Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 143


__ADS_3

Kerajaan wei,


Seorang prajurit menunggang kuda dengan kecepatan penuh. Dengan kecepatan angin, ia menerobos semua halangan yang ada di depannya. Termasuk ketika melewati jalanan kota, beberapa orang sampai terjatuh karena menghindari kuda si prajurit tersebut.


Sesampainya di depan gerbang istana wei, Ia segera melempar tali pegangan kudanya, dan melompat turun. Sementara prajurit lain, melihatnya dengan tatapan bingung.


" Gawat! Berita penting Yang mulia. " Teriak prajurit tersebut di tengah aula. Semua menteri yang sedang membahas permasalahan kerajaan dibuat terkejut dengan teriakan prajurit tersebut.


" Lancang! Apa kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? " Ucap salah seorang Menteri. Sementara prajurit yang telah berkuda seharian itu seakan tak peduli dan justru berlutut sembari berjalan dengan lututnya memberikan gulungan yang ada di tangannya


" Maaf Yang mulia. Saya membawa berita penting dari perbatasan. "


Kasim kaisar wei mengambil gulungan tersebut dan memberikannya pada sang tuan.


Kaisar wei membuka dan mulai membaca gulungan tersebut, tangannya bergetar karena berita buruk yang baru saja ia baca. Para menteri yang melihat wajah pucat Kaisar wei mulai khawatir. Mereka mulai berbisik bertanya apa gerangan isi gulungan itu.


" Menteri Pertahanan, kerahkan prajurit. Kuatkan Pertahanan. Kita akan menerima serangan suku bar-bar. Segera evakuasi warga, sebisa mungkin kita harus mengurangi jumlah korban. "


Kalimat perintah Kaisar wei sontak bagaikan bom waktu yang mengejutkan semua orang. Bagaimana tidak? dalam waktu dekat, kerajaan mereka akan menerima tamu, bukan tamu undangan melainkan sebuah kehancuran.


Dan benar saja, dalam waktu kurang sari satu hari, suku bar-bar berserta prajurit rahasia ibu suri sudah memasuki gerbang kota. Beruntung sebagian besar warga sudah di evakuasi.


Karena serangan tiba-tiba itu, membuat kerajaan wei kurang persiapan, pertahanan kota menjadi lemah, dan dengan mudah di hancurkan. Prajurit musuh langsung menuju ke istana Kekaisaran guna mengambil alih kerajaan.


Pertempuran di area istana tak terhindarkan. Mayat prajurit yang gugur terlihat di mana-mana.


" Yang mulia, kita harus secepatnya melarikan diri. Jika tidak nyawa anda akan dalam bahaya. " Ucap kasim kaisar wei.


" Bagaimana bisa aku melarikan diri. Sementara prajurit ku masih berjuang melindungi kerajaan. " Protes kaisar wei.


Tangan Kaisar wei mengepal, di kursi kebesarannya ia menatap lurus ke arah pintu masuk. Semua menterinya telah pergi menyelamatkan diri. Kini hanya ia dan kasim beserta beberapa pelayan yang setia menemaninya. Ia paham betul bahwa kerajaannya tersebut tak akan bertahan lama. Namun sebagai kaisar, ia tidak bisa begitu saja pergi menyelamatkan diri sementara para prajuritnya mengorbankan nyawa demi melindungi istana.

__ADS_1


" Apakah perintah ku untuk mengevakuasi shuwang sudah kau jalankan? " Tanya Kaisar wei.


" Sudah Yang mulia. Mereka sudah pergi meninggalkan istana beberapa saat yang lalu. " Jawab kasim Kaisar wei.


Kaisar wei menghela napas lega. Setidaknya jika ia mati, shuwang masih bisa selamat. Beruntung dirinya belum mengirim pembatalan pertunangan shuwang dengan sima yan. Kelak kerajaan Jin mungkin akan menjadi harapan terakhir untuk merebut kembali kerajaan wei dari suku bar-bar.


Keributan mulai terdengar dari singgasananya, itu berarti prajurit musuh sudah berhasil menerobos masuk ke istana.


" Kalian semua pergilah. Selamatkan diri kalian. " Titah Kaisar wei pada seluruh pelayan yang masih menemaninya.


" Maaf Yang mulia, tapi kami tidak akan pergi dari sini. Jika pun harus mati. Kami rela mati disini dari pada harus hidup sebagai pecundang. Kami siap melayani Yang mulia sampai akhir hayat kami. " Ucap salah seorang pelayan wanita.


" Kasim Li, apa kau juga tidak ingin pergi? " Kaisar wei melihat kasim nya yang sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.


" Saya akan tetap disini Yang mulia. Jadi tolong jangan perintahkan saya untuk pergi menyelamatkan diri. Saya harus menuntaskan tugas saya sampai akhir. "


Mata Kaisar wei terasa panas, lahar panas seolah akan keluar dari pelupuk matanya. Ia begitu tersentuh dengan para bawahannya yang masih setia menemaninya.


Begitu Kaisar wei menyelesaikan kalimatnya. Para prajurit suku bar-bar sudah memasuki istana. Seorang pria dengan jubah besinya berjalan di depan.


