
Perjamuan istana berakhir hampir tengah malam. Karena itu ziyan memutuskan untuk kembali lebih dulu ke kediamannya dan membuat janji bertemu di rumah lucy keesokan harinya.
" Maaf mengajakmu bertemu di rumah bibi lucy. Karena ada yang ingin ku tunjukan padamu. " Ucap ziyan begitu melihat sima rui yang ternyata sudah menunggunya.
" Jangan berbicara seperti itu. Seharusnya aku tadi menjemput mu. Itu lebih baik menurutku. " Ziyan hanya tersenyum menanggapi.
Ziyan tahu sima rui mencoba menunjukan perhatiannya. Semenjak ia tahu identitas lainnya sebagai Gaia. Sima rui semakin menarik gadis itu agar lebih dekat dengannya.
" Bibi, gadis yang kemarin kita tolong apakah masih belum sadar? " Tanya ziyan pada lucy yang sejak tadi menemani Sima rui di ruang tunggu.
Lucy menggeleng. " Belum. Mungkin akibat cidera di kepalanya. Bisa saja aku membuatnya sadar dengan cepat. Tapi itu akan cukup berbahaya untuk kepalanya. " Jelas lucy.
Ziyan diam sejenak berpikir. " Baiklah, biarkan saja kalau begitu. Kita akan menunggunya. Tapi aku ingin melihatnya sebentar. Apa bisa bi? "
" Tentu saja. "
Ziyan dan Sima rui mengikuti lucy ke sebuah kamar yang di jadikan sebagai ruang perawatan.
Seperti ziyan yang pertama kali melihat shuwang. Tubuh sima rui juga tertegun karena terkejut. Ia beralih melihat ziyan seakan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
" Aku juga tidak tahu. Bibi menemukannya di pinggir sungai kemarin. Itulah kenapa aku begitu terkejut ketika melihat shuwang kemarin. Wajahnya begitu mirip dengan gadis ini. Karena itu aku ingin kau menyelidiki ini. Jika di lihat dari pakaian yang di pakainya kemarin. Ia terlihat seperti bangsawan. Aku takut, masalah ini tidak sesederhana kelihatannya. " Ucap ziyan.
Lalu sima rui kembali teringat akan sesuatu. " Kau benar. Kemungkinan besar, shuwang yang ada di istana bukanlah putri yang sebenarnya. Kemarin aku mengutus beberapa prajurit untuk memantau kedatangan mereka. Namun hingga kini mereka tidak kunjung kembali meski utusan Kerajaan wei sudah tiba. "
__ADS_1
" Apa mungkin terjadi sesuatu dengan para prajurit itu. " Tebak ziyan.
" Kemungkinan besar begitu. Aku akan mengirim penjaga bayangan untuk menyelidiki ini. " Dan ziyan mengangguk paham.
Ketika hendak pulang. Ziyan terkejut saat mengetahui bahwa kereta kuda miliknya hilang. Namun sebelum ia mencari tahu, seseorang sudah lebih dulu memberinya jawaban.
" Aku meminta kusir mu pulang. Aku pikir satu kereta saja sudah cukup. Itu lebih efisien dan kita bisa bersama sedikit lebih lama. " Ucap Sima rui dengan wajah seriusnya. Sementara ziyan hanya bisa menganga tak percaya dengan tindakan Sima rui.
Di dalam kereta, ziyan masih menatap lekat Sima rui. Gadis itu masih sedikit marah dengan tindakan Sima rui. Namun pria itu justru acuh seakan tidak merasa bersalah sama sekali.
" Jika kau terus melihatku seperti itu. Aku akan berpikir bahwa kau sedang menggoda ku. " Ucap Sima rui membalas tatapan ziyan namun dengan pandangan dan senyum menggoda.
" Sayangnya aku sedang tidak ingin menggoda mu. Justru aku ingin sekali memakan mu. " Balas ziyan dalam arti kata 'memakan' yang berarti ia ingin memarahinya. Namun ternyata hal itu di tangkap lain oleh Sima rui.
Ia segera menarik ziyan yang duduk di hadapannya dan segera mencium bibir gadis itu. Ziyan melotot tak percaya dengan tindakan Sima rui. Saat ia hendak mendorong dada pria itu. Sima rui justru mempererat pelukan mereka. Ziyan tak ingin membuang percuma tenaganya untuk melawan. Karena ia tahu bagaimana besarnya tenaga pria yang sedang memeluk dan menikmati bibirnya tersebut.
