
Suasana di dalam gerbong kereta ziyan tampak aneh. Berbagai macam suasana hati terlihat di wajah para penumpangnya.
Ziyan yang pastinya sedang merasa sangat senang karena berhasil mendapatkan untung besar, yaoyao yang semakin kagum dengan kepintaran nona mudanya, dan chufeng yang tak menyangka bahwa kakak pertamanya itu bisa menipu. Sementara xiaoqi semakin yakin bahwa perut hitam nonanya ternyata sudah semakin hitam.
"Sekarang kita akan kemana kak? " Chufeng penasaran. Setelah kehebohan tadi, kakaknya itu akan membawanya kemana.
"Temani aku membeli beberapa buku."
Setelah paviliun chuntiannya buka. Kerjaan ziyan hanya mengecek laporan dan sesekali mengawasi usahanya. Banyak waktu luang yang membuat ziyan jenuh. Jadi ia berniat membeli beberapa buku novel untuk dibacanya saat membuang waktu jenuhnya.
"Aku punya toko langgananku. Ayo kita kesana kak."
Dan segera kusir mereka membawa kereta kuda ke toko yang di tunjuk chufeng.
*****************
Setibanya di toko buku, mereka segera masuk ke dalam. Penjaga toko yang sudah mengenal chufeng langsung menyambutnya. Senyum ramah penjaga toko membuat ziyan tahu bahwa chufeng sangat dikenal di toko ini.
"Kau sering kesini? "
"Iya." Chufeng tersenyum menjawab pertanyaan kakaknya.
"Siapa ini nona chufeng? " Penjaga toko melihat ziyan yang tampak asing. Ia ingat chufeng tidak pernah membawa seorang temanpun sebelumnya.
"Dia kakakku. "
"Ow kakak chufeng. Selamat datang. Silakan lihat-lihat toko kami. " Penjaga toko cukup terkejut namun ia segera memberikan pelayanan terbaiknya setelah tahu ziyan adalah kakak chufeng.
Setelah penjaga toko itu pergi. Chufeng membisikan sesuatu pada ziyan. "Dia selalu seperti itu. Kau jangan terkejut kak. "
Ziyan hanya tersenyum. Ia juga tidak terlalu memperdulikannya. Lagipula penjaga toko itu juga terlihat cukup baik. Ziyan mulai berkeliling dan mulai melihat bagian rak novel. Ia mencari novel yang ingin di bacanya. Tapi sepertinya tak ada yang menarik baginya. Ia pun menemui penjaga toko untuk bertanya.
"Dianzhu* apakah tidak ada novel lain. "
Penjaga toko yang mengenali ziyan, segera berjalan mendekat dan bertanya. "Nona. Novel apa yang ingin kau baca? "
__ADS_1
"Aku ingin membaca novel terpanas. " Jawab ziyan santai.
Ekspresi ziyan masih tenang. Namun ekspresi penjaga toko sebaliknya. Ia terkejut dan sebuah senyum malu-malu terlihat di wajahnya. Ziyan menangkap heran ekspresi si penjaga toko.
"Ternyata nona suka yang seperti itu. Aku ada koleksi terbaru. Kemarilah. "
Penjaga toko membawa ziyan ke sebuah sudut rak lalu mengeluarkan beberapa buku kecil dari balik lengan bajunya. Ziyan mengambil salah satu buku dan membuka. Mata ziyan seakan mau copot saat melihat gambar panas yang ada di buku tersebut. Ia pun menutupnya kembali. Ternyata novel yang sedang di pegangnya novel panas. Sekarang ia tahu, kenapa penjaga toko ini memandangnya dengan ekspresi aneh tadi. Ia pikir dirinya ingin membaca novel panas dalam arti dewasa. Padahal maksud ziyan novel panas dalam arti novel yang sedang trending seperti kata 'hot trending'.
"Huft... " Ziyan menghela napasnya. Karena sudah sampai seperti ini. Baiklah. " Selain seri ini apakah ada yang lain. Aku mau semua. "
Dengan cepat penjaga toko langsung membungkus semua novel panas koleksinya.
"Bagaimana kak, sudah mendapatkan buku yang kau inginkan. "
"Sudah. Lebih bagus dari yang aku pikirkan. "
Entah kenapa chufeng merasa wajah kakaknya sedikit merah. Apa kakaknya kelelahan. Mungkin lebih baik segera pulang agar kakaknya bisa beristirahat.
Chufeng yang malang. Ia tidak tahu tentang transaksi gelap kakaknya dengan penjaga toko.
Ada sebuah panggilan yang menyebut nona mo. Ziyan yang sudah berjalan sedikit didepan chufeng dan sedikit mengenali suara tersebut segera berbalik. Ia melihat yelu sedang mengajak bicara chufeng. Dia mengenal yelu? Ziyan memperhatikan keduanya. Lalu ia mulai berjalan mendekat.
