Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 330 side story ( A Feng story)


__ADS_3

Meninggalkan kediaman Liu yang penuh dengan kekacauan. Kediaman Sima Feng justru terlihat damai. Namun itu tidak berlangsung lama. Setelah kedatangan Sima Fei dan Xiao Yi.


Xiao Yi masih belum terbiasa tinggal jauh dengan sang ibu. Jadi pagi ini, ia menyeret bibinya, Sima Fei untuk mengantarnya ke kediaman Sima Feng.


" Ibu, bisakah aku tinggal dengan mu. Kenapa kalian tinggal di sini sedangkan aku harus tinggal di istana? " Bocah itu merengek memohon pada sang ibu.


Liu ru sebenarnya tidak tega melihat putranya yang sebentar lagi akan menangis itu. Tapi ia juga tak bisa melanggar peraturan istana.


Bagaimana pun juga, Xiao Yi harus tinggal di istana menerima segala pembelajaran sebagai seorang pangeran. Dan sebagai seorang ibu, tentu Liu ru ingin yang terbaik untuk putranya. Karena itu dengan berat hati ia harus menolak permintaan bocah itu


" Kenapa putra ibu ingin tinggal disini? apa tidak menyenangkan tinggal di istana? Bukankah di sana ada nenek, kakek, dan juga bibi fei? " Selembut mungkin Liu ru berusaha berbicara dengan sang putra. Berharap Xiao Yi mau terbuka padanya. Dan penolakannya nanti tidak membuat hatinya terluka.


Bocah itu menggeleng. " Aku senang tinggal di sana. Tapi di sana tidak ada ibu. Aku merindukan ibu? " Rengeknya. Matanya bahkan sudah memerah dan berkaca-kaca.


Dari jauh Sima Feng datang. Melihat putranya hampir menangis. Ia pun berkomentar.


" Kau seorang pria. Kenapa kau menangis? " Tanya Sima Feng dengan wajah datar. " Jika kau merindukan ibu mu kau hanya perlu datang kesini. Tidak perlu sampai tinggal di sini. Jadilah seorang pria yang kuat. Bukan pria lemah yang begitu mudah meneteskan air mata. Jika orang lain melihatnya. Mereka akan menertawakan mu. "


Terbiasa menerima didikan keras dari Sima rui membuat Sima Feng melakukan hal yang sama pada sang putra.


Liu ru kesal mendengar ucapan suaminya. " Tidak bisakah kau berbicara lebih lembut padanya. Usianya bahkan belum genap empat tahun dan kau sudah menuntutnya begitu keras. Lalu apa salahnya dengan menangis? Jika putra mu menangis bukankah itu bagus. Itu tandanya ia seorang yang perasa. "


Sima Fei bahkan memutar bola matanya ke arah sang kakak. " Kakak ipar benar kak. Jangan mengikuti jejak ayah. Bukankah kau tahu itu sangat tidak nyaman. Kau sudah tahu bukan bagaimana rasanya saat kau merindukan ibu tapi tak bisa bertemu karena ibu yang selalu di monopoli oleh ayah. "

__ADS_1


Tentu saja Sima Feng tak akan melupakannya. Sang ayah yang bahkan tak ingin membagi waktu istrinya dengan putranya sendiri.


" Ibu dan bibi benar ayah. Lagi pula aku bukan seorang pria. Aku hanya seorang anak yang sebentar lagi berusia empat tahun. " Kali ini Xiao Yi membela dirinya.


Liu ru dan Sima Fei menahan tawanya saat bocah itu membalas perkataan ayahnya.


Jangan heran bagaimana anak itu bisa fasih berbicara. Anak itu terlahir cerdas karena bibit unggul Sima Feng. Karena itu, perkembangannya jauh lebih cepat dari anak seumurannya.


Mendapatkan serangan dari ketiganya. Sima Feng tak gentar. Ia masih menatap putranya dengan wajah datar lalu beralih pada Liu ru.


" Kau terlalu memanjakannya. Lihatlah ia berani mengajak ayahnya berdebat. " katanya. Pada akhirnya Sima Feng hanya bisa menyerang Liu ru. Mana mungkin ia berdebat dengan anak kecil.


Liu ru mendelik tak terima jika ia disalahkan karena memanjakan putranya.


Jadi bukankah sangat wajar jika ia begitu memanjakan putranya. Lagipula ia juga tak memanjakan Xiao Yi terlalu berlebihan. Lantas apa yang salah?


Jika putranya begitu pintar berbicara, jangan salahkan dirinya. Itu karena putra mereka yang terlalu pintar.


Ia hanya menyediakan rahim sebagai wadah dimana putranya tumbuh di dalam perut. Sedangkan mengenai kecerdasannya, itu tergantung kwalitas benih yang ditanam. Jadi jika ingin menyalahkan. Bukankah seharusnya ia menyalahkan dirinya sendiri.


" Aku ibunya. Tentu saja aku memanjakannya. Jika bukan aku lantas siapa yang akan memanjakannya. "


" Tapi itu hanya membuatnya lemah. " Sima Feng masih tidak setuju.

__ADS_1


Liu ru memutar matanya jengah. " Memaksanya hanya akan membuat putra ku tumbuh sebagai pribadi yang keras kepala. Seperti kau contohnya. " Tentu saja kalimat terakhir dikatakan Liu ru dengan suara pelan.


" Apa? jadi menurut mu aku keras kepala? " Sima Feng melangkah maju mengikis jarak dengan istrinya. Meski pelan, Sima Feng masih bisa mendengarnya.


Mata elangnya mampu membuat Liu ru kehilangan kata-katanya.


" I-itu... " Liu ru tergagap.


" Ayo katakan. Aku ingin mendengarnya. " Tuntut Sima Feng.


" A-aku hanya mengutarakan pendapat. Jadi jangan merasa tersinggung. " Ucapnya sembari memberikan senyum kaku dengan deretan gigi depan terlihat semua.


Kemudian Liu ru menepuk pelan pundak Sima Feng dan kembali berkata. " Meski kau keras kepala, tapi kau sangat tampan dan juga kaya. Jadi aku pikir itu tidak terlalu buruk. Setidaknya keras kepala membuat mu terlihat lebih berpendirian. Itu jauh lebih baik dari pada pria plin plan. "


Niat menghibur namun Sima Feng justru merasa Liu ru sedang menghinanya karena membandingkannya dengan pria plin plan.


Satu sudut Sima Feng terangkat. " Kau benar. " Kemudian ia mendekatkan wajahnya.


Orang luar mungkin akan mengira bahwa Sima Feng hendak mencium Liu ru. Jadi Sima Fei yang sejak tadi tidak bergerak sama sekali langsung menutup mata keponakan kecilnya. " Jangan melihat. Kau belum cukup umur. "


Kemudian Sima Feng berbisik. " Setidaknya itu lebih baik dari wanita pemarah dengan dada dan bokong rata seperti mu. " Mata Sima Fei melihat kepada dua anggota badan yang baru saja ia sebut.


Dan benar saja, wajah Liu ru langsung merah padam. Tak tahu ia harus malu atau marah kali ini.

__ADS_1


Sedangkan Sima Feng. Pria itu langsung pergi dengan perasaan puas setelah sekali lagi berhasil membuat istrinya kesal.


__ADS_2