Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 184


__ADS_3

Feiyue menelan saliva berusaha mengusir rasa gugupnya. Tangannya memilin ujung bajunya sembari berpikir kalimat apa yang harus ia katakan untuk memulai pembicaraan.


" Ada urusan apa kau kemari? " Desak Sima rui. Sekali lagi ia bertanya dengan sedikit penekanan. Kesal karena feiyue tak kunjung bicara.


Meski ragu, feiyue akhirnya memberanikan diri dan berucap, " A-aku ingin meminta bantuan mu kak. "


Sima rui mengerutkan kening mendengar ucapan feiyue. Ia tetap diam menunggu gadis itu melanjutkan kalimatnya.


" Tolong bicaralah pada Yang mulia Kaisar agar ia membatalkan titah pernikahan itu. Sungguh, aku tak ingin menikah dengan putra mahkota. Walaupun tahta tinggi menanti setelahnya. Tapi aku sama sekali tidak tertarik. Kau tahu betul siapa laki-laki yang aku cintai. Aku sama sekali tidak mencintai putra mahkota. " Mohon feiyue.


Sima rui masih tak memberikan reaksi apapun. Sementara ziyan dalam hati mengacungi ibu jarinya atas keberanian feiyue. Sama sekali tak cemburu dengan ungkapan cinta gadis itu.


" Kak, tolong katakan sesuatu. Maukah kau membantuku. Aku tahu Yang mulia Kaisar pasti akan mendengarkan mu. " Suara feiyue sedikit bergetar. Ia tahan agar air matanya tak kembali jatuh.


" Apa kau bersungguh-sungguh dengan apa yang kau katakan. " Ujar Sima rui tenang.


Wajah feiyue seketika cerah mendengar balasan Sima rui yang terlihat tenang. Ia pikir bahwa Sima rui tak marah dengan permintaannya. Namun ziyan yang duduk di samping Sima rui justru menelan saliva menyadari ketegangan yang terjadi. Ia tahu bahwa ketenangan Sima rui adalah awal dari badai besar yang akan segera datang.


Feiyue mengangguk dan dengan antusias berkata, " Aku serius dengan apa yang aku katakan. Apa kakak rui akan membantuku? "


Sima rui mengangkat salah satu sudut bibirnya seolah mengejek feiyue.


" Kau pikir siapa Yang mulia Kaisar? Beraninya kau berkata seolah Kaisar selalu tunduk dengan segala ucapan ku. Aku bisa menghukum mu dengan tuduhan merendahkan Kaisar. " Sarkas Sima rui menunjuk feiyue.


" Aku masih memandang kakek mu karena beliau adalah guruku. Tapi karena sikap lancang mu ini. Aku akan mulai berpikir ulang dan menganggap bahwa kakek rong telah memberikan pendidikan yang salah pada cucunya. "


" Aku akan menganggap tak pernah mendengarkan apa yang kau katakan ini. Lebih baik sekarang kau pergi dan jangan pernah bermimpi untuk membatalkan titah Yang mulia Kaisar. " Kata-kata Sima rui tegas dan sarat akan ancaman. Siapapun yang mendengarnya akan bergidik ngeri karena aura intimidasi pria itu.


Namun feiyue masih tak ingin menyerah. Ia justru bangkit dari kursinya dan segera bersimpuh di depan sima rui.

__ADS_1


" Tolong kakak rui. Aku mohon tolong aku. Aku benar-benar tak ingin menikah dengan putra mahkota. Aku hanya ingin menikah dengan mu. Aku tak masalah jika pun hanya menjadi selir. Tidak, tidak. Gundik pun tak apa. Asalkan denganmu apapun itu aku terima. " Feiyue berkata dengan air matanya yang sudah mengalir deras.


Bukan tanggapan postif yang feiyue terima melainkan luapan amarah Sima rui.


BRAK!


Sima rui menggebrak meja keras, sangking besarnya tenaga yang di keluarkan Sima rui membuat beberapa cangkir di atasnya melayang dan jatuh berantakan.


Seketika wajah penuh air mata feiyue berubah pias.


Masih bersimpuh, feiyue berjalan dengan menggunakan lututnya berjalan mendekati Sima rui. Namun sebelum ia sampai di depan Sima rui, Ziyan menghentikannya.


