
Li Chenlan baru saja keluar dari ruang kerja ayahnya. Ekspresinya gelap, terlihat jelas bahwa ia sedang marah. Ia tak mengira akan menerima hardikan sang ayah karena A Fei mengetahui tentang hubungannya dengan Fu Xiquan.
" Selidiki, bagaimana bisa A Fei mengetahui hubungan ku dengan Fu Xiquan. Jika penyebabnya mulut besar salah satu pelayan, maka seret pelayan itu dan pukul mati dia. Aku tak mau ada pengkhianat di istana ku. " Perintahnya pada salah satu bawahannya.
Setelah beberapa saat, bawahan Li Chenlan akhirnya kembali dengan laporan di tangannya.
" Jadi bagaimana? "
" Saat itu putri Fei datang ke istana putra mahkota berniat memberikan sesuatu pada anda Yang mulia. Namun tanpa sengaja ia melihat nona Fu keluar dari kamar anda dengan penampilan yang sedikit berantakan. Sebagai wanita dewasa, ia pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi. Setelah itu ia kembali ke istananya dan baru menghadap Yang mulia raja keesokan harinya. "
Li Chenlan ingat jika kemarin A Fei menolak bertemu dengannya.
' Jadi karena ini dia kemarin enggan bertemu dengan ku. ' Batinnya.
" Baiklah. Kau boleh pergi. "
Li Chenlan yang egois hanya bisa menyalahkan semuanya pada Fu Xiquan. Andai wanita itu tidak datang hari itu, A Fei pasti tidak akan melihatnya. Jika sudah begini bagaimana dia bisa membuat Fu Xiquan sebagai selirnya.
Ck, sungguh merepotkan. Andai bukan karena ia membutuhkan bantuan tuan Fu sebagai perdana menteri. Tak akan sudi ia melakukan semua ini.
" Yang mulia, apakah anda tidak pergi menemui putri? " Tanya kasim sang asisten.
" Tidak perlu. Biarkan saja. Aku tahu bagaimana keras kepalanya A Fei. Aku akan memberinya waktu untuk berpikir. Lagipula masalah ini akan selesai dengan sendirinya. "
Li Chenlan sangat yakin bahwa perdana menteri Fu pasti akan bertindak. Ayahnya mungkin seorang raja. Tapi pengaruhnya tidak lebih besar dari seorang perdana menteri. Karena hal inilah ia ingin mengikat Fu Xiquan. Dengan pengaruh perdana menteri Fu di sisinya, maka kelak kedudukannya sebagai raja Wei akan semakin stabil.
Ia memutar keras otaknya, saat ini bagi Li Chenlan yang terpenting adalah memikirkan cara agar A Fei tidak membatalkan pernikahan mereka.
Ah sial!
********
Kekacauan tak hanya terjadi di istana, bahkan di kediaman Fu juga.
Tuan Fu baru saja kembali dari istana setelah raja Wei memanggilnya untuk mengeluh tentang perilaku putrinya. Apakah tuan Fu mengetahui hubungan putrinya dengan putra mahkota selama ini? tentu saja ia tahu bahkan sangat mendukung.
__ADS_1
Ia memang berencana menjadikan putrinya sebagai selir. Namun semua itu terkendala oleh permintaan kaisar Jin yang menurutnya adalah suatu hal konyol jika anggota keluarga kerajaan tidak memiliki selir.
" Ayah, aku tidak mau berpisah dengan Yang mulia pangeran. Aku mencintainya selain itu... hiks... aku...aku juga sedang hamil anak pangeran. " Fu Xiquan mengatakan kalimat akhir dengan lirih meski begitu masih bisa di dengar oleh tuan Fu dan nyonya Fu.
" Apa kau bilang! " Suara tinggi tuan Fu membuat Xiquan tersentak membuatnya kembali meringkuk karena takut.
Dengan suara terbata ia berkata pelan. " Aku.. hamil.. anak putra mahkota, ayah. "
Kali ini tuan Fu mendengarnya dengan jelas. Kabar mengejutkan ini membuat tekanan darahnya naik seperti roller coaster.
Nyonya Fu segera menenangkan suaminya yang sedang memegang tengkuknya karena penyakitnya yang kambuh. Dengan khawatir ia terus membujuk sang suami untuk tidak marah.
Sembari mengelus lengan sang suami, nyonya Fu berkata, " Suami ku tolong jangan marah lagi. Ingatlah dengan kesehatan mu. Masalah ini masih bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Marah-marah tak akan menyelesaikan masalah, ini hanya akan menyakiti dirimu. "
" Apa kau tak melihat bagaimana kelakuan putri mu? sungguh mengecewakan. Meski aku mendukung hubungan mereka tapi aku tidak pernah menyangka jika hubungan mereka sudah sejauh ini. Jika sudah demikian, apa yang harus ku lakukan. Nama baik keluarga kita akan tercoreng. " Geram sekali tuan Fu jika melihat putrinya saat ini.
Nyonya Fu pun sebenarnya juga kecewa dengan putrinya. Tapi apa yang bisa mereka lakukan. Nasi sudah menjadi bubur. Melihat putrinya yang terus terisak, membuat nyonya Fu tidak tega.
