti. ' Begitu Huang guifei pingsan Ia langsung berlari untuk melapor. Lalu dimana letak kesalahannya. ' Curahan hati kasim yang menderita.
" Aku akan menemui ibuku, maaf karena tidak bisa menemani mu menjemputnya. " Ujar sima rui.
" Tidak perlu sungkan. Kau sudah banyak membantu. "
Sima rui mengangguk. Lalu kembali bersuara. " Dia akan menemani mu ke biro penyidik. " Tunjuk salah satu kasim.
" Jangan salah paham. Aku hanya tak ingin kau tersesat jika berjalan sendiri. " ucap sima rui menjelaskan begitu melihat wajah ragu wang yi.
" Baiklah. Sekali lagi terima kasih atas bantuan mu. Dan semoga Huang guifei baik-baik saja. " Sima rui mengangguk sebagai tanggapan. " Terima kasih. "
**********
" Apa yang terjadi? " Tanya Sima rui begitu tiba di istana Huang guifei.
Namun bukan wajah panik sang ayah yang di lihatnya. Justru ayahnya yang sedang tertawa bahagia.
" Hahaha rui er kemarilah. Akhirnya apa yang sudah ku tunggu-tunggu selama ini akhirnya datang juga. " Ucap sima shao di tengah gelak tawanya.
" Apa maksud ayah? " Sima rui masih tak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh ayahnya.
__ADS_1
Sima shao masih tertawa, ia bahkan memeluk sang istri yang hanya bisa menggeleng melihat tingkah suaminya.
" Ibu mu sedang hamil. Kau akan menjadi seorang kakak. " Sima shao mengatakan dengan perasaan puas.
" Apa yang aneh dengan itu. Bukankah aku memang sudah menjadi seorang kakak. " Sima rui menjawab dengan datar. Sepertinya tidak memperhatikan kalimat sebelum kata kakak.
" Bajingan satu ini. Adik perempuan mu ini akan segera lahir. Kau seharusnya senang. Bukan berwajah datar seperti itu. Ish, kau akan membuat pengaruh buruk untuk putri ku. Jangan sampai sifat jelek mu mempengaruhinya. "
Sima rui mengerutkan keningnya. Telinganya yang menangkap kata putri, lalu melihat sang ayah yang mengelus lembut perut ibunya akhirnya mencerahkan teka teki yang tidak silang itu.
' Ibu... hamil. ' Dua kata yang akhirnya muncul di kepala Sima rui.
Setelah kata itu muncul bukannya wajah bahagia yang Sima rui tampilkan. Wajah pria itu justru semakin tertekuk. Wajahnya cemberut membuatnya terlihat semakin dingin. Ia menatap sang ayah bergantian dengan ibunya.
' Aku bahkan kalah perkasa dengan ayah ku yang sudah tua. ' Pikirnya sembari melihat area bawah perutnya.
Perasaan kesal itu dibawa sima rui hingga dirinya pulang. Selama perjalanan ia memikirkan mengenai kehamilan ibunya. Barulah ia tersadar bahwa sampai saat ini ia dan ziyan belum memiliki kabar bahagia itu. Alih-alih menyalahkan wanita yang biasa para pria lakukan jika istri mereka tidak kunjung hamil. Sima rui justru menyalahkan dirinya sendiri.
' Apakah kemampuan ku tidak lebih baik dari ayah? Apa aku kurang membuat istri ku puas? atau aku yang kurang sehat? sepertinya aku harus minum penambah stamina lagi setelah ini. ' Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak Sima rui. Namun sepertinya inisiatif terakhir mengenai penambah stamina akan menjadi penolakan pertama yang dilakukan oleh ziyan. Mengingat tanpa benda itu pun, sima rui sudah seperti hewan buas saat di ranjang. Tidak bisa di bayangkan jika pria itu nekat meminum benda laknat itu.
" Dimana istriku? " Tanya Sima rui pada kepala pelayan yang menyambung kepulangannya.
" Wangfei ada di gazebo samping kolam Yang mulia. "
Sima rui bergegas menyusul istrinya. Ia melihat lucy yang masih setia menemani ziyan.
" Kau sudah pulang? " Tanya ziyan begitu melihat sosok tampan, tinggi, besar yang berjalan ke arahnya.
" Ehem! " Lucy berdeham membuat pasangan suami istri itu tersadar jika ada orang lain bersama mereka. Ziyan langsung melepaskan pelukan Sima rui. Wajahnya merah karena malu.
" Silakan kalian lanjutan. " Lucy berbicara menyembunyikan rasa canggungnya. " Karena suami mu sudah pulang. Maka aku juga harus kembali. Kabari bibi jika butuh sesuatu. "
" Iya. Pasti bi. "
Lucy kemudian beralih melihat Sima rui. " Dan kau. Jaga istri mu baik-baik. Bermainlah dengan lembut. Cukup beberapa kali jangan terlalu sering. Oke. "
Setelah mengatakan petuahnya, lucy pergi meninggalkan pasangan suami istri itu. Sima rui masih tidak mengerti maksud ucapan lucy.
Sima rui menyesap teh yang sudah di tuang oleh ziyan. Kemudian membuang napas kasar.
" Keluarga kita akan mendapatkan satu anggota keluarga baru. " Ujar sima rui pada sang istri.
Ziyan tercengang. " Bagaimana kau tahu? aku bahkan belum mengatakannya. " Ia pikir sima rui sedang membahas perihal kehamilannya.
Hah?
