Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 424 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

Di kekaisaran Jin,


" Bagaimana persiapan para prajurit kita? "


Saat ini Sima Rui sedang membahas mengenai persiapan perang melawan Kekaisaran Nan bersama putranya, Sima Feng.


" Semuanya sudah sesuai rencana, ayah. Kita hanya perlu memberikan perintah menyerang. " Kata Sima Feng melaporkan.


Sima Rui mengangguk setuju. " Lakukan sesuai rencana. Kita akan menyerang dalam tiga hari. "


Begitu katanya, terlihat seolah tanpa beban ketika Kaisar Jin itu memberitahu kapan waktu dimulainya peperangan.


" Sekarang kau bisa pergi. " Katanya lagi mengusir sang Putra.


Sima Feng masih bergeming, sama sekali tidak beranjak pergi.


" Ada apa? " Tanya Sima Rui heran dengan wajah lempeng.


" ... Ayah, aku sudah putuskan untuk ikut dalam peperangan kali ini. " Kata Sima Feng memberitahu. Sedikit ragu, mengingat sebelumnya sang ayah melarangnya ikut dalam pertempuran kali ini.


Sima Rui hanya menatap putranya tanpa ingin membuka suaranya. Masih menunggu apa lagi yang akan dikatakannya. Sorot matanya menatap lurus seolah menuntut A Feng untuk segera menjelaskan.


" Perang ini untuk mendapatkan keadilan saudara ku. Sudah sepatutnya aku ikut serta. Jadi.. "


" Kalau begitu lakukan saja. " Potong Sima Rui.


" Apa? " A Feng mencoba memastikan, berharap apa yang di dengarnya tidak salah.


" Ku bilang lakukan saja. Ayah ijinkan kau ikut dalam perang kali ini. Jika seandainya nanti kau gugur, aku bisa masih memiliki Sima Yi sebagai pewaris tahta selanjutnya. "


Wajahnya Sima Feng jatuh, " ayah, kenapa aku merasa kau seolah sedang menyumpahi ku mati. " Gerutu Sima Feng. Meski begitu ia senang karena sang ayah memberikan ijin tanpa harus melalui drama panjang.

__ADS_1


A Fei yang mengetahui sang kakak akan ikut berperang langsung pergi menemuinya. Ia segera menuju istana putra mahkota.


" A Fei? ada apa? " Liu Ru menemui sang adik ipar yang saat ini sedang menikmati teh dan cemilan di ruang tunggu istananya.


" Kakak ipar? aku ingin bertemu dengan A Feng. " Kata A Fei memberitahu setelah menelan satu buah roti bulan di mulutnya.


" Pangeran sedang bertemu ayah raja, seperti untuk membahas mengenai kepergiannya ke medan perang nanti. "


" Kau tidak melarangnya, kakak ipar? bukankah sebentar lagi kau akan melahirkan? "


Liu Ru tersenyum. " Untuk apa aku melarangnya, khawatir? bagaimana kemampuannya kau pasti tahu. Lagipula aku mengijinkannya bukan tanpa alasan. Aku tidak ingin dia hidup dalam penyesalan karena tidak bisa membalas kematian pangeran pertama. Mengenai kelahiran, ada banyak tabib wanita di sini. Aku lebih membutuhkan mereka ketimbang kakak mu. "


" Apa kau khawatir dengannya? " tambahnya, Selidik Liu Ru menatap sang Adik ipar yang masih setia menikmati cemilannya.


A Fei menggaruk keningnya lalu tersenyum canggung. " Sebenarnya bukan karena khawatir. Aku ingin A Feng mengajak ku ikut ke medan perang. "


Kedua mata Liu Ru hampir saja melompat keluar. " Kau ingin ke sana? " Ulangnya dengan suara sedikit keras membuat A Fei yang tengah mengunyah terkejut dan tersedak.


