Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 114


__ADS_3

Kasim liu dengan setia mengikuti ke mana pun Sima shao berjalan. Proses eksekusi Hong dawei telah selesai dan untuk mayatnya, karena pihak keluarga memutuskan untuk tak mengambilnya. Maka Sima shao menguburnya di pemakaman umum para narapidana.


Sima shao berjalan menuju taman belakang, tempat dimana ia selalu ingin menenangkan pikiran nya. Namun saat di tengah jalan, tiba- tiba Sima shao berhenti. Para pelayan yang mengikuti Sima shao pun ikut berhenti.


" Ada apa yang mulia? " tanya kasim liu. Namun sebelum sang kaisar menjawab. Ia terkejut melihat tuannya itu terbatuk hingga mengeluarkan darah segar. Kasim liu panik dan segera memerintahkan salah satu pelayan untuk segera memanggil tabib.


" Cepat, panggil tabib. Mari yang mulia kita kembali terlebih dahulu. " Ucap kasim liu yang begitu panik. Begitu pun para pelayan yang mengikuti mereka.


" Hentikan. Aku tidak butuh tabib. Ini hanya batuk biasa. " ucap Sima shao sembari mengusap sisa darah segar di bibirnya dengan sapu tangannya.


" Tapi yang mulia... " kasim liu ragu, haruskah ia menuruti perintah rajanya atau terpaksa melawan demi kesehatan sang tuan.


" Apa kau mau melawan perintah? "


" Tidak Yang mulia. Hamba tidak berani melawan Yang mulia. " ucap kasim liu, kepalanya masih menunduk penuh sesal.


Setibanya di kolam teratai, Sima shao segera menyuruh pelayan yang mengikutinya agar tak melayani. Mereka di tinggalkan cukup jauh dari posisi Sima shao duduk. Hanya ada kasim liu yang masih setia berada di sampingnya.


" Bagaimana tadi? " tanya Sima shao.


" Akting anda sangat bagus yang mulia. Mata-mata itu pasti akan segera melaporkannya. " jawab kasim liu. Ia sendiri tidak akan percaya jika batuk tersebut hanya sebuah sandiwara jika tidak di beritahu sebelumnya.


" Akting mu juga lumayan kasim liu. Kau bisa menjadi pemain opera jika bosan menjadi kasim. " Sima shao tertawa namun tetap diselingi dengan batuk pura-puranya.


" Yang mulia tolong berhenti berakting batuk. Hamba takut anda akan benar-benar terkena tbc jika terus seperti itu. " Ucap kasim liu lalu menghela napas.


" Para pelayan masih melihat ke arah sini. Jika tiba-tiba aku merasa sehat. Bukankah akan sia-sia aktingku sebelumnya. " kasim liu mengangguk paham.


" Terlalu banyak duri di istana yang harus ku singkirkan. Aku ingin semuanya cepat berakhir. " lanjut sima shao.


" Karena masalah hong dawei sudah selesai. Selanjutnya anda akan di sibukkan oleh kunjungan utusan negara Wei Yang mulia. " ucap kasim liu mengingatkan.


Negara Wei adalah negara asal permaisuri. Karena itu kasim liu tidak ingin terjadi kesalahan saat penyambutan nanti.

__ADS_1


" Kau benar, hampir saja aku melupakannya. Kunjungan ini bisa menjadi bencana jika sampai terjadi sesuatu. Setelah ini panggil pangeran pertama agar menghadap padaku. "


" Baik Yang mulia akan saya laksanakan. "


********


Istana permaisuri.


" Akhirnya kau datang juga Yaner. Ada yang ingin ibu bicarakan denganmu. " ucap permaisuri pada putra mahkota.


" Apakah yang ibu ingin bicarakan perihal utusan Kerajaan Wei. " Tanya Sima Yan.


" Benar. Ibu baru saja mendapatkan kabar, bahwa putri juga akan ikut dalam rombongan ini. Kemungkinan Yang mulia akan meminta pangeran pertama untuk mengawal mereka. Putri adalah calon istrimu bagaimana pun juga kau harus ikut bersama pangeran pertama untuk menyambut mereka. " Jelas permaisuri.


Sima yan diam sejenak. Kembali di ingatkan tentang pertunangan dengan putri Kerajaan wei, tentu saja membuat Sima yan tak suka. Kenapa sang ibu tak mengerti dirinya sama sekali. Meski perasaan cintanya pada Ziyan tidak akan pernah tersampaikan. Tapi ia ingin tetap menjaga perasaannya tersebut. Jika harus menerima sang putri saat hatinya terpaut wanita lain, ia sungguh tidak bisa.


Tidak ingin terus berdebat, akhirnya Sima yan memutuskan untuk sementara mengalah dan mengikuti kemauan sang ibu. " Akan ku bicarakan pada ayahanda nanti. " Sima yan lalu bangun, " Ibu, aku masih ada urusan, mohon undur diri. "


Tanpa menunggu respon sang ibu. Sima yan pergi begitu saja.


Setibanya di ruang baca raja, langkah Sima yan di hentikan oleh kasim yang berjaga. " Maaf pangeran, Yang mulia raja sedang berbicara dengan pangeran pertama. Saya akan memberitahu kedatangan anda terlebih dahulu. Mohon tunggu sebentar. " Sima yan hanya mengangguk.


Dan tak menunggu lama, kasim tersebut berjalan cepat dan langsung mempersilakan Sima yan masuk.


Sima shao tersenyum menyambut kedatangan putra mahkota.


" Salam ayahanda, kakak. Maaf mengganggu pembicaraan kalian. Aku hanya ingin menyampaikan permintaan ibu pada ayahanda perihal utusan kerajaan wei. " Sima yan menjelaskan maksud kedatangannya.


" Katakan. "


" Ibu ingin saya membantu kakak menyambut mereka saat tiba di perbatasan. " Sima yan beralih menatap sang kakak yang masih setia dengan wajah datarnya.


Sima shao diam tampak berpikir sejenak, lalu detik selanjutnya kembali bicara. " Baiklah. Ku ijinkan kau ikut dengan pangeran pertama menyambut utusan Kerajaan wei, mengingat putri juga akan ikut bersama rombongan, penting bagi kita untuk menjaga keselamatannya. " Kedua pangeran mengangguk setuju.

__ADS_1


' Akhirnya selesai juga. Aku harus secepatnya mengusir kedua bocah ini. ' batin Sima shao. Ia merindukan novel panasnya dan tak sabar ingin segera membacanya.


" Kalian bisa kembali. " ucap Sima shao meminta kedua putranya untuk undur diri. Karena tidak ada hal yang ingin ia bicarakan lagi.


Namun Sima rui tetap diam dan menatap sang ayah.


" Apa ada lagi yang ingin kau bicarakan pangeran pertama. " Sima shao melihat putra pertamanya.


" Benar ayahanda. Aku ingin membahas tentang pertunangan ku. " Sima shao mengangkat kedua alisnya yang penasaran. " Aku ingin ayahanda mempercepat pernikahan ku dengan nona Mo. " Ucap sima rui yang langsung membuat terkejut baik ayahnya maupun Sima yan.


Sima yan memandang sang kakak dengan ekspresi yang sulit di baca. Entah ia harus senang atau sedih. Senang karena sang kakak akan menikah namun sedih karena wanita yang akan di nikahinya adalah wanita yang di cintainya, cinta pertamanya.


" Pangeran pertama, apa kau sadar dengan apa yang kau katakan barusan. " Tanya Sima shao serius.


" Putramu ini sangat sadar ayahanda. Tolong kabulkan permintaan ku ini ayah. "


Sima shao bisa melihat di mata putranya yang penuh dengan keseriusan dan keyakinan. Jika yang mengatakan hal ini putra mahkota. Mungkin ia akan menganggapnya hanya sebuah candaan. Tapi jika itu pangeran pertama, ia yakin putranya tersebut sudah memikirkannya masak-masak.


" Akan ku bicarakan hal ini dengan tuan Mo besok. " jawab Sima shao. Meski ia seorang raja, tapi tetap harus menanyakan pendapat calon besannya yang tak lain sahabatnya juga.


" Terima kasih ayahanda. Saya akan menunggu kabar baiknya. " Sima rui memberi hormat dan langsung meninggalkan sang ayah dan putra mahkota.


' Dasar anak itu. Begitu urusannya selesai langsung pergi begitu saja. ' Batin Sima shao.


" Apakah masih ada yang ingin kau bicarakan putra mahkota? " tanya Sima shao yang berhasil membuyarkan lamunan Sima yan.


" Ti-tidak ayahanda. Kalau begitu saya undur diri. "


Sima shao tentu tahu apa yang di pikirkan oleh putranya, sima yan barusan. Kedua putra nya mencintai wanita yang sama. Beruntung bagi sima rui karena mendapatkannya, namun buntung bagi sima yan yang harus merelakan wanitanya menikah dengan sang kakak.


Kasim liu yang mendengar ******* napas sima shao memberanikan diri bertanya. " Apa ada yang mengganggu anda Yang mulia? "


" Coba kau katakan kasim liu. Menurutmu apakah percintaan kedua putraku itu tidak lebih panas dari novel yang ku baca? "

__ADS_1


Kasim liu yang mendengar pertanyaan rajanya hanya bisa ikut menghela napasnya. ' Bagaimana anda bisa membandingkan putra anda dengan tokoh novel, Yang mulia. ' Batin kasim liu.


__ADS_2