Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 414 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

Rumah sakit kekaisaran merupakan fasilitas kesehatan yang di dirikan oleh Liu Rui. Berkat keberhasilan kliniknya yang berada di kota perbatasan. Ia pun mendirikan klinik yang jauh lebih besar di ibu kota.


Ziyan mendukung usulan menantunya tersebut. Dengan sedikit perubahan, yang awalnya hanya sebuah klinik berubah menjadi rumah sakit. Karena itu, Ziyan menjadi investor utama dalam pembangunannya.


Berkat kerja keras Liu Ru itu, banyak rakyat yang kini mendukungnya. Orang-orang yang awalnya meragukan Liu ru sebagai Putri Mahkota kini justru berpihak padanya.


Dan hari ini, tepat peresmian rumah sakit Kekaisaran.


Liu Ru datang bersama dengan suaminya, Sima Feng. Perutnya juga sudah tampak menonjol karena usia kehamilannya yang sudah menginjak bulan ke tujuh.


Selama perjalanan, kusir begitu berhati-hati. Ia memacu kudanya dengan sangat pelan seolah ia sedang membawa barang pecah belah bahkan kecepatannya hampir menyamai orang yang berjalan kaki.


" Yang mulia, tidak bisakah kudanya berjalan lebih cepat. Jika terus seperti ini aku yakin kita akan sampai setelah acara peresmiannya selesai. " Keluh Liu Ru.


Sima Feng menggeleng dengan tatapan masih fokus pada buku yang sedang di bacanya tampak acuh tak acuh dengan permintaan sang istri.


" Tidak ada ruang untuk berdebat. Kita sudah sepakat sebelumnya. " Matanya sama sekali tak melihat Liu Ru. Bukan karena ia sudah tidak peduli, tapi Sima Feng tak ingin terpengaruh dengan mata memohon istrinya. Berpikir, bahwa semua yang dilakukannya demi keamanan kandungan Liu Ru.


" Tapi ini terlalu lambat. Lihatlah, bahkan anak kecil itu berjalan lebih cepat dari kita. " Liu Ru membuka tirai dan tampak anak kecil bersama orang tuanya berjalan di sisi gerbong.


Sima Feng melirik dan memperhatikan mereka sejenak, lalu mengangguk. " Aku mengerti. "


Bibir Liu Ru tersenyum, senang karena suaminya akhirnya mengerti. Namun senyum itu langsung runtuh selang detik-detik selanjutnya.


" Bocah, bisakah kau berjalan lebih lambat. Istriku sedang hamil dan tak suka jika kau berjalan lebih cepat dari kami. Ini... ambillah perak ini. " Kata Sima Feng sekaligus memberikan satu tael perak pada anak tersebut.


Rahang Liu Ru menganga lebar. Menatap tak percaya dengan tindakan Sima Feng.


' Ah... Sudahlah. Percuma saja berdebat. Tak akan pernah menang. ' Liu Ru akhirnya memilih menyerah dan menikmati kecepatan kuda yang secepat siput tersebut.


Setelah sekian lama, kereta kuda mewah itu akhirnya berhenti, Liu Ru hendak turun namun buru-buru di hentikan oleh Sima Feng.


" Apa lagi? " Kesal Liu Ru.


" Hati-hati.. atau aku bisa menggendong mu saja. " Berlebihan sekali Sima Feng. Liu Ru hanya akan turun dari gerbong kereta bukan melompat dari lantai dua.


Liu Ru mendelik. " Jangan berlebihan. Aku hanya hamil bukan sekarat. Jika kau terus menggendong ku, aku takut akan lupa bagaimana caranya berjalan. Tolong jangan terlalu protektif. Lagipula, tabib justru menyarankan ku untuk lebih sering bergerak mengingat begitu banyak makanan yang kau masukkan ke mulut ku karena kau selalu beranggapan bahwa aku makan untuk mengisi dua perut. " Liu Ru mendengus kesal. Ketika mengingat suaminya yang memberinya makan seperti memberi makan seekor babi.


" Jangan marah, aku hanya khawatir kau akan terpeleset dan jatuh. Mengenai porsi makan mu. Aku lakukan itu agar anak kita tidak kelaparan. "


Liu Ru tersenyum kaku. " Terima kasih kalau begitu atas perhatiannya suami ku. Tapi apa kau tahu, bahwa berkat usaha keras mu itu, aku harus diet dan mengatur lagi pola makan ku atau aku akan kesulitan saat melahirkan nanti karena bayi yang terlalu besar. "


Sima Feng membuang napas setelah kalah berdebat. Kali ini ia memilih mengalah. " Baiklah. Aku akan membiarkan mu turun sendiri. Tapi aku tetap akan memegangi mu agar tidak terpeleset. Tidak ada penolakan! " Tekan Sima Feng dan Liu Ru mengangguk pasrah.

