
" Berikan surat ini untuk A Guang. " Ziyan memberikan surat yang baru saja ditulisnya pada Junyi.
" Ingat! berikan pesan ini secara rahasia. Jangan sampai seorang pun di Akademi tahu. "
Junyi mengangguk paham. " Baik Ratu. "
Setelah junyi pergi, sima rui masuk.
" Apa kau baru saja memberikan tugas pada junyi, ratu ku. " Ziyan tersenyum menyambut kedatangan sang suami.
Sima rui yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya segera mendatangi ruang baca Ziyan.
" Benar. Sebagai ibu yang baik, bukankah aku harus mengulurkan tangan untuk putra ku yang malang itu. " Ziyan terkekeh memikirkan ekspresi putranya yang mungkin saja sedang sangat kesal saat ini.
" Baru sebulan dan bajingan kecil itu sudah membuat masalah? "
" Bajingan kecil itu putra mu raja ku. "
" Putra kita. " Ralat Sima rui dan ziyan tertawa kecil mendengarnya.
Kemudian ziyan memberikan laporan yang diam-diam ia dapatkan dari salah satu mata-mata ziyan.
Sebenarnya tanpa membaca laporan sang istri, Sima rui sudah mengetahui apa yang terjadi dengan A Guang. Menurutnya selama itu tidak membahayakan nyawa sang putra, Sima rui akan memilih untuk diam saja. Ia akan melihat bagaimana A Guang menyelesaikan masalahnya sendiri.
" Sepertinya A Guang tidak terlalu akur dengan putra Jiang wu. Meski ini bukan termasuk kesalahan besar. Namun masalah ini juga patut mendapat perhatian. Bukan karena tindakan anak-anak, melainkan respon guru dan pihak sekolah yang seakan menutup mata hanya karena latar belakang tuan muda Jiang. "
" Jadi apa yang akan ratu ku lakukan? "
" Tentu saja datang dan membenahi akademi yang mulai tidak sesuai dengan tujuan awal ku. "
" Lakukan apa pun yang membuat mu senang. Katakan jika membutuhkan bantuan ku. " Meski tahu istrinya mampu. Sima rui selalu menawarkan bantuan untuknya. Bukan karena merendahkan, melainkan karena ia mendukung sang istri.
Di Akademi.
Setelah pertemuan Xi jun dan A Guang malam itu. Guru Yan terpaksa hanya memberikan hukuman berupa perintah menyalin buku. Hukuman yang sangat ringan jika di bandingkan dengan akibat dari perbuatan Xi jun.
Jika saja saat itu A Guang tak sigap, maka tidak hanya lecet pada lengannya yang ia dapat. Bisa jadi kepala dan kakinya pun ikut terluka. Dan yang terburuk ia bisa saja mengalami cidera berat yang berujung kematian.
" Guru, kenapa kau hanya memberikan Xi jun hukuman itu. Apa kau juga sama seperti guru lain yang menutup mata dengan tindakan semena-mena mereka? "
Guru yan kembali menghela napas. Ia lelah, ini sudah kesekian kalinya A Guang melayangkan protes padanya.
Ia meletakkan kuas lalu menatap murid yang baru sebulan lebih di ajarnya itu.
" Kau mungkin masih baru, karena itu kau tak mengerti. Hukuman ini bukan aku yang memutuskan, melainkan kepala sekolah. Aku hanya guru muda yang belum lama mengajar di sini. Kekuatan ku ibarat semut yang harus mengalahkan seekor gajah. Apa sampai sini kau sudah paham perumpamaan tersebut? "
" Tapi bukankah kau seharusnya mengajukan keberatan pada kepala sekolah? "
Guru yan mencoba menebalkan kesabarannya yang sudah setipis tisu.
Apakah ia harus berteriak di telinga bocah ini agar tahu bahwa ia sudah lelah mengajukan keberatan. Puluhan kali ia ajukan namun ratusan kali ia justru kena teguran.
" Kau tenang saja. Aku akan mengajukan keberatan. "
" Benarkah? kapan? " Tanya A Guang dengan mata berbinar. Senang karena akhirnya sang guru mendengarkan keinginannya.
