
Di sebuah ruangan dengan partisi yang memisahkan dua sisi, ziyan akhirnya bertemu dengan sima shao. Sengaja ia menyiapkan ruangan khusus untuk pertemuan mereka. Meski ziyan sudah siap jika saja rahasianya terbongkar, namun ia juga tak ingin begitu saja menyerah. Jadi pada akhirnya ia memutuskan untuk bertemu dengan kondisi seperti saat ini.
Dari balik partisi yang cukup transparan tersebut, Ziyan bisa melihat sosok sima shao tengah duduk sembari menyesap tehnya.
" Sungguh suatu kehormatan, Seorang kaisar jin mengajak bertemu dengan budak seperti ku. Apakah ada yang bisa saya bantu Yang mulia. " Ucap ziyan membuka pembicaraan. Ia tak ingin berbasa-basi, jadi ia langsung bertanya maksud pertemuan mereka.
" Sepertinya bos zi adalah orang yang langsung. Kalau begitu aku juga tak akan bertele-tele. " Jawab sima shao.
Ziyan terkekeh. " Itu karena saya tahu waktu Yang mulia begitu berharga. Seorang rakyat jelata seperti ku tidak ingin membuang waktu orang besar seperti Yang mulia. "
" Selain kemampuan mu yang begitu mengagumkan dalam mengembangkan usaha. Ternyata kau juga bermulut manis. "
" Terima kasih atas pujiannya Yang mulia. Jadi apa tujuan Yang mulia ingin bertemu denganku. " Kembali ziyan bertanya akan tujuan sima shao.
Sejenak sima shao diam tak langsung menjawab. Ziyan bisa melihat dari celah kecil bahwa mertuanya itu tampak berpikir seolah ragu.
" Jika anda tak ingin mengatakannya, maka kita bisa akhiri pertemuan ini. " Ziyan bangkit dari kursinya..
" Tunggu. " Cegah sima shao.
" Aku tidak tahu pantas atau tidak mengatakan hal ini. Sebagai kaisar, selain kesejahteraan rakyatnya tak ada lagi yang aku inginkan. Karena insiden ibu suri terakhir kali, para menteri yang bekerja sama dengannya pun tak lepas dari hukuman. Membuat kerajaan jin kehilangan banyak menteri dan pejabat. Sekilas, kerajaan seolah baik-baik saja. Namun sejujurnya tanpa pejabat dan menteri yang kompeten. Kerajaan seolah kehilangan pondasinya." Ziyan masih mendengarkan penjelasan sima shao.
__ADS_1
" Karena itu, melihat dari kemampuanmu. Aku ingin mengajakmu bergabung dengan jajaran menteri istana dan menjadi menteri perekonomian. "
Kedua mata ziyan melebar terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Namun itu hanya sesaat, segera ia kembali tenang.
" Tak hanya status yang akan kau dapatkan. Bahkan dengan kedudukan itu, kau mendapat keuntungan untuk usahamu. Bukankah itu menguntungkan. " Bujuk sima shao. Ia percaya bahwa orang di depannya ini akan tertarik dengan tawarannya. Mengingat sepak terjangnya dalam mengembangkan bisnisnya. Sima shao yakin bos zi adalah seseorang dengan ambisi. Jadi kenapa ia tak melempar umpan dan menariknya agar berada di pihaknya.
Ziyan tersenyum, ternyata mertuanya itu datang untuk mengajaknya menjadi menteri. Meski tawaran sima shao menarik bagi ziyan. Namun gadis itu tak ingin menerimanya. Lantas kenapa? karena tentu saja karena identitasnya. Bukan karena identitasnya sebagai bos zi melainkan identitasnya sebagai wangfei (istri pangeran).
Di Kerajaan jin memang tak ada larangan bagi wanita untuk duduk di pemerintahan. Namun aturan itu terkecuali bagi wanita istana. Wanita anggota keluarga kerajaan tidak di perkenankan duduk di pemerintahan, alasannya karena mencegah wewenang ganda. Aturan yang menurut ziyan sangat tidak masuk akal. Tapi ziyan menduga dibalik alasan kenapa kakek kaisar membuat aturan ini. Mungkin sebenarnya entah sejak kapan, ia menyadari akan ambisi ibu suri.
