Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Kedatangan Chufeng


__ADS_3

Ziyan berada di halaman depan kamarnya. Di bawah pohon besar, menikmati teh dan kudapan yang baru saja yaoyao siapkan.


" Yaoyao, kau ambil satu lagi cangkir baru. "


Kenapa nonanya ingin cangkir lagi. Bukankah yang sedang di pegangnya itu cangkir miliknya.


"Nona. Kenapa kau ingin cangkir lagi? "


"Sebentar lagi akan ada tamu datang. Bukankah tak sopan jika tidak memberinya minum. "


"Tamu? siapa itu nona. "


Ziyan tidak menjawab, dia hanya tersenyum. "Apa tugas yang tadi ku berikan padamu sudah kau lakukan? "


"Sudah nona. Tadi aku sudah mengatakan pada bibi Xu. Jika nyonya tua memanggil nyonya besar setelah nyonya kedua menemuinya, supaya segera memberitahu nona."


"Bagus. Terima kasih yaoyao. "


"Anda terlalu sungkan nona. Tapi nona kenapa kau meminta bibi Xu melakukan itu. Bukankah hal yang wajar jika nyonya tua memanggil nyonya besar. "


Ziyan merasa pelayannya ini terlalu naif. Ia hanya percaya dengan apa yang dilihat. Justru sebenarnya yang paling berbahaya adalah apa yang tidak terlihat. Ziyan selama ini berpikir bahwa yuefeng satu-satunya di keluarga cabang yang berbahaya. Namun sepertinya anggapan itu salah. Ternyata bibinya juga tak sesederhana kelihatannya. Jika ia bisa kejam dengan putri kandungnya sendiri. Apa lagi dengan putri orang lain. Jadi ziyan menduga, karena yuefeng tak mungkin mengeluh padanya, ia pasti akan datang menemui ibunya. Dan kemana ibunya itu akan pergi. Tentu saja ke nyonya tua.


"Kau akan tahu nanti. Sekarang kita akan menunggu seseorang datang dulu. " Ziyan menyesap kembali tehnya.


Yaoyao penasaran siapa kiranya yang akan datang. Bagaimana nonanya tahu kalau seseorang akan datang. Tapi sepertinya yaoyao tak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui siapa itu. Dari jauh yaoyao melihat chufeng berjalan mendekat. Mungkinkah itu nona ketiga yang akan kesini?


"Nona. Bukankah itu nona ketiga. "

__ADS_1


Ziyan melihat ke arah yang di lihat yaoyao. Ia melihat chufeng berjalan membawa baju yang tadi di berikannya.


"Kakak pertama. Aku, aku tidak menjaga bajumu dengan baik. Jadi aku kesini ingin minta maaf. Jadi... "


Ziyan buru-buru memotong kalimat chufeng. Tanpa ia menjelaskannya ziyan sudah tahu siapa yang melakukannya. "Sudahlah. Aku akan minta yaoyao mencucinya. Baju ini hanya kotor. Bukan rusak. " Ziyan mengambil baju yang ada di tangan chufeng lalu memberikannya pada yaoyao. " Aku minta tolong padamu yaoyao. Jika aku menyerahkannya pada orang lain, pasti baju ini akan rusak. "


" Baik nona. " Yaoyao mengerti maksud ziyan. Ia tahu bahwa banyak mata yuefeng di kediaman barat.


" Karena kau sudah disini. Ayo kita minum teh dulu. Aku punya resep teh enak untukmu." Ziyan menarik tangan chufeng lalu menyuruhnya duduk di kursi lain.


**********************


𝚂𝚎𝚖𝚎𝚗𝚝𝚊𝚛𝚊 𝚍𝚒𝚝𝚎𝚖𝚙𝚊𝚝 𝚕𝚊𝚒𝚗,


"Ibu, apa yang harus aku lakukan. Jika aku tidak pergi ke perjamuan itu. Bagaimana aku bisa mendekati pangeran pertama? kau harus membantuku bu. "


Setelah pergi dari ruang belajar chufeng, Ia segera menuju halaman timur mencari ibunya. Melaporkan apa yang terjadi.


"Putriku sayang. Tenang saja. Ibu akan bicara dengan nenekmu. Agar dia mengizinkanmu pergi ke perjamuan itu. "


" Terima kasih bu. " Yuefeng memeluk ibunya. Ibunya memang paling bisa di andalkan.