Yelu yang menyadari kedatangan ziyan segera menatapnya. Ia memperhatikan wajah ziyan. Yelu merasa seperti tidak asing dengan gadis ini.
Melihat temannya itu masih memperhatikan kakaknya. Chufeng memperkenalkan ziyan pada yelu. "Ini kakakku, mo ziyan. " Lalu bergantian memperkenalkan yelu. " Ini tuan yelu kak. Temanku. "
Yelu menganggukan kepalanya memberikan salam. Tapi Ziyan hanya menatap yelu tanpa membalas salamnya. Kenapa dengannya? Apakah aku melakukan hal salah? kenapa ia tampak tak bersahabat denganku.
Melihat kakaknya yang hanya diam saja menatap yelu, membuat chufeng berpikir sepertinya kakaknya sudah terlalu lelah karena itu ia tak ingin mengobrol.
"Tuan yelu. Aku minta maaf karena harus pulang terlebih dulu. Lain kali saja kita mengobrolnya. "
"Ah... tunggu nona mo. Aku mau..."
Yelu belum sempat mengatakan tujuan kenapa ia memanggilnya, namun chufeng sudah pergi menarik kakaknya. ".....mengajakmu minum teh. "
__ADS_1
Didalam gerbong kereta, ziyan menatap bisu chufeng. Banyak pertanyaan mengenai dirinya dan yelu. Bagaimana mereka kenal? apakah mereka sering bertemu? namun ia tak ingin memaksa chufeng untuk mengatakannya.
"Apa ada yang ingin kakak tanyakan? " Chufeng memperhatikan kakaknya yang sedari tadi terus menatapnya, ia yakin ada sesuatu yang ingin ditanyakannya.
"Iya. Pria tadi, sejak kapan kau mengenalnya? "
"Maksud kakak, tuan yelu?" chufeng mulai mengingat kejadian saat pertama kali mereka bertemu. " Aku tidak sengaja mengenalnya. Waktu itu di toko buku sedang ada sayembara puisi dan banyak pengunjung yang datang. Tiba-tiba aku merasa seseorang sedang berusaha mengambil dompetku. Ketika aku sadar, dompetku sudah hilang. Aku mencarinya dan menemukan tuan yelu yang sedang memegang dompetku. Aku pikir dia pencurinya. Jadi aku langsung memukul dan meneriakinya pencuri. Tapi ternyata aku salah. Justru dia yang membantu mengambil dompetku dari pencuri yang sebenarnya. Kenapa kak? apa kakak mengenal tuan yelu? "
Bagaimana mungkin ziyan mengatakan bahwa ia bertemu dengan yelu saat terjerat jaring buruannya di kota donglu. Lalu paviliun chuntian yang sempat berselisih dengan paviliun tiantang miliknya. Hah..ziyan tak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Jadi lebih baik tidak usah mengatakan apapun.
"Tidak. Aku tidak mengenalnya. "
*********************
πΏπππππππ ππππππππ.
Sudah lama sejak sima yan datang kesini. Terakhir saat ada perselisihan dengan paviliun chuntian. Namun sekarang paviliun itu sudah menjadi sebuah kasino dan bar yang sangat ramai.
Sima yan melihat yelu yang tampak serius memikirkan sesuatu. Apa lagi yang dipikirkannya kali ini. Kenapa tiada hari bagi bocah ini untuk tidak membuat otaknya berpikir. Apakah ia tidak merasa kasihan dengan otaknya harus terus menerus bekerja.
" Apa yang sedang kau pikirkan? Jika kau terus menerus berpikir serius seperti itu. Kau akan membuat rambutmu lebih cepat memutih. " Sima yan tak tahan melihat wajah serius temannya. Karena itu ia memutuskan untuk langsung bertanya padanya.
"Aku bukan sedang berpikir, aku hanya sedang mengingat sesuatu. Hari ini aku bertemu nona mo dan kebetulan ia sedang bersama kakaknya. Tapi saat aku melihat kakaknya, ia tampak tak asing. Aku seperti pernah bertemu dengannya. Dan saat aku memberinya salam, ia hanya diam dan menatap tajam padaku. Aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah ku lakukan. "
" Nona mo? apakah ia gadis yang mencuri hatimu itu? " Sudah jelas Sima yan salah menangkap inti cerita yelu.
" Benar. "
"Lalu sudah sampai mana hubungan kalian? "
"Fokus pertanyaanku bukan tentang nona mo. Tapi tentang kakaknya. Kenapa kau malah membahas... " Yelu yang memperhatikan bibir Sima yan, akhirnya teringat dimana ia bertemu dengan kakak gadis yang disukainya itu. "Aku ingat. Dia gadis yang terjerat jaring kita di kota donglu. Kakak nona mo, dia wanita yang kau cium saat di hutan kota donglu. "
********************
Pojok author :
__ADS_1
Dianzhu (εΊδΈ») \= penjaga toko