
Pintu terbuka,
Brakk!
Orang yang sedang menikmati guyuran air dingin itu seketika terkesiap. Secara spontan menyilangkan tangan menutupi dadanya.
" Waaaa! Apa yang kalian lakukan. " Pekik A Guang.
Kelima murid itu tak kalah terkejut saat melihat sosok yang ternyata itu A Guang, bukan hantu maupun seorang wanita.
" Sedang apa kau malam-malam di sini? " Tanya salah satu murid dengan tatapan curiga.
" Kau tidak lihat aku sedang apa? " Suara A Guang sedikit lebih tinggi.
" Mataku tidak buta dan aku tahu kau sedang mandi. Tapi kenapa kau mandi di gudang bukan di kamar mandi? "
" Apa ada larangan aku mandi di gudang? Kalian sendiri juga untuk apa malam-malam datang kemari. Jika kalian ingin mandi, silakan kalian keluar dan tunggu sampai aku selesai atau jika tidak sabar, kalian bisa gunakan kamar mandi. "
Murid tersebut menatap lekat A Guang. Seakan tahu bahwa sesuatu tengah di sembunyikan olehnya.
Murid yang lain akhirnya memutuskan melerai perdebatan kecil tersebut. Ia menepuk pelan pundak temannya.
" Sudahlah. Mungkin benar, bahwa itu hanya halusinasi kita saja. " lalu beralih melihat A Guang. " Apa kau setiap malam mandi disini? "
" Benar. Apa itu termasuk larangan? "
" Tidak. Hanya saja, lain kali mandilah di kamar mandi. Jangan di gudang. Meski tempat ini bisa digunakan untuk mandi, tapi tetap saja terlihat aneh. "
Setelah berbicara, kelima murid tersebut pergi. A Guang keluar memastikan kepergian mereka.
" Keluarlah. Mereka sudah pergi. " A Guang berkata sembari memalingkan wajahnya agar tidak melihat ke arah Na li bersembunyi.
Flashback mulai,
A Guang tersentak bangun saat menyadari bahwa ia tidak sengaja tertidur. Menoleh ke tempat Na li, gadis itu sudah tak ada di tempatnya ia tidur.
Dengan panik, gegas ia turun dan langsung berlari menuju area belakang. Dari kejauhan, A Guang melihat kelima murid yang mengobrol saat siang tadi sedang berjalan ke arah gudang. Jadi dengan cepat A Guang berbalik dan mencoba mencari jalan pintas lain.
Sampai di gudang belakang, A Guang melihat salah seorang dari mereka tengah mengintip. Jujur saat itu ingin sekali A Guang mencongkel mata itu. Sungguh apa yang di lakukan salah satu murid itu membuat hatinya tak hanya panas tapi mendidih.
__ADS_1
Saat murid itu mengalihkan perhatian untuk memanggil rekannya. Diam-diam A Guang masuk dan langsung membekap mulut Na li sebelum gadis itu berteriak.
Beruntung ia dibekali beladiri yang membuat gerakannya cepat bagai bayangan.
Na li yang terkejut segera kembali tenang saat mendengar suara orang di belakangnya.
" Ini aku. Jangan berteriak. Ada murid lain di depan. Segera bersembunyi. Apa kau mengerti? "
Na li mengangguk dan meraih sembarang kain di dekatnya untuk menutupi tubuh polosnya.
Dengan cepat A Guang membuka bajunya dan menggantikan Na li mandi.
Flashback selesai,
Gadis itu menunduk malu dengan tubuhnya yang hanya tertutup kain tipis.
Jika ada yang bertanya, lebih menggoda mana wanita tanpa sehelai benang pun atau wanita dengan kain tipis menerawang yang menempel di kulit. Maka jawabannya adalah yang kedua.
Meski A Guang hanya melihat sekilas penampilan menggoda Na li. Hal itu ternyata mampu membuat darah muda A Guang bergejolak. Diam-diam napasnya memburu. Sementara jantungnya terus berdebar. A Guang berharap gadis yang bersamanya saat ini tak bisa mendengar debaran jantungnya yang begitu berisik.
Masih dengan memalingkan wajahnya. A Guang kembali berkata.