__ADS_1
" Tentu saja. Tapi nanti saat aku sudah menjadi kepala sekolah. "
Seketika senyum A Guang yang sudah mengembang kembali layu.
Karena merasa percuma berbicara dengan guru yan. A Guang memutuskan untuk pergi ke ruang kepala sekolah. Ia akan mengajukan protes secara langsung.
Di tengah lorong, terdengar siulan yang amat A Guang kenal. Ia mengedarkan pandangannya mencari sumber suara.
" Paman junyi kau ke sini? " A Guang menghampiri junyi setelah memastikan tak ada satupun orang di sekitarnya.
" Terimalah. Pesan dari ratu. "
Junyi segera menghilang begitu tugasnya telah selesai.
Bibir A Guang melengkung dan perlahan menjadi senyum bodoh setelah membaca pesan ibunya.
' Aku akan datang besok. '
Pesan singkat itu mungkin bagi orang lain hanya sekedar pemberitahuan bahwa ibunya akan datang. Namun bagi A Guang, pesan ini ibarat air dingin setelah seharian penuh dirinya terjebak di tengah gurun pasir.
Ia tahu bahwa besok, ibunya pasti akan datang sebagai bos zi bukan sebagai ratu. Dengan begitu statusnya sebagai Pangeran juga tidak akan terekspos. Jadi A Guang akan memanfaatkan sebaik mungkin bantuan dari ibunya ini.
Membayangkan kekacauan besar yang akan terjadi di kantor kepala sekolah besok membuat A Guang kembali bersemangat.
Ia pun memutuskan kembali ke kamarnya.
Na li duduk dan melihat A Guang masuk.
" Apa kau kembali melakukan protes pada guru yan? " Tanya Na li.
" Kau tahu apa yang di katakan? Dia bilang bahwa dirinya dan kepala sekolah ibarat semut dan gajah. Jadi meski aku mendesaknya untuk mengajukan keberatan akan percuma saja. Karena tetap saja kepala sekolah akan menganggap angin lalu masalah tersebut. "
Kemudian ia kembali Berbicara. " Aku sendiri bahkan tak tahu apa yang membuat senior jiang menargetkan ku. Rasa-rasanya aku tidak pernah bersinggungan dengannya. Paling parah hanya saat hari pertama masuk dan itu pun dengan temannya. Siapa itu namanya.. " A Guang memejamkan matanya mencoba mengingat.
" Han dong maksud mu? " Tebak Na li.
" Ya itu. Kau benar, Han dong. Tapi bukan aku juga yang memulai keributan. Bibi ku lah yang menabraknya. "
" Menurut ku bukan karena itu. Terkadang kejahatan timbul dari perasaan iri. Apa menurut mu tidak mungkin jika senior Jiang melakukannya karena iri? "
A Guang tertawa, " Apa yang membuatnya iri dengan ku? " dia bahkan tak tahu bahwa aku seorang putra mahkota. Namun A Guang menelan kembali kalimat selanjutnya.
Na li mengedikkan bahu. " Mungkin ia cemburu dengan hubungan mu dan A Hua, dan yang terpenting beberapa penggemar wanitanya merubah haluan karena berganti memuja mu. "
" Jika karena alasan pertama, itu adalah hal konyol yang sangat menggelikan. Bagaimana bisa dia cemburu karena aku dekat dengan bibi ku sendiri. Benar-benar tak habis pikir. Tapi untuk alasan kedua... " A Guang tampak berpikir.
" Itu bisa jadi dan aku memakluminya Karena bagaimana pun aku memang lebih tampan darinya. " A Guang mengucapkan dengan begitu percaya diri.
Mendengar tingkat kepercayaan diri A Guang yang di luar batas, ingin sekali Na li membongkar kepalanya dan melihat apa saja isi di dalamnya.
" Kenapa kau melihat ku dengan ekspresi jijik seperti itu? " Tanya A Guang saat melihat ekspresi jelek Na li.
" Tidak. " Na li bangkit dan segera keluar.
" Kau mau kemana? " A Gaung sedikit berteriak.
