
Dua hari setelah pengumuman pertunangan ziyan dan Sima rui. Istana Rixi mulai mengirim mahar sebagai mas kawin pertunangan. Iring-iringan pembawa mahar melewati jalan ibu kota. Banyak orang secara khusus datang untuk melihat parade mahar tersebut. Sima rui memberikan mahar sejumlah 99 kotak. Jumlah itu berkali-kali lipat dari yang biasanya orang berikan pada umumnya. Itulah kenapa parade ini begitu menarik perhatian semua orang.
"Kasim liu apakah aku salah dengar. Benarkah Rui er memberikan mahar sejumlah 99 kotak pada yaner?" Kaisar shao memastikan berita yang baru saja ia terima itu. Ia ragu dengan kebenaran berita itu. Mengingat sifat putranya yang terkenal dingin dan cuek tersebut.
"Benar Yang mulia. Bahkan pangeran pertama sendiri yang memilih daftar barang yang diberikan pada nona mo. "
Sima shao tertawa mendengar ucapan kasim liu. Putranya yang seperti pohon besi, akhirnya bisa bersemi juga. Tapi sejak kapan sikap Rui er berubah? bukankah mereka berdua baru bertemu saat perjamuan Huang guifei.
*******************
Kediaman mo begitu ramai. Semua kotak mahar pertunangan satu persatu memasuki kediaman mo. Semua pelayan di kediaman mo di buat takjub oleh banyaknya mahar yang nona besarnya itu terima. Mo yincheng juga tak menyangka, pangeran pertama akan memperlakukan putrinya dengan penuh hormat seperti ini. Berdasarkan tradisi kerajaan jin. Semakin banyak seorang pria memberikan maharnya, mereka percaya semakin besar rasa cintanya. Karena pangeran pertama baru bertemu putrinya. Ia yakin ini bukan menunjukkan rasa cinta melainkan bentuk rasa hormatnya kepada putrinya.
"Yaner. Kau beruntung. Pangeran pertama sepertinya sangat menghargaimu. "
"Ayah benar. Pangeran begitu baik. Mungkin ini keberuntunganku bisa bertunangan dengannya. " Ziyan tak mungkin mengungkap kesepakatannya dengan Sima rui. Mengatakan kemungkinan mereka bisa bercerai bila salah satu dari mereka memiliki orang yang dicintai.
Semua mahar segera di kirim ke kediaman barat dimana ziyan tinggal. Disaat hampir semua orang di kediaman mo sedang berbahagia. Ada juga orang yang justru membenci momen tersebut. Siapa lagi kalau bukan yuefeng dan han jian, ibunya.
Lantai kamar yuefeng dipenuhi barang yang berserakan. Xun ai berdiri memandang majikannya yang sedang melampiaskan emosinya tersebut. Dalam diam, xun ai menunggu hingga majikannya itu tenang.
Melihat yuefeng lebih tenang. Xun ai mendekatinya dan mulai memberikan beberapa kata sebagai penghibur.
"Nona. Kau tidak perlu semarah ini. Kebahagiaan mereka tak akan berlangsung lama. Bukankah kita sudah memberikan 'itu' padanya. Dalam dua hari kemungkinan gejalanya akan mulai terlihat. Jadi kau tenang saja. "
Mendengar ucapan xun ai membuat yuefeng tersadar. "Benar. Sudah lebih dari seminggu, seharusnya gejalanya akan terlihat sebentar lagi. Tunggu saja. Segera aku akan menggantikan posisimu, yaner, sebagai tunangan pangeran pertama. kali ini aku akan membuatnya cepat bertemu raja yama. Aku tidak akan berbelas kasih seperti sebelumnya. "
Sejak kejadian di aula tengah seminggu lalu. Kebencian yuefeng sudah tak terbendung lagi. Ia segera memerintahkan suruhannya untuk memberikan racun padanya. Karena termasuk racun lambat dan tak mudah di deteksi. Ia yakin, yaner tak akan mengetahuinya.
"Benar nona. Itu baru nona yuefeng yang ku kenal. " xun ai menyeringai. Bibirnya tersenyum licik karena berhasil memanipulasi yuefeng seperti yang di perintahkan 'orang itu'.
*********************
__ADS_1
𝙷𝚊𝚕𝚊𝚖𝚊𝚗 𝚋𝚊𝚛𝚊𝚝.
"Nona jumlahnya sesuai. Apakah kau ingin melihatnya dulu apa langsung disimpan di gudang?" Yaoyao baru saja selesai memeriksa dan menghitung jumlah kotak mahar pertunangan ziyan.
"Langsung simpan saja. " Ziyan terlalu lelah jika harus melihat isinya satu persatu. Ia memijit pelipisnya berharap pusingnya segera hilang.
"Baiklah nona. " Yaoyao lalu memperhatikan wajah pucat nonanya. " Nona apa kau baik-baik saja. Kenapa wajahmu terlihat pucat? " Yaoyao terlihat sangat khawatir. Entah kenapa ia kembali teringat dengan mendiang nona mudanya.
"Aku juga tidak tahu. Aku hanya merasa lelah. Mungkin aku kurang istirahat. "
"Kalau begitu mari nona, aku antar kau ke kamarmu."
Segera yaoyao membawa nonanya itu ke kamarnya dan menempatkan ziyan di tempat tidurnya.