" Yang mulia, seyakin itukah anda dengan ku. Apakah Yang mulia tidak takut jika aku memanfaatkan kedudukan itu untuk keuntungan pribadi. " Tanya ziyan.
Sima shao menyilangkan kedua tangannya di depan lalu bersandar. Ia tampak santai merespon pertanyaan wanita yang dikenal sebagai bos zi tersebut. Namun sorot matanya tetap tajam seolah menunjukkan bahwa ia bukanlah seseorang yang akan bermain-main.
Ziyan mendengar penjelasan itu tak bisa menahan senyum. Dari balik cadarnya, Kedua sudut bibirnya terangkat. " Menarik. Ternyata Yang mulia sudah mengumpulkan informasi tentangku terlebih dulu sebelum menemui ku. "
Sima shao terbahak. "Tentu saja. Kita harus mengenal lawan sebelum berperang. "
" Jadi bagaimana? Apakah kau bersedia. " sambung sima shao lagi.
" Penawaran yang menarik, tapi sayang sekali aku harus menolaknya Yang mulia. " Jawab ziyan.
__ADS_1
Kening sima shao mengerut. Ia tak mengerti kenapa wanita di depannya itu menolak tawarannya. Sedangkan di luar sana banyak sekali orang yang mengincar posisi sebagai pejabat istana. " Beri aku alasan kenapa kau menolaknya. "
" Tidak ada alasan khusus. Aku hanya tidak suka dengan sesuatu yang terikat. Selain itu menjadi pejabat istana tentu saja akan membuatku kehilangan banyak waktu. Anda tahu sendiri Yang mulia bahwa beban pekerjaanku sudah banyak. Jadi aku tidak ingin menambah beban lagi. " Ziyan berharap mertuanya itu mengerti dengan alasan yang diberikannya.
" Aku mengerti. Tapi aku harap kau memikirkannya sekali lagi. " Sima shao masih berusaha membujuk bos zi. Ia tak ingin kehilangan orang terbaik yang bisa membantunya mengatur kerajaan.
Andai saja ia tahu bahwa wanita yang di depannya itu menantunya. Mungkin ia hanya perlu mengubah peraturan dan menurunkan titah.
" Dari pada anda menunggu jawaban yang tidak akan pernah berubah. Lebih baik anda memikirkan saran saya Yang mulia. "
" Katakan. "
" Selain diriku, mungkin Yang mulia bisa memikirkan Yelu. Pria itu mungkin masih muda namun kemampuannya tidak lebih buruk dariku. Selain itu Yang mulia juga mengenal baik keluarganya. "
Sima shao mencoba mengingat yelu. Pria yang dikenalnya sebagai sahabat putra mahkota itu cukup memiliki kesan untuknya. Selain karena kepribadiannya, ia juga berasal dari salah satu keluarga bangsawan ibu kota.
Ziyan bisa melihat keraguan dari wajah sima shao. Lelaki paruh baya itu tampak berpikir keras.
Sejujurnya ziyan ingin membantu mertuanya tersebut. Namun ia tak ingin melanggar peraturan istana. Jika suatu hari identitasnya sebagai wangfei sekaligus bos zi terungkap. Pasti akan menjadi senjata bagi mereka yang sangat ingin menjatuhkannya.
Ia mungkin tidak terlalu peduli dengan statusnya sebagai wangfei. Tapi ia peduli akan semua hal yang menjadi 'miliknya'. Sima rui adalah miliknya, suaminya. Jika ia tidak bisa melindungi apa yang menjadi miliknya hingga orang lain mampu merebutnya. Maka hal itu akan membuat harga diri ziyan seolah tercabik-cabik. Ia benci jika orang lain merebut miliknya. Ia tidak akan segan menghancurkan orang lain demi melindungi miliknya. Itu lah prinsip ziyan.
__ADS_1
" Meski aku tidak bisa menerima jabatan itu. Namun aku bersedia menjadi penasehat Yang mulia. Tentu saja semuanya terlepas dari segala hal resmi yang menyangkut urusan istana. "
Dan dari usulan ziyan itu, siapa yang akan menduga bahwa suatu hari ia justru akan menjadi penasehat suaminya yang sebentar lagi akan menggantikan sima shao sebagai kaisar.