Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 226


__ADS_3

Sesuai permintaan istrinya, Sima rui mengerahkan puluhan prajuritnya untuk melakukan pencarian. Dan secara kebetulan, desa tian guan adalah desa dimana sese berasal. Gadis itu mendengar desanya mendapat musibah, jadi ia meminta izin ziyan agar diperbolehkan ikut kembali ke sana bersama rombongan ziyan dan sima rui.


" Jadi ini pintu masuk ke desa mu sese? " Tanya ziyan saat mereka berada di depan mulut terowongan.


" Benar wangfei. Terowongan ini adalah jalan satu-satunya untuk masuk ke desa. Dulu di pintu masuk desa selalu ada penjaga yang berjaga. Namun sekarang sudah tidak ada lagi. "


" Jadi itulah alasannya, kau bisa melarikan diri dari desa. " Goda ziyan.


Sese tertawa kecil, ia malu ketika diingatkan dengan tindakan kekanakannya. " Ucapan anda benar, wangfei. "


" Ingat sese, nanti saat di desa kau harus memanggilku nona. " Ingatkan ziyan pada sese.


" Maaf nona. saya lupa. Saya akan mengingatnya. "


Bukan tanpa alasan ziyan meminta sese menyembunyikan statusnya. Ia tak ingin kedatangan mereka justru membebani semua orang. Ziyan ingin berinteraksi apa adanya dengan orang-orang desa. Dan Sima rui tentu mendukung ide istrinya tersebut.


" Kenapa tidak ada lagi penjaga? " Tanya ziyan saat mereka mulai memasuki terowongan.


Sese menggeleng. " Untuk alasannya, saya tidak tahu. Tapi yang saya dengar, itu karena harta karun desa sudah hilang. Itulah kenapa pihak desa tidak memberi penjaga di pintu masuk. "


" Harta karun? apa itu benar-benar ada? jika hilang, mungkinkah desa kalian pernah mendapatkan penjarahan? " Tanya ziyan penasaran. Jika harta karun itu benar ada, bukankah itu berarti ada uang di sana. Lumayan untuk tambahan modal usaha, pikir ziyan.


" Sepertinya tidak. Tapi pernah ada kebakaran hebat di desa. "


Mendengar jika tidak pernah ada penjarahan membuat semangat ziyan semakin berkobar.


Ziyan dan sese mengobrol sepanjang terowongan. Sima rui hanya diam sembari mendengarkan. Sejujurnya ada perasaan tidak nyaman saat dirinya melihat terowongan tadi dan perasaan itu tidak hilang dan justru semakin kuat kala langkah mereka semakin dekat dengan desa.


" Luyi! " Panggil ziyan pada tangan kanan ayahnya tersebut. Luyi yang mendengar namanya disebut langsung menoleh.


" Nona? " Luyi berlari kecil menghampiri ziyan. " Anda juga datang? "


Ziyan mengangguk. " Ibu sudah menceritakan semuanya. Bagaimana pencarian ayah? " Tanya ziyan, saat melihat beberapa prajurit yang sibuk menggali dan membersihkan batang-batang pohon.


Raut wajah Luyi berubah sendu. " Kami masih belum menemukannya nona. Saya minta maaf, karena tidak bisa menjaga tuan dengan baik. " Ucap Luyi penuh sesal.


" Hei! kau tak perlu meminta maaf. Aku tahu bagaimana ayahku. Meski saat itu kau merantai kaki ayah pun. Jika ia ingin menyelamatkan anak itu pasti akan tetap ia lakukan. Tidak peduli apa yang terjadi dengannya. Sekarang lebih baik fokus mencari. Aku juga membawa tabib untuk membantu korban yang terluka. "


Luyi mengajak ziyan untuk berkeliling, melihat langsung proses pencarian tuan Mo.


" Sese? apakah itu kau nak? " Seorang wanita paruh baya mendekati sese. Wajahnya terlihat sangat bahagia dengan matanya yang berbinar ketika melihat sese.


" Ibu... " Ucap sese begitu mengenali wanita yang memanggilnya. Ziyan memandang wanita itu dan sese bergantian. Terlihat sedikit kemiripan antar keduanya. Membuat ziyan yakin bahwa wanita paruh baya itu adalah ibu sese.


Wanita yang diketahui sebagai ibu sese itu langsung berlari ke arah sese. Ziyan tak menyangka akan melihat adegan mengharukan di tengah bencana.


Plakk! !


Sebuah pukulan mendarat di kepala sese. Ziyan tercengang. Bukan pelukan hangat yang didapat sese melainkan pukulan beruntun dari sang ibu.

__ADS_1


" Anak kurang ajar. Beraninya kau pergi tanpa pamit! " Maki ibu sese.


" Aduh bu, sakit. Tolong jangan di pukul lagi. Aku minta maaf sudah berani kabur. " Sese berlari kecil berusaha menghindar.


" Dasar anak bodoh! kenapa kau pergi dari rumah! Apa kau tahu bagaimana khawatirnya kami! Setidaknya jika ingin kabur, kirim surat sesekali jadi kami tidak akan khawatir. " Ibu sese mengejar dan terus memberikan pukulan padanya.


" Bu hentikan! aku malu bu. Ada majikan ku disini. " Ucap sese yang ternyata sanggup menghentikan tindakan bar-bar sang ibu.


Ibu sese menoleh pada ziyan dan di balas anggukan kecil olehnya . " Dia majikan mu? " Tanyanya pada sang anak.


sese mengangguk. Ia mengusap kepalanya yang masih terasa nyut-nyutan.


" Maaf nona, saya sudah tidak sopan di depan Anda. " Sesal ibu sese sembari melihat ziyan dari atas ke bawah lalu dari bawah ke atas.


Ziyan merasa canggung saat dipindai oleh ibu sese. " Tidak apa-apa bu. Aku tahu itu bentuk kasih sayang anda pada sese. "


Sese yang mendengar ucapan ziyan ingin sekali menangis. Bagaimana bisa sebuah pukulan di artikan sebagai kasih sayang.


" Anda sangat memahami kami nona. Terima kasih karena sudah mau memperkerjakan sese. " Ucap tulus ibu sese. Lalu menoleh pada sang putri yang masih bersembunyi di belakang xiaoqi. Sedangkan pria yang menjadi tameng sese dari ibunya sudah menekuk wajahnya kesal.


" Kau! kemarilah. Berpegang pada seorang pria. Sungguh memalukan. " Hardik ibu sese.


Namun sese justru tidak peduli dan masih setia menyembunyikan dirinya di belakang xiaoqi. Gadis itu mengabaikan xiaoqi yang sudah sejak tadi mengumpat dalam hati.


" Apa salahnya aku memegang calon suami ku. " Ujar sese yang sontak membuat xiaoqi mendelik, bahkan ziyan juga tercengang dengan keberanian sese.


" Tapi calon sua- apa kau bilang? calon suami? " Ibu sese terkejut, lalu menelisik xiaoqi dari atas ke bawah.


" Maaf bibi. Tapi aku bukan calon suami sese " Bantah xiaoqi.


" Hahaha aku tahu kau malu untuk mengakuinya. " ibu sese tetap teguh dan menganggap xiaoqi sebagai calon menantunya. " Aku memahami betul bagaimana tingkah anak muda. "


' Ternyata anak bodoh itu bisa juga mencari calon suami. Pria ini terlihat baik, dia juga tampan. ' Batin ibu sese. Matanya menatap lapar xiaoqi seolah baru saja menemukan sebongkah berlian.


" Siapa namamu? " Tanya ibu sese seolah tidak mendengar sanggahan xiaoqi.


" Xiaoqi. " jawab singkat xiaoqi. Lalu kembali ia berbicara meluruskan kesalahpahaman. " Maaf bi. Aku bukan calon suami sese. "


Ibu sese seolah menutup rapat telinganya. Ia langsung menarik lengan xiaoqi. " Ya ya. Kau akan menjadi calon menantu ku. Ayo kita temui ayah sese. Aku yakin dia akan menyukai mu. Pilihan putriku memang yang terbaik. "


Xiaoqi semakin kesal karena ucapannya sama sekali tidak di dengar oleh wanita paruh baya itu. Ia pasrah saat dengan terpaksa mengikuti langkah ibu sese.


Di belakang, ibu sese diam-diam memberikan ibu jarinya pada sang anak.


Ziyan hanya bisa melihat ketika pengawal pribadinya diculik oleh ibu sese. Sepertinya kehidupan xiaoqi akan ramai jika benar-benar menikah dengan gadis itu.


" Nona. Ikutlah ke rumah ku. Meski rumah kami tidak besar. Tapi menurut ku itu cukup nyaman. " Ajak sese sekaligus mempromosikan rumahnya.


Melihat keraguan dari ziyan, sese kembali melanjutkan. " Tolong jangan menolak nona. Anda pasti lelah. "

__ADS_1


Karena tidak memiliki pilihan lain, akhirnya ziyan menyetujui. " Baiklah. Maaf karena merepotkan. "


Rombongan ziyan akhirnya berkunjung ke rumah sese. Rumah yang terlihat sederhana namun cukup luas jika di bandingkan dengan rumah yang lain.


" Ayah! sese sudah kembali. " Teriak ibu sese memanggil sang suami. Seorang pria paruh baya keluar. Matanya langsung tertuju pada sese.


" Sese, putri ku. " Ayah sese berjalan pelan ke arah sese. Matanya sudah berkaca-kaca melihat sosok gadis yang selalu dirindukannya hampir lebih dari dua bulan itu.


" Ayah aku pulang. " Sese merentangkan tangannya menyambut pelukan sang ayah.


Keduanya saling berpelukan melepaskan kerinduan yang terselip di antara ayah dan anak itu.


Berbeda dengan sang ibu, ayah sese terlihat lebih lembut. Sepertinya sifat sese lebih mