Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 265 Side story ( A Guang story)


__ADS_3

" Kenapa kau menekuk wajah mu bi? "


A Guang yang baru saja tiba di kelas langsung berkomentar kala melihat wajah masam A Hua.


" Pagi yang seharusnya indah berubah suram karena seseorang. "


Tidak perlu dijelaskan, A Guang tahu siapa orang yang di maksud A Hua.


" Apa tuan muda Jiang masih mengganggu mu? " Tanya A Guang dan A Hua mengangguk.


Entah A Guang harus tertawa atau ikut bersimpati dengan situasi bibinya. Semenjak pernyataan Jinfu terakhir kali, sudah lewat setengah tahun dan Jinfu masih terus berusaha mendekati A Hua. Sayangnya usaha kerasnya tersebut selalu berakhir dengan penolakan.


" Aku cukup terkesan dengan usahanya mencari perhatian mu bi. " A Guang terkekeh. Namun segera menutup mulutnya saat A Hua menatapnya dengan tajam. " ... Maaf. " Lirihnya.


A Guang duduk di depan meja A Hua dengan posisi duduk menghadap belakang hingga keduanya bisa berhadapan. Mereka hanya dipisahkan oleh meja A Hua.


" Kau terkesan dengan orang lain namun hubungan mu sendiri hanya berjalan di tempat tanpa ada kemajuan. " A Hua mendekatkan kepala lalu berbisik." Sungguh aku merasa kasihan dengan Na li. "


A Guang mengerutkan kening. " Tidak ada hubungan apapun di antara kami. Aku dan dia hanya sebatas teman. Aku nyaman dengannya namun tidak sampai membuat hubungan kami berdua seperti apa yang kau harapkan. Wanita seperti dirinya tidak cocok dengan ku. " Ada perasaan aneh saat A Guang mengatakannya. Namun ia memilih abai dan menganggap bahwa semuanya baik-baik saja.


Na li yang baru saja masuk ke kelas, hendak bergabung dengan A Hua. Namun ia secara tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Tepat saat A Guang mulai berkata bahwa mereka berdua tidak ada dan tidak mungkin memiliki hubungan. Na li menghentikan langkahnya.


Wanita seperti dirinya tidak cocok dengan ku. Kata-kata itu membuat hati Na li seolah teriris. Sungguh hatinya begitu perih seolah sesuatu mencabik-cabiknya.


Tubuhnya tiba-tiba membeku dan sulit untuk bergerak. Ia hanya mematung dan melihat punggung A Guang.


" Na li... " Panggilan A Hua sukses membuat A Guang menoleh dengan cepat.


Wajahnya terlihat khawatir. Seakan ia bisa melihat luka di dalam mata Na li. Ingin sekali membuka mulut dan bicara. Namun lidahnya mendadak kelu. A Guang tidak tahu apa yang terjadi dengannya.


Tampaknya, Ia masih belum menyadari bahwa ia baru saja melakukan sebuah kesalahan.

__ADS_1


A Hua tersenyum kaku. Dari ekspresi Na li ia bisa menebak bahwa gadis itu mendengar apa yang di katakan A Guang.


' Keponakan bodoh. Lihatlah apa yang baru saja kau lakukan. Dan jangan menangis jika kau sampai kehilangannya. ' Gerutu A Hua dalam hati. Sungguh ia benar-benar kesal dengan sikap A Guang. Terutama mulutnya yang tak seirama dengan hatinya.


" Kemarilah. Bangku di belakang ku masih kosong. Kita bisa mengobrol saat pelajaran terlalu membosankan. " Ucap A Hua mencoba mencairkan suasana yang sudah berubah canggung. Seolah ada badai di antara kedua orang di depannya.


A Hua memukul meja di belakangnya, tempat dimana seharusnya Na li duduk.


Na li yang menemukan kesadarannya. Membalas senyum A Hua meski hanya sebuah senyum tipis.


" Maaf, aku memiliki sesuatu untuk di bahas dengan chong ru. Jadi aku akan duduk di sana. " Na li menunjuk sebuah kursi yang berada di baris paling belakang di sebelah kanan deretan A Hua.


