
Beberapa hari setelah penangkapan itu, Xu xiang meminta pada A Guang untuk mengijinkannya bertemu dengan Na li.
Dan disini lah akhirnya mereka berdua, berada di penjara dimana Na li menjalani hukumannya.
A Guang tidak ingin mengganggu pembicaraan kedua saudara itu, jadi ia memilih menunggu di luar, namun tetap tidak melepas pengawasan terhadap calon istrinya tersebut. Ia tak ingin jika Kakak bajingannya sampai melakukan hal yang tidak di inginkan.
Xun xiang berjalan menuju sel Na li. Ia melihat kakaknya tersebut sedang duduk sembari termenung.
" Kakak, bagaimana kabar mu? "
Na li mengangkat kepala dan melihat kedatangan adiknya.
Ia membuang muka, dan dengan ketus berkata. " Untuk apa kau kemari? apa kau ingin menertawakan keadaan ku? " Na li tak tahu apa yang sebenarnya membuat ia tak menyukai adiknya tersebut.
" Tak ada hal menguntungkan yang ku dapat karena menertawakan mu. Aku datang kesini hanya ingin mengatakan bahwa aku harap ini setelah jangan pernah menemui ku. Anggap hari ini adalah pertemuan terakhir kita. Bila di masa depan kita bertemu lagi, anggaplah kita berdua hanya orang asing yang tidak saling mengenal. "
Na li tersenyum penuh penghinaan. " Sekarang kau menunjukkan wajah mu yang sebenarnya. Setelah kau berhasil menjadi Phoenix dan memanjat ke posisi tinggi, kau membuang satu-satunya saudara mu. Bagus sekali Xu xiang bagus sekali. Kau benar-benar wanita tidak tahu diri. "
Wajah Xu xiang masih datar. Ia sama sekali tidak merasa terprovokasi. Ia justru mengangguk seolah membenarkan apa yang di katakan olehnya.
" Kau benar, aku memang wanita tak tahu diri. Bertahun-tahun tinggal bersama ibu pemabuk dan kakak bajingan yang hobi berjudi. Mengajarkan aku untuk menjadi jahat. "
" Apa kau tahu kenapa dulu aku bertahan meski semua orang mengatakan aku bodoh dan idiot karena terus bersikap layaknya sapi perah yang terus menerus membayar hutang yang tak pernah selesai. Itu karena aku masih memandang ibu. Dan aku tak ingin ibu sedih karena apa yang kau lakukan. Tapi karena ibu sudah tiada, maka aku tidak perlu lagi bersikap bodoh. "
Lalu Xu xiang tersenyum getir, " Kau tahu apa yang lebih menyedihkan. Bahkan setelah semua yang aku lakukan. Ibu bahkan tak pernah melihat ataupun mengingat ku. Ia seolah lupa bahwa ia tak hanya memiliki seorang putra tapi juga seorang putri. "
" Ibu hanya akan mengingatku di saat kau terdesak atau dalam masalah. Sungguh, aku sangat iri dengan mu. Kau hanya bisa membuat masalah tapi kasih sayang ibu masih tetap mengalir untuk mu. Sedangkan aku, meski sakit atau pun mati, aku yakin ibu tidak akan pernah menatap ku penuh kasih sayang. "
" Apa kau tahu, sesaat sebelum aku pergi aku mendengar pembicaraan kalian. Kau tahu bahwa hutang mu lunas karena pinjaman dari teman ku. Tapi kau justru berniat menggunakan ku untuk mengeruk uangnya. Dan saat itu aku tersadar bahwa baik kau atau pun ibu sampai kapan pun tidak akan pernah berubah. "
" Jadi untuk apa aku terus bertahan. Jadi sekarang pun sama. Mari kita selesaikan semuanya. Mulai saat ini kau bisa menganggap tidak lagi memiliki saudari. "
Na li yang awalnya ingin memaki Xu xiang mendadak bungkam. Lidahnya seolah kelu dadanya mendadak sakit. Seolah martil besar tengah menghantam tepat di jantungnya.
Seakan langit baru saja menurunkan hidayahnya. Tiba-tiba, segala ingatan tentang bagaimana adiknya bekerja keras selama ini muncul di otak Na li. Membuat setitik rasa bersalah muncul di hati pria itu.
Entah ada angin apa, Na li yang sebelumnya bungkam mendadak mengucapkan kata yang tidak pernah Xu xiang duga akan keluar dari mulutnya. " Maaf... "
Lalu kembali Na li melanjutkan. " ... Mungkin sudah terlambat, karena ibu sudah meninggal dan aku baru mengatakannya. Aku tidak berharap kau memaafkan ku. Tapi bisakah setelah ini setidaknya sampai aku keluar dari penjara, kau tetap mengunjungi makam ibu. "
__ADS_1
Entahlah kebencian pada adiknya yang dulu ada mendadak sirna. Setelah Xu xiang mengeluarkan semua isi hati yang selama ini dipendam nya, Na li justru di serang rasa bersalah.
Xu xiang berharap saat ini Na li hanya berpura-pura, jadi ia bisa tetap membencinya dan tidak terbebani dengan perasaan menyesal suatu saat nanti.
" Aku akan melakukannya. " Xun xiang menjawab dengan singkat.
Na li mengangguk seolah ada perasaan lega yang ia tak sadari, " Itu bagus. "
Keduanya diam tak ada lagi pembahasan. Karena merasa tak nyaman, Na li menambahkan. " karena tak ada lagi yang di bicarakan. Sebaiknya kau pergi. "
Xu xiang tidak menjawab. Ia langsung berbalik dan melangkah pergi. Namun saat langkahnya belum jauh, Na li sedikit berteriak.
