Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 430 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

" Duduklah dengan tenang atau kau akan jatuh dan terluka. " Seolah itu adalah sebuah mantra. Kata-kata Jingu berhasil membuat A Fei patuh.


Gadis itu mengangguk, tidak lagi memberontak dan dengan tenang duduk di depan Jingu yang sedang mengendalikan kuda.


Kedua manusia itu hanyut dalam diam.


Pikiran A Fei kosong, lihatlah ekspresinya seperti orang linglung. Ia berusaha keras mencerna situasi.


Kenapa dia di sini? kenapa dia menolong ku? mungkinkah dia sedang mencoba menipu ku lagi?


Pertanyaan penuh curiga itu terus membayangi pikiran A Fei. Krisis kepercayaannya pada Jingu belum sepenuhnya hilang. Meski ia sudah tahu bahwa Jingu lah yang justru diam-diam menolong kakaknya, A Guang. Tapi tetap ada sisa kekecewaan yang masih tertinggal.


Tak ada yang tahu bahwa itu adalah Jingu. Jubahnya menutup postur pria itu. Membuatnya tak di kenali oleh pasukannya sendiri.


Melihat putri Jin itu mendapatkan pertolongan. Salah satu pasukan Nan langsung melepaskan anak panahnya. Dengan cepat panah itu meluncur dan tepat menancap di punggung Jingu.


" Ughhh.. " Rintih Jingu tanpa sadar ketika benda tajam itu menusuk punggungnya.


" Kenapa? " Meski samar, A Fei bisa mendengar suara tertahan pria di belakangnya.


" Jangan menoleh. Aku tidak apa-apa. Jangan pedulikan apapun. Kita harus segera pergi. " Suara berat Jingu terdengar di telinga A Fei.


Kuda di pacu secepat mungkin. Jubah Jingu berkibar sepanjang jalan dengan panah yang masih menancap kuat di punggungnya. A Fei masih tak menyadari, sementara keringat di kening Jingu semakin deras akibat menahan sakit. Darah pun terus keluar membuat kesadaran pria itu terus berkurang sedikit demi sedikit.


Pandangan Jingu kini semakin tidak jelas. Sekuat tenaga, ia masih berusaha bertahan.


' Tidak. Aku tidak boleh jatuh sekarang. A Fei masih belum aman. ' Tekadnya.


Namun itu tak bertahan lama hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.


" Hei apa yang kau lakukan! jangan coba-coba untuk memanfaatkan kesempatan. " Pekik A Fei ketika kepala Jingu bersandar di pundaknya. Bukan karena marah, tapi ia sangat malu karena posisi keduanya yang begitu intim.


Jantung A Fei terus berdegup kencang karena hal ini. Wajahnya juga sudah bersemu merah sangat pas dengan warna udang rebus.


" Hei! " A Fei kembali berteriak karena tak mendapatkan respon. Menyadari ada yang salah, gadis itu segera menghentikan kudanya.


Ia berbalik dan tubuh tinggi pria itu langsung lemas hampir saja terjatuh. Beruntung A Fei segera menangkapnya.


" Jingu. Hei sadarlah! "

__ADS_1


A Fei mengernyit saat merasakan tangannya basah. Matanya terbelalak begitu melihat telapak tangannya berwarna merah.


Tangan A Fei gemetar.


Darah!


Sadar bahwa ada anak panah di sana.


Dia! sejak kapan? mungkinkah...teringat saat ia mendengar rintihan Jingu diawal tadi.


" Jadi, sejak tadi ia bertahan dengan keadaan ini. " Gumamnya tak percaya.


" Kenapa kau sampai melakukan semua ini? " Pertanyaan yang secara tak sengaja keluar dari mulutnya.


Mata A Fei tiba-tiba terasa panas, ingin sekali dirinya menangis. Tapi ia sadar bukan saatnya untuk menangis. Ia harus menemukan tempat dan merawat luka Jingu terlebih dulu.


Jadi A Fei kembali memacu kudanya lebih perlahan. Tak ingin jika Jingu mengalami lebih banyak guncangan.


Ketakutan kini mulai dirasakan gadis itu saat melihat wajah Jingu yang semakin pucat. Terlebih luka di punggungnya terus mengeluarkan darah. A Fei dengan panik mencoba membangunkan Jingu, sayangnya pria itu tetap tak sadarkan diri.