__ADS_1


Sima Feng turun kemudian ia meminta pelayan untuk mengelap pijakan kaki agar tak ada noda yang bisa membuat istrinya terpeleset.


Liu Ru memutar bola matanya dengan sikap suaminya yang sungguh sudah melewati batas normal protektif.


Penyelenggara acara segera menyambut kedatangan putra dan putri mahkota Kekaisaran Jin tersebut.


" Selamat datang putra mahkota dan putri mahkota. maaf jika penyambutan kami terlalu sederhana. "


" Tidak masalah. Aku memang tidak suka sesuatu yang berlebihan. Istri juga lebih menyukai acara sederhana seperti ini. " Ucap Sima Feng masih setia dengan wajah datar.


Sang penyelenggara tersenyum lega. Karena konsep acara ternyata sudah sesuai dengan keinginan dua tamu pentingnya itu.


Tanpa membuang waktu, penyelenggara menuntun keduanya duduk di kursi khusus yang sudah ia siapkan. Tepat di sebelah kursi Liu Ru ada kursi lain yang masih kosong.


" Milik siapa kursi ini. " Tanya Liu Ru pada sang penyelengara seolah tidak tahu.


Sebenarnya baik dirinya dan Sima Feng sudah tahu. Tapi ia hanya pura-pura tidak tahu. Bagaimana pun juga, peresmian ini adalah rencana Sima Feng. Jadi mana mungkin sebagai istrinya, Liu Ru tidak tahu.


" Ini kursi milik Bos Zi, Yang mulia. Karena tuan Zhou sudah tidak ada, mungkin Bos Zi akan datang sendiri tidak diwakilkan seperti biasanya. Terlebih investasi ini memiliki jumlah nominal yang sangat besar. Jadi itu menjadi pertimbangan saya kenapa menyiapkan kursi ini. " Jelas Penyelenggara pada Liu Ru sedangkan Sima Feng masih menyimak.


" Jadi benar menurut rumor bahwa asisten bos Zi tewas? " Lagi, Liu Ru pura-pura tidak tahu.


" Itu bukan rumor lagi Yang mulia, tapi memang itulah yang sebenarnya. Dan menurut sumber yang ku dengar, pembunuh itu katanya sudah di hukum mati oleh biro penyidik. Mereka tewas setelah di siksa karena tak kunjung mengakui kejahatan. " Dengan semangat menggembu-gembu, penyelenggara mode gosip on.


Sang penyelengara berubah pucat. " Maaf Yang mulia bukan itu maksud saya meragukan kinerja biro penyidik. Saya hanya.. " Takut sekali, penyelenggara takut jika ia salah bicara.


" Aku tahu. " Potong Liu Ru. " Kau hanya mencoba mengkritik para biro penyidik bukan? Aku sudah sering mendengarnya. "


Penyelenggara mengelus dada lega.


Sudah bukan rahasia umum jika biro penyidik saat ini banyak menerima suap. Kemungkinan besar pembunuh Wenran juga melakukannya. Ia ingin membuat seolah pelaku sudah di hukum. Dengan demikian, pelaku sebenarnya bisa terbebas. Andai Sima Rui tidak bertindak cepat dengan meminta Sima Dan memindahkan A Fei. maka nasib wanita itu sudah pasti berakhir buruk.


Pembicaraan mereka terus berlangsung, hingga kedatangan sebuah kereta kuda dengan logo Serikat dagang Zi tiba.


Liu Ru menoleh pada suaminya, dan Sima Feng menggeleng seolah tahu apa yang hendak ditanyakan oleh sang istri.


Turun dari kereta kuda, seorang wanita paruh baya dan disusul di belakangnya seorang wanita bercadar. Mereka adalah Song Xi dan Xiao Lu. Keduanya mendapat sambutan riuh dari para rakyat yang sejak tadi menunggu kedatangan mereka.


Setelah pamit pada Sima Feng dan Liu Ru, penyelengara segera menyambut Xiao lu yang sangat mirip dengan bos Zi dengan penuh hormat.


