
Ziyan membawa gelang giok seharga 500ribu tael emas itu dengan sangat hati-hati. Ia merasakan beban yang sangat besar pada tangannya. Bukan karena berat gelangnya yang besar, tapi karena uang yang di keluarkan untuk gelangnya yang sangat besar. Apa yang akan ayahnya pikirkan nanti saat mengetahui harga gelang ini. Marah? shock? atau menangis? kalau itu dirinya mungkin akan menangis. Siapa coba yang tidak sedih saat seseorang melubangi kantongmu.
Kereta ziyan tiba dengan lancar, selamat dan aman di kediaman Mo. Selama perjalanan ia takut jika ada perampok atau pencuri yang berusaha mengambil barangnya. Sebelum dirinya keluar dari gedung paimai, Bos paimai telah memperingatkan ziyan untuk berhati-hati. Karena setelah keluar dari gedung paimai dan sesuatu terjadi dengan gelangnya, itu bukan lagi menjadi tanggung jawab mereka. Tentu saja ziyan mengerti prinsip dasar tersebut karena pelelangan di Britania juga sama.
Karena perjalanannya begitu lancar, ziyan merasa bahwa keamanan di shangjing sudah cukup bagus. Sepertinya ia harus mengucapkan terima kasih pada para petugas yang sering melakukan patroli.
Ziyan segera masuk ke dalam dan bergegas menemui ayahnya. Ia ingin melihat bagaimana ekspresi terkejut ayahnya itu.
Sementara di tempat lain, sekelompok perampok sedang merintih kesakitan. Ia tak menyangka, gadis yang menjadi target rampoknya ternyata membawa begitu banyak pengawal. Sejak awal dirinya mengintai gadis itu, ia hanya melihat gadis itu membawa seorang pengawal dan kusir. Tapi kenapa tiba-tiba muncul pengawal yang begitu banyak saat mereka mencoba menghadangnya.
"Pangeran, mereka semua sudah berhasil dilumpuhkan. " Junyi sudah memastikan bahwa tak ada satupun dari mereka yang berhasil kabur.
"Bagus. Lalu bagaimana dengan gelangnya? " Sima Rui tak bisa secara langsung bertanya tentang ziyan, jadi ia menggunakan gelang sebagai gantinya.
"Gelangnya sampai di kediaman mo dengan selamat. " Junyi tahu sebenarnya yang dikhawatirkan tuannya ini bukan gelangnya tapi yang membawa gelangnya. Ck.. tuannya ini ternyata seorang tsundere.
Sima Rui menatap junyi, dan hal itu di sadarinya. Sebelum niat junyi untuk bertanya tersampaikan. Sima Rui sudah membuka suaranya, " Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu tentangku. Setelah ini pergilah ke kamp militer untuk berlatih. Jangan kembali sebelum mengalahkan 50 orang. "
Bagai petir menyambar dirinya, itulah yang ia rasakan saat mendengar hukuman Sima Rui. Sebelumnya ia juga pernah mengalaminya, karena sedikit informasi mengenai nona mo yang berhasil ia dapatkan. Ia menerima hukuman harus mengalahkan 20 orang, dan sekarang bertambah menjadi 50 orang. Ya Tuhan, pantas hari ini ia melihat tuannya tertawa.
*********************
Ziyan berada di ruang kerja ayahnya. Ia menunjukan gelang giok naga yang ia dapatkan. Mo yincheng membuka kotak kayu dan melihat sepasang gelang giok hijau dengan ukiran naga di sisinya.
"Giok ini sangat indah. Huang Guifei pasti menyukainya. " Mata mo yincheng berbinar saat menatap gelang yang ada ditangannya tersebut. Memang pantas barang yang di dapatkan dari gedung paimai selalu berkualitas tinggi.
__ADS_1
"Benar sangat indah. Karena itu harganya 500 ribu tael emas. "
" ................ "
Mo yincheng meletakan kembali gelang itu dengan sangat hati-hati dan menutup kembali kotak kayunya. Ziyan memperhatikan ekspresi ayahnya tapi sayangnya ia sama sekali tak bisa membaca apa yang sedang di rasakan ayahnya itu.
"Apakah menurut ayah harga itu tidak terlalu mahal?" Ziyan mencoba bertanya apa yang sebenarnya ayahnya itu sedang pikirkan.
