
Xu xiang tiba di depan rumahnya dulu. Penampilan rumahnya sangat memperihatinkan, jauh lebih parah dari terakhir ia tinggal.
Xu xiang turun dari kereta dan masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Ia mengetuk pintu namun hingga beberapa saat tak seorang pun yang membukanya.
Dimana ibu dan kakak? Apa mereka berdua sedang keluar?
Saat ia sedang bergelut dengan pikirannya, seseorang yang Xu xiang ketahui sebagai tetangganya tengah memperhatikannya.
" Apa kabar nyonya lu. Sudah lama tidak bertemu. " Sapa Xu xiang pada wanita paruh baya yang tinggal di sebelah rumahnya.
Ia menyipitkan matanya mencoba mengingat wanita muda di depannya. " Kau.. Xu xiang? " Tanya ragu sembari menilai penampilan Xu xiang dari atas ke bawah.
" Benar bu. " Wanita itu terkejut, namun wajah yang sebelumnya terlihat ramah justru berubah penuh hinaan.
" Sekarang kau kembali, apa karena laki-laki yang kabur bersama mu sudah membuang mu. Karena itu kau memutuskan
kembali kesini? " Sarkas wanita itu.
Xu xiang mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan ucapan tetangganya itu.
" Apa maksud mu nyonya lu. Aku sama sekali tak mengerti maksud ucapan mu? " Wajah Xu xiang terlihat bingung.
Namun wanita yang di panggil nyonya Lu itu alih-alih berbicara baik-baik, ia justru semakin terlihat marah.
" Bukankah kau meninggalkan ibu mu dan kakak mu agar bisa pergi bersama laki-laki liar mu itu? "
Deg! apa lagi ini.
" Apa maksud mu nyonya lu? Aku tidak melakukannya. Itu fitnah. Aku memang pergi tapi aku pergi bekerja ikut kapal dagang ke kerajaan shu. Bukan pergi bersama laki-laki liar seperti ucapan mu. Jika kau tidak percaya silakan kau tanyakan dengan serikat dagang Siwang. Mereka pasti mengenal ku. " Jelas Xu xiang.
Meski tidak sebesar serikat dagang zi. Tapi siwang juga termasuk serikat dagang asing yang cukup dikenal di Kekaisaran Jin.
" Benarkah? lalu kenapa dia mengatakan bahwa kau pergi dengan laki-laki liar? "
Xu xiang akhirnya menyadari bahwa ada seseorang yang mencoba memfitnahnya.
" Siapa yang mengatakannya? " Suara Xu xiang terdengar lebih berat.
" Kakak mu. Na li yang mengatakannya. "
Amarah Xu xiang sudah tak terbendung lagi. Ternyata kakaknya masih brengsek dan bahkan ia tega menyebarkan fitnah tentangnya.
Lihat saja ia akan berurusan dengannya nanti.
" Nyonya Lu, apa kau tahu dimana ibu ku dan kakak ku? kenapa mereka tidak ada di rumah? Apa mereka sedang pergi? "
Terlihat perubahan di wajah nyonya lu. Entah kenapa firasat Xu xiang tidak enak.
" Dua minggu lalu ibu mu tewas karena tertangkap basah sedang mencuri. Saat hendak di tangkap ia melarikan diri dan tanpa sengaja tertabrak oleh kereta kuda yang sedang berlari kencang. "
Tubuh Xu xiang mendadak lemas. Tubuhnya luruh ke tanah. Pandangannya tiba-tiba kosong.
" Xu xiang apa kau baik-baik saja? " Tanya ibu Lu khawatir.
" Nyonya lu apa yang kau katakan itu benar? katakan pada ku bahwa itu bohong. " Mata Xu xiang mulai berkaca-kaca. Ia masih berharap bahwa berita yang baru saja di dengarnya itu palsu.
Namun sayangnya itu benar, bahkan nyonya lu mengajak Xu xiang ke tempat dimana nyonya Guli di makamkan.
__ADS_1
Melihat makam ibunya, Xu xiang langsung berlari dan bersimpuh di tanah.
Tangisnya sudah tak terbendung lagi. " Bu, maafkan Xu xiang. Kenapa ibu pergi di saat aku sudah sukses. Bu aku memiliki banyak uang sekarang. Kita bisa makan enak. Ibu juga tak perlu lagi stres dan mabuk-mabukan lagi. Bu... tolong kembalilah. Aku belum minta maaf dengan ibu karena pergi diam-diam. Ibu, maafkan aku. "
Xu xiang tidak berbohong, ia sungguh tulus meminta maaf pada ibunya. Meski ia diperlakukan dengan sangat buruk. Tapi tetap saja wanita itu yang melahirkannya.
Nyonya lu yang sejak tadi diam memperhatikan Xu xiang juga tak kalah sedih. Ia ikut meneteskan air matanya.
" Sudahlah nak. Ibu mu saat ini sudah tenang di sana. Biarkan ia beristirahat. Saat ini lebih baik kau menasehati kakak mu agar tidak terus menerus berbuat onar. "
Diingatkan tentang kakaknya, seketika membuat Xu xiang tidak bisa untuk tidak semakin membencinya. Ia tahu jika ibunya sampai nekat mencuri pasti kakaknya telah memaksa ibu untuk melakukannya.
Ada kilatan kebencian di mata Xu xiang. " Nyonya Lu dimana kakak ku? "
" Kakakmu biasanya ada di kedai teh untuk memesan arak atau bermain judi di shugua. "
Xu xiang tersenyum remeh. Setelah namanya masuk daftar hitam di Lianhua. Kini ia berlari ke Shugua.
Setelah menyalakan dupa dan melakukan penghormatan. Xu xiang segera pergi.
Perasaannya masih terguncang, karena itu ia memutuskan untuk mencari kakak bajingannya esok hari.
Terlalu lelah menangis, tanpa sadar ia tertidur.
Saat merasakan tak ada lagi guncangan, ia terbangun dan menyadari bahwa kereta kudanya telah sampai.
" Ini dimana? " Xu xiang menatap bingung bangunan megah di depannya.
Bukankah ia harusnya tiba di istana? Kenapa justru ke rumah ini? rumah siapa ini?
" Pak kusir, apa kita salah alamat? "
Meski begitu tiba-tiba. Xu xiang memilih untuk patuh dan tidak lagi bertanya kepada pak kusir.
Ia masuk ke dalam kediaman, dan mendapat sambutan dari pelayan di sana.
" Nona Guli. Silakan saya antar ke kamar anda? " Seorang pelayan yang khusus di perintahkan ziyan untuk melayani Xu xiang.
" Terima kasih, maaf merepotkan kalian. "
Tak ada percakapan lagi. Xu xiang segera membersihkan diri lalu pergi beristirahat. Hari ini benar-benar berat untuknya.
******
Sima Guang menerima laporan bahwa Xu xiang sudah tiba di kediaman yang di siapkan sang ibu.
Ia juga mendengar berita tentang kematian nyonya Guli. Membayangkan saat ini wanitanya sedang menangis sendirian membuat dada pria itu sesak.
Ia sebenarnya sangat ingin menemuinya dan menghiburnya sekarang juga namun ia juga tidak bisa bertindak gegabah.
" Tunggu sebentar lagi. Aku akan menemui mu nanti malam. " Gumam A Guang sendiri.
Tengah malam,
Jendela kamar Xu xiang perlahan terbuka. A Guang menyelinap masuk ke kamar gadis itu.
Ia memandangi wajah tidur Xu xiang yang terlihat sembab. Ia tahu bahwa calon istrinya itu tengah sedih karena rasa bersalah meninggalkan ibunya saat itu.
__ADS_1
A Guang hanya duduk dan terus memandangi wajah Xu xiang. Tiba-tiba Xu xiang menggeliat.
Matanya perlahan terbuka. Ia melihat sosok A Guang. Ia pikir itu adalah mimpi jadi ia masih diam menatapnya.
Namun setelah beberapa saat akhirnya tersadar bahwa itu bukan lah mimpi. Hampir saja ia membangunkan seluruh penghuni kediaman dengan teriakannya jika A Guang tidak dengan cepat membekap mulutnya.
" Ini aku. Jangan berteriak. " Bisikan A Guang.
Xu xiang mengangguk.
A Guang melepaskan tangannya dan langsung menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
Xu xiang tiba-tiba kembali menangis. Entah kenapa keberadaan A Guang membuatnya ingin menumpahkan semua kesedihannya.
Mungkinkah karena ia terlalu percaya dengannya? atau karena ia mencintainya?
Apapun alasannya, Xu xiang hanya ingin menangis sepuasnya di dalam pelukan pria ini.
Setelah cukup lama menangis, akhirnya Xu xiang sudah jauh lebih tenang.
" Maaf karena air mata ku baju mu jadi basah. "
A Guang terlihat sudah tak begitu khawatir. " Sepertinya kau sudah lebih baik sekarang. Terbukti kau sudah bisa mengkhawatirkan baju ku dari pada dirimu sendiri. "
A Guang kemudian merapikan rambut liar di wajah Xu xiang dan berkata. "Jangan merasa bersalah karena meninggalkan ibu mu saat itu. Jika kau berpikir seandainya kau tidak pergi pasti ibu mu masih hidup. Tidak ada seandainya dalam hal ini. Semuanya sudah tertulis jelas dalam buku takdir. "
Xu xiang mengerti dan paham dengan apa yang coba di sampaikan A Guang.
Jadi ia mengangguk, " Aku janji, aku hanya akan menangis malam ini. Setelah malam ini, aku tidak akan menangis lagi. "
" Aku akan menemani mu kalau begitu. " Putus A Guang.
Akhirnya A Guang menemani Xu xiang dalam diam.
Gadis itu masih diam memikirkan banyak hal. Namun ia tiba-tiba tersadar akan sesuatu. Tentang fitnah yang di sebarkan oleh kakaknya. Meski ia yakin A Guang tidak akan mempercayainya tapi alangkah lebih baik jika ia menceritakannya lebih dulu.
" Saat aku pergi ke rumah ku. Aku mengetahui bahwa ternyata kakak bajingan ku telah menyebarkan rumor tentang ku. "
" Rumor apa? " A Guang menduga bahwa itu rumor tentang mereka yang sekamar saat di Akademi. Ia tak menyangka bahwa itu adalah rumor lain.
" Jadi kakakmu menyebarkan rumor itu? " Dan Xu xiang mengangguk.
A Guang menghela napas, sepertinya ia juga harus mengatakan apa yang sedang terjadi saat ini.
Jadi A Guang pun mulai menceritakan tentang rumor dirinya di ibukota dan alasan kenapa ia harus pindah dari istana dan tinggal di sini.
" Siapa menurut mu yang menyebarkan rumor ini? " Tanya A Guang.
Sebenarnya ia sudah bisa menebak. Tapi ia ingin mendengar pendapat Xu xiang secara langsung.
" Aku pikir itu kakak ku. Bahkan ia bisa menyebarkan rumor buruk tentang adiknya sendiri. Jadi aku tidak heran jika ia menyebarkan rumor tentang mu. "
A Guang terlihat puas dengan jawaban Xu xiang. Tidak heran, ia menyukainya. Cara berpikirnya sama dengan dirinya
" Lalu apa menurut mu kakak mu melakukannya sendiri atau ada orang lain yang mendorongnya? "
" Sudah pasti ia di perintahkan oleh seseorang. Jika itu kakak bajingan ku, maka ia tidak akan menggunakan cara dengan menulis naskah lalu memberikannya pada pendongeng. Ia akan memilih berbicara langsung dengan orang lain. Terlalu merepotkan baginya untuk menulis naskah terlebih dulu. Ia tidak menyukai cara berbeli-belit."
__ADS_1
" Kau benar. Aku juga berpikir demikian. Kakak mu tidak akan cukup bodoh untuk menyebarkan rumor tentang anggota kerajaan mengingat sikap pengecutnya, terkecuali seseorang memaksanya untuk melakukannya. "
" Aku setuju. Dan sepertinya kita harus mencari pelaku sebenarnya melalui kakak mu. Tunggu dan biarkan ia membawa kita pada pelaku yang sebenarnya. "