
Pagi ini, baik Liu ru dan Sima Feng pergi ke istana ratu. Mereka hendak menemui Ziyan dan Sima rui untuk memberikan salam dan juga menyajikan teh pertama sebagai pengantin baru.
Sepanjang perjalanan, Liu ru bisa melihat pandangan semua orang melihatnya dengan tatapan aneh. Bahkan ada beberapa yang tersenyum penuh arti dengan seburat warna merah di pipi mereka.
Liu ru jelas paham apa yang menjadi penyebab mereka bersikap seperti itu. Gara-gara ciuman panas Sima Feng tadi, membuat bibir Liu ru bengkak seolah puluhan lebah baru saja menyengatnya.
Dalam hati ia mengutuk pria disampingnya. Pelaku dari semua kekacauan ini justru terlihat datar seolah dirinya adalah makhluk tak berdosa yang tidak melakukan kesalahan apapun.
Mereka akhirnya tiba di istana ratu. Terlihat semua orang sudah ada di sana. Bahkan putranya, Sima Yi sudah duduk tenang bersama sang bibi, Sima Fei. A Guang dan Xu xiang juga ikut hadir di sana.
Ketika dua orang yang merupakan pengantin baru itu tiba, perhatian semua orang langsung beralih pada kedua tokoh utama tersebut.
Liu ru dan Sima Feng segera memberikan salam dan menyajikan teh pada mereka.
Sesuatu menarik perhatian Xiao Yi. Bocah 3 tahun itu seolah penasaran akan hal tersebut.
" Ibu, kenapa bibir mu bengkak? Apakah ada lebah yang menyengat mu tadi? " Celetuk bocah itu membuat atensi semua orang mengarah pada bibir Liu ru.
Semua orang tampak tersenyum penuh arti, hanya Sima Fei yang tertawa terbahak.
" Hahaha Xiao Yi. Ibu mu bukan di sengat lebah. Tapi ibumu di sengat predator ganas yang tak hanya bisa membuat bibir ibu mu bengkak tapi juga perutnya selama sembilan bulan lamanya. " Seloroh Sima Fei yang tentu saja tak dimengerti oleh bocah itu.
Menatap sang bibi dengan tatapan penuh tanya. Sima Yi bertanya. " Adakah predator seperti itu bibi? Aku ingin melihatnya. "
Semua orang mendelik pada Sima Fei. Menyalahkannya karena sudah mencuci otak polos bocah tiga tahun itu.
Tanpa merasa bersalah, Sima Fei terus menjawab. " Kau akan melihatnya saat dewasa. "
__ADS_1
Xiao Yi mengangguk patuh. " Baiklah. Setelah dewasa aku akan berburu predator itu dan menangkapnya. Aku tak ingin perut Ibu sampai bengkak selama itu. Aku akan melindunginya. "
Sima Fei kembali terbahak, ia memeluk keponakan kecilnya yang sangat menggemaskan itu dan berkata, " Kau anak yang baik. "
Sementara para dewasa lainnya hanya bisa menggeleng kecuali Liu ru tentunya yang wajahnya sudah merah seperti pantat babon.
" Berhenti mengajari putra ku hal buruk A Fei. " Sima Feng akhirnya membuka suaranya. Mana mungkin ia membiarkan adiknya itu mencuci otak putranya untuk menangkap dirinya.
A Fei tahu kapan saatnya untuk berhenti. Jadi ketika mendengar suara dingin saudara kembarnya itu, gadis itu memilih bungkam dan melipat bibirnya ke dalam. Menempelkan telunjuk dan ibu jarinya kemudian menariknya seolah sedang meresleting mulutnya.
" Sudah. Berhenti menggoda kakak ipar mu A Fei. " Tegur ziyan. "
" Maaf kakak ipar. Tapi sungguh, aku pikir memiliki satu keponakan lagi itu bagus. Tapi bisakah kali ini kalian membuatnya perempuan. Aku bisa meriasnya dan membuatnya agar secantik diriku. " Masih berlanjut. A Fei terus saja menggoda pasangan pengantin baru itu.
