
Bau parfum dan bau bedak seketika menyambut indera penciuman Jingu. Para wanita silih berganti datang berusaha menggoda pria malang itu. Alih-alih tergoda, Jingu justru merasa risih akan sentuhan tangan-tangan yang menggerayangi badannya tersebut.
Belum juga dirinya masuk, Jingu sudah pergi meninggalkan A Fei yang tercengang dengan respon pria itu. Membuat A Fei memiliki imajinasi lain yang mungkin jika pria itu tahu, ia akan mimisan karena marah.
" Mungkinkah Jingu memiliki ketertarikan menyimpang? Ah sepertinya aku salah membawanya ke tempat ini. Seharusnya aku membawanya ke rumah gigolo. "
Setelah usaha keras mengejar Jingu, akhirnya A Fei berhasil menyusulnya. Beruntung saat ini ia menggunakan pakaian pria, memudahkan gadis itu bergerak dengan bebas.
" Apakah kau sudah bosan hidup. Kau pergi begitu saja meninggalkan ku. Lupa bahwa kau adalah pengawal ku. " Sembur A Fei marah karena ditinggalkan.
" Maaf putri, aku hanya merasa tak tahan berada di sana. Mereka membuat ku takut. " Jelas Jingu berkata jujur. Saat para wanita itu menyentuhnya, ia memang merasakan sebuah ketakutan seolah para wanita itu predator lapar yang kapan pun bisa menerkamnya.
Jangan berpikir bahwa hanya wanita yang takut diperkosa, para pria pun sama. Terlebih Jingu yang sama sekali belum pernah menyentuh wanita. Mendapat perlakuan seperti tadi, secara tidak sadar sudah menekan alarm peringatan dalam dirinya. Membuatnya secara reflek melarikan diri.
" Kau takut dengan mereka? " Tanya A Fei tak percaya.
Jingu mengangguk. Pria itu tak sadar sudah membuat A Fei salah paham. Wanita itu kini semakin yakin jika Jingu sebenarnya memiliki orientasi menyimpang atau bisa disebut homoseksual.
" Baik. Aku mengerti. Lain kali aku akan mengajak mu ke tempat yang benar. Malam ini lebih baik kita pergi ke Chuntian. Kita akan menghasilkan uang malam ini. "
Jingu tidak sadar bahwa ada makna lain dalam ucapan A Fei.
A Fei secara spontan memegang tangan Jingu dan menariknya, membawanya menuju kasino milik sang ibu.
Jingu memandangi tangannya yang saling bertaut dengan tangan A Fei. Ada getaran aneh yang ia rasakan. Jantungnya juga ikut berpacu bersamaan dengan langkah kaki mereka yang melangkah cepat. Membuat sesuatu di bawah sana semakin sesak dan tegang.
' Ah sial! ' Jingu mengumpat merasakan sakit pada miliknya. Ia benar-benar butuh pelepasan.
" Putri, tolong berhenti. " Jingu menghentikan langkahnya mengakibatkan A Fei ikut tertarik mundur.
A Fei menoleh, " Ada apa? "
" Bisakah kita masuk ke restauran itu terlebih dulu. Tunggu sebentar di sana. Aku baru ingat ada sesuatu yang harus ku lakukan dan ini sangat mendesak. "
" Baiklah. " Meski ragu, A Fei dan Jingu pergi menuju restauran terbaik di ibukota dan segera memesan ruang pribadi.
Tanpa menunggu A Fei selesai memesan makanan, Jingu sudah pergi ke luar dan segera menuju toilet dengan semangkuk minyak goreng ditangannya. Ia akan melakukan pelepasan solonya.
Sementara Jingu sedang bekerja keras, A Fei yang bosan menunggu keluar untuk mencari Jingu. Secara kebetulan ia bertemu dengan Jiang Jinfu.
"Kakak Jinfu, kau juga makan di sini? "
Jinfu yang merasa namanya disebut menoleh. Terkejut saat melihat sosok A Feng di depannya.
" Yang mulia.. " kemudian ia tersadar bahwa itu bukan A Feng. Meski wajah mereka mirip tapi memiliki tinggi yang berbeda.
__ADS_1
Dengan ragu Jinfu berkata. " Pu..tri... "
Gadis itu hanya tersenyum meringis. Ia sendiri juga baru sadar bahwa saat ini sedang berpakaian pria. Betapa cerobohnya dia membongkar penyamarannya sendiri.
' Aku benar-benar lupa jika saat ini sedang menyamar. '
Karena sudah terlanjur terekspos, A Fei menawari pria itu untuk bergabung dengannya.
" Apa tidak apa-apa? aku takut mengganggu putri. "
" Tidak apa. Lebih baik makan bersama lebih banyak orang dari pada sendiri. "
" Kalau begitu terima kasih atas ajakan anda putri. "
Jinfu dan A Fei masuk dan mulai mengisi piring masing-masing setelah keduanya duduk.
Sebelum ini sebenarnya Jinfu baru saja selesai makan bersama teman-temannya. Entah dorongan apa, ia tak ingin menolak ajakan putri satu-satu kaisar Jin itu meski pada kenyataannya perut pria itu hampir tak sanggup lagi untuk menampung makanan.
