
Pria itu Jinfu. Ia menoleh dan tersenyum hangat pada A Fei, sungguh manis sekali. Beberapa wanita muda yang melihat senyum itu pun ikut terpana.
" Kau disini juga? " Tanya A Fei tidak menyembunyikan rasa antusiasnya.
Jinfu mengangguk, " Putra mahkota meminta ku kesini untuk membantu. Karena itu, mohon bantuannya, putri. Aku harap kedatangan ku bisa membantu mu. "
" Eh.. jadi orang itu kau, kak Jinfu. Aku sempat berpikir bahwa orang yang kakak ku kirim untuk membantu ku adalah seorang pejabat pemerintah tua dengan lingkaran perut gendut. Sama sekali tak menduga bahwa itu kau. "
Jinfu tertawa mendengarnya. " Apakah kau kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang kau pikirkan putri? "
A Fei menggeleng keras. " Aku justru bersyukur. Setidaknya penampilan mu tidak membuat mataku tercemar. Dan yang terpenting aku bisa bekerja tanpa harus merasa canggung. "
Jinfu tersipu malu ketika A Fei membahas penampilannya. Berbeda dengan Jingu yang memutar matanya kesal.
' Dia hanya pria lemah tanpa kemampuan beladiri. Wajahnya bahkan pucat seperti wanita. Apanya yang bagus dari hal itu. Lihatlah bahkan otot tangan kakinya tak sekencang milikku. Aku yakin perutnya tak memiliki kotakan otot yang terpahat rapi seperti milikku. ' Dalam hati, Jingu mulai membuat daftar kelemahan Jinfu. Ia yakin sekali bahwa dirinya jauh lebih baik dari pria pesolek yang hanya bisa belajar dan menulis itu.
Jingu melirik ketika menyadari tatapan tak bersahabat Jingu. Ia tahu hubungannya dengan pengawal A Fei itu bisa dibilang kurang baik. Selalu ada aura permusuhan yang di pancarkan olehnya.
Dan seperti sekarang, entah kenapa Jinfu yang biasanya abai kini memiliki pikiran sebaliknya.
__ADS_1
" Pengawal Jingu, sudah lama kita tidak bertemu. Semoga kita berdua bisa berhubungan baik kedepannya. Aku jamin keberadaan ku di samping putri tidak akan mengganggu mu. "
' Justru kau lah pengganggu itu. ' Geram Jingu dalam hati.
" Aku tidak tahu bahwa tuan muda Jiang mengerti tentang pertanian juga. Aku pikir kau hanya tahu tentang membaca dan menulis. " Jelas sekali ucapan Jingu merupakan kalimat sarkas. Namun alih-alih marah Jinfu justru tersenyum menanggapinya.
" Aku memang tak mengerti apapun mengenai pertanian. Kemampuan ku mungkin sangat kurang jika dibandingkan dengan Putri. Tapi aku sudah berjanji dengan putra mahkota untuk membantunya. Karena itu aku akan mengabdikan diriku sebagai asisten putri, dengan begitu ia bisa menggunakan tubuh ku sesuka hati. "
' Menggunakan tubuh? ' tampaknya A Fei salah menangkap poin utama percakapannya dengan Jinfu. Alih-alih ia fokus pada tujuan Jinfu menjadi asisten, ia justru fokus pada kalimat terakhir.
A Fei yang salah persepsi dengan kalimat terakhir Jinfu langsung bersemu merah. Kalimat itu terdengar ambigu dan membuat siapapun akan langsung berpikir kotor.
" Kak Jinfu, kau tidak perlu menjadi asisten ku. Kau begitu pintar dan aku merasa tak pantas menjadikan mu sebagai asisten ku. Itu pantas menurut ku. " A Fei segera menyela untuk menyelamatkan suasana yang menurutnya sudah berubah panas. Namun ia salah perhitungan. Pujian A Fei pada Jinfu justru semakin membuat api cemburu Jingu semakin berkobar.
" Putri kenapa kau begitu merendah. Tolong jangan menolak ku. Jika kau menolak ku, putra mahkota pasti akan menghajar ku karena tidak membantu mu. "
Melihat tatapan memohon Jinfu membuat A Fei akhirnya luluh. Jadi ia mengangguk sebagai persetujuan.
Diam-diam Jingu mengepalkan tangannya. Ia bersumpah akan membuat perhitungan kecil pada tuan muda dari keluarga Jiang itu.
__ADS_1
*****
Selama satu minggu penuh A Fei dan Jinfu mampu bekerja sama dengan baik. Mulai dari produksi dan penyaluran obat pembasmi hama, keduanya menyelesaikannya begitu rapi, meski dalam prosesnya ada beberapa kendala namun itu mampu diselesaikan dengan mudah oleh keduanya.
Membuat interaksi mereka dimata para warga menjadi sebuah pemandangan romantis seolah keduanya adalah pasangan kekasih yang saling melengkapi.
" Pasangan kekasih apa? dia hanya terlihat seperti anak ayam yang terus menempel dengan induknya. " Gumam Jingu saat mendengar rumor tersebut.
Telinganya bahkan sampai merah karena terlalu panas mendengar bisikan-bisikan yang seolah mendorong A Fei dan Jinfu untuk menjadi pasangan sesungguhnya.
Xiao Er yang berada di samping Jingu masih bisa mendengar gerutuan pria itu. Ia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan Jingu.
" Tuan Jiang adalah asisten putri, hal yang wajar untuk selalu berada di sampingnya. Kenapa kau menghinanya dan mengatakan ia seperti anak ayam. Apa kah kau tidak berkaca? "
Jingu menoleh untuk menemukan Xiao Er yang mengatakan kalimat pedas itu dengan ekspresi acuh tak acuh.
" Aku pengawal putri tentu saja aku harus selalu berada di sampingnya. Terlebih setelah insiden terakhir. Aku harus selalu siaga bagaimana pun juga. "
Xiao Er memutar mola matanya. Berdebat dengan Jingu sama sekali tidak akan pernah selesai. Pria itu mengkritik orang lain namun sama sekali tak melihat dirinya sendiri.
__ADS_1
Cinta benar-bebar membuat orang buta. Mungkin A Fei tidak bisa melihat perasaan dua pria dengan nama hampir sama itu. Tapi Xiao Er tentu saja berbeda. Ia bisa melihat persaingan kedua pria itu sejak awal pertemuan mereka.