"Kau bisa pergi. Aku akan beristirahat sendiri. "
Setelah bayangan yaoyao tak terlihat. Snowy segera melompat naik ke atas tempat tidur. Memperhatikan pemiliknya yang kini berwajah pucat.
Ziyan hanya mengangguk. Ziyan tak tahu kenapa tubuhnya terasa sangat lelah. Seakan secara tiba-tiba energinya tersedot hingga dirinya tak bertenaga. Ia lalu menutup matanya dan terlelap.
Berita mengenai kondisi tubuh ziyan yang melemah sontak mulai tersebar ke seluruh halaman barat. Dan di tengah malam yang berangin, seorang pelayan menyelinap keluar dari halaman barat. Ia berjalan dengan langkah cepat dan berpapasan dengan pelayan lain.
"Gejala awal sudah terlihat."
"Bagus. Kau tetap berikan hingga semua obatnya habis. " Pelayan lain memberikan perintahnya tanpa menghentikan langkahnya. Pembicaraan singkat keduanya berhasil.
Keesokan harinya. Kondisi ziyan tak kunjung membaik. Yaoyao melihat wajah nonanya semakin pucat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Air... " Suara ziyan terdengar lemah dan parau. tenggorokan terasa begitu kering.
Yaoyao segera mengambil segelas air untuk nonanya tersebut. Air matanya yang tiba-tiba menetes membuat ziyan menatap pelayannya tersebut. Mata ziyan yang sebelumnya hidup terlihat sayu.
__ADS_1
"Kenapa kau menangis? "
Masih dengan sesegukan, yaoyao membuka suaranya. " Aku hanya tak bisa melihat nona seperti ini. Aku tak ingin terjadi sesuatu dengan nona seperti mendiang nona yaner. "
"Bodoh. Aku pasti akan baik-baik saja. " Ziyan tak menyangka bahwa pelayannya ini akan begitu sedih melihat kondisinya saat ini.
Baru kemarin nonanya baik-baik saja. Kenapa sekarang menjadi sangat lemah. Yaoyao harus melaporkannya pada tuan besar. Ia bergegas ke halaman utara, melaporkan apa yang terjadi dengan nona mudanya itu.
Nyonya mo sangat terkejut mendengar kabar kondisi putrinya yang melemah. Tuan dan nyonya mo bergegas menuju halaman barat, Ingin segera melihat keadaan putri mereka . Tanpa memberitahu kedatangan keduanya. Nyonya mo langsung menerobos masuk ke kamar ziyan. Ia melihat putrinya terkulai lemah di tempat tidur.
Melihat kedatangan ibu dan ayahnya. Ziyan berniat bangun, namun segera di hentikan oleh tuan mo. "Kau tidur saja yaner. Ayah dan ibu hanya ingin melihat keadaanmu. Bukan ingin mengganggu istirahatmu. Bagaimana kondisimu?"
Terlihat ekspresi cemas kedua orang tuanya. Ziyan tak ingin menambah kekhawatiran mereka. " Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir. Mungkin karena terlalu lelah. Makanya kondisi putri kalian jadi seperti ini."
"Tuan tabib yang anda minta sudah datang. " Seorang pelayan mengabarkan kedatangan tabib yang dipanggil yincheng sebelum kedatangannya ke sini.
"Suruh dia masuk. " Tuan mo segera meminta tabib tersebut untuk masuk.
Tabib zhan, tabib keluarga mo masuk ke kamar ziyan membawa kotak peralatan medisnya. Tuan mo meminta tabib zhan untuk langsung memeriksa putrinya. Ia memeriksa denyut nadi ziyan, lalu memeriksa matanya. Ia tak langsung memberikan kesimpulannya. Ekspresi tabib zhan tampak sedang berpikir keras, hal itu tentu saja membuat nyonya mo yang dari tadi menunggu dengan cemas menjadi kehilangan kesabarannya.
"Tabib. Bagaimana putriku? "
Tabib zhan menggelengkan kepalanya. "Sepertinya penyakit sebelumnya kambuh lagi. Ini sama seperti dulu. "
"A, apa? bagaimana mungkin. Kau pasti salah tabib."
Nyonya mo tampak begitu histeris. Wanita yang penuh kasih yang biasanya tenang. Terlihat histeris tak terima dengan kesimpulan yang baru saja tabib zhan berikan. Bagaimana bisa Hou minglan tenang, saat kedua putrinya harus menderita sakit yang sama. Ia belum siap jika harus kehilangan putrinya lagi. Mungkin karena shock, nyonya mo tiba-tiba pingsan. Dengan panik tuan mo segera menggendong istrinya untuk kembali ke halaman utara. Ia meminta tabib zhan untuk memeriksa istrinya setelah selesai memberikan obat pada putrinya.
"Yaner. Ayah akan mengunjungimu lagi. " Ucap yincheng sebelum meninggalkan kamar putrinya.
"Ayah tidak perlu khawatir. Yang terpenting sekarang tolong bantu tenangkan ibu. "
__ADS_1
Ziyan melihat kedua orang tuanya meninggalkan kamarnya. Tabib zhan memberikan resep obatnya pada yaoyao. Meski obat tersebut tidak bisa menyembuhkan. Namun setidaknya bisa menjaga sedikit kondisi tubuhnya.