" Suami ku, anggap saja hal ini sebagai keberuntungan. Anak yang dikandung Xiquan adalah keturunan kerajaan. Suatu kejahatan jika kita menggugurkannya. Alih-alih menganggapnya aib kenapa tidak kita gunakan anak ini untuk memaksa Yang mulia raja menyetujui Xiquan memasuki istana sebagai selir. Aku yakin beliau tidak akan menolak. " Saran Nyonya Fu. Tidak peduli jika saran yang dia berikan itu sesat, yang terpenting baginya adalah kebahagiaan putrinya.
" Bagaimana jika Yang mulia masih tidak setuju? " Tanya tuan Fu pada sang istri.
"Maka kita harus datang untuk menemui permaisuri. Aku yakin setelah ia mengetahui bahwa Xiquan mengandung cucunya, permaisuri akan membantu kita membujuk raja. "
Nyonya Fu melanjutkan, " tak masalah semua orang mengetahui kehamilan Xiquan. Yang terpenting adalah putri kita bisa memasuki istana. Jika ada yang meremehkannya, katakan saja bahwa putra mahkota lah yang memaksanya. "
Membuang napas pasrah, tuan Fu akhirnya menyerah. " Baiklah. Aku akan mendengarkan saran mu. Besok aku akan menemui Yang mulia Raja."
" Bagus, lebih cepat lebih baik. "
Mendengar percakapan kedua orang tuanya, diam-diam Fi Xiquan tersenyum. Ibunya memang selalu bisa di andalkan.
Dan keesokan harinya, tuan Fu benar-benar menemui raja Wei secara pribadi.
" Ada apa perdana menteri Fu, apakah kau masih ingin membahas mengenai putri mu? " Tanya Raja Wei dingin. Ia membenci perdana menteri Fu karena menurutnya pria ini terlalu berkuasa sementara dirinya yang seorang raja terkadang harus mendengarkannya. Bukankah itu sangat ironis.
__ADS_1
" Benar Yang mulia, tapi kedatangan saya kali ini hanya ingin meminta saran anda Yang mulia. "
Kening raja Wei mengerut tak mengerti. Tiba-tiba ia merasakan firasat buruk. " Katakan. "
"Maaf atas kelancaran saya Yang mulia, tapi saya sebagai seorang ayah hanya ingin menuntut keadilan bagi putri ku. Saat ini Fu Xiquan hamil anak putra mahkota. Jadi... " Ucapan tuan Fu terputus saat raja Wei sudah lebih dulu memotongnya.
" Hamil? apa yang kau katakan barusan, putri mu hamil? " Raja Wei sampai terperanjat dan berdiri dari kursinya, terkejut dengan ucapan tuan Fu.
" Benar Yang mulia. "
Seluruh tubuh Raja Wei lemas. Ia kembali terduduk. Jika sudah begini, maka tidak ada lagi langkah untuk mundur. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tuan Fu kembali berbicara. " Sebelumnya karena saya tahu kaisar Jin tak ingin putra mahkota memiliki selir, saya berniat untuk menggugurkan kandungan putri ku. Tapi itu kejahatan besar karena membunuh keturunan kerajaan. Jadi apa yang sebaiknya saya lakukan Yang mulia. "
Raja Wei sudah kembali tenang. Ia menatap sinis Tuan Fu. " Tanpa perlu aku berbicara bukankah kau sudah mengetahuinya perdana menteri Fu. Tapi lebih baik kau jangan bertindak sebelum aku memberi mu perintah. Aku akan bicara lebih dulu dengan putri Fei termasuk dengan kaisar Jin. Berharap saja mereka bisa menerima putri mu. "
Setelah kepergian tuan Fu, Raja Wei benar-benar melampiaskan kemarahannya dengan diam-diam mengutuk tuan Fu.
" Pria tua itu terlalu serakah. Apa menurutnya aku tidak bisa melihat maksud terselubung dari permintaannya. Lebih baik memang A Fei tidak menikah dengan putra ku yang brengsek itu atau kehidupannya kelak akan sangat menderita. "
Pertemuan tak terduga juga di alami Sima Fei, ia tak menyangka bahwa seorang wanita yang menjadi sumber masalahnya saat ini ada di depannya. Wanita itu adalah Fu Xiquan, ia datang ke istana putri mahkota dan berkata ingin berbicara pada A Fei.
Awalnya, A Fei berniat ingin menolak bertemu. Namun ia juga penasaran dengan apa yang ingin dibicarakannya. Dan pada akhirnya rasa penasaran mengalahkan tekadnya.
" Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? " Tanya A Fei tanpa basa basi setelah para pelayan selesai menyiapkan kudapan dan teh mereka.
Sima Fei mencoba bersikap biasa meski hati terasa panas.
Fu Xiquan mengangkat wajahnya dan tersenyum arogan. " Putri, maaf jika kedatangan ku mengganggu waktu istirahat mu. Aku hanya ingin memberitahu mu kabar bahagia. "
' Kabar bahagia kentut mu. Aku yakin ini kabar buruk untuk ku. '
Sima Fei mengambil cangkirnya dan menyesap tehnya. Emosinya benar-benar membakar kesabarannya. " Katakan saja. Kau tak perlu terus berputar. "
Fu Xiquan menyentuh perutnya dan membelainya lembut. " Aku hamil. "
__ADS_1