" Nona rong berdirilah. Seorang wanita hanya boleh bersimpuh di depan orang tua ataupun suaminya. " Ziyan memegang lengan feiyue membantunya berdiri.


" Tidak. " Tolak feiyue.


" Tolong jangan lakukan ini. Pangeran tak akan sanggup menanggungnya. Kau membawa kehormatan kediaman Rong. Lebih baik sekarang kau pulanglah terlebih dulu. " Bujuk ziyan.


Feiyue memandang ziyan dengan perasaan rumit lalu menatap nanar Sima rui. Wajahnya terlihat menanggung sebuah kekecewaan dan kesedihan yang begitu dalam.


" Ma-maaf telah menganggu. Aku akan pergi. " Ucap Feiyue terbata dan segera melangkah keluar.


Ziyan menghela napas menatap kepergian feiyue. Lalu menghampiri Sima rui dan memegang tangannya yang terkepal kuat.


" Tolong redakan amarah mu. " Ia mengelus punggung tangan Sima rui lalu membukanya dan membersihkan telapak tangan pria itu dari serpihan kayu.


Sudut mata ziyan bisa melihat pinggiran meja bulat yang remuk karena cengkraman Sima rui. Ucapan provokatif feiyue yang menginginkan menjadi selir berhasil menyulut amarah Sima rui.


" Aku tak apa. Kenapa kau begitu marah. " ucap ziyan lembut.

__ADS_1


Sima rui memicingkan matanya, " Aku tak suka dengan ucapannya. Apa menurutnya aku pria murahan yang begitu mudah menerima wanita untuk menjadi istriku. "


Ziyan terkekeh mendengar pernyataan Sima rui tersebut. Baginya pria dengan banyak istri adalah pria murahan. Pemikiran suaminya ternyata lain daripada yang lain.


" Jangan tertawa. Aku serius. " Tegur pria itu.


" Baiklah. Maafkan aku suamiku. " Ziyan masih tertawa kecil.


Lalu Sima rui memeluk ziyan dan berbisik. " Aku terlalu mencintai mu. Aku tak ingin ada satupun wanita yang membuatmu sakit hati. Aku takut ucapan feiyue menyakitimu. Maafkan aku jika reaksi ku terlalu berlebihan. "


Ziyan tersenyum mendengar ungkapan perasaan Sima rui. " Aku bukanlah wanita dengan pikiran sempit yang akan langsung marah begitu mendengar ucapannya. " Ia menangkup wajah Sima rui dan menatap lekat pria itu. " Meski begitu, terima kasih karena memikirkan perasaanku. Aku juga sangat mencintai mu. " Ziyan mengecup singkat bibir Sima rui.


" Aku pikir kau tidak tulus mengungkap rasa terima kasihmu. " Ziyan mengernyit tak mengerti maksud Sima rui.


" Aku tulus. Bagian mana yang menurutmu tidak menunjukkan ketulusanku. " Tanya ziyan.


Seringai licik tiba-tiba Sima rui membuat ziyan merinding.


" Akan ku tunjukkan apa arti ketulusan itu. "


Tanpa membuang waktu Sima rui menggendong ziyan dan melangkah keluar menuju kamar mereka.


Junyi yang sejak tadi berada di depan pintu menatap iri keduanya. Tampaknya tuannya akan kembali bekerja keras hingga malam nanti.


Sementara itu, di dalam kereta kudanya. Feiyue terus menangis menumpahkan kesedihannya. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan. Meski jauh di lubuk hatinya tahu jika Sima rui tak akan membantunya. Tetap saja ia enggan untuk mengakuinya dan terus berharap. Hingga akhirnya penolakan itu menjadi belati yang menyayat hatinya.


" Nona tolong jangan menangis lagi. Tuan besar akan khawatir jika melihatnya. " Kata Xiao lu khawatir.


" Jangan hentikan aku Xiao lu. Biarkan aku sepuasnya menangis hari ini. Karena aku tahu setelah aku tiba di kediaman tak akan ada kesempatan untukku menangis lagi. " Rengek feiyue.

__ADS_1


" Aku kalah dari wanita itu. Aku pikir hanya aku yang memahami kakak rui. Tapi ternyata wanita itu lebih memahaminya. "


Feiyue teringat bagaimana ekspresi Sima rui tadi. Jika saja ziyan tak menyuruhnya bangun. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Tapi satu hal yang pasti bahwa itu bukan sesuatu yang baik.


__ADS_2