
Terlihat kepanikan di kediaman Sima Dan. Siapa yang menduga bahwa malam tadi mereka akan menyambut kepulangan tuan mereka dengan kondisi yang memprihatinkan. Pangeran ke tiga kerajaan jin itu di temukan bersimbah darah. Tubuhnya penuh luka tebasan pedang. Beruntung saat kejadian ada petugas penyidik bawahan Sima Dan yang datang terlambat sehingga ia tidak ikut menjadi korban xumu seperti dirinya dan heimian.
Flashback on
Sima Dan yang mendapat laporan dimana saksi terakhir berada segera meluncur menuju tempat yang disebutkan. Namun setibanya di sana, Sima Dan justru mendapati rumah dalam kondisi kosong dengan beberapa perabot pecah. Sima Dan menduga bahwa ia baru saja mendapatkan serangan. Di lihat dari tungku kompor yang masih hangat, Sima Dan yakin bahwa kejadiannya belum lama terjadi.
Tidak ingin membuang waktu lebih lama, Sima Dan segera pergi mencari ke luar. Ia memerintahkan heimian untuk berpencar.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Setelah lama mencari, akhirnya Sima Dan melihat pria yang sejak tadi sedang dicarinya. Namun kabar buruknya pria itu tengah bertemu malaikat pencabut nyawanya.
Melihat xumu mengayunkan pedang, Sima Dan segera menghalau serangan xumu. Pertarungan tak seimbang itu akhirnya tidak terelakan. Jika sima rui saja cukup kerepotan saat melawan xumu. Maka sudah pasti Sima Dan akan mustahil untuk mengalahkannya.
Benar saja, Sima Dan jatuh tersungkur saat serangan xumu mengenainya. Ia memegang dadanya yang tergores karena luka tebasan xumu.
Xumu menyeringai. " Kau ternyata tidak sehebat Sima rui. "
Sima Dan terkejut. ' Apakah kakak mengenalnya. ' Pikirnya.
Ia mengangkat tinggi pedangnya dan mulai melayangkan pedangnya pada Sima Dan. Dengan susah payah Sima Dan berusaha menghindar. Namun karena luka di dadanya yang terus mengeluarkan darah. Membuatnya secara perlahan kehilangan banyak darah. Pandangan Sima Dan berubah kabur.
Xumu kembali menyerang Sima Dan. Ia memberikan beberapa luka gores cukup dalam pada tubuh Sima Dan. Jiwa psikopatnya begitu menikmati kala melihat setiap gores kesakitan Sima Dan. Di tengah-tengah kesadarannya yang mulai berkurang sayup-sayup ia mendengar suara Heimian.
" Yang mulia bertahanlah. " Pekik Heimian.
Namun sayangnya kesadaran Sima Dan sudah hilang begitu Heimian menolongnya.
Flashback off.
" Bagaimana keadaan Yang mulia tabib? " Tanya kepala pelayan kediaman Sima Dan.
Wajah tabib terlihat sendu. Ia menggeleng menjawab pertanyaan kepala pelayan.
Tubuh renta kepala pelayan terhuyung begitu melihat tanggapan tabib. Ia segera berpegang pada dinding agar tubuhnya tidak jatuh.
" Jadi pangeran sudah.. " Kepala pelayan tak sanggup meneruskan kalimatnya. Pangeran yang sudah ia rawat sejak kecil harus bernasib buruk. Padahal ia begitu baik, namun harus kehilangan nyawanya di usia yang masih muda.
Air mata kepala pelayan menetes. " Yang mulia... kenapa umur anda begitu pendek. Bahkan pelayan ini belum melihat anda menikah. " Tangis kepala pelayan pecah. Berikut dengan pelayan lain yang ikut menangis.
" Apa maksud mu? Pangeran tidak meninggal. Ia hanya kritis karena kehilangan banyak darah. " Tabib segera mengoreksi kesalahpahaman tersebut. Ia tak ingin menerima hukuman karena memberikan berita palsu.
Hah?! Semua pelayan yang tadinya menangis mendadak menghentikan tangisnya dan langsung melihat wajah kepala pelayan.
" Jangan menatap ku. Tabib hanya menggeleng dan tidak mengatakan apapun. Jadi bukan salahku jika kesalahpahaman ini terjadi. " Ujar kepala pelayan membela diri.
Semua pelayan mendengus kesal. Tak terkecuali sang tabib yang merasa di salahkan.
" Meski pangeran sekarang masih bisa selamat. Namun kondisinya masih kritis. Jika sampai besok pagi ia belum sadarkan diri. Aku takut nyawanya tidak akan tertolong. "
Dan kata-kata tabib itu berhasil membuat semua orang kembali lemas.
" Tabib tolong katakan ini juga hanya kesalahpahaman. Kabar yang kau katakan itu tidak benar bukan? " Kata kepala pelayan dengan raut wajah sedih.
" Maaf. Tapi kali ini apa yang aku katakan benar. Jadi tolong segera sampaikan kondisi pangeran pada Yang mulia kaisar. "
Kelegaan yang tadi muncul di wajah semua orang kembali redup. Isak tangis kembali terdengar.
********
Kediaman Sima rui.
Ketukan pintu di kamar Sima rui membuat dua orang yang berada dibalik selimut terbangun.
" Yang mulia, ada berita penting. " Junyi berucap dari luar pintu.
" Sebentar. Aku akan membuka pintu. " Ujar Sima rui pada ziyan kemudian langsung beranjak turun dan membuka pintu.
Wajah khawatir junyi menyambut sima rui. Kening suami ziyan itu mengerut. " Apa yang terjadi? "
" Yang mulia. Pangeran ketiga terluka dan sekarang kondisinya kritis. " Lapor junyi.
Wajah Sima rui seketika berubah serius. Sorot matanya berubah dingin.
__ADS_1
" Siapkan kereta. Aku akan segera ke sana. " Tanpa banyak bertanya, sima rui segera memberikan perintah pada junyi.
" Ada apa? " Tanya ziyan begitu melihat raut wajah dingin suaminya. Sesuatu yang buruk pasti tengah terjadi.
" Kita harus segera ke kediaman Dan er. "
Tanpa bertanya, ziyan dengan sigap menyiapkan diri dan suaminya lalu bergegas menunju kediaman Sima Dan tanpa sarapan terlebih dulu.
" Apa yang terjadi? " Sima rui langsung bertanya pada kepala pelayan begitu tiba di kediaman sang adik.
" Hormat pada wangye dan wangfei. " Sesuai aturan, kepala pelayan memberi hormat pada Sima rui dan ziyan, dan hanya dibalas anggukan oleh keduanya.
" Berbicara Yang mulia, pangeran ketiga ditemukan terluka saat melaksanakan pekerjaannya. Beruntung saat itu salah satu bawahannya melihat pangeran, jika tidak... " Kepala pelayan menunduk menahan air mata yang hampir jatuh. Lidahnya begitu kelu untuk melanjutkan kata menyedihkan itu.
" Lalu dimana Heimian? " Tanya Sima rui. Pasalnya setiap pangeran pasti memiliki satu pengawal pribadi.
" Dia.. dia sudah meninggal Yang mulia. " Lirih kepala pelayan. Berita yang awalnya juga sangat mengejutkan baginya.
Sima rui menahan napas dan menutup matanya begitu mendengar berita tersebut. Pengawal pribadi pangeran sama halnya seperti sebelah anggota tubuh mereka. Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Pengawal pribadi seperti keluarga bagi para pangeran. Bahkan saat junyi terluka dulu, Sima rui juga begitu sedih.
Ziyan menutup mulutnya begitu terkejut. Meski hubungannya dengan Heimian tidak sedekat dengan junyi. Tapi ada perasaan sedih saat mengetahui pengawal adik iparnya itu tewas. Bisa di bayangkan sesedih apa Dan er nanti saat mendengar berita ini.
" Lalu bagaimana kondisi Dan er? " Tanya Sima rui setelah lebih tenang.
" Tabib mengatakan bahwa kondisi pangeran sangat serius. Jika sampai tidak bangun besok pagi, kemungkinan pangeran akan... " Lagi-lagi kepala pelayan menolak mengatakan kata keramat tersebut.
Mendengar kabar buruk tersebut, Sima rui gegas masuk ke kamar adiknya itu, mengikuti Ziyan dan kepala pelayan dibelakangnya.
Baik ziyan dan Sima rui tak ada yang berbicara. Mereka sangat terkejut dengan luka yang diderita Dan er. Karena puluhan luka tebasan pedang di sekujur tubuh pria itu. Membuat Dan er berubah seperti mumi. Seluruh badannya terbalut kain putih, hanya menyisakan kepalanya.
" Separah ini? " Gumam ziyan namun masih bisa di dengar oleh kedua pria di sampingnya.
Kedua tangan Sima rui mengepal kuat. Ia berjanji pada dirinya akan membalas siapa pun yang membuat Dan er seperti ini.
" Sebaiknya kita minta bibi ke sini. Sepertinya Dan er kehilangan banyak darah. Aku yakin bibi memiliki solusi untuk kondisi Dan er. " Saran ziyan.
Sima rui setuju, lalu meminta junyi untuk menjemput lucy di rumahnya.
" Dimana pasiennya? " Tanya lucy begitu melihat ziyan di luar kamar Dan er.
" Terima kasih bi sudah datang. Dia ada di dalam. " Ziyan langsung memandu lucy masuk ke kamar Dan er. Di dalam masih ada sima rui, sementara kepala pelayan sudah pergi melaksanakan pekerjaannya.
" Astaga. Ia sudah seperti mumi fir'aun. " celetuk lucy. Ziyan hanya bisa menggeleng mendengarnya, sedang Sima rui yang tak tahu apa itu fir'aun tentu hanya diam. Mungkin jika ia tahu adiknya baru saja di samakan dengan mayat hidup, ia tak akan memasang wajah datar seperti saat ini.
Lucy memeriksa kondisi Dan er. Membuka salah satu perban di lengannya. Terlihat luka gores cukup dalam. Bahkan seharusnya luka itu dijahit agar tidak meninggalkan bekas keloid. Setelah melihat gambaran besar luka Daner. Lucy segera berbicara pada ziyan dan Sima rui.
" Luka pangeran ketiga sebenarnya tidak terlalu serius. Dia hanya kekurangan banyak darah. Tapi ia membutuhkan waktu penyembuhan yang cukup lama karena luka-lukanya yang hanya di perban tanpa di jahit. " Jelas lucy. Lalu ia memberikan sebuah botol berisi pil penambah darah seperti yang sebelumnya di minum oleh junyi.
" Berikan ini. Jika ia tidak bisa menelan pil nya. Cairkan dengan sedikit air. Lalu minum kan sedikit demi sedikit. "
" Kalau begitu. Bisakah kau menjahit lukanya. Mengingat perangainya, setelah sadar ia pasti akan memaksakan diri. Tak peduli meski lukanya belum sembuh. " Tanya Sima rui.
Lucy menimbang kembali permintaan menantu keponakannya itu. Karena sulit menemukan benang jahit di dunia ini. Lucy membuat perekat kulit yang mana lebih praktis dan efisien. Namun jika melihat luka Sima Dan. Maka ia harus menggunakan seluruh stok perekatnya. Dan bahan-bahan untuk membuatnya sangat mahal. Sementara ia sudah menghabiskan banyak uang untuk eksperimennya.
Tahu apa yang menjadi kegundahan hati lucy. Ziyan segera mendekat dan membisikan sesuatu. " I have a lot of money to support your experiment, auty. " ( aku memiliki banyak uang untuk mendukung eksperimen mu, bi ).
Mendengar kata ajaib ' uang dan dukungan eksperimen ' tanpa pikir panjang lucy langsung menjawab. " Oke. "
" Kalau begitu tolong bantu bibi mu ini keponakan ku. Aku membutuhkan seorang asisten untuk membuka dan memasang kembali perbannya. "
Saat ziyan hendak menyetujui permintaan lucy. Sima rui lebih dulu menyela.
" Aku yang akan membantu mu. " Sela Sima rui. Ia tidak akan membiarkan sang istri melihat tubuh pria lain selain tubuhnya.
Meski canggung, tapi lucy akhirnya setuju. " Baiklah. "
Operasi kecil tersebut dimulai. Ziyan menunggu di luar bersama junyi. Sedang Sima rui untuk pertama kalinya berkutat dengan urusan medis.
" Gunting perban. " Titah lucy, tangannya menjulur meminta benda tersebut.
Sima rui yang bingung, justru mengambil gunting mayo. Gunting yang digunakan untuk memotong struktur seperti fascia, otot, uterus dan breast.
__ADS_1
Lucy hanya menghela napas sabar. ' Sabar sabar. Dia seorang pangeran. Jaga hati, sabar sabar. ' Batinnya.
Lalu lucy mengambil gunting yang sebenarnya. " Ini baru gunting perban. Sedang yang kau ambil adalah gunting mayo. "
Sima rui mengangguk patuh seperti bocah yang mendapatkan petuah dari gurunya.
Setelah menghabiskan dua jam dan puluhan botol perekat akhirnya pengobatan Sima Dan selesai. Lucy menyekat keringat di keningnya.
" Akhirnya selesai juga. Untuk sementara waktu jangan biarkan lukanya terkena air. " Saran lucy.
Kepala yang mendengarnya langsung mengangguk paham. " Baik, akan saya ingat. "
Tiba-tiba terdengar kegaduhan dari arah luar. Guifei datang dan langsung menghambur ke samping putranya.
" Huhuhu bagaimana ini bisa terjadi. " Tangis Guifei pecah begitu melihat badan putranya yang mirip mumi.