" Kau mengejutkan ku, kakak ipar. "


"Bukan kau yang terkejut. Justru akulah yang kau buat terkejut. Untuk apa kau ikut ke medan perang? astaga A Fei, apa kau tahu bagaimana berbahayanya di sana? Meski kakak mu ikut ke sana tapi tidak mungkin untuk selalu menjaga mu. " Cecar Liu Ru.


Kesabaran wanita itu sayangnya tidak sebesar perutnya saat hamil. Maaf, dia tidak sesabar itu.


" Aku tahu itu kakak ipar. Aku ke sana juga bukan datang sebagai prajurit melainkan tenaga medis. Aku sadar diri kak, meski aku tidak sehebat A Feng tapi aku lebih hebat dari prajurit biasa. Itu bisa menjadi bekal aku di sana untuk melindungi diri. " Seperti biasanya, A Fei akan memuji dirinya juga.


" Aku juga ingin membalas kematian Kakak pertama. Karena itu aku juga ingin pergi ke sana. " Gumam A Fei. Kali ini suaranya terdengar putus asa, Liu Ru memahami itu.


' Tidak heran mereka saudara kembar bahkan keinginan dan jalan pikiran mereka pun sama. ' Monolog Liu Ru,


Liu Ru membuang napas besar sebelum dia berbicara lagi. "Aku akan coba bicara dengan pangeran. Aku harap apapun yang akan ia katakan, kau bisa menerimanya. "

__ADS_1


A Fei mengangguk dengan senyum cerah. " Tentu. Aku yakin dia akan mengijinkannya kalau dia tidak mengijinkannya maka paksa dia sampai memberikan ijinnya. "


Liu Ru merasa dejavu, ' kenapa aku merasa pernah mendengar kalimat ini. '


Sementara di tempat lain.


Jingu masih belum sepenuhnya pulih, namun sekelompok prajurit datang menemuinya.


" Apa lagi yang di perintahkan oleh ayah ku? " Jingu menatap malas para prajurit ayahnya.


" Yang mulia meminta anda kembali dan memimpin perang dengan Kekaisaran Jin. "


Jingu menoleh menatap mereka dengan tatapan mencemooh. " Apa kalian sekarang kekurangan komandan hingga meminta ku yang hanya seorang pangeran terbuang untuk ikut memimpin perang? "


Para prajurit itu diam menunduk. Sebenarnya bukan mereka yang menghina Jingu selama ini. Tapi bagi Jingu semua orang di istana sama buruknya, kecuali Putra mahkota dan Permaisuri yang merawatnya selama ini.


Jingu tersenyum mengejek. " Sudahlah. Aku akan ikut dengan kalian. "


Penolakan sekeras apapun akan percuma jadi Jingu tak ingin membuang waktu untuk berdebat terlebih dengan para prajurit yang hanya menjalankan perintah ayahnya.


Meski luka di dadanya belum kering sempurna, tapi sekilas Jingu terlihat baik-baik saja. Membuat siapa saja tidak akan menyadari bahwa pria ini sebenarnya sedang terluka.


" Pangeran, apa kau yakin dengan keputusan mu ini? bagaimana pun juga luka mu masih.. "


" Aku tidak punya pilihan nenek Wu. Ini bukan keputusan tapi perintah dan sebagai bidak, aku harus mematuhi apapun perintah tuannya. " Sela Jingu, ia berkata dengan perasaan pahit.


Nenek wu yang mendengarnya tidak bisa berkata. Ingin rasanya ia mengucapkan kata-kata penghibur tapi itu hanya akan berakhir sebagai untaian kata manis tanpa bisa meredakan kesepian dalam diri pria itu.


" Aku pergi nenek Wu. Jaga diri mu baik-baik. " Begitu kata Jingu sebelum dia akhirnya pergi.


Pria itu tidak akan menduga bahwa peperangan ini akan mempertemukannya dengan A Fei dan juga A Feng namun dalam situasi sebagai lawan.

__ADS_1


__ADS_2