A Fei mengedarkan pandangannya, sialnya tak ada tempat untuk mereka bersembunyi.


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya A Fei menemukan sebuah pohon tua dengan batang dan akar besar.


Ia menyenderkan tubuh Jingu di batang tersebut baru kemudian membuat api unggun. Beruntung sebelumnya Jingu sudah di berikan pil untuk menghentikan pendarahan jadi kondisinya tidak semakin buruk.


Malam tiba. Sekeliling berubah gelap gulita.


Dengan sapu tangannya, A Fei mengusap sisa keringat di kening Jingu. Pria itu demam, tubuhnya menggigil bahkan bibirnya sampai gemetar karena kedinginan.


" Dingin.. tolong. " Rintihnya.


A Fei tak tega sebenarnya. Tapi dia juga bingung tidak ada selimut atau kain lebih untuk ia jadikan selimut. Nyatanya, panas api kecilnya tak mampu memberikan rasa hangat.


Jika ia biarkan dan hanya diam, pria di depannya bisa mati. Apa yang harus ia lakukan? A Fei berada dalam dilema.


A Fei melihat pakaiannya. Sebuah ide muncul tapi ia langsung menggeleng dan menepis pikiran tersebut.


" Tidak bisa. Meski janda, aku tetap seorang wanita. Aku memiliki harga diri. "

__ADS_1


" Tapi dia terluka karena menolong ku. Apa aku tega membuatnya mati karena kedinginan? "


" Tentu saja tidak, tapi apakah tidak ada cara lain. "


Perdebatan sengit terjadi di pikiran A Fei. Seolah hati dan otaknya tengah berseteru.


Akhirnya,


Kain di tubuh A Fei satu persatu akhirnya terlepas, hanya pakaian dalam wanita itu yang masih menempel di tubuhnya. Ia juga melepas pakaian Jingu dan hanya menyisakan celana panjang pria itu.


Setelah pergulatan hati dan pikirannya yang sangat panjang, akhirnya ia memilih mengikuti kata hati nuraninya.


Jadi ia akan menggunakan panas tubuhnya untuk menghangatkannya.


" Anggap saja aku sedang membayar hutang. Jika bukan karena melindungi ku. Kau tidak akan berada dalam situasi seperti ini. "


Meski A Fei berbicara seolah dirinya melakukannya dengan terpaksa. Tapi percayalah, jantungnya terus berdegup kencang. Jujur ini sentuhan terjauh dirinya dengan seorang pria.


Ia mulai mendekat dan memeluk Jingu. Jantungnya yang bergerak cepat juga secara tidak langsung memompa darah lebih banyak mengakibatkan suhu tubuh meningkat.


Jingu seolah menemukan tempat ternyaman, ia menelusup wajahnya di dada A Fei.


' Kenapa aku merasa pria ini sedang mencoba memanfaatkan ku. ' Batin A Fei.


Pikiran itu segera ia tepis karena tahu bahwa Jingu sedang terluka dan tak sadarkan diri.


Sepanjang malam dua anak manusia itu tidur saling berpelukan, saling memberikan kehangatan.


Hingga pagi tiba, Jingu yang merasa tubuhnya begitu sakit apa lagi pada luka panah kemarin, sedikit menggeliat. Namun matanya hampir melompat keluar ketika melihat pemandangan dua bukit putih dengan puncak berwana merah muda terpampang jelas di depannya.


Pikiran Jingu mendadak kosong.


Detik selanjutnya ia yang paham pemandangan indah apa di depannya saat ini. Berusaha keras menelan ludahnya kasar. Benda kenyal A Fei tersebut berhasil membuat sesuatu di bawah bangkit. Hasratnya tiba-tiba terpancing.


' Jingu bodoh! seharusnya kau memalingkan wajah mu. Tidak seharusnya kau melihat ini. Tapi amat disayangkan jika aku tak melihatnya. Terlebih ini milik wanita kecintaannya. ' Sungguh kotor isi pikiran Jingu.


Karena terlalu fokus memperhatikan, Jingu tak menyadari bahwa saat ini A Fei sudah bangun.


Sungguh, pagi ini suasana hati A Fei benar-benar langsung jatuh. Ia tak menyangka hal pertama yang ia lihat begitu membuka mata adalah Jingu yang sedang menatap lapar dadanya.

__ADS_1


__ADS_2