" Apa yang sebenarnya terjadi? " Tanya Guifei di tengah isak tangisnya. Pertanyaan yang ia sendiri tak tahu di berikan pada siapa.
" Ia terluka saat menjalankan tugas. Sayangnya Heimian, satu-satunya yang mengetahui pelakunya sudah meninggal. Jadi hanya bisa menunggu Dan er bangun baru kita tahu siapa yang melakukannya. " Jawab sima rui.
" Guifei. Anda jangan khawatir. Dan er akan segera sadar. " Lanjut Sima rui menenangkan istri lain ayahnya itu.
Guifei menghapus air matanya. " Tapi dari kabar yang aku terima, tabib mengatakan bahwa kondisi Dan er kritis. Dan jika besok pagi tidak bangun maka selamanya ia tidak akan membuka matanya kembali. " Kembali Guifei menangis Sesegukan. Air mata yang tadi di hapus kembali luruh.
" Itu tidak benar Guifei. Dan er akan baik-baik saja. Tabib Lu baru saja mengobatinya. " Guifei mengikuti arah mata sima rui yang menunjukkan seorang wanita yang disebut tabib Lu.
' Tabib Lu? Kenapa dia membuat nama panggilan seenaknya sendiri. ' Gerutu lucy tentunya masih dalam hati. Bertolak belakang dengan wajahnya yang tersenyum menyapa Guifei.
" Tabib Lu Terima kasih atas pertolongannya. Jika sampai terjadi sesuatu dengan Dan er. Maka tidak ada artinya lagi hidupku di dunia ini. "
" Anda jangan bicara seperti itu Guifei. Ini sudah menjadi tugasku. " Balas lucy. Lalu berbicara pada ziyan. " Aku pulang dulu. Jika butuh sesuatu panggil aku. Mungkin nanti malam Pangeran ketiga akan mengalami demam. Itu hal wajar. Berikan saja paracetamol. Kau masih memilikinya bukan? " Ziyan mengangguk.
Setelah berpamitan, lucy kembali dengan di antar oleh junyi.
Kediaman Sima Dan kembali kondusif. Bingjie yang mendapatkan tugas dari ziyan untuk mencari informasi perihal kasus yang di tangani Daner akhirnya memberikan laporannya.
" Jadi ada saksi terakhir yang berhubungan dengan pembunuhan para petugas biro penyidik? " Tanya ziyan saat membaca satu persatu laporan bingjie.
" Begitulah. Dan juga baru saja haocun kembali setelah mendapatkan tugas dari anda yang menyuruhnya menyelidiki Bai Lijin. " Jelas bingjie.
" Benarkah. Katakan. "
" Sepertinya terjadi masalah internal dalam organisasi Lijin. Dan tampaknya pembunuhan para petugas biro penyidik ada sangkut paut dengannya. "
" Itu berarti para petugas biro penyidik yang menjadi korban memiliki hubungan dengan lijin. Karena sudah tidak berguna. Maka Lijin berniat membunuh semuanya. "
" Anda benar bos. Dan alasan kenapa pangeran ketiga tidak langsung menangkap mereka. Karena tidak adanya bukti. Karena itu pangeran ketiga berusaha mendapatkan target korban terakhir untuk di jadikan sebagai saksi. " Papar bingjie.
Dalam dunia yang belum mengenal teknologi ini tentu menjadikan saksi sebagai bukti masih berlaku. Terlepas bukti itu termasuk kategori lemah atau kuat disini hal tersebut tidak berpengaruh. Asal ada bukti dan pelaku tidak memiliki bukti sanggahan maka pelaku bisa dinyatakan bersalah.
Saat ziyan pertama kali mengetahui, ia pun berpikir hukum di dunia ini tampak seperti lelucon. Begitu mudah dimanipulasi. Apalagi jika memiliki uang, maka hukum akan berada di tangan mereka.
" Lalu apa kau sudah tahu siapa yang melukai pangeran ketiga? "
" Salah satu bawahan Lijin, Xumu. "
" Ternyata dia lagi. " Geram ziyan hingga tanpa sadar meremas kertas yang ada di tangannya.
" Kalau begitu kau bisa kembali. Sampaikan pada haocun untuk terus mengawasi situasi organisasi Lijin. "
********
Sementara di tempat lain.
Lijin terus di desak oleh bawahannya untuk segera menyingkirkan xumu. Mereka tidak sabar jika harus menunggu sampai xumu menyelesaikan tugasnya.
******
Catatan author :
Nemu di mbah google. Maaf kalau infonya masih salah.
__ADS_1