Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 241


__ADS_3

Perjamuan pernikahan Sima Dan masih berlangsung. Ziyan dan Sima rui sudah kembali ke meja mereka.


" Istriku apa kau tidak lelah? " Sudah malam, dan Sima rui khawatir jika istrinya terlalu lelah.


" Tidak. Ini cukup menyenangkan. Setidaknya aku tidak merasa bosan berada di sini. " Balas ziyan, tangannya terus saja meraih makanan dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


Mendengar istrinya senang, suasana hati Sima rui ikut meningkat.


" Istriku, apa ada makanan lain yang ingin kau makan? "


Ziyan berpikir sejenak, kemudian menunjuk ke arah meja lain. " Aku ingin itu. "


" Baiklah kau tunggu sebentar, aku akan meminta pelayan mengambilnya untuk mu. "


Sima rui meminta pelayan untuk mengambil makanan yang ia tunjuk. Dan tanpa menunggu lama, mereka sudah membawanya ke meja ziyan.


Senyum cerah merekah di bibir ziyan. Ia segera mengambil satu dan memakannya. Namun detik berikutnya senyum itu luntur dan berubah dengan raut wajah meringis. Bahkan ziyan sampai menjatuhkan kue yang ada di tangannya.


" Ada apa? " Tanya Sima rui khawatir. Ia melihat wajah sang istri yang terlihat menahan sakit.


" ish... Ini.. " Ziyan memegang perutnya yang terasa mulas. " Perutku... sakit. "


Mendengar kata perut sakit. Sima rui langsung membopong ziyan menuju istana rixi, istana dimana Sima rui tinggal dulu.


Semua orang yang berada di dekat mereka, seketika bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi? kenapa pangeran mereka membawa wangfei dalam gendongannya.


" Jemput lucy ke istana rixi. " Perintah Sima rui pada junyi ketika sudah berada di luar.


Selama perjalanan menuju ke istana rixi, tak henti-hentinya Sima rui bertanya pada sang istri.


" Apakah masih sakit? " Ziyan mengangguk kemudian kembali meringis.


Tapi selang beberapa menit, ziyan kembali berkata. " Tidak. Perut ku sudah tidak sakit. "


" Benarkah? " Sima rui terlihat ragu. Namun ia juga sedikit lega karena tidak mendengar istrinya merintih kesakitan.


" Iya. "


Sima rui sedikit tenang setelah mendengar bahwa sakit sang istri hilang. Tapi beberapa menit kemudian ziyan kembali kesakitan dan terlihat lebih sakit dari sebelumnya.


" Aw ini sakit. " Jerit ziyan.


Sima rui yang tadi sempat tenang kembali panik, malah semakin panik dan tidak tahu harus melakukan apa. Dirinya yang selalu bisa menebak rencana lawan saat di medan perang. Mendadak tumpul dan mati kutu di situasi seperti ini.


" A-apa yang harus ku lakukan istriku. " Tanya Sima rui panik. Sungguh ia ingin sekali berteriak dan bertanya pada seseorang apa yang seharusnya ia lakukan sekarang.


Melihat istrinya kesakitan, semakin membuat otak Sima rui terasa buntu.


" Ini... sangat....menyakitkan. " Rintih ziyan. Ia sampai mencengkram tangan Sima rui.


Sima rui mengelus kepala ziyan dan memberi kecupan ringan berharap bisa sedikit mengurangi rasa sakit sang istri.


" Sabar sayang, Sebentar lagi kita tiba di istana rixi. Tabib sudah menunggu di sana. "


Ziyan hanya bisa mengangguk sebagai tanggapan. Tenaganya terkuras habis karena rasa sakit yang baru pertama kali ia rasakan.


Kereta kuda mereka tiba di istana rixi. Sima rui segera membopong ziyan menuju kamar mereka.


Tabib yang sudah siap langsung menuju kamar ziyan.


" Siapa kau? " Tanya Sima rui begitu melihat pria asing masuk ke kamar istrinya. Hingga tanpa sadar ia meninggikan suaranya.

__ADS_1


" Saya tabib, Yang mulia. " Jawab pria asing yang merupakan tabib itu dengan suara yang sedikit gemetar.


" Siapa yang menyuruhmu masuk. Istriku akan melahirkan. Siapa yang memanggil tabib pria kesini. Aku hanya mau tabib wanita. "


Kepala pelayan yang merasa bersalah segera maju.


" Maaf Yang mulia, Pengawal yang membawa pesan anda hanya meminta di panggilkan tabib tanpa mengatakan bahwa wangfei akan melahirkan. Jadi saya pikir tabib laki-laki pun tidak masalah. "


" Kalau begitu panggil tabib wanita ke sini. CEPAT! " Pekik Sima rui.