"Tapi putriku. Apakah kau tak ingin mencoba mendekati putra mahkota? pangeran pertama sudah di jodohkan dengan ziyan. Dari pada kau berebut dengannya. Bukankah lebih baik kau mengejar orang yang lebih hebat dari miliknya. Seandainya kau berhasil menjadi putri mahkota, kau bisa membuat ziyan berlutut padamu. "


"Tapi bu. Pria yang aku sukai adalah pangeran pertama. Aku tidak menyukai pangeran mahkota. Dia suka bermain wanita. " Yuefeng tak ingin membayangkan dirinya harus berbagi suami dengan wanita lain. Meski ia tak memungkiri bahwa pangeran mahkota sama tampannya dengan pangeran pertama. Tapi kepribadian mereka sungguh sangat berbeda.


"Gadis bodoh. Meski pangeran mahkota suka bermain wanita, apakah ia membiarkan sembarang wanita masuk ke haremnya. Ia bahkan belum memiliki satupun wanita di haremnya. " Han jian memeluk putrinya dan menepuk pelan kepalanya. "Kau pikirkan saran ibu. Jangan sampai kau berakhir seperti ibu. Karena lebih memilih cinta, pada akhirnya bernasib seperti sekarang. "

__ADS_1


Han jian muda yang masih berpikiran naif percaya bahwa sebuah pernikahan cukup hanya dengan cinta. Jadi saat keluarga mo mengajukan lamaran padanya, ia langsung menyetujuinya. Apalagi saat itu Mo Qingchen termasuk pria tampan di kotanya dan semua pria di keluarga mo terkenal dengan kejujuran dan kesetiaannya pada pasangan mereka. Namun kenyataannya, status dan kekayaan juga diperlukan. Mo qingchen yang hanya seorang pejabat kecil di departemen pembangunan, tak bisa memenuhi hasrat han jian yang menginginkan status tinggi dan terhormat. Ia ingin suaminya setingkat dengan kakaknya, yincheng yang sebagai menteri. Han jian sering memaksa suaminya untuk bertindak kotor, namun ia selalu menolaknya dan berkata bahwa itu tak sesuai dengan prinsip keluarga mo.


Sebagai keluarga cabang yang harus mengikuti aturan keluarga utama, membuat han jian semakin membenci pernikahannya. Bahkan sebagai nyonya kedua, ia tidak memiliki kewenangan untuk mengatur rumah tangganya. Semua urusan kediaman mo di atur oleh hou minglan. Baik dari suami maupun kekuasaan, ia kalah dari wanita itu. karena itu ia bertekad, putrinya yuefeng harus menikah dengan salah satu pangeran, agar setidaknya bisa meningkatkan statusnya.


"Sekarang ayo kita temui nenekmu. Kita harus merebut kembali milikmu dari chufeng. Jangan biarkan anak bodoh itu merebut semua perhatian untukmu. "


Meskipun itu putrinya sendiri, chufeng. Han jian tak akan membiarkannya mengambil kesempatan yuefeng.


*****************


"Nona. pelayan yang di kirim bibi Xu memberikan kabar bahwa baru saja nyonya besar di panggil nyonya tua. " Yaoyao masih tampak kelelahan setelah berlari. Ia bergegas memberitahu nonanya setelah pelayan bibi Xu menyampaikan pesannya.


Bibi Xu adalah pelayan pribadi Hou minglan. Ia sudah menjadi pelayan pribadinya semenjak dirinya masih berada di kediaman hou.


Ziyan meletakan cangkir tehnya. "Sepertinya sudah saatnya berbincang-bincang dengan mereka. "


Ia bangkit dari kursinya, lalu mengajak chufeng untuk ikut dengannya ke aula tengah.


" Ada apa kak? Kenapa kita ke aula tengah? "


Chufeng sudah ditarik ziyan keluar dari halamannya. Yaoyao dan snowy mengikuti mereka dari belakang. Snowy merasa akan ada pertunjukan bagus untuk ditonton. Sementara yaoyao, khawatir sesuatu akan terjadi pada nyonya besarnya.


" Sepertinya aku datang terlambat. Kenapa ada rapat keluarga tapi nenek tidak memanggilku? "


Ziyan langsung mengeluarkan suaranya begitu kakinya melewati pintu aula tengah. Ia melihat nenek, ibu, bibinya dan juga yuefeng sudah ada di dalam.


"Yaner. kemarilah. kebetulan kau datang. Ada yang ingin nenek bicarakan padamu. " Neneknya masih berbicara dengan lembut.

__ADS_1


"Baiklah nek. Kebetulan juga ada yang ingin yaner bicarakan."


Aku akan mengajarkan pada kalian berdua bahwa mencoba menggenggam sesuatu lebih dari yang kau bisa, hanya akan berakhir sia-sia.


__ADS_2