
" Apa kau sudah menyuruh seseorang untuk mengantarkan surat pada A Feng? " Tanya A Guang pada Xiao wen.
" Sudah Yang mulia. Aku juga berpesan padanya bahwa ia akan mendapatkan tambahan uang dari sang penerima pesan begitu surat itu selesai di kirim. "
" Kerja bagus. " A Guang menepuk pundak Xiao wen.
" Yang mulia kenapa anda menjanjikan bahwa ia akan mendapatkan uang lagi dari pangeran Feng. Bukankah anda sudah memberinya uang? " Xiao wen masih tak memahami maksud tindakan A Guang tersebut.
Dengan perlahan A Guang menjelaskan. " Uang yang ku berikan adalah jaminan dia mengantar suratnya sedangkan uang yang di berikan A Feng nantinya adalah jaminan ia menerima suratnya. Jadi aku tidak perlu takut surat itu tidak akan terkirim. "
" Kalau begitu kenapa tidak pangeran kedua yang membayarnya? "
" Jika aku tidak membayarnya, mungkin ia tak akan langsung mengirimnya atau yang terburuk ia akan membuang surat itu di tengah jalan. Berpikir seandainya ia tak bertemu A Feng maka perjalanannya akan menjadi sia-sia. "
A Guang juga menambahkan. " Jadi ini bisa disebut sebagai jaminan. Apakah sampai sini kau sudah mengerti? "
Penjelasannya mudah, tidak sulit bagi Xiao wen untuk mengerti.
Kapal mereka sudah bergerak memasuki kerajaan wei. Dan setelah ini barulah tiba di kerajaan Shu.
***********
Tepat pada hari ke lima, akhirnya A Guang tiba di kerajaan Shu.
A Guang melihat sekitar dan merasa asing dengan pemandangan di depannya. Namun suasana dermaga yang ramai mengingatkan dirinya dengan suasana dermaga ibu kota, sangat hidup.
" Tuan muda apa kita akan langsung pergi ke penginapan? "
Merasakan badannya cukup lelah akhirnya A Guang memutuskan untuk terlebih dulu beristirahat. Baru setelah mengumpulkan tenaganya, ia akan mencoba berkeliling ibu kota.
Keduanya akhirnya pergi menuju ke sebuah penginapan besar di tengah kota.
Saat sedang melakukan reservasi kamar. A Guang yang melihat ke arah pintu keluar tanpa sengaja melihat satu sosok yang selama ini amat di rindukan nya.
' Xu xiang. '
Tanpa pikir panjang, A Guang segera berlari keluar dan mengedarkan matanya melihat sekeliling.
" Dimana dia? " Gumamnya.
" Tuan muda ada apa? kenapa anda tiba-tiba berlari? " Xiao wen menyusul A Guang keluar.
Saat Xu xiang pergi, Xiao wen belum bersama A Guang. Jadi ia tidak mengetahui seperti apa sosok Xu xiang. Ia hanya tahu bahwa tuannya sudah memiliki wanita di hatinya.
" Aku melihatnya. Baru saja aku melihat Xu xiang. Ia ada di sini. " A Guang berkata dengan antusias.
" Apakah anda yakin tuan muda. Mungkinkah anda salah lihat? " Xiao wen tak ingin membuat tuannya kecewa tapi ia juga harus mengemukakan kemungkinan tersebut.
Ekspresi bahagia yang sebelumnya terlihat jelas di wajah A Guang mendadak berubah sendu.
__ADS_1
Ucapan Xiao wen tidak lah salah. Beberapa hari yang lalu pun ia pernah salah mengenali orang sebagai Xu xiang. Jadi ada kemungkinan ia pun melakukan hal yang sama kali ini juga.
Membuang napas, A Guang menarik kembali kebahagian yang sempat ia rasakan. Ternyata merindukan seseorang begitu menyesakan.
"Ayo kita kembali lagi ke dalam. " Ajaknya.
Keduanya kembali masuk ke dalam.
Sementara jauh di depan.
" Ada apa? kenapa kau menoleh terus? " Tanya Gu shang pada wanita di sampingnya.
" Tidak apa-apa. Aku hanya merasa seseorang baru saja memanggil nama ku. "
" Aku tidak mendengarnya. Apa kau lupa tidak membersihkan telinga mu lagi. "
Xu xiang langsung menendang tulang kering Gu shang dan pemuda itu memekik sakit memegangi kakinya.
" Aku sudah meluangkan waktu menjemput mu dan kau masih saja menyebalkan. Apakah ini ucapan terima kasih untuk ku? " Hardiknya. Xu xiang yang kesal memilih berjalan terlebih dulu meninggalkan Gu shang.
" Hei, ayolah jangan marah. Aku hanya bercanda. Baiklah aku akan mentraktir mu makan kali ini. " Bujuk Gu shang sembari mengejar Xu xiang.