" Kau.. " Seru Kaisar wei saat melihat pria tersebut. Ia begitu terkejut hingga berdiri dari kursinya.


" Sudah lama Kaisar wei. Bagaimana perasaan mu melihat kehancuran kerajaan mu sendiri. " Ucap pria tersebut dengan seringai penuh ejekan di bibirnya.


" Kau pengkhianat! Bagaimana bisa kau tega menghancurkan kerajaan mu sendiri Chu BaiJi. "


Baiji terbahak mendengar ucapan Kaisar wei. " Apa kau tidak malu mengatakan hal itu Kaisar wei, setelah apa yang kau lakukan pada keluarga ku. "


" Mereka di hukum karena kejahatannya, keluargamu telah melakukan kejahatan besar. Korupsi dan perbudakan yang mereka lakukan sangat merugikan rakyat. Apa menurutmu semua tindakan itu adalah hal yang benar. Sebagai mantan jenderal kerajaan wei. Kau seharusnya tahu betul betapa besarnya kejahatan mereka. "


Baiji meludah. " Kau jelas tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau tahu jika semua itu adalah jebakan mantan perdana menteri. Tapi setelah mengetahui kebenarannya pun. Kau sama sekali tidak membersihkan nama keluargaku dan justru menutup mata membiarkan nama Chu terus tercoreng. "

__ADS_1


Wajah Kaisar wei berubah pucat. Ia tak menyangka bahwa baiji akan mengetahui kebenaran tersebut. Otaknya kembali mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Meski sudah bertahun-tahun, namun ingatan tersebut masih jelas terekam di ingatan Kaisar wei.


Awal flashback,


Malam itu kediaman chu yang selalu tenang tiba-tiba ramai karena sergapan prajurit kerajaan.


" Tidak. Kami di jebak. Aku tidak pernah melakukan kejahatan tersebut. " Tuan Chu terus meronta saat tubuhnya di bawa paksa oleh prajurit ke pelataran halaman rumahnya.


Semua orang di kediaman Chu berlutut, isak tangis terdengar dari para wanita yang meratapi akhir nasibnya.


" Menteri Chu, bukti dan saksi membuktikan bahwa kau telah melakukan kejahatan korupsi dan perdagangan manusia. Oleh karena itu, sebagai Kaisar kerajaan wei, aku memberikan hukuman mati, berikut dengan seluruh anggota keluarga mu. "


Bak tersambar petir, tubuh tuan Chu melemas mendengar dakwaan yang baru saja dibacakan oleh kasim kerajaan.


" Tidak, ini semua jebakan. Aku tidak pernah melakukan itu semua. Tolong, sampaikan pada Kaisar agar menyelidiki kasus ini sekali lagi. Tolong... " Pria tua itu menangis. Ia tak menyangka seseorang akan menargetkan dirinya dan membunuh seluruh keluarganya.


" Maaf tuan Chu, aku hanya menjalankan perintah. " Tanpa banyak bicara, kasim tersebut langsung pergi.


Teriakan kesakitan mulai terdengar. Bahkan ketika kasim itu sampai di depan gerbang utama kediaman Chu. Ia masih bisa mendengar jeritan rasa sakit penghuni kediaman Chu. Meski terlihat tenang, tubuh kasim Li masih sedikit gemetar saat membayangkan bagaimana para prajurit membantai seluruh penghuni kediaman tersebut.


Ia berjalan menuju kereta kuda yang berhenti tepat di depan kediaman tersebut.


" Yang mulia, semuanya sudah selesai. " Ucap Kasim Li membungkuk.


Tatapan rumit Kaisar wei menatap lekat plat nama kediaman Chu. Entah kenapa ia merasakan suatu perasaan aneh, seolah hal buruk akan terjadi karena keputusannya ini.


' Apakah aku terlalu tergesa-gesa? haruskah aku menyelidikinya sekali lagi? ' pikir Kaisar wei penuh sesal.


Namun tiba-tiba ia teringat akan ucapan perdana menterinya. " Yang mulia, sebagai pemimpin negeri ini anda tidak boleh berhati lemah. Anda harus tegas agar tak ada seorang pun yang berani menginjak anda. Jangan pernah sesali keputusan anda. Ingatlah bahwa apa yang anda lakukan demi kebaikan kerajaan wei. "


Akhir flashback

__ADS_1


Kaisar wei tak menyangka bahwa keputusannya kala itu akan menciptakan pengkhianat yang akhirnya menghancurkan negaranya sendiri. Ia menyesal karena menutup mata kasus tersebut. Seharusnya saat dirinya diam-diam menyelidiki kembali kasus itu, dan akhirnya mengetahui bahwa itu hanya jebakan mantan perdana menterinya. Ia seharusnya segera memperbaikinya. Namun hanya karena tidak ingin di nilai sebagai Kaisar bodoh karena salah mengambil keputusan, Ia pun memilih diam. Dan tak lama, mantan perdana menteri itu memilih mudur setelah ancaman Kaisar wei dan di gantikan oleh menteri Guan Li.


__ADS_2