Pria yang selalu tampak tenang kini terlihat kacau dan menyeramkan.


" Jangan ma-rah marah, huft huft. " Ziyan berbicara di sela rasa sakitnya, membuang napas lewat mulut dengan cepat.


Rasa sakit yang hilang, lalu muncul lagi seperti siksaan bagi ziyan.


' Apakah seperti ini rasa sakit yang di rasakan oleh wanita untuk menjadi seorang ibu? Ya Tuhan sungguh ini rasanya sangat sakit. Semua tulang ku terasa patah. ' Rintih ziyan dalam hati.


Beberapa menit berlalu dan tabib wanita yang ditunggu belum juga tiba.


" Dimana tabib wanitanya? " Pekik Sima rui pada pelayan di dekatnya.


Dan tak lama pintu terbuka. Namun bukan tabib melainkan lucy yang datang.


" Tenanglah. Istrimu sebentar lagi akan melahirkan. Dan suara keras mu itu justru membuat situasi semakin tegang. " Potong lucy tanpa melihat ke arah sima rui. Ia segera menuju ranjang dimana keponakannya berbaring.


Lucy tampak tenang di permukaan. Namun di dalam, dia sungguh merasa tegang. Melihat keluarga sendiri mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan bukanlah hal mudah baginya. Tapi sekuat tenaga, ia bertahan agar keponakan satu-satunya itu bisa tenang dan melahirkan dengan lancar.


" Apakah frekuensi rasa sakitnya sudah semakin sering? " Tanya lucy pada ziyan guna memperkirakan sudah pembukaan ke berapa yang di alami ziyan.


" Sudah sekitar lima menit sekali. " Jawab ziyan saat tenang.


Tak lama ia kembali merasakan sakit di pangkal perutnya.


Ziyan menurut dan melakukan apa yang di instruksikan oleh bibinya.


Lucy siap memeriksa jalan lahir bayi, namun ja segera terhenti ketika melihat Sima rui masih di dalam ruangan.


" Kenapa kau masih disini? Keluarlah dan tunggu dengan tenang. Laki-laki tidak boleh ada di sini. " Usir lucy.


" Keluar? Bagaimana bisa aku keluar dan menunggu dengan tenang di luar sementara istriku sedang sekarat di sini. "


Darah tinggi lucy seolah naik hingga ke ubun-ubun ketika mendengar ucapan Sima rui.


' Bagaimana bisa ia mengatakan istrinya sekarat. Sementara ziyan hanya akan melahirkan bukan sedang mengalami sakit kronis. ' Batin lucy kesal.


lucy memijat pangkal hidungnya meredakan emosinya yang semakin meningkat.


" Baiklah, kau bisa menunggu di sini. Tapi duduklah di pojok sana. Dan berjanjilah untuk tidak mengacau. " Kata lucy mengalah, menunjuk satu kursi yang letaknya cukup jauh.


" Ingat! jika sekali saja kau membuat keributan. Maka tidak segan-segan aku akan mengusir mu. " Sekali lagi lucy memberi peringatan terakhir.


Sima rui mengangguk dengan patuh, matanya tak sedetik pun terlepas dari sosok istrinya.


Lucy akan memeriksa jalan lahir bayi. Ia merentangkan kaki ziyan lalu memasukkan tangannya ke dalam inti ziyan, memeriksa jumlah bukaan pada leher rahim.


" Ini baru pembukaan lima. Ingat ziyan, jangan mengejang. Tunggu sampai pembukaan sepuluh, baru kau bisa mengejang. "


" Tapi ini sangat sakit bi. " Adu ziyan menahan rasa sakit.


" Iya tapi kau harus kuat. Ingat sebentar lagi kau akan bertemu dengan bayi mu. " ucap lucy menenangkan.

__ADS_1


Tak lama tabib wanita datang. Lucy memintanya untuk membantu proses melahirkan ziyan. Segala persiapan pun sudah tersedia.


Lucy terus menenangkan ziyan sembari menunggu hingga pembukaan sempurna. Sementara di sudut ruangan, duduk Sima rui yang sudah berkeringat cemas.


' Kenapa bayinya belum keluar juga. Apakah anak itu tidak tahu istri ku sedang kesakitan. Lihat saja jika sampai membuat istriku menderita. Begitu lahir akan ku kirim dia ke medan perang. ' Gerutu Sima rui dalam benaknya.


Setelah menunggu hampir dua jam lebih. Ziyan akhirnya siap untuk melahirkan.


" Ayo ziyan, terus dorong. Mengejang lah kuat-kuat. Iya sedikit lagi. Terus... " lucy memberi aba-aba.