" Selamat datang nyonya. Terima kasih karena anda bersedia datang. "


" Terima kasih. Tentu aku harus datang, mengingat sebagai investor utama aku harus menunjukkan dukungan ku. " Kata Xiao Lu menyombongkan diri.

__ADS_1


Penyelengara tersenyum sopan. " Anda benar Nyonya. "


Kemudian penyelenggara menuntun Xiao Lu ke tempat duduknya sekaligus memperkenalkan Sima Feng dan Liu Ru.


" Nyonya, ini adalah Putra Mahkota dan putri Mahkota. " Katanya ketika penyelengara mengenalkan keduanya pada Xiao Lu.


Sima Feng dan Liu Ru masih duduk. Pandangan keduanya menyorot dari atas ke bawah seolah menilai ' jadi ini wanita yang menyamar menjadi ibu mereka? '


Sangat mirip, andai Sima Feng dan Liu Ru tidak tahu identitas bos Zi yang sebenarnya mungkin mereka juga akan tertipu seperti yang lain.


Jantung Xiao Lu jangan di tanya seperti apa saat ini. Berdegup kencang, panik takut penyamaran akan terbongkar. Mengingat dua orang di depannya ini memiliki identitas penting. Terlebih sorot mata keduanya sangat menakutkan seolah mampu melihat jauh kedalam dirinya.


Xiao Lu tahu mengenai peresmian rumah sakit, tapi ia tak menyangka jika akan kedatangan putra mahkota dan putri mahkota. Xiao Lu yakin sekali bahwa ketika melihat daftar undangan, ia tidak melihat nama Sima Feng dan Liu Ru di sana.


Isi kepala Xiao Lu mendadak kosong. Tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.


Song Xi bisa merasakan kepanikan Xiao lu. Sebenernya ia juga panik. Tapi Ia berusaha tenang lalu berdeham membuat Xiao lu segera tersadar.


' Aku tidak boleh mengacau. Jika aku bisa berperan dengan baik. Mereka berdua tak akan tahu. Benar. Aku harus berperan lebih baik sebagai bos Zi. ' Monolog Xiao Lu dalam hati berusaha menguatkan dirinya.


Setelah menarik napas, ia tersenyum. Meski senyumnya tak mungkin terlihat mengingat dirinya masih mengenakan cadar.


" Saya senang bisa duduk bersanding dengan anda berdua, putra mahkota dan putri mahkota. Terlebih putri mahkota, meski sedang hamil besar tapi anda masih bisa mendukung acara ini. Rakyat Jin pasti sangat bahagia dan bangga dengan anda. "


Liu Ru yang sebelumnya menampilkan senyum ramah mendadak berubah dengan ekspresi bingung.


" Tentu saja aku harus datang. Apakah nyonya lupa bagaimana kau bisa menjadi investor dari rumah sakit ini? " Tanya Liu Ru yang sebenarnya merupakan sebuah jebakan.


" Hahaha.. tentu saja saya tidak lupa, putri. "


" Benarkah? berarti nyonya masih ingat tentang pembicaraan kita berdua ketika aku meminta pendanaan pembangunan rumah sakit ini bukan? dan itu adalah janji. "


" .... " Xiao Lu membeku. Mana mungkin ia ingat? tahu saja tidak.


" Hahaha sepertinya nyonya benar-benar lupa. baiklah aku akan mengingatkan. Nyonya, kau berjanji akan menjadi penyumbang tetap rumah sakit setiap bulannya. Apakah sekarang sudah ingat? "


Lagi, Xiao Lu membeku. Bayangan uang kertas dengan sayap terbang begitu saja.


' Setiap bulan menyumbang, bukankah sama dengan membakar uang. ' Batinnya menangis begitu sakit hati harus menghamburkan uang yang menurutnya untuk sesuatu yang sia-sia.


Memberikan sumbangan tidak memberinya untung. Itu menurut Xiao Lu. Song Xi juga bereaksi sama. Matanya hampir saja lepas ketika mendengar kata-kata Liu Ru.


' Tiap bulan aku harus memberikan sumbangan? tidak. Aku harus segera mengalihkan semua harta Bos Zi pada ku. Dan kemudian memutus perjanjian merugikan itu. Aku bisa beralasan jika janji tersebut tidak ada hubungannya dengan ku. ' Pikir Song Xi.

__ADS_1


Sudut bibir Liu Ru naik. ' Sungguh konyol. Mereka percaya begitu saja. Semirip apapun, palsu tetaplah palsu. '


__ADS_2