
Liu ru menyapu pandangannya pada kamarnya. Kamar yang sangat mewah menurutnya dengan barang-barang mahal di dalamnya. Bahkan kamar ini lebih besar dari kamar di kediaman utama dimana ia tinggal dulu sebelum ia diasingkan oleh keluarganya karena di anggap sebagai bintang pembawa sial.
Ah sungguh menyesakkan jika mengingat betapa kejam keluarganya yang langsung membuangnya begitu seorang biksu meramal bahwa ia adalah pembawa sial.
Ia terpaksa harus tinggal di rumah bibinya yang ada di perbatasan. Hingga akhirnya saat ia diketahui hamil, bibinya yang merasa malu tega mengusirnya. Beruntung pamannya diam-diam membantunya mencari sebuah rumah. Meski hanya sebuah gubuk, tapi cukup untuk melindunginya dari terik matahari dan dinginnya malam.
Sudut bibit Liu ru berkedut, Ingin sekali ia tersenyum lebar, namun sebisa mungkin ia tahan karena keberadaan pelayan di sana.
' Aku senang '. Jeritnya dalam hati.
" Bagaimana? apa kau menyukainya? " Suara tegas Sima Feng membuat Liu ru seketika menegang.
Kedatangannya yang tiba-tiba tak pernah sekalipun gagal membuatnya terkejut.
" Astaga! " Seru Liu ru saat menoleh Sima Feng sudah berada tepat di belakangnya.
" Bisakah kau tidak muncul dengan tiba-tiba. "
Sima Feng mengerutkan kening. " Apanya yang tiba-tiba? mereka bahkan sempat memberikan salam. Kau lah yang terlalu fokus memperhatikan kamar mu hingga tidak menyadari kedatangan ku. "
Liu ru tak menyanggah, karena memang begitu kenyataannya.
Sima Feng dan Liu ru kini hanya berdua setelah Sima Feng mengusir keluar para pelayan. Ia mengajak Liu ru duduk, menuangkan teh ke dalam cangkir miliknya dan juga Liu ru kemudian menyesapnya.
Suasana berubah canggung.
Liu ru memilih menghilangkan kecanggungan dengan memainkan cangkir di tangannya alih-alih meminumnya.
Setelah diam beberapa saat, Sima Feng akhirnya bersuara.
__ADS_1
" Apa kau tidak senang aku membawa mu kemari? "
Liu ru tertegun. Kepalanya yang sejak tadi menunduk langsung mendongak menatap wajah datar Sima Feng.
" Hah? Kenapa kau berpikir begitu? " Bukannya menjawab, Liu ru malah bertanya balik.
" Itu karena saat pertemuan dengan keluarga ku tadi kau lebih banyak diam. Aku tahu kau bukan wanita pendiam. Jadi aku pikir kau merasa tertekan dan tidak senang dengan keputusan ku mengajak mu tinggal. "
Wanita itu menghembuskan napas. " Aku diam bukan karena alasan itu. Tapi karena sejujurnya aku masih terkejut. Tidak menyangka bahwa pria acak yang ku tolong dan memaksaku adalah seorang pangeran. "
" Lalu apa sekarang kau masih terkejut? "
Ia menggeleng. Meski begitu masih ada beberapa simpul di hatinya yang membuatnya ragu.
" Jika tidak, lantas kenapa kau masih terlihat tidak bahagia. Apakah kau masih memiliki keraguan? " Liu ru memandang Sima Feng seolah bertanya ' kenapa kau tahu? '
" Tidak perlu terkejut bagaimana aku bisa tahu? " Tebak Sima Feng dan pupil mata Liu ru seketika membulat.
" Kau lebih banyak bicara dari yang ku duga. " Itu karena Liu ru beberapa kali mendengar bahwa pangeran kedua Jin terkenal pendiam. Tidak seperti pangeran putra mahkota yang memiliki sifat sedikit lebih ramah. Tapi sepertinya apa yang di katakan rumor tidak sepenuhnya benar.
Lihatlah bukankah saat ini pria dingin itu sedang berbicara padanya.
" Benarkah? aku pikir aku masih sama. Mungkin kau berpikir aku pendiam setelah mendengar dari rumor buruk itu. "
Ia kemudian melanjutkan, " Aku hanya tidak suka berbicara jika itu bukan hal penting yang harus di bicarakan. Apa lagi jika tidak mengenal lawan bicara. Aku lebih memilih untuk diam dari pada berbicara tidak jelas dengannya. "
Seolah masih tak percaya. " Tapi kau bisa berbicara dengan ku dengan lugas dan terlihat biasa. " Tanya Liu ru tak mengerti.
Wanita itu tak tahu saja, bahwa Sima Feng telah berlatih terlebih dulu sebelum ia datang kesini. Secara khusus ia menemui A Fei untuk bertanya bagaimana agar bisa mengobrol dengannya.
__ADS_1
Tentu saja A Fei hanya menyuruhnya untuk menganggapnya sebagai anggota keluarga. Karena ia tahu, kakak kembarnya itu hanya asing pada orang lain. Namun tidak dengan keluarga. Dengan menganggapnya sebagai keluarga maka Sima Feng bisa mengobrol tanpa harus berpikir keras mengenai topik pembicaraan.
Mungkin terdengar aneh. Tapi seperti itulah sifat Sima Feng. Ia selalu menjaga jarak pada orang lain seolah-olah ada tembok besar yang menghalangi.
Sima Feng berpikir sejenak, lalu menjawab. " Karena kau adalah calon istri ku. Akan aneh jika aku tidak bisa mengobrol baik dengan mu. " Sima Feng beralasan.
Masih diam, Liu ru menatap Sima Feng lekat. Memikirkan ajakannya untuk memulai hubungan dengan saling terbuka.
Itu bukan sesuatu yang buruk, pikirnya.
Jadi Liu ru memutuskan untuk melepas satu simpul keraguan di hatinya.
Dengan hati-hati Liu ru bertanya. " Apa kau yakin akan menjadikan ku sebagai permaisuri pangeran? aku takut kau akan menyesal setelah mengetahui siapa diri ku? Lagipula bukankah seorang pangeran membutuhkan wanita dengan latar belakang bagus untuk mendukungnya? sementara aku tidak dalam situasi tersebut. " Tanya Liu ru.
" Apa hubungannya latar belakang bagus dan dukungan dengan ku? "
Sejenak Liu ru ragu untuk mengatakannya, karena apa yang akan ia katakan termasuk hal sensitif.
" Bukankah dukungan di perlukan untuk membuat mu naik tahta? " Lirihnya.
Dan benar saja, wajah Sima Feng yang sebelumnya terlihat tenang meski datar, mendadak gelap.
Tanpa sadar, Sima Feng mencengkeram gelas ditangannya hingga pecah.
" Astaga! " Pekik Liu ru terkejut dengan kejadian tersebut. Ia tidak menduga bahwa ucapannya akan sangat membuat Sima Feng sangat marah.
Buru-buru ia meraih tangan Sima Feng takut pria itu terluka, namun segera di tepis.
Pria itu berdiri, dan dengan tatapan membunuh berkata. " Jangan pernah berbicara omong kosong itu lagi. Jika sampai aku mendengarnya lagi, jangan harap kau bisa menggunakan lidah mu itu. "
__ADS_1
Brakk!
Sima Feng menutup pintu dengan kasar meninggalkan Liu ru yang menggigil ketakutan.