Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 162


__ADS_3

" Kenapa aku merasa hubungan mereka tidak seperti sebelumnya? " Ucap ziyan menerka.


Ia dan Sima rui yang sudah berada di dalam kereta kudanya hendak kembali ke kediaman mereka. Namun pikiran ziyan masih saja pada dua orang yang tanpa sengaja bertemu dengannya.


Sima rui yang mendengar ucapan sang istri lantas memeluk bahu ziyan agar mendekat padanya.


" Berhenti memikirkan orang lain. Cukup pikirkan suami mu ini. " Ujar Sima rui menunjukan sikap posesifnya.


ziyan berdecak, " Apakah tiga hari kemarin masih tidak cukup? kita bahkan terlambat memberikan penghormatan pada ayah raja dan Permaisuri. "


Sebenarnya penghormatan diberikan sehari setelah pernikahan. Namun Sima rui justru mengirim pelayan setianya untuk memberi kabar kepada ayahnya bahwa mereka akan berkunjung tiga hari setelahnya karena suatu halangan. Sima shao mengerti betul halangan apa yang dimaksud sang putra. Karena itu ia hanya bisa memaklumi. Bagaimanapun putranya sedang berusaha keras memberikannya seorang cucu.


Sima rui tampak memikirkan pertanyaan sang istri. " Sejujurnya tiga hari bagiku masih sangat kurang. Kenapa kita tak mencobanya disini. "


Rahan ziyan jatuh saat mendengar ucapan suaminya. Bagaimana bisa suaminya berpikir untuk melakukannya di dalam kereta kuda.


Melihat tak ada jawaban dari sang istri, sima rui kembali berucap. " Istriku tidak perlu khawatir. Aku akan melakukannya dengan lembut jadi tidak akan ada guncangan. " Bujuk Sima rui dengan mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


" Tidak. Aku tidak ingin melakukannya di sini. Kita lakukan saja di kamar saat tiba di mansion. "


Mata Sima rui berbinar kala mendengar ucapan ziyan. Dan segera ia memerintahkan sang kusir untuk menambah kecepatan.


**********


Ziyan merasakan tubuhnya yang lelah dan remuk. Karena Sima rui kembali menggempurnya begitu sampai di kediaman mereka. Tak menghiraukan meski masih siang hari, Sima rui langsung menguncinya dan melancarkan permainan panas mereka. Keduanya baru saja selesai menjelang makan malam.


" Terima kasih istriku. " Sima rui mengecup lembut puncak kepala ziyan.


" Hem... " Ziyan hanya berdehem menjawab ungkapan suaminya. Tubuhnya yang terlalu lelah membuatnya tak memiliki tenaga bahkan hanya untuk menjawab ucapan suaminya.


Ziyan yang mulai terbiasa dengan perlakukan Sima rui tersebut hanya pasrah saat pria yang berstatus suaminya itu kembali membersihkan tubuhnya.


Setelah tidur sejenak dan makan malam. Kedua mata ziyan kini terasa lebih segar. Ia justru tak bisa memejamkan matanya sama sekali. Membuatnya kembali memikirkan shuwang dan juga Dan er.


" Apa yang kau pikirkan? " Ujar Sima rui melihat sang istri yang tampak serius memikirkan sesuatu.

__ADS_1


" Dan er... " Jawab ziyan tanpa sadar. Ia segera melirik Sima rui begitu tersadar dengan apa yang baru saja diucapkannya.


" Suamiku... Jangan bilang kau cemburu dengan Dan er. " Selidik ziyan melihat wajah cemburu suaminya.


" Aku tidak suka jika kau memikirkan pria lain. Tidak peduli itu siapa. Bahkan meskipun pria itu adalah tuan Mo. Aku tetap akan cemburu. " Jelas Sima rui.


" Bukankah itu berlebihan. " Protes ziyan.


" Aku mungkin menyebutnya cinta buta, bukan berlebihan. " Ucap Sima rui membela dirinya.


" Baiklah, sekarang katakan. Kenapa kau memikirkan Dan er? " Sambung Sima rui.


" Bukan hal penting. Aku hanya merasa aneh saja melihat shuwang dan Dan er bersama. Bukankah mereka selalu bermusuhan, setidaknya itu yang aku lihat sebelumnya. "


" Mungkin mulai sekarang kau harus belajar memanggil shuwang dengan sebutan adik ipar. "


" a-apa? adik ipar? jadi mereka... " Ziyan terkejut hingga tak bisa melanjutkan kalimat ucapannya.

__ADS_1


Sima rui mengangguk. " Benar. Mereka bersama. "


__ADS_2