********
Jingu memandang tangannya yang licin dengan sisa minyak lalu beralih melihat bagian bawahnya yang sudah layu, sementara wajahnya menunjukkan sebuah kelegaan.
Sepanjang jalan, senyum mengembang di wajah Jingu. Ketika ia sampai dan membuka pintu ruangan, mendadak senyumnya langsung hilang ketika ia melihat ada orang lain bersama dengan A Fei.
Sebagai putra perdana menteri, sosok Jinfu tentu saja cukup terkenal. Selain karena latar belakang keluarganya, wajahnya yang tampan juga menjadi nilai tambah pria itu. Banyak wanita bangsawan yang ingin menikahinya. Sayang, tak ada satupun yang bisa membuat pria itu tertarik. Hingga sempat ada rumor miring yang mengatakan bahwa Jinfu kemungkinan seorang homoseksual.
Baik A Fei dan juga Jinfu sontak menoleh saat pintu terbuka.
" Kau lama sekali, aku bahkan hampir menghabiskan seluruh makanan. " Protes A Fei saat melihat Jingu yang hanya berdiri mematung.
" Pengawal Jingu, mari ikut bergabung. "
Jingu sudah kembali tersadar dan bersikap biasa. Mendengar ajakan Jinfu, Jingu ingin sekali tertawa.
' Pria ini terlalu tidak tahu malu. Bersikap seolah semua makanan ini dirinya yang memesan. ' umpatnya dalam hati.
Diam-diam kedua pria itu saling melempar tatapan tidak suka satu sama lain. Sedangkan satu-satunya wanita yang menjadi alasan tatapan itu justru tengah sibuk memasukkan satu persatu irisan daging ke dalam mulutnya.
Setelah Jingu ikut bergabung dan duduk menikmati makanan yang tersisa. A Fei yang sejak tadi ingin bertanya akhirnya membuka suaranya.
" Jingu, kau pergi kemana? kau terlihat berbeda seolah kau baru saja mengeluarkan semua beban dalam hidupmu. "
Jingu tersedak, ia berusaha keras agar tidak mengeluarkan makanan yang baru saja masuk ke tenggorokannya. Sungguh, itu sebuah usaha keras hingga membuat wajah Jingu berubah biru dan mata merah.
Ia segera meraih cangkir dan meminumnya secepat mungkin.
__ADS_1
" Anda salah paham putri, saya hanya tak sabar karena sebentar lagi kita akan menghasilkan banyak uang. Jadi aku bisa mengirimnya ke nenek Wu dengan segera. " Jingu dengan cepat menemukan alasan yang terdengar masuk akal.
Karena keberadaan Jinfu, Jingu kembali berbicara formal pada A Fei.
" Benarkah? Lalu bagaimana dengan masalah mu itu. Apakah masih butuh bantuan. "
" Ti-tidak perlu. " Tolak Jingu dengan cepat. " Ternyata saya hanya membutuhkan ketenangan. Dan sekarang semua sudah teratasi. "
" Benarkah? semudah itu? " Jingu mengangguk.
" Apa kau memiliki masalah pengawal Jingu? kau bisa datang pada ku jika membutuhkan bantuan. Aku pasti akan dengan senang hati menolong mu. " Tawar Jinfu berniat membantu.
" Itu bagus. " / " tidak perlu. "
A Fei dan Jingu berkata bersamaan. Mereka saling berpandangan seolah keduanya memberikan kode lewat mata mereka.
" Sudahlah. Terima kasih tuan muda Jinfu sudah menawarkan bantuan. Tapi saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri. " Ucap Jingu kemudian.
Jinfu tersenyum kaku atas penolakan Jingu. Pria itu bisa merasakan sikap tak suka dari pengawal pribadi putri tersebut.
A Fei melihat situasi berubah canggung, jadi ia mencoba mencairkan suasana dengan sebuah lelucon.
" Jingu apa kau tidak merasa bahwa kau dan kak Jinfu itu sangat cocok. Tidak kah kalian sadar, nama kalian mirip, Jinfu Jingu, Jingu Jinfu. Benarkan? hahaha aku rasa jika salah satu dari kalian wanita itu akan menjadi pasangan yang sangat sempurna. "
A Fei yang terbahak segera menghentikan tawanya saat merasakan keheningan semakin mencekam. Ia menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya seolah sedang menutup resleting mulutnya.
Tak ada lagi yang berbicara setelah humor menakutkan A Fei tersebut. Ketiganya makan dengan tenang. Hingga akhirnya acara berkumpul dadakan itu selesai.
" Kak Jinfu, kalau begitu kita berpisah di sini. Hati-hati dijalan. "
" Kau tidak kembali, putri? " Tanya Jinfu saat tersadar wanita itu hendak kembali pergi.
" Ah, aku harus ke suatu tempat terlebih dulu. "
" Aku antar kalau begitu. Aku akan menemani mu. " Tawar Jinfu dengan cepat.
" Tidak perlu kak Jinfu, ada Jingu yang menemani ku. " Jinfu melirik Jingu yang tersenyum penuh arti.
" Kalau begitu biarkan aku bergabung. Tidak baik wanita dan pria hanya pergi berdua. "
A Fei tampak berpikir, saat Jingu hendak protes dan menolaknya, A Fei sudah lebih dulu berbicara.
" Baiklah. Ayo kak Jinfu, Jingu. "
********
__ADS_1