__ADS_1
" Itu bukan urusan mu. " Ketus Na li.
A Guang tersenyum tipis mendengar tanggapan pria jadi-jadian itu. Entah kenapa akhir-akhir ini dirinya senang sekali jika berhasil membuatnya kesal. Apa lagi wajahnya saat tidur, terlihat cantik dan tenang. Berbeda sekali dengan saat dirinya sadar.
Tanpa ia sadari bibirnya tersenyum. A Guang tertegun.
" Apa yang aku pikirkan. Sepertinya otak ku kacau karena sekamar dengan pria setengah wanita itu. "
Keesokan harinya,
Tanpa ada pemberitahuan, sebuah kereta berhenti tepat di depan gerbang Akademi.
Bingjie turun kemudian mengetuk gerbang kokoh didepanya.
Seorang penjaga membuka dengan ekspresi malas. " Siapa? Apa yang kau butuhkan? "
Bingjie tak menyahut. Ia hanya menunjukan sebuah plakat pada penjaga itu. Namun tak ada reaksi.
Karena termasuk pegawai baru maka ia tak mengerti arti plakat bingjie.
" Hei siapa yang datang? " Rekannya yang lain datang melihat siapa tamu yang datang.
Wajahnya langsung berubah pucat saat melihat sosok bingjie. Ia yang sudah bekerja lebih lama dari rekannya tadi tentu saja mengenal salah satu tangan kanan atasannya tersebut. Mereka tak hanya mengenal bingjie namun juga wenran.
Karena kedatangan bingjie dan dibelakangnya ada kereta kuda yang sangat ia kenal. Maka sudah dipastikan akan kedatangan pemilik akademi.
" Jangan beri tahu kedatangan kami. " Peringat bingjie.
Penjaga yang datang belakangan itu mengangguk dengan cepat. Sementara penjaga pertama masih belum mengerti situasi yang terjadi.
" Bodoh apa kau tak tahu siapa dia? " Bisik penjaga kedua. " Dia adalah tuan Bingjie, asisten bos zi pemilik akademi ini. "
Wajah penjaga pertama seketika membeku mengetahui fakta tersebut.
Keduanya langsung bersiap menyambut seorang wanita bercadar yang hendak turun dari kereta kuda itu.
" Nyonya, selamat datang. " Ucap kedua penjaga.
Ziyan hanya mengangguk sembari melewati mereka.
Tanpa ragu, ziyan melangkahkan kakinya langsung menuju ruang kepala sekolah.
" Dimana anak nakal itu? "
" Tuan muda sudah ada di kantor kepala sekolah bos. Mungkin saat ini sedang membuat keributan di sana. " Lapor Bingjie tentang keberadaan A Guang.
Ziyan mengangkat tangannya saat bingjie hendak membuka pintu. Membuat bingjie mengurungkan niatnya.
Terdengar sangat jelas keributan dari dalam.
" Berhenti memberikan keluhan mu atau kau akan ku keluarkan dari akademi ini. Kau yang menyinggung tuan muda Jiang dan sekarang kau justru mengadukan hal ini pada ku? dengar nak. Sebagai rakyat biasa, aku sarankan kau jagan pernah mengusik mereka yang memiliki status lebih tinggi dari mu. Atau kau akan menerima akibat yang mungkin saja akan kau sesali. " Saran kepala sekolah pada A Guang.
" Aku tidak meminta mereka di keluarkan. Aku hanya meminta mereka untuk bertanggung jawab dan menuntut keadilan. Apa menurut kalian hukuman yang diterima oleh Xi jun tidak terlalu rendah. Kalian tahu, jika saja saat itu aku tidak beruntung. Mungkin saat ini aku tak hanya mendapatkan luka ringan seperti sekarang, tapi juga patah kaki atau cidera kepala. Jika sudah begitu, apakah kalian akan tetap menuutup mata. " Keluh A Guang. Urat lehernya sampai menonjol karena emosi yang tertahan.
Tanpa menunggu lebih lama, ziyan membuka pintu dan dengan cepat perhatian semua orang langsung mengarah padanya
__ADS_1