Na li merasakan suatu sengatan asing di hatinya. Sebuah erasaan hangat saat mendengar perkataan A Guang. Perhatian yang membuat Na li bahagia. Namun kembali, ia tidak boleh bertindak egois dengan menerima kebaikan pria itu. Ia tak boleh menarik A Guang terlalu jauh masuk ke dalam kolam kebohongan yang dirinya ciptakan.
Jadi dengan berat hati terpaksa Na li menolaknya.
" Tidak perlu. Aku pikir itu terlalu berlebihan. Aku tak ingin merepotkan mu lebih banyak lagi. " Tolak Na li.
Namun bukan A Guang jika menerima penolakan Na li begitu saja.
" Kau tak bisa menolak dan mengambil resiko yang nantinya menyebabkan penyamaran mu terbongkar. Tidak hanya kau yang akan terkena imbasnya. Aku yakin mereka juga akan menyeret ku, mengingat kita berdua berada di kamar yang sama. Mereka pasti beranggapan bahwa aku membantu mu melakukan penipuan. " Ucap A Guang beralasan.
" Kau tinggal bilang tak tahu menahu dengan penyamaran ku. "
A Guang tersenyum mengejek. " Apa menurut mu mereka bodoh? Aku tak yakin mereka akan begitu saja percaya dengan alasan itu. "
Na li tampak berpikir. Sesekali melihat ke arah A Guang.
Sementara A Guang terus bersorak dalam hati. ' Terima, ayo terima. Apa lagi yang akan kau pikirkan. '
__ADS_1
Setelah sekian detik akhirnya Na li mengangguk sebagai persetujuan.
Hati A Guang bersorak bahagia. Kumpulan sel di dalam tubuhnya seolah sedang mengadakan pesta kembang api yang menunjukkan letupan bahagia pria itu.
Saat keduanya kembali menyadari bagaimana penampilan masing-masing saat itu.
Wajah mereka langsung bersemu merah seperti pantat babon. Tanpa sadar Na li melihat A Guang yang bertelanjang dada dengan celana yang sudah basah. Sedang A Guang harus menelan dengan keras saliva nya. Sungguh penampilan Na li saat ini menyulut desiran gairah A Guang yang selama ini tertidur. Hingga sesuatu di bawah perutnya ikut terbangun bersama dengan hasratnya yang siap meledak.
" A-aku akan keluar. K-kau cepatlah pakai baju mu. Aku akan menunggu mu. " A Guang meraih bajunya, lalu keluar dengan wajah menunduk menyembunyikan rasa malu nya.
' Aku harap Na li tidak melihat benda yang tengah berdiri tegak ini. ' Gumamnya dalam hati sembari melihat ke arah bawah.
Sayangnya Na li melihat semuanya. Wajahnya yang merah mendadak terasa panas seolah darah di wajahnya mendidih. Ia membuang napasnya lewat mulut sembari mengipas wajahnya dengan tangan.
Keduanya kembali ke kamar dengan perasaan canggung. Tak ada obrolan di antara keduanya. Hanya keheningan yang berpadu dengan suara jangkrik yang menemani mereka.
" Kalau begitu aku tidur dulu. Selamat tidur. " Ucap A Guang saat mereka sudah berada di tempat tidur masing-masing.
" I-iya. Selamat tidur. " Balas Na li.
Keduanya tidur dengan punggung saling berhadapan.
Pagi datang,
keduanya bangun dengan tubuh yang sangat lelah dan kantong mata di kedua mata mereka.
Tak ada satupun yang bisa tidur semalam. Kejadian mendebarkan semalam membuat jantung keduanya juga tak berhenti berdebar.
" Pagi. " A Guang memberikan ucapan selamat pagi senormal mungkin menyembunyikan kegugupan hatinya.
" Pa-pagi. " Balas Na li dengan hati tak kalah bergemuruh.
keduanya saling berhadapan dengan canggung. A Guang mengusap tengkuknya yang tidak pegal sedangkan bola mata Na li bergerak ke kanan dan ke kiri.
" Aku akan menyiapkan air untuk kau membasuh muka. " Ucap A Guang dan Na li mengangguk tanpa sadar.
Barulah saat A Guang sudah pergi, Na li menemukan kembali kesadarannya.
" Apa yang sudah ku lakukan. Sungguh situasi ini bisa membunuh ku cepat atau lambat. " Gumam Na li.
__ADS_1
Ia merasa umurnya semakin cepat terkuras jika jantungnya terus berdebar seperti saat ini.