Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Pertunangan yang berawal dari kesepakatan


__ADS_3

Ziyan sudah kembali duduk di aula perjamuan. Meski acara belum dimulai, ia memutuskan untuk terlebih dulu kembali. Chufeng masih belum terlihat, sepertinya yelu membuat adiknya itu melupakan tujuan sebenarnya ia datang ke istana. Sudahlah, biarkan chufeng menikmati waktunya.


Baru beberapa saat yang lalu, ziyan mendapatkan sebuah kebetulan konyol yang memalukan dalam hidupnya. Ia tak menyangka orang yang mampu membuatnya terpukau itu ternyata calon suaminya sendiri. Ia teringat dengan percakapan singkat antara dirinya dan Sima Rui.


𝙱𝚎𝚋𝚎𝚛𝚊𝚙𝚊 𝚜𝚊𝚊𝚝 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚕𝚊𝚕𝚞,


Sima rui dan ziyan, masing-masing hanya bisa saling menatap. Ziyan sungguh tak menduga identitas sebenarnya dari pria yang baru saja ditemuinya itu. Sedangkan Sima rui mencoba menebak apa yang dipikirkan calon istrinya ini setelah mengetahui identitasnya.


Melihat keduanya masih saling menatap. Sima Dan tahu, ia tidak ada pilihan lain selain memutuskan untuk segera pergi. Ia tak ingin menjadi lilin di antara mereka.


"Sepertinya ada hal yang ingin kalian bicarakan. Kalau begitu aku pergi dulu. " Setelah mengucapkan kata-katanya, Sima Dan segera pergi meninggalkan kedua orang tersebut.


"Salam pangeran pertama. Maaf aku tidak tahu bahwa kau adalah pangeran pertama. " Ziyan menundukan kepalanya sekaligus memberikan salam padanya.


"Tidak apa-apa. Itu wajar karena kau belum pernah melihatku. "


Ziyan mengamati Sima rui. Kelihatannya ia tidak terkejut sama sekali saat mengetahui identitasnya. Apakah ia sudah tahu tentang dirinya? mungkin saja. Dia adalah pangeran pertama, wajar jika ia mencari tamu siapa yang akan menjadi calon istrinya. Karena ia sudah tahu, lebih baik mengatakannya sekarang. Sebelum mereka mengumumkan pertunangannya.


"Melihat dari reaksi pangeran, aku bisa menebak bahwa pangeran sudah mengetahui tentangku. Jadi aku akan langsung saja bicara. "


Sima rui tak menyangka selain pintar, calon istrinya ini juga terus terang. Sima rui tersenyum.

__ADS_1


"Silakan. Hal apa yang ingin nona mo sampaikan? "


"Aku yakin pangeran sudah tahu mengenai pertunangan kita. Karena tak ada penolakan dari pihak pangeran, aku menduga pangeran juga tak keberatan dengan pertunangan ini. Aku juga tak keberatan, jika itu hanya pertunangan. Untuk pernikahan, sejujurnya aku tak ingin menikah dengan keluarga kerajaan. "


Sima rui cukup terkejut dengan kata-kata terakhir ziyan. Dia tak ingin menikah dengan keluarga kerajaan? Lalu kenapa ia setuju bertunangan dengannya.


"Mungkin pangeran bertanya kenapa aku tak ingin menikah dengan keluarga kerajaan tapi bersedia bertunangan denganmu. " Ziyan menjeda kalimatnya. Ia sedang mencari kata-kata yang tepat dan mudah untuk mengungkapkan alasannya. "Alasannya cukup simpel. Itu karena aku tak ingin berbagi suami dengan wanita lain. Keluarga kerajaan memiliki tanggung jawab besar terhadap negara. Jadi hal wajar untuk menikah karena urusan politik, tapi tidak bagiku. Karena itu, jika pangeran sudah memiliki seseorang di hati yang mulia. Aku akan mundur, dan membatalkan pertunangan ini. Jika memang tidak bisa sekarang. Kita bisa membatalkannya saat anda ingin menikahi wanita itu. "


Ziyan mengamati reaksi sima rui. Namun tak ada tanggapan apapun darinya. Ziyan berpikir mungkinkah ia marah karena ucapannya barusan.


"Apakah sudah selesai? " Sima rui berbalik bertanya. Karena ziyan tak kunjung melanjutkan ucapannya.


"Apa? " Ziyan tak menyangka dengan tanggapan sima rui yang justru bertanya, bukan memarahinya.


Ziyan tak tahu harus memberi tanggapan apa. Jawaban sima rui sangat melebihi ekspetasinya. Tidak heran ia bisa menjadi seorang jenderal besar meski usianya masih muda. Ia seorang pria dengan prinsip.


"Lalu bagaimana dengan nona mo. Apakah kau memiliki seseorang di hatimu? bukan hal bagus jika seorang istri memiliki seseorang di hatinya selain suaminya. "


Ziyan terkekeh. Ia tak menyangka Sima rui akan menanyakan hal tersebut. "Aku tak memilikinya sekarang. Dan jika aku memilikinya nanti, aku akan memberitahumu. "


"Hah?! "

__ADS_1


"Bukankah pasangan suami istri harus berkomunikasi tentang apapun yang terjadi pada mereka. Seorang suami harus terbuka dengan istrinya, begitu pula sebaliknya. Jadi aku harap kita bisa berkomunikasi dengan baik di masa depan. Tak terkecuali, saat kita berdua memiliki seseorang di hati kita, kita harus membicarakannya. Untuk mencari solusi terbaik. Apakah harus berlanjut atau berpisah. "


Prinsip calon istrinya ini cukup unik. Tapi ada benarnya juga. Segalanya memang lebih mudah jika terjalin komunikasi yang baik.


"Baiklah. Kita sepakat. "


"Karena kita sudah sepakat, mulai sekarang anda bisa memanggilku ziyan atau yaner. "


Pertunangan mereka pun di mulai dari sebuah kesepakatan. Sima rui yang menerima pertunangan ini demi melindungi kekuatan militernya dan ziyan demi mengetahui dalang dibalik kematian yaner. Karena si pelaku ingin sekali menghalangi pertunangan mereka. Maka ziyan harus memancingnya dengan pertunangan mereka juga. Ia ingin lihat, langkah apa yang akan di ambilnya setelah pertunangan ini terjadi.


Ziyan kembali pada kesadarannya. Dari kejauhan ia melihat chufeng sendirian berjalan mendekatinya. Dimana yelu? Ziyan mencarinya dan melihatnya bersama kedua temannya. Mereka orang yang sama yang ziyan temui di kota donglu dan paviliun chuntian. Sudah jelas itu Sima Yan dan Jiangwu.


Alis ziyan berkerut saat melihat para bangsawan yang memberikan salam hormatnya pada yelu dan kedua temannya. Bukan mereka bertiga. Lebih tepatnya hanya pada satu orang. Itu pria brengsek yang merebut ciuman pertamanya.


"Salam putra mahkota. " Samar-samar ziyan mendegar ucapan salah seorang bangsawan yang sedang memberikan salamnya.


What ! Dia putra mahkota.


Ziyan benar-benar tak menyangka hari ini akan menjadi hari penuh kejutan untuknya. Sebelumnya ia dikejutkan dengan Sima Rui. Sekarang, putra mahkota negara jin, Sima yan. Sepertinya, jalan ziyan selanjutnya sebagai tunangan pangeran pertama tidak akan mudah.


Sima Yan menerima salam dari para bangsawan. Meski ekspresinya biasa saja. Dalam hati ia ingin sekali merobek wajah palsu para bangsawan ini. Ia tahu, mereka hanya sopan dan menunduk sekedar untuk formalitas belaka. Sementara di belakang, mereka selalu mengkritik dirinya atas sikapnya yang suka berganti wanita namun tak ingin mengisi haremnya. Sima Yan mengedarkan pandangannya, dan melihat gadis yang selama ini dicarinya. Sebenarnya, setelah kejadian di hutan donglu waktu itu. Sima Yan sudah meminta xiaofeng untuk mencari info mengenai gadis itu. Sayangnya tak sedikitpun informasi yang berhasil di dapatkannya. Hal itu wajar saja, karena setelah yaner sakit, ia tidak pernah lagi keluar dari kediamannya. Sima Yan baru bisa menemukan sedikit informasi setelah yelu menyadari identitas ziyan sebagai nona besar kediaman mo.

__ADS_1


Sima Yan tak menyangka, gadis yang selama ini dicarinya ternyata calon istri kakaknya. Ia tak tahu harus bagaimana menyingkapinya. Apakah ia harus senang karena berhasil menemukan gadis yang selama ini di carinya? Atau ia harus kecewa karena mengetahui gadis itu ternyata calon istri kakaknya. Kecewa? kenapa ia harus kecewa? apakah karena ia tak bisa memberinya balasan karena sudah berani menamparnya atau....


Sima Yan tak tahu alasan kosong yang belum di ketahuinya itu. Dia tak akan pernah menyangka bahwa hal itu akan berhubungan dengan hatinya.


__ADS_2