
" Aku hamil. " Dua kalimat Fu Xiquan terus berdengung di telinga A Fei.
Gadis itu termangu, sementara tangannya tanpa sadar mencengkeram kuat cangkir yang sedang dipegangnya.
A Fei menyesal kenapa ia tidak mendengarkan fakta tersebut saat meminum tehnya. Setidaknya ia bisa pura-pura terkejut lalu menyembur ke wajah Xiquan seolah itu adalah sebuah insiden tak disengaja.
Setelah diam beberapa saat, A Fei akhirnya membuka suaranya.
" Apa kau meminta ku untuk mundur dan menyerahkan kursi putri mahkota padamu? " Tebak A Fei.
Fu Xiquan menggeleng, " Tidak. Aku hanya ingin meminta kau untuk memperbolehkan Pangeran menjadikan ku selir, setidaknya demi anak tidak bersalah ini. "
Hah? Sima Fei tercengang dengan permintaan luar biasa Fu Xiquan.
Dia ingin menjadi selir Li Chenlan bukan selir ku. Lalu kenapa meminta ijin padaku? bukankah hal ini diputuskan oleh Putra Mahkota dan Raja.
Dengan senyum getir, Xiquan melanjutkan. " Mungkin terdengar aneh, seorang pria bahkan tidak memiliki suara untuk memutuskan siapa yang menjadi istrinya. Namun situasi putra mahkota memanglah seperti itu. Kerajaan Wei yang berada di bawah wewenang Kekaisaran Jin membuat kami harus selalu tunduk pada kalian. "
" Jika kau membatalkan pernikahan ini, maka aku yakin Kekaisaran Jin akan mengambil sikap dan mungkin saja akan terjadi peperangan. Jadi bukankah lebih baik kau mengalah putri, dengan begitu dua kerajaan akan tetap damai. "
Ingin sekali A Fei saat ini tertawa. Sungguh lucu, baik Fu Xiquan dan juga Li Chenlan, dua manusia ini terlalu egois.
Apakah mereka bahkan tidak memikirkan perasaan ku?
Setelah pembicaraan itu, Selama dua minggu Sima Fei tak lagi bertemu dengan Fu Xiquan. Sementara Li Chenlan beberapa kali masih menemui A Fei meskipun tidak setiap hari.
Sayangnya, semenjak kejadian itu A Fei sedikit menjaga jarak pada pria yang akan segera berubah status menjadi suaminya tersebut.
Hingga akhirnya sehari sebelum hari pernikahan pun tiba.
Perwakilan Kekaisaran Jin adalah Sima Feng. Dengan alasan Sima Rui sakit, A Guang terpaksa menggantikan sementara sang ayah memimpin pemerintahan.
" Putri apa anda yakin akan tetap menikahi putra mahkota? " Xiao Er terlihat ragu akan keputusan Sima Fei. Ia merasa putra mahkota Wei bukanlah pria yang pantas untuknya.
" Kenapa kau bertanya begitu? tidak sampai beberapa jam lagi dan aku akan menikah dengannya. Tapi kenapa kau justru terlihat ragu? "
Sima Fei mengalihkan pandangannya dari pakaian merah di depannya, melihat salah satu pelayannya, Xiao Er seolah ia bisa melihat kekhawatiran yang dirasakan wanita itu.
" Jangan khawatir. Aku tahu apa yang ku lakukan. Menikah tidak selalu tentang cinta, tapi juga tentang tanggung jawab. Jika aku membatalkan pernikahan hanya karena tak ingin suami ku memiliki selir. Bukankah selamanya aku akan dikenal sebagai wanita egois. Itu tidak hanya membuat buruk citra ku tapi juga kedua orang tua ku. Orang-orang pasti berpikir bahwa ayah dan ibu membesarkan ku sebagai wanita manja, egois yang bahkan tidak mengetahui kebajikan sebagai seorang wanita. "
" Jadi Xiao Er, apa menurut mu keputusan ku salah? " Tambahnya kemudian.
Xiao Er hanya bisa menangis menunduk. Ia tak berpikir panjang. Begitu besar tanggung jawab yang di emban oleh majikannya.
" Apapun yang terjadi, kita bertiga harus saling membantu. Kalian tidak hanya pelayan ku, tapi sudah ku anggap sebagai saudara ku. Jadi jika ada yang menggangu kalian, katakan pada ku. "
Tanpa sadar, ketiganya tenggelam dalam suasana haru. Baik Xiao Er dan Xiao San sampai meneteskan air mata atas kebaikan A Fei pada mereka.
Hari pernikahan tiba,
Setelah turun dari tandu, Li Chenlan dan A Fei bersiap menaiki tangga menuju tempat penghormatan.
__ADS_1
A Fei bisa melihat Sima Feng dari tempatnya berdiri. Saudara kembarnya itu alih-alih tersenyum justru memasang wajah cemberut, masih tak rela jika A Fei menikah. Bahkan di Kekaisaran, ada rumor yang mengatakan bahwa sakitnya Sima Rui disebabkan karena sang kaisar yang belum ikhlas jika sang putri menikah.
Bersamaan dengan pernikahan Sima Fei, Fu Xiquan juga memasuki istana sebagai selir. Namun suasana keduanya sangat kontras. Jika di sisi Sima Fei penuh dengan kebahagiaan dan ungkapan selamat serta doa, tidak dengan Fu Xiquan yang tampak sepi dan sunyi. Hanya ada dirinya dan seorang pelayan yang melayaninya.
" Nona bukankah ini sangat keterlaluan. Bagaimana bisa mereka melakukan ini pada mu. " Keluh pelayan Fu Xiquan.
Fu Xiquan juga marah, ingin sekali berteriak namun ia berusaha keras menahannya. " Tidak apa, yang penting saat ini aku berhasil memasuki istana. Masih ada banyak waktu bagi kita untuk merubah situasi. Lihat saja. Tak lama lagi, kesepian ini akan beralih pada istana putri mahkota. "
Pernikahan meriah A Fei dan Li Chenlan akhirnya selesai juga. Kedua mempelai sudah memasuki kamar pengantin. Suasana canggung saat A Fei duduk menunggu sang suami membuka tudung pernikahan mereka.
Suara pintu terbuka, A Fei mengeratkan tangannya yang sedingin es.
' Dia datang, dia datang. ' Heboh sendiri suara hati A Fei ketika mendengar derap langkah Li Chenlan.
Langsung saja, Li Chenlan membuka penutup kepala A Fei dan tampaklah wajah cantik A Fei.
Gadis yang sejak tadi menunduk karena malu itu menengadah. Senyum di bibirnya perlahan pudar saat melihat wajah dingin Li Chenlan.
' Apa yang terjadi? ' Batin A Fei bingung.
Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah yang selalu hangat kini tampak dingin. Mata yang menatap penuh sayang kini terlihat penuh kebencian.
Li Chenlan meraih dagu A Fei yang sedang linglung. Gadis itu meringis sakit saat pria itu mencengkeram kuat.
" Yang mulia, a-apa yang kau lakukan... Kau...menyakiti ku. "
Wajah dingin itu mencibir. " Ini hanya permulaan. Setelah ini hanya akan ada kesepian dan kesakitan yang akan kau rasakan. "
Setelah berbicara, Li Chenlan melempar kasar dagu A Fei ke samping.
Pria itu segera pergi meninggalkan A Fei yang masih terguncang dengan apa yang baru saja terjadi.
Li Chenlan melangkah pergi menuju istana tempat Fu xiquan. Malam yang seharusnya ia habiskan dengan A Fei tapi justru dihabiskan bersama sang selir.
" Yang mulia, aku senang kau disini. Aku tahu kau pasti akan datang. "
Fu Xiquan memeluk Li Chenlan yang sedang merebahkan badannya di ranjang. Wanita itu berusaha menggodanya, namun tangan gatalnya segera di tepis Li Chenlan dan segera tidur memunggungi sang selir.
Fu Xiquan menatap heran sikap Li Chenlan. Untuk pertama kalinya pria itu bersikap dingin padanya, menolak sentuhannya.
" Tidurlah. Kau tahu hari ini sangat melelahkan. Aku ingin tidur dan sebaiknya kau pun tidur. "
Fu Xiquan cemberut begitu melihat Li Chenlan sudah menutup matanya. Sungguh malam pengantin yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini ia bayangkan.
Sudahlah, setidaknya pangeran memutuskan untuk menghabiskan malam pengantinnya disini. Semua orang pasti berpikir bahwa pangeran lebih mencintainya daripada putri mahkota.
Keesokan harinya, ketika Fu Xiquan membuka mata, dirinya sudah tak melihat Li Chenlan di sampingnya.
" Dimana Yang mulia? apakah dia sudah lama pergi? "
Pelayan Fu Xiquan yang sejak tadi menunggu sang selir bangun langsung menyiapkan baskom air. Membantu sang selir untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
__ADS_1
" Yang mulia pagi-pagi sekali sudah pergi Nyonya. Ia dan putri harus memberi salam untuk pertama kalinya sebagai suami istri pada Yang mulia Raja dan juga Permaisuri. "
" Ah kau benar. "
Pagi itu senyum terus mengembang di bibir Fu Xiquan sangat berbeda dengan aura suram Sima Fei.
" Putri, senyum lah. Tidak baik jika anda menemui Raja dan Permaisuri dengan wajah tertekuk. " Bujuk Xiao Er.
" Bagaimana aku tidak cemberut. Apa kau tidak dengar apa yang barusan dikatakan Xiao San. "
Xiao Er menatap tajam rekannya tersebut sedangkan Xiao San hanya bisa meringis mengutuk mulutnya yang terlalu bocor saat berbicara.
" Maaf putri, aku tidak bermaksud membuat suasana hati mu buruk. Aku hanya ingin anda mengetahui bahwa ada rumor buruk tentang putri. "
" Aku tidak marah padamu. Aku hanya marah dengan penyebar rumor itu. Apakah mereka tak pernah mendapatkan disiplin. "
Pagi ini suasana hati A Fei mendadak suram ketika Xiao San memberitahunya bahwa para pelayan bergosip tentangnya yang melewati malam pertama seorang diri. Sedangkan pangeran justru menghabiskan malam di tempat selir.
A Fei merasa harga dirinya mendadak terjun bebas setelah mendengarnya. Seolah ia adalah istri terbuang yang kesepian. Ah sungguh, ingin sekali A Fei merobek mulut para pelayan itu.
" Putri, Yang mulia putra mahkota sudah datang. " Suara Xiao Er membuat lamunan A Fei buyar.
Kembali ia teringat dengan perubahan sikap suaminya semalam. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan membuat sikapnya berubah.
" Katakan pada Yang mulia untuk kemari. Ada yang ingin ku bicarakan dengannya. "
Sosok tinggi dan tampan masuk tak lama setelah itu. Tak ada lagi senyum dan tatapan penuh cinta dari pria itu, yang ada hanyalah tatapan dingin dan ekspresi kebencian.
" Apa yang ingin kau bicarakan. " Ketus Li Chenlan.
A Fei tak gentar. Ia menatap suaminya dalam diam. Setelah beberapa saat dalam keheni. A Fei berbicara.
" Aku tak tahu apa yang membuat mu membenci ku Yang mulia. Jika memang terjadi kesalahpahaman, lebih baik kita selesaikan secepatnya. Jangan membuatnya terus berlarut-larut. "
Li Chenlan maju mengikis jarak keduanya. Suaranya yang berat dan menekan menusuk telinga A Fei. " Secara tidak langsung, kau memang tidak membuat kesalahan. Aku lah yang sudah merencanakan ini sejak awal, menikahi mu lalu membuat mu merasakan kesepian yang teramat agar kau menyadari bahwa sangat menyakitkan saat suami mu mencintai wanita lain. "
" Kenapa? "
" Kau bertanya kenapa? kalau begitu tanyakan pada ibumu. Apa kau tahu, gara-gara ibu mu, ibuku harus menderita dalam pernikahannya. Ayah ku masih mencintai ibu mu. Apa kau tahu bagaimana perasaan ibuku. Meski mereka berdua tampak harmonis tapi aku tahu bagaimana kesepiannya ibu ku. "
" Karena hal ini lah. Aku juga akan membuat putri dari wanita yang di cintai ayah ku merasakan hal yang sama. "
A Fei tercengang mendengar pengakuan tak terduga Li Chenlan. Awalnya ia masih berpikir bahwa dirinya mungkin saja telah melakukan kesalahan dan berniat meminta maaf. Namun ternyata perkiraannya salah, ternyata ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Perihal fakta Yang mulia Raja mencintai ibu, kenapa hal itu justru menjadi kesalahan ibu? apakah setiap laki-laki yang mencintai ibu itu menjadi salah ibu.
Sungguh konyol, ingin sekali A Fei menertawakan kesimpulan Li Chenlan.
" Apa kau bodoh? " Hanya itu yang bisa A Fei katakan membalas penjelasan Li Chenlan.
" Apa kau bilang? " Geram Li Chenlan tak terima dengan hinaan A Fei.
__ADS_1
" Tentu saja kau bodoh. Kau menyalahkan ibu ku atas perasaan ayah mu. Sedangkan bagi ibuku, ayahku adalah cintanya. Kau bisa menyalahkan ibu ku jika memang ibuku membalas perasaan ayah mu dan menjadi roda ketiga dalam hubungan pernikahan ibumu. Tapi itu tidak terjadi. Kau hanya mencari kambing hitam atas masalah yang terjadi pada ibu mu. Dan dengan egoisnya kau menyalahkan ibuku. "
" Ck.. ck.. Awalnya aku pikir kau adalah lelaki hebat namun nyatanya kau hanya seorang pecundang. "