" Baiklah. Tapi aku ingin sekali duduk dekat dengan mu. jadi bisakah besok kau duduk di belakang atau depan ku. " Gadis cantik itu memasang tampang memohon membuat hati Na li tak tega untuk menolaknya.


Na li menghela napas. " Baiklah. "


Tanpa menyapa A Guang, Na li berjalan melewatinya lalu duduk di kursi pilihannya.


" Kenapa? " Tanya A Hua saat melihat A Guang menepuk-nepuk dadanya.


" Entahlah, Tiba-tiba dadaku terasa sesak. " Ucap A Guang jujur.


A Hua tersenyum ejek, " Dada mu sesak karena perbuatan mu sendiri. Sekarang nikmatilah penderitaan mu ini. "


Lalu ia melanjutkan dengan gumaman pelan, " Rasakan itu, Lagi pula siapa yang menyuruh mu untuk tidak jujur dengan perasaan sendiri. Bahkan orang bodoh saja tahu kapan dirinya jatuh cinta. "


" Kau bilang apa bi? " Sesungguhnya A Guang mendengar semua gumaman A Hua, ia hanya berpura-pura tidak mendengarnya.


" Tidak ada. Aku hanya sedang mengumpat seekor keledai jantan. "


A Hua yang terlanjur kesal melupakan kenyataan A Guang yang belum pernah mengalami jatuh cinta. Laki-laki yang tumbuh di keluarga penuh cinta itu belum bisa membedakan antara cinta keluarga dengan cinta terhadap lawan jenis. Dan itulah kenapa kenyamanan yang selama ini ia dapatkan saat berinteraksi dengan Na li dianggapnya sebagai perasaan sayang terhadap teman dan keluarga.

__ADS_1


Selama pelajaran, A Guang kesulitan berkonsentrasi. Sesekali ia melihat ke arah Na li, yang tampak menyimak apa yang disampaikan oleh guru. Hatinya semakin sasak saat gadis itu tampak acuh tak acuh dengannya. Saat mata keduanya tanpa sengaja bertemu. Na li segera membuang wajahnya dan kembali fokus pada materi.


Sebenarnya Na li sendiri tidak seperti apa yang terlihat. Ia juga mengalami kegalauan di hatinya. Posisi tempat duduk yang berada di belakang memudahkannya melihat punggung pria yang diam-diam mengisi hatinya tersebut. Namun karena ucapan yang tidak sengaja ia dengar tadi, membuatnya tersadar bahwa perasaannya adalah sebuah kesalahan.


' Aku harus melupakannya. Ia benar, dengan latar belakang ku mana mungkin ia akan menerima ku. Bahkan laki-laki dari keluarga miskin pun mungkin akan berpikir ulang jika ingin menikahinya. ' Batinnya.


Sakit. Satu kata yang bisa menggambarkan perasaan Na li saat ini.


Tak hanya saat di kelas, Na li menghindari A Guang namun di hampir setiap pertemuan mereka .


Hingga tak berasa, akhirnya tiba saat malam dimana mau tidak mau Na li harus kembali ke kamar asramanya.


Di luar, Na li melihat api lilin kamarnya yang sudah padam. Ia sengaja menghabiskan waktu sepanjang sore di perpustakaan demi menghindari A Guang. Ia merasa canggung jika harus berhadapan dengannya.


' Apakah dia sudah tidur? ' Pikir Na li. Merasa lega karena tak perlu bertegur sapa.


Ia membuka pintu dengan sangat pelan. Lalu berjalan mengendap-endap seperti seorang maling.


" Aku tidak tahu kau memiliki hobi bertingkah seperti maling. "


" Wahhh!!! " Jerit Na li.


A Guang yang tiba-tiba muncul membuat gadis itu berteriak karena terkejut.


Beruntung jantung Na li yang hampir melompat itu masih berdebar pada tempatnya.


" Ka-kau belum tidur. "


A Guang tidak menjawab, ia justru fokus menatap mata Na li. Perlahan ia maju membuat Na li secara otomatis mundur hingga punggung gadis itu menabrak dinding.


" Menyerahlah. Aku tak akan membiarkan mu tidur sebelum kita berdua bicara. "

__ADS_1


__ADS_2