Xu xiang berhenti lalu menoleh. " Terima kasih. Ayo kita makan di tempat biasa. "
Gu shang berdecak. " Kau sungguh seorang kapitalis. Bahkan uang mu lebih banyak dari ku tapi masih saja mencoba merampok ku. "
" Bagaimana perjalanan selama di kapal? apa kau masih mual? " Tanya Xu xiang. Tangannya dengan cekatan mengambil potongan udang lalu memasukkannya ke dalam mulut.
" Kau tidak perlu tanya lagi. Badan ku seolah kehilangan rohnya begitu menginjak darat. Sungguh sial bagiku, setiap perjalanan pasti menjadi siksaan untukku. "
Xu xiang bisa melihat raut wajah penuh penderitaan saat pria itu menceritakan pengalamannya.
Melihat itu membuat Xu xiang tak tahan untuk tertawa. mengejek kemalangannya.
" Kau sungguh kejam. Sudah tahu bahwa aku mabuk perjalanan air tapi masih tetap mengirim ku. "
Xu xiang meletakkan tumisan ikan ke mangkok nasi Gu shang. " Maaf. Aku hanya percaya dengan mu. Bagaimana pun kerja sama ini sangat penting untuk kelompok dagang kita. "
Gu shang masih mendengus kesal. " Kalau kau tahu itu sangat penting kenapa tidak kau saja yang berangkat. Lagi pula sudah hampir tujuh tahun kau tidak kembali ke negara mu. Apa kau tidak merindukan keluarga mu? "
Xu xiang enggan membahas tentang keluarganya jadi ia tidak membalas pertanyaan Gu shang. Ia lebih memilih menyantap hidangan mewah di depannya.
Karena tak mendapat respon, Gu shang juga berhenti bertanya dan ikut memasukkan setiap makanan ke dalam mulut.
Mereka berdua makan dengan tenang tanpa obrolan ringan yang menemani keduanya.
" Tunggu sebentar, aku akan bayar makanannya dulu. "
Xu xiang mengangguk dan segera Gu shang pergi menuju kasir.
__ADS_1
Xu xiang masih berdiri dan mengedarkan pandangannya ke seluruh area restoran. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah punggung yang menarik perhatiannya. Entah bagaimana, matanya enggan beralih dari siluet punggung itu.
Seperti ada magnet yang menarik matanya agar terus melihatnya.
" Apa yang kau lihat? " Sebuah tepukan di pundak Xu xiang membuatnya tersentak.
" Kau! berhenti membuat ku terkejut. "
Gu shang melihat ke arah pandang Xu xiang tadi, namun tak menemukan apapun yang aneh.
" Apa yang kau lihat. Kenapa begitu serius? "
" Tidak ada. Aku hanya melihat seorang pria tampan. "
" ish... kau ini. Aku juga tampan tapi kau tidak pernah melihat ku. "
Xu xiang terbahak.
" Aku serius. Jadi berhenti tertawa. "
Ketika hendak keluar restoran. Seseorang memanggil Gu shang.
" Tuan Xiao wen. Kau juga di sini. Dimana tuan muda mu? kalian tidak bersama? " Tanya Gu shang.
Perjalanan selama lima hari membuat hubungan mereka cukup dekat hingga bisa masuk dalam kategori saling mengenal.
" Tuan muda sudah ada di atas. Aku lupa membeli sesuatu jadi kami datang secara terpisah. Kau juga ingin makan di sini juga? "
" Tidak, kami justru baru saja selesai makan. "
Xiao wen mengangguk mengerti, lalu melirik sekilas pada Xu xiang. Mereka pun berpamitan.
" Siapa? " Tanya Xu xiang saat langkah mereka sudah cukup jauh.
" Salah satu orang yang menumpang kapal kita. Ia datang kesini bersama temannya. Apa kau tahu? pemuda yang datang bersamanya sangat tampan. Bahkan aku yang seorang laki-laki saja mengakuinya. "
Xu xiang ingin mengejek jadi ia pun berkata. " Kalau begitu lain kali kenalkan pada ku. Akan ku lihat seperti apa tampan menurut mu. "
Kembali ke restoran. Di salah satu ruang pribadi.
" Kenapa kau begitu lama? " A Guang langsung menyerang Xiao wen dengan pertanyaan.
" Maaf tuan muda. Baru saja aku bertemu Gu shang dibawah jadi kami terlibat sedikit obrolan. Aku tidak menyangka ia memiliki seorang istri. " Ungkap Xiao wen.
" Sudah. Kenapa kau justru membicarakan orang lain. Sekarang makanlah, sebelum semua makanan ini dingin. " A Guang dengan cepat mengalihkan topik. Jujur telinga akhir-akhir ini begitu sensitif dengan kata 'istri'.
Ia lelah dengar pertanyaan, kapan menikah? dimana istri mu? apa kau sudah memiliki istri?
Istri. Siapa yang yang tidak ingin. A Guang juga menginginkan seorang istri. Tapi sayangnya seseorang telah mencuri hatinya bahkan sebelum dirinya menyadarinya.
__ADS_1