' Kenapa juga istrinya yang harus mengatakan padanya. Apa dia sudah mengetahui tentang kehamilan ibu'. Sima rui bergumam dalam hati.
" Tentu saja aku tahu, ayah raja tadi yang mengatakannya. "
Ziyan semakin tidak mengerti. " Ayah raja? " ziyan mengulang pertanyaannya. Dan Sima rui mengangguk.
" Bagaimana ayah raja tahu kalau aku hamil. " Gumam ziyan pelan namun masih bisa di dengar oleh Sima rui.
__ADS_1
" Kenapa heran? Tentu saja ayah raja tahu kalau kau hamil. " Ucap Sima rui tanpa sadar. Namun sedetik kemudian cangkir di tangannya terlepas. Tubuh pria itu membeku. Reaksi sama yang ziyan tunjukan saat lucy memeriksanya.
Sima rui menatap perut ziyan yang masih rata. Dengan tangan bergetar ia menyentuhnya. Mata yang selalu terlihat tajam dan dingin kini seperti kaca yang kapan saja bisa retak dan mengalirkan air asin. Sungguh pemandangan yang tidak pernah ia lihat dari sosok Sima rui.
" Apakah saat ini benar-benar ada anak ku disini? " Lirih nya bertanya pada sang istri.
Ziyan menyentuh tangan Sima rui yang berada di perutnya. " Iya. Ada anak kita di sini. Aku hamil suami ku. "
Perasaan haru Menyelimuti keduanya. Sima rui langsung menarik ziyan ke dalam pelukannya. Menenggelamkan wajahnya di leher sang istri.
" Terima kasih. Terima kasih karena sudah mengandung anak kita. " Suara Sima rui terdengar serak. Ziyan bisa merasakan lehernya yang basah. Melihat suaminya begitu bahagia membuat ziyan merasakan perasaan yang sama. Ia beruntung bisa bertemu dan menjadi bagian dari hidup sima rui.
" Jadi ibu juga sedang hamil! " Ziyan terkejut kala mendengar kabar yang baru saja di sampaikan oleh suaminya.
Keduanya kini sedang berendam menikmati nyamannya air panas di kolam jacuzzi.
" Benar. Mungkin hari kelahiran mereka tidak akan beda jauh. " Ucap Sima rui sembari menggosok punggung ziyan. Sayangnya niat awal yang ingin sekedar menggosok punggung itu merembet jadi menggosok tubuh yang lain.
" Apa yang kau lakukan? " Tanya ziyan menggoda. Ia tahu suaminya sedang mode on.
" Menggosok punggung. "
Ziyan tergelak. " Orang bodoh mana yang akan percaya. Jika melihat yang kau sentuh justru kedua bukit kembar ku. "
Mendengar ucapan istrinya, bukannya malu, sima rui justru semakin gencar melakukan aksinya.
" Saat mendengar kabar kehamilan ibu tadi. Aku sempat merasa kecewa. Bukan karena aku yang gagal menjadi satu-satunya putranya. Melainkan karena aku merasa kalah perkasa dengan ayah. "
Kali ini ziyan terbahak mendengar curhatan suaminya. Bagaimana bisa menghamili istri menjadi ajang adu perkasa.
" Karena itu aku sempat berpikir akan mengkonsumsi penambah stamina. Mungkin dengan itu kau bisa cepat hamil. " Jujur Sima rui yang nyatanya berhasil membuat ziyan bungkam seketika. Ia menatap tajam suaminya seolah bisa membunuh siapapun yang dilihatnya.
" Kalau kau berani meminum benda terkutuk itu. Silakan kau tidur di luar. Aku tak sanggup melayani nafsu buas mu itu. " Pekik ziyan meluncurkan ancamannya. Bagaimana bisa suaminya berpikir meminum benda itu. Sementara tanpa minum pun ia bisa bertahan hingga subuh. Ziyan tidak bisa membayangkan seremuk apa tubuhnya jika suaminya meminum benda itu. Memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri.
Sima rui terkekeh melihat reaksi istrinya. " Tidak akan. Aku tak mungkin melakukan tindakan yang membuatku terusir dan tak bisa tidur memeluk istri ku. "
" Baguslah kalau kau paham. "
" Jadi, bolehkah malam ini kita melakukannya? " Sima rui mulai mencumbui leher dan turun ke punggung putih istrinya.
" Aku pikir boleh. Bukankah tadi bibi sudah mengatakannya. " Mendengar ucapan ziyan, Sima rui mengingat ucapan lucy sebelum pergi tadi.
Seketika terbitlah wajah berbinar Sima rui. Ia langsung mengangkat sang istri dan membawanya ke tempat peraduan mereka.
Ziyan menyentuh wajah tampan suaminya. Dibelainya lembut, meraba setiap inci wajahnya. Mengagumi setiap pahatan sempurna yang mampu menggetarkan hati setiap wanita yang melihatnya.
" Kau sangat tampan. " Puji ziyan. Sima rui tersenyum mendengar pujian sang istri.
" Dan kau wanita paling cantik bagi ku. Terima kasih karena telah hadir dalam hidup ku. " Sima rui mengecup lembut kedua mata ziyan.
Malam itu Sima rui begitu lembut memperlakukan istrinya. Seolah ziyan benda pecah belah yang akan hancur begitu ia melakukannya dengan kasar. Namun meski melakukannya dengan lembut dan tidak kasar. Tentu hal itu tidak mengurangi jumlah ronde yang harus ziyan lewati. Tetap saja ia harus menyelesaikannya hampir menjelang fajar.
********
__ADS_1