" Selamat atas pernikahan mu. Semoga kau bahagia. "
Hati Xu xiang sedikit bergetar. Ia bisa merasakan ketulusan ucapan Na li. Namun ia memilih mengabaikannya.
Xu xiang masih tak menjawab dan hanya di balas dengan anggukan. Dan ia pun melangkah pergi.
Na li memandang punggung adiknya yang semakin menjauh. Tanpa sadar matanya terasa panas dan setitik air mata keluar.
Penyesalan, satu kata yang Na li rasakan saat ini. Semenjak sang ibu meninggal, Na li selalu merasa sesak di dadanya. Ia berpikir bahwa ia sakit. Namun sekarang ia paham, apa itu?
Semenjak keluar dari biro penyidik, Xu xiang sama sekali tidak berbicara. A Guang tak ingin mengganggu atau memaksanya bicara. Ia akan menunggu sampai calon istrinya itu mau berbicara.
Di dalam gerbong kereta, hanya ada keheningan di antara mereka. Membuat perjalanan terasa begitu lama.
" Terima kasih, karena sudah membawaku menemuinya. " Beberapa patah kata yang di ucapkan Xu xiang mengusir keheningan.
A Guang menarik Xu xiang ke dalam pelukannya. Ia tahu, gadis itu tidak baik-baik saja. Tapi ia sekuat tenaga berusaha agar baik-baik saja.
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Ia menangis terisak di dada pria yang dicintainya itu.
" Kenapa? kenapa bajingan itu meminta maaf. Alangkah lebih baik jika dia tidak pernah minta maaf. Jadi aku bisa terus membencinya. Aku tidak ingin memaafkannya. Sungguh, aku tidak ingin memaafkannya. " Ucap Xu xiang di tengah tangisnya.
" Kalau begitu jangan memaafkannya. Kita bukan dewa, kita hanya manusia. " A Guang mencoba menghibur, ia juga tahu bagaimana sakitnya perasaan Xu xiang. Memaksakan diri untuk memaafkan hanya akan membuat diri kita terdengar munafik.
Xu xiang tidak lagi berbicara. Ia kembali diam, menumpahkan rasa sesak di dadanya.
************
__ADS_1
Kedamaian akhirnya bisa dirasakan kembali oleh A Guang dan Xun xiang. Pernikahan keduanya akan di adakan saat musim semi. Lebih tepatnya tiga bulan lagi.
Xu xiang kembali sibuk mengurus serikat dagang miliknya. Setelah status calon putri mahkota terungkap. Banyak orang yang mulai mempertimbangkan serikat dagang tersebut. Dan hal itu menambah kesibukan Xu xiang.
Situasi serupa juga terjadi pada A Guang. Dia semakin sibuk dengan urusan kerajaan.
Berbeda dengan Sima rui justru memiliki banyak waktu luang. Seperti hari ini, di tengah pekerjaannya ia diam-diam menemui ziyan di istana ratu.
" Dimana ratu? " Tanyanya pada pelayan di sekitar saat tak menemukan sang istri.
" Jawab Yang mulia, saat ini ratu berada di makam. "
" Baiklah.Terima kasih. "
Setelah mengetahui dimana sang istri, Sima rui bergegas menyusul.
Ada sebuah danau buatan di belakang istana ratu. Di sana juga ada satu makam yang selalu di kunjungi ziyan saat ia membutuhkan ketenangan.
Sima rui melihat ziyan duduk sembari memandang makam yang sudah 15 tahun ini berada di sini.
" Kau merindukannya? "
Ziyan menoleh dan tersenyum saat melihat suaminya datang. Ia pasti kesini setelah tak menemukan dirinya di istana ratu.
Kembali Ziyan menatap makam di depannya. Nisan dengan huruf alfabet bertuliskan ' Snowy ' terpahat rapi di sana.
Kucing gemuk milik ziyan itu menghembuskan napas terakhirnya saat si kembar berusia 5 tahun.
Alasan mati? karena usia. Umur hidup kucing lebih pendek jika dibandingkan dengan manusia. Dan hari itu menjadi hari paling kelam selama ziyan berada di dunia barunya ini.
Lucy menyarankan untuk menyimpan salah satu sampel DNA snowy agar suatu saat jika ia bisa kembali ke Britania, ia bisa membuat kloning kucing itu. Namun gagasan itu ditolak langsung oleh ziyan. Bukan karena ia tidak menyayanginya. Melainkan bagi ziyan kloning hanya seperti cangkang kosong tanpa jiwa. Meski serupa tetap saja berbeda. Dan baginya hanya ada satu snowy.
Ziyan tersenyum mendengar pertanyaan Sima rui. Ia pun mengangguk. " Meski sudah bertahun-tahun tapi tetap saja aku merindukannya. Ia adalah penghubung antara aku dan ibu. Aku masih ingat tatapan aneh orang di istana saat melihat betapa sedihnya aku saat snowy mati dulu. Mungkin mereka berpikir bahwa reaksiku sangat berlebihan hanya untuk kematian seekor kucing. Mereka lupa bahwa kucing juga lah makhluk bernyawa. "
" Itu karena mereka tak memahami mu. Saat orang lain memahami mu, apa yang sedang kau rasakan, mereka juga akan merasakannya. Jadi jangan pedulikan mereka. Karena istriku, kau hanya perlu peduli pada ku. "
Ziyan tak tahan untuk tidak tertawa, pada akhirnya kata-kata bijak Sima rui selalu berujung dengan menunjukkan bagaimana posesif nya dia.
Tangan ziyan terulur, " Terima kasih karena sudah mencoba menghibur ku. " Ucapnya sembari mencium pipi suaminya.
__ADS_1