"Bukan." Yincheng menggeleng, "Untuk hadiah Huang Guifei ini adalah harga yang pantas. Bangsawan lain justru bisa menghabiskan lebih banyak dari ini. "
Apa? lebih banyak dari ini. Ziyan begitu terkejut saat mendengar ucapan ayahnya tersebut. Apakah bangsawan itu memiliki pohon emas dirumahnya.
" Kau pasti berpikir apakah mereka memiliki tambang emas? " yincheng mencoba menebak isi pikiran putrinya tersebut. " Itu benar. Mereka memilikinya. "
"Mereka memilikinya. Jadi negara mengizinkan pembukaan tambang secara pribadi? " Ziyan cukup terkejut dengan kebijakan tersebut.
Ziyan berpikir sejenak. Mungkin sudah saatnya untuk mengatakan pada ayahnya perihal tanah mereka yang ada di jianjing.
"Ayah, karena kita sudah membahas mengenai hal ini ada yang ingin ku sampaikan mengenai tanah di jianjing."
Mo yincheng penasaran apa yang membuat gadis ini tiba-tiba ingin membahas tanah mereka di jianjing. " Ada apa? Katakanlah. "
" Sebenarnya tanah itu... " Ziyan menghentikan ucapannya dan segera menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka.
"Kalian sedang membahas apa? sepertinya sangat serius. " Nyonya mo bertanya karena melihat ekspresi serius putrinya. Ia membawa teh dan beberapa kudapan untuk mereka.
__ADS_1
Ziyan membantu ibunya membawa nampan di tangannya dan meletakkannya di atas meja. "Kenapa ibu tidak menyuruh bibi Xu atau yaoyao saja yang membawanya kemari. "
"Ibu sudah lama tidak mengobrol denganmu. Jadi ibu mengantar ini sekalian ingin mengobrol. Apalagi sebentar lagi pertunanganmu akan di umumkan, dan setelah itu kau akan menikah. Ibu pasti akan merindukanmu. "
Fantasi ibunya ini benar-benat luar biasa. Ia berbicara seakan putrinya akan bertunangan besok dan langsung menikah hari itu juga.
Bagi minglan, ziyan bukanlah pengganti putrinya yaner. Ia sudah menganggap ziyan sebagai putrinya sendiri. Jadi bagaimana bisa ia melihat putrinya menikah begitu cepat saat ia sendiri belum puas memberikan kasih sayangnya.
"Ibu... Aku tidak akan langsung menikah begitu saja. Aku bahkan belum pernah bertemu dengan pangeran pertama. Bagaimana jika ia menolak menikah denganku atau ternyata ia sudah memiliki gadis yang di sukainya. Semuanya belum pasti bu. " Ziyan memeluk ibunya mencoba menghiburnya.
"Ehem... Drama kalian bisa dilanjutkan lain kali." Yincheng tak kuat melihat drama ibu dan putrinya itu. "Jadi Yaner, apa yang ingin kau katakan tadi. " Mo yincheng ingat putrinya itu masih memiliki hal yang belum selesai di sampaikan.
" Mengenai tanah di jianjing. Tanah yang semua orang pikir tanah tandus, apakah ayah tahu disitu adalah sebuah tambang. "
Baik mo yincheng maupun minglan sama-sama terkejut dengan ucapan putrinya tersebut. Tapi dari pada ekspresi terkejut mungkin lebih tepat disebut ekspresi tidak percaya.
"Yaner. Apa yang kau katakan? Bagaimana kau bisa tahu hal itu? " Meski nyonya mo tak ingin mengecewakan putrinya, tapi ia lebih tak ingin memberikan kepercayaan palsu padanya.
Karena hanya mo yincheng yang tahu asal usul sebenarnya dari putrinya tersebut maka tentu saja hanya dirinya yang percaya padanya. Dan ziyan juga tak menyalahkan ibunya karena tidak mempercayainya.
"Ibu.. kenapa wajahmu serius begitu. Aku hanya mengatakan mungkin saja tanah kita di jianjing adalah tambang juga. Itu hanya kemungkinan saja. "
" Benarkah? "
"Benar bu.. " Ziyan tersenyum menatap ibunya.
__ADS_1
Nyonya Mo memandang putrinya. Dan kali ini ekspresi terlihat lebih tenang.
Ziyan tahu ia seharusnya membahas hal ini berdua dengan ayahnya.