Merasa kekasihnya sudah tidak melawan dan justru membalas ciumannya. Sima rui semakin memperdalam ciumannya, ia bahkan me****t bibir ziyan. Gairah yang bergejolak membuat keduanya lupa bahwa mereka sedang berada di dalam kereta kuda.
Ciuman panas itu berhenti saat Junyi memberitahu bahwa mereka sudah sampai di kediaman Mo. Wajah ziyan memerah karena kehabisan napas. Sima rui benar-benar tak melepaskannya. Ia hanya berhenti sejenak saat ziyan menghirup udara. Namun ia akan kembali menyerangnya beberapa detik kemudian.
Sima rui mengusap bibir ziyan dengan ibu jarinya yang bengkak karena ulahnya. Ia tersenyum lembut dan kembali mengecup bibir itu.
" Sungguh, aku benar-benar ingin segera menikahi mu. " Tatapan mata yang selalu tajam saat menatap orang lain. Kini terlihat sayu seakan menahan hasrat yang begitu besar.
__ADS_1
Ziyan bukan sepenuhnya gadis polos. Tentu saja ia tahu Sima rui sekuat tenaga menahan gejolak panas tubuhnya. Ia menangkup wajah Sima rui lalu berbicara selembut mungkin agar pria itu mengerti.
" Bersabarlah. Setelah semua ini selesai, aku akan sepenuhnya menjadi miliki mu. Anggap saja ini sebagai ujian. "
" Kau tahu, ujian mu begitu berat. Jika harus memilih, lebih baik berlari di tengah hujan salju tanpa sehelai baju dari pada menghadapi ujian ini. " Sima rui hendak mengecup kembali ziyan. Namun telapak tangan ziyan sudah lebih dulu menahan wajah Sima rui.
" Hentikan. Aku harus turun, jangan membuat mereka berpikir macam-macam. " Ziyan segera bagun dan keluar dari kereta.
Sima rui hanya menggeleng dan tersenyum melihat tingkah kekasihnya tersebut. Ia membuka tirai untuk melihat ziyan lagi sebelum pergi.
" Aku pulang dulu. Sampaikan maaf ku pada tuan Mo karena tidak bisa berkunjung. " Ziyan mengangguk sebagai tanggapan.
Ziyan memandang kereta kuda yang berjalan semakin jauh itu. Tanpa menyadari bahwa sejak tadi yaoyao sedang memperhatikannya.
" Ada apa? kenapa kau melihat ku seperti itu? " tanya ziyan melihat pandangan aneh yaoyao.
" Nona ini. " Yaoyao menunjuk bibir miliknya sendiri dengan telunjuk. " Bibir mu kenapa terlihat berbeda. Sepertinya bibir nona sedikit bengkak. Apakah kau makan sesuatu tadi di dalam kereta? " Tanya yaoyao polos.
Wajah ziyan seketika merona mengingat kembali aksi panasnya bersama Sima rui tadi.
" K-kau.. itu kau tahu. Aku tadi makan daging pedas. Karena itu bibirku bengkak. " Ucap ziyan gugup. " Sudahlah. Ayo kita masuk. Aku ingin berendam air dingin. " Lanjut ziyan sembari berjalan cepat meninggalkan yaoyao.
Ketika hampir sampai di kediamannya, kereta kuda sima rui berhenti di ujung jalan yang tampak sepi. Ia kemudian memanggil Aying, pemimpin penjaga bayangan yang selalu diam-diam menjaganya.
__ADS_1
" Perintahkan beberapa anak buah mu dan cari tahu kemana para prajurit yang ku perintahkan memantau utusan kerajaan wei kemarin. Lalu cari tahu juga, apa yang terjadi selama perjalanan mereka. " perintah Sima rui dari balik tirai. A ying segera menghilang begitu menerima perintah tuannya tersebut. Bagi Sima rui, junyi ibarat tangan kanan dan A ying adalah tangan kiri. Karena itu baik Junyi maupun Aying sangat menghormati dan setia pada Sima rui.
" Junyi. Kita ke istana. Aku harus bertemu ayahanda. " Dan kereta pun langsung berbalik arah menuju istana.