" Putri ku." Kali ini bukan ziyan melainkan Sima rui yang bersuara.
Dan ketika sang ayah sudah berbicara maka A Fei benar-benar menghentikan mulutnya. Semua orang ikut diam.
" Tiga hari setelah pernikahan seharusnya kita mengunjungi keluarga Liu, tapi melihat situasi kalian aku rasa itu tidak mungkin. Jadi aku berencana membuat jamuan kecil di kediaman pangeran? "
" Itu bagus. Tapi apakah tidak masalah. Aku tahu bagaimana buruknya keluarga Liu. Aku takut mereka tak akan semudah itu menerima. Mereka pasti akan melakukan sesuatu agar diri mereka di akui sebagai salah satu bagian dari kediaman ini. " Papar Liu ru.
Terlahir dan hidup di kediaman Liu membuatnya tahu betul bagaimana kegigihan orang-orang di sana. Mereka akan melakukan apapun pada hal yang membawa mereka pada keuntungan.
Yang terpenting adalah bahwa mereka bisa mencapai posisi tinggi tanpa peduli bagaimana mereka mendapatkannya. Jadi ia yakin sekali jika keluarga Liu pasti akan melakukan sesuatu.
" Tenang saja. Aku justru berharap mereka melakukan sesuatu. " Sima Feng tak mungkin melakukan sesuatu tanpa pertimbangan matang. Ia melakukan ini agar masalah lebih cepat muncul di permukaan. Jadi lebih cepat pula ia menyelesaikannya.
__ADS_1
Ia bertekad akan menyelesaikan masalah keluarga Liu ini sebelum kepergiannya ke perbatasan.
Liu ru masih tak mengerti dengan maksud Sima Feng. Saat sedang berpikir matanya justru melihat sesuatu yang membuatnya melotot.
" Apa yang kau lakukan? kenapa kau membuka baju mu disini? " Pekik Liu ru.
" Aku hanya ingin berendam dan berganti baju. Kenapa kau begitu heboh. Bukankah kau sudah pernah melihat tubuh ku. "
Astaga, pria ini benar-benar membuat ku naik darah.
Liu ru hanya mampu menelan kembali kekesalannya. Karena nyatanya apa yang di ucapkan pria didepannya itu benar. Bagian mana coba yang belum pernah ia lihat.
Dan sejujurnya pemandangan di depannya saat ini begitu menggiurkan, membuatnya menelan ludah susah payah.
Sima Feng berjalan ke sana kemari tanpa sehelai kain yang menutup dadanya. Otot-otot kekarnya tercetak begitu pas di lengannya. Dengan delapan tonjolan di depannya. Liu ru yang mencuri pandang tanpa sadar terperangah. Ia tidak tahu bahwa Sima Feng melakukannya dengan sengaja.
Sima Feng menyadarinya dan tak tahan untuk sekali lagi menggoda Liu ru. Ia amat suka membuat wanita ini dan membuatnya kesal.
" Hapus air liur mu itu. " Ucap Sima Feng tiba-tiba. Refleks Liu ru mengusap sudut bibirnya namun tak menemukan apapun di sana.
" Kau berbohong! "
Sima Feng masih menatapnya dengan tatapan mengejek." Aku tidak berbohong. Wajah mu memang benar-benar seperti predator lapar ketika melihat daging segar di depan mata. Aku takut kau akan mengambil kesempatan untuk menerkam ku. Sudahlah, lebih baik aku pergi sebelum kau melecehkan ku. "
Setelah berkata, Sima Feng pergi ke tempat pemandian.
" Astaga. menyebalkan sekali. Lihat saja, aku akan benar-benar memakan mu. " Geram Liu ru dengan suara keras.
__ADS_1
Sima Feng mendengarnya dan tanpa sadar sudut bibirnya melengkung.
' Aku akan menunggunya. ' Batinnya.