Ziyan mengejang sekuat tenaga, dan tak lama terdengar suara tangis bayi memenuhi ruangan. Bayi gemuk dan keriput yang masih berlumuran darah itu segera di bersihkan.


Sima rui yang mendengar tangis bayinya segera berjalan menghampiri. Namun bukan untuk melihat bayinya melainkan kondisi sang istri. Ia hanya melihat sekilas bayinya yang tampak keriput seperti bayi monyet.


Hati Sima rui remuk begitu melihat kondisi ziyan yang begitu lemah. Tubuhnya yang penuh dengan keringat dengan bibirnya yang kering menjadi bukti kerja keras ziyan saat melahirkan buah hati mereka.


" Istriku. " panggil Sima rui pelan.


Ziyan menoleh dan melihat suaminya diam mematung menatapnya.


" Kenapa wajahmu jelek sekali. Lihatlah rambutmu. " Ziyan tertawa kecil melihat penampakan suaminya.


Bibir pucat dengan rambut yang berantakan. Sungguh tak pernah ziyan lihat suaminya akan sekacau seperti saat ini.


Sima rui menjambak rambutnya sendiri saat dirinya tak kuat mendengar jerit kesakitan istrinya. Ingin sekali saat itu, Sima rui membentak dan meminta siapa saja agar memindahkan rasa sakit istrinya tersebut pada dirinya. Namun itu hal yang mustahil ia lakukan.


Sima rui berjalan mendekati sang istri yang masih tampak lemah. Ia menggenggam tangan ziyan lalu menundukkan kepalanya.


Ziyan bisa melihat bahu suaminya yang bergetar. Suaminya sedang menangis. Bukan karena sedih dirinya menangis, Sima rui merasakan suatu kelegaan dan juga kebahagian karena ziyan yang masih bersamanya dan juga anak mereka yang baru saja lahir. Sejujurnya tiap detik yang sima rui lewati tadi terasa begitu mencekik dirinya. sangat sulit baginya untuk bernafas.


" Lihatlah putra kita. Aku rasa dia sangat tampan seperti mu. " Seloroh ziyan.


Sima rui yang sudah menghapus air matanya menatap lekat mata ziyan.


" Aku rasa itu bukan putra kita. Bayi itu sangat jelek dan juga keriput. " Ucap Sima rui jujur.


Ziyan ingin sekali memukul kepala suaminya. Bagaimana bisa seorang ayah menghina anaknya.


" Dia putra kita. Wajar jika seorang bayi keriput. Itu karena selama sembilan bulan ia berada di dalam cairan ketuban. Bahkan kita yang hanya beberapa jam berada di dalam air pun akan berubah keriput. Jadi jangan katakan bayi kita jelek lagi atau aku akan marah. " Jelas ziyan.


Sima rui tercengang, istrinya yang beberapa detik lalu masih lemah langsung berubah garang karena mengatakan putra mereka jelek. Sungguh kekuatan istrinya terlalu besar.


Kabar kelahiran putra pertama Sima rui mulai tersebar. Mereka cukup terkejut karena kabar kelahirannya bersamaan dengan pesta pernikahan pangeran ketiga.


Keluarga mo yang sudah sejak awal melihat ada yang tidak beres dengan kondisi ziyan saat di perjamuan sengaja menunggu di istana rixi.


Kini tuan dan nyonya mo sedang menggendong cucu pertama mereka.


" Lihatlah suami ku. Cucu kita sangat tampan. Aku pikir dia akan menjadi incaran wanita saat dewasa nanti. " Ucap antusias nyonya mo.


" Kau benar istriku. Ia pasti akan menjadi pria yang kuat sama seperti pangeran pertama. " Sahut tuan mo.


Sima rui yang berada tak jauh dari kedua mertuanya itu merasa heran. Keningnya mengerut ketika mendengar ucapan mereka.


' Apakah mata mereka berdua bermasalah. Bagaimana mereka bisa tahu bayi keriput itu akan menjadi sosok yang sangat tampan dan kuat seperti ku. ' Batin sima rui yang mulai ragu dengan kemampuan melihat mertuanya.


" Apa anda sudah memutuskan namanya, Yang mulia? " Tanya tuan mo pada Sima rui.


Sima rui melihat ziyan seolah bertanya. Melihat sang istri mengangguk , ia tersenyum.


" Sudah. Namanya... Sima Guang. " Jawab Sima rui puas.

__ADS_1


Tuan mo dan nyonya tampak puas juga. Mereka tertawa sembari menimang bayi merah itu.


" A Guang. " Panggil keduanya pada sang cucu.


__ADS_2