
Gaia menyesap tehnya bersama Yaoyao di kamar penginapannya.
Sesampainya di penginapan, nyonya Mo langsung memeluk putrinya itu dan menangis hingga sesegukan. Beban di tubuhnya terangkat sudah kala melihat putrinya kembali dengan selamat.
"Terima kasih Xiaoqi sudah membawa putriku kembali. " Nyonya Mo yang masih menangis melihat xiaoqi di belakang putrinya.
Xiaoqi hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
"Kerja bagus Xiaoqi. Luyi, segera kau panggil tabib untuk mengobati Xiaoqi. " Tuan Mo menyadari ada beberapa luka kecil di tubuh Xiaoqi.
"Baik tuan. " Luyi yang mendapatkan perintah tuannya langsung bergerak.
"Sekarang kau kembali dulu ke kamarmu Xiaoqi. Kita akan membahas sisanya setelah kau di obati. "
"Baik tuan. " Xiaoqipun pergi kembali ke kamarnya.
Tuan Mo yang melihat emosi istrinya mencoba menenangkan sejenak. Ia tahu betapa khawatirnya dia saat Putrinya hilang. Karena itu ia meluapkan semua kekhawatiran yang tadi dirasakannya sekarang.
"Sayang. Biarkan yaoyao membawa Yaner kembali ke kamarnya dulu. Ia pasti kelelahan dan butuh istirahat. "
Mendengar ucapan suaminya, Nyonya Mo tersadar dan melepaskan pelukan eratnya pada tubuh putrinya. "Benar. Maafkan ibu yaner. Yaoyao bawalah yaner ke kamarnya. "
"Baik nyonya. "
Yaoyao membawa Gaia kembali ke kamarnya. Membantunya membersihkan diri dan membawakan sarapan.
Setelah selesai. Gaia duduk untuk menikmati teh dan merilekskan tubuhnya.Yaoyao yang menemani duduk di kursi lain sedang menyisir bulu snowy yang berada di pangkuannya.
"Nona apakah kau sudah lebih baik. " Yaoyao memperhatikan Nonanya yang nampak lebih rileks namun sedikit agak pucat.
"Iya. Kenapa? " Gaia memandang pelayannya itu penuh tanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Hanya saja bibir anda kelihatan agak pucat, tak semerah biasanya." Yaoyao memperhatikan bibir Gaia lebih dekat.
Wajah Gaia seketika berubah merah, Ia kembali teringat dengan kejadian dihutan siang tadi. Pria tampan mesum yang ia temui itu, yang sialnya sudah mengambil ciuman pertamanya. Meski dirinya menyukai pria tampan, namun ia sangat membenci saat orang lain mengambil keuntungan darinya. Darah Gaia kembali memanas, ia ingin sekali menampar wajahnya lebih keras jika bertemu dengannya lagi.
Kembali Gaia teringat kejadian setelah ia menampar wajah pria itu. Pria bernama feng xiao langsung mengeluarkan pedangnya.
"Lancang." Feng xiao mengarahkan pedangnya pada Gaia.
Wajah Gaia yang sebelumnya kesal terlihat lebih tenang. Ia berpindah melihat Feng xiao. Dan menyentuh pedang yang mengarah padanya dengan jari telunjuk dan tengahnya. Lalu perlahan menurunkannya.
"Lucu sekali. Dia yang sembarang menciumku, aku hanya membalas apa yang dia lakukan. Kenapa kau menyebut aku lancang. Bukankah kata itu lebih cocok untuknya. " Gaia tersenyum geli.
"Apa kau tau siapa dia. Beraninya kau memukul Yang.... "
"Feng xiao! diam. " Pria berbaju merah itu memotong, sebelum feng xiao menyelesaikan ucapannya.
Ekspresi Feng xiao seketika berubah. Ia yang awalnya berwajah kesal berubah seperti anjing yang merasa bersalah karena telah melakukan kesalahan. Gaia menangkap perubahan itu, sepertinya ada yang aneh dengan ke empat pria ini, pikir Gaia.
"Nona..... " Sebuah teriakan terdengar ditelinga semua orang.
"Nona apakah kau baik-baik saja? " Xiaoqi berpikir bahwa ke empat pria itu adalah kawanan para bandit sebelumnya. Karena panik, ia tak memperhatikan pakaian mereka.
Gaia menangkap kesalahpahaman xiaoqi. Ia menepuk pundak xiaoqi. " Mereka bukan para bandit. Mereka hanya para tuan muda manja yang sedang berjalan-berjalan di hutan. "
Xiaoqi tercengang dengan informasi yang baru saja di katakan nonanya itu. Lalu ia mulai memperhatikan dengan seksama pakaian ke empat pria itu. Setelah memahami situasi, Xiaoqi menurunkan pedangnya dan membungkukkan badannya sedikit dengan kedua tangannya mengepal di depan dada.
"Maaf atas ketidaksopananku. "
"Kau tak perlu minta maaf Xiaoqi. Mereka juga tidak sepenuhnya benar. "
Xiaoqi melipat keningnya tak mengerti maksud ucapan nonanya. Gaia yang enggan menjelaskan hal memalukan yang baru diterimanya hanya bisa menghela napas. " Sudahlah, kita pergi saja. "
__ADS_1
Mereka berdua segera berbalik tanpa memperdulikan ke empat pria itu. Saat hendak melangkah pergi, pria berbaju merah itu membuka suaranya menghentikan keduanya.
"Tunggu. Urusan kita belum selesai. "
Gaia merespon tanpa berbalik untuk melihat pria itu. "Tidak ada urusan, dan aku harap kita tidak akan bertemu lagi. " Segera keduanya pergi meninggalkan ke empat pria yang berdiri terpaku.
*****************
"Kau tidak apa-apa Yan?" tanya pria lain sambil berjalan menghampiri pria berbaju merah itu dan memperhatikan tanda merah di pipinya.
Dia menggeleng dan terkekeh. " ck ck ck... tenaga gadis itu lumayan juga. " memperhatikan cap tangan merah yang tertinggal di pipi temannya itu.
" Seorang Sima Yan yang biasanya cukup membuka kedua tangannya hingga membuat antrian para wanita yang menunggu untuk berada di dekatnya. Hari ini, untuk pertama kalinya menerima sebuah tamparan. " Pria lain menimpali dengan tawa geli setelah memberikan komentar tajamnya.
Pria yang berbaju merah itu ternyata bernama Sima Yan. Putra mahkota kerajaan Jin.
Ia menatap tajam kedua temannya itu, membuat keduanya langsung mengunci mulut mereka. Sima Yan menyentuh pipinya yang masih terasa sedikit panas. "Anak ayam itu, lihat saja. Aku akan memberinya pelajaran, jika sampai aku melihatnya lagi."
kedua temannya saling memandang. 'Anak ayam'. Panggilan yang diberikan Sima Yan untuk gadis itu terdengar cukup unik.
"Tuan muda. Apakah kita akan melanjutkan perburuannya atau.. "
"Kita kembali. " Sima Yan langsung menjawab pertanyaan Feng xiao sebelum ia menyelesaikannya. Berbalik dan mulai melangkah pergi. " Segera kita kembali ke ibukota."
Kedua teman dan Feng xiao hanya bisa saling bertukar pandang, lalu segera menyusul langkah Sima Yan.
******************
Sima Yan ⬇⬇⬇⬇
__ADS_1
Feng Xiao ⬇⬇⬇