
Snowy tercengang.
Kali ini snowy benar-benar kagum dengan gadis di depannya ini. Gadis usia 16 tahun dengan otak kecil ini sanggup membuat rencana absurb untuk membuka sebuah host club. Ia justru ragu sebenarnya tujuan ia membuka host club itu untuk dirinya sendiri atau untuk wanita lain.
"Apakah kau benar-benar akan membuka host club?" Snowy bertanya penuh curiga.
"Tentu saja. Bukankah menyenangkan menghasilkan uang sekaligus menikmati pemandangan indah. " Ziyan tersenyum puas.
Saatnya memulai rapat kecil mereka.
"Bagaimana dengan tugas hari ini? "
"Tidak ada yang mencurigakan. Sebagian besar waktunya di habiskan di ruang belajar. Sangat berbeda dengan Kakaknya yang sibuk bersolek atau melakukan hal membosankan. "
Sepertinya Ziyan menangkap informasi baru. "Apa yang chufeng lakukan di ruang belajar? "
Snowy mengangkat bahunya, "Mana aku tahu. Pintunya tertutup. "
"Ck... percuma saja menyuruhmu melakukan tugas ini. "
Ziyan meletakan sisirnya dan membuka kotak kayu di meja riasnya. Ia mengeluarkan tiket pertunjukan yang di berikan Xun ai dan memberikannya pada snowy.
"Paviliun Manyue? sepertinya rubah licik itu pernah menyebut tempat ini. "
"Benar. Tadi siang Xun ai memberikan ini, dan memintaku datang terlebih dulu. Sepertinya mereka mengira aku masih yaner yang baik hati seperti dulu. " Ziyan mengambil tiket tersebut lalu menciumnya. " Seperti yang dulu pernah aku katakan. Siapapun mereka, akan aku buat merasakan obat mereka sendiri. "
*******************
Sebuah kereta kuda dengan ornamen bendera karakter Mo berhenti di depan sebuah toko perhiasan. Semua pejalan kaki yang melintas tentu saja tahu keluarga pemilik kereta kuda ini.
Orang-orang sekitar yang penasaran dengan sosok yang ada di dalam gerbong, menatap pintu kereta yang terbuka itu. Seorang pelayan wanita turun, disusul gadis dengan pakaian yang lebih modis dan mewah.
Yuefeng, yang merasa dirinya adalah satu-satunya nona kediaman Mo dengan bangga melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko. Ia sangat menyukai saat dirinya menjadi pusat perhatian. Seorang pelayan toko yang sedang berjaga menyambut kedatangan yuefeng. Bibirnya tersenyum lebar seperti penjilat yang melihat bongkahan emas.
__ADS_1
"Nona Mo, selamat datang di toko kami. Apakah anda mau mengambil pesanan? "
Dengan suaranya yang dibuat lembut dan elegan ia menjawab pertanyaan sang pelayan. " Iya. Apakah pesananku sudah siap. "
"Tentu, tentu. "
Pelayan itu memberikan arahan pada yuefeng untuk mengikutinya.
"Silakan anda lihat nona. " Si pelayan menunjukan sebuah tusuk konde emas yang mewah. "Bagaimana? "
Kedua manik Yuefeng berbinar. Ia terpesona dengan keindahan tusuk kondenya itu. Sangat sesuai dengan harga yang sudah ia habiskan. Ia menganggap hanya perhiasan terbaik dan pakaian terbaik yang pantas di kenakannya. Sebuah senyum puas mengembang di bibir yuefeng.
"Aku akan mengambilnya, ini sisa pembayarannya. " yuefeng melempar kantong uangnya pada si pelayan.
Sekarang berganti mata si pelayan yang berbinar melihat kantong penuh perak itu. "Terima kasih nona Mo. "
Setelah mendapatkan perhiasannya, yuefeng bergegas naik kembali kedalam kereta kudanya. Ia meminta xun ai untuk memasangkan tusuk konde barunya.
"Anda cantik sekali nona. Nona pertama tidak sebanding denganmu. " Xun ai benar-benar menunjukan keahlian menjilatnya.
Mendengar kata nona pertama membuat mood yuefeng sedikit memburuk. " Tentu saja. Jika bukan karena dia beruntung terlahir di keluarga utama. Apakah dia akan mendapatkan semua perhatian dan bahkan pertunangan dengan pangeran pertama? Aku lebih cantik, dan lebih bertalenta. Namun harus menjadi nomor dua. Aku tidak bisa menerimanya. "
Tangan yuefeng mengepal kuat, amarah dan kebenciannya hampir meledakkan kepalanya.
"Tenanglah nona. Meski nona pertama sembuh dari penyakitnya, bukannya kita bisa melakukannya lagi. Mereka pasti tidak akan menyadarinya. "
"Benar. Anggap saja hari ini aku memberinya kesempatan terakhir untuk bersenang-senang. Sekarang mungkin dirinya sedang menunggu sambil menikmati pertunjukan. " Suasana hati yuefeng menjadi lebih bahagia kala dirinya membayangkan ziyan yang sedang duduk menunggunya dengan ekspresi bodoh.
Tak lama kereta kuda yuefeng berhenti dan sang kusir memberitahunya bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Dengan penuh rasa percaya diri, yuefeng turun dan masuk ke dalam paviliun. Ia memeriksa semua bangku di aula pertunjukan namun tak menemukan sosok yang dicarinya.
"Nona pertama tidak ada. Mungkin dia lelah karena terlalu lama menunggumu nona. lalu memutuskan pulang terlebih dulu. " Xun ai tertawa puas membayangkannya.
__ADS_1
"Sudahlah. Kita nikmati saja pertunjukannya." Yuefeng merasa sedikit kecewa, karena tak bisa menyaksikan ekspresi bodoh ziyan saat menunggunya.
"Tapi...berani sekali dia pergi begitu saja. Sungguh tidak menghargaimu nona. "
"Tapi kita hanya terlambat satu jam. Apakah dia benar-benar sudah kembali? justru bukan sebaliknya. Ia yang belum datang. " Yuefeng yang merasa ganjil, karena ia paham betul sifat ziyan yang tak akan mengingkari janjinya.
"Jika ia belum datang. Bukankah itu berarti ia merendahkanmu nona. Membiarkan anda menunggu. " Xun ai hanya bisa meluapkan emosinya melalui ucapannya.
Yuefeng dan Xun ai duduk, menyaksikan pertunjukan opera yang sedang di mainkan. Dan sesekali melihat arah pintu, melihat apakah orang yang ditunggunya sudah datang. Seorang pelayan membawakan teko dan 2 cangkir lalu meletakkannya di atas meja yuefeng.
" Pelayan, tambahkan 3 cangkir lagi. " Sebuah suara mengejutkan pelayan yang sedang berada di meja yuefeng tersebut.
Lebih terkejut lagi dua wanita yang berada di samping pelayan itu. Matanya terbelalak ketika melihat sosok yang sedari tadi mereka tunggu, ternyata muncul di belakang mereka.
Yuefeng segera mengubah ekspresinya. Meski kesal, ia berusaha memasang sebuah senyum di wajahnya. " Kau baru datang kak? "
Hm..ekspresi palsu. Ia menganggap bahwa dirinya saja yang bisa melakukan sandiwara. Baiklah mari kita bermain. Ziyan pun segera memasang ekspresi palsu 'tidak berdayanya'.
"Iya... Awalnya aku tak ingin datang karena tiba-tiba merasa tidak enak badan, namun aku jadi berpikir jika tidak datang akan membuat adik terus menunggu. Jadi aku paksakan saja untuk datang. " Ziyan berbicara dengan suara lemah lembut.
"Sudah kak tidak apa-apa. Aku juga baru datang. " yuefeng berbohong, ia tak ingin ziyan mengetahui bahwa sudah lama dirinya menunggu.
Xiaoqi dan yaoyao yang melihat sandiwara ziyan, hanya bisa bertepuk tangan dalam hati. Nonanya ini benar-benar pintar dalam hal membuat kedua orang itu kesal. Jika mereka tahu bagaimana situasi yang sebenarnya. Betapa geramnya mereka.
𝙱𝚎𝚋𝚎𝚛𝚊𝚙𝚊 𝚓𝚊𝚖 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚕𝚞𝚖𝚗𝚢𝚊.
"Nona kau tidak bersiap-siap? bukankah kau memiliki janji dengan nona kedua. " Yaoyao kembali mengingatkan.
Pagi ini dirinya sudah 3 kali mengingatkan ziyan mengenai janjinya. Namun hanya anggukan atau jawaban 'Hm' yang keluar dari mulutnya.
Ziyan yang kembali di ingatkan janji temunya dengan yuefeng, akhirnya membuka suaranya.
"kita tidak perlu terlalu terburu-buru. Bukankah mereka sedang bersenang-senang. Mereka yang membuat janji tapi mereka sendiri yang terlambat. Bukankah itu berarti mereka sengaja melakukannya. Mereka hanya ingin melihat tampang bodoh kita saat menunggu mereka. Jadi kenapa tidak kita biarkan saja mereka yang menunggu kita. "
__ADS_1