
" Xiao Er coba kau panggil Jingu. Kita harus menemui kakak ku. "
Xiao Er segera menjalankan perintah A Fei dan kembali tidak lama kemudian.
" Cepat sekali, dimana Jingu? " A Fei heran ketika melihat ke belakang Xiao Er dan tak menemukan Jingu.
" Maaf putri. Saya tidak menemukan Jingu di kamarnya. Saya juga sudah bertanya pada beberapa pelayan di sana tapi tak ada satupun yang melihatnya sejak pagi. "
" Aneh... Sudahlah mungkin ia pergi ke suatu tempat. Aku akan menanyakannya setelah dia kembali. " Masih mencoba berpikir positif. A Fei segera pergi menemui Sima Feng.
" Kakak.. kau memanggil ku? " Kata A Fei begitu masuk. Bisa ia lihat wajah saudaranya yang tampak serius.
" Duduklah. " Ucapnya pada A Fei. Tapi bukannya duduk, A Fei justru mengeluarkan benda yang sejak tadi ingin ia tunjukan.
" Kak, lihatlah. Bukankah giok ini terlihat seperti milik mu dan kak A Guang? "
Bola mata Sima Feng melebar dan dengan cepat menyambar benda di tangan A Fei, membuat gadis itu terkejut.
" Dari mana kau dapatkan ini? "
__ADS_1
A Fei tersentak dengan kalimat tanya A Feng yang penuh amarah tersebut. Sorot matanya terlihat jelas rasa benci yang begitu besar.
" I-itu milik Jingu. Aku mengambilnya saat dia akan merampok ku waktu kami bertemu pertama kali. Kenapa? "
" Berarti kau sudah lama memiliki ini? kenapa kau baru memperlihatkannya pada ku? " Sentak Sima Feng. Andai ia tahu giok ini sejak awal, ia pasti sudah mengetahui identitas Jingu dan akan lebih waspada padanya. Tidak peduli meskipun pria itu adalah penyelamat istrinya.
Sial!
A Fei merasa ada sesuatu yang tidak beres dan itu pasti ada hubungannya dengan Jingu. Terlebih pengawalnya itu tiba-tiba saja menghilang.
" Aku lupa. Terlebih saat itu ada kejadian kakak ipar menghilang. Sebenarnya ada apa? Apakah ada masalah dengan Jingu? "
A Fei melirik saudaranya masih tak mengerti maksud pria itu memberinya sebuah catatan.
' Bacalah '. Mata Sima Feng seolah memintanya untuk membaca catatan tersebut.
Meski ragu, A Fei tetap mengambil dan membacanya. Perlahan ekspresi A Fei berubah. Terlihat jelas bahwa ia begitu terkejut dengan informasi yang baru saja ia baca.
" Apakah ini benar? " Tanya A Fei dengan suara bergetar.
__ADS_1
" Giok itu hanya di miliki oleh pangeran dari empat Kekaisaran besar. " Sima Feng mengeluarkan giok miliknya yang berlambang naga, sesuai lambang Kekaisaran Jin. Sementara Kekaisaran Nan memiliki lambang Phoenix.
Jujur A Fei sangat terpukul saat ini, bukan karena identitas Jingu sebagai pangeran Nan dan fakta bahwa ia mata-mata kerajaan tersebut. Tapi kenyataan bahwa pria itulah yang membunuh kakaknya, A Guang.
" Jadi, Jingu sudah pergi? "
Sima Feng memejamkan mata dan mengangguk sebagai respon. Ia bahkan tak sanggup mengeluarkan suaranya. Jujur amarahnya begitu memuncak seolah bisa meledak kapan saja.
" Bodohnya aku.. "
A Fei tersenyum getir, selama ini ternyata ia melindungi pembunuh kakaknya. Secara tidak langsung ia jugalah yang menyebabkan A Guang terbunuh. Andai saat itu ia tidak menerima Jingu sebagai pengawalnya, mungkin A Guang masih ada bersama mereka saat ini.
" A-aku akan kembali ke kamar. " Tatapan A Fei kosong. Ia bangkit dari kursi dan berjalan gontai seolah tak ada lagi jiwa di tubuhnya.
Sima Feng merasa sangat khawatir melihat betapa terpukulnya A Fei. Ia bisa merasakan rasa bersalah yang gadis itu rasakan. Mata Sima Feng terus menatap A Fei hingga sebelum melangkah keluar, gadis itu terjatuh.
" A Fei sadarlah. " Sima Feng menepuk pelan pipi A Fei. Ia yang begitu sigap langsung menangkap tubuh A Fei yang hampir saja terjatuh.
Sima Feng bisa mendengar gumaman A Fei, sebelum Gadis itu akhirnya benar-benar pingsan.
__ADS_1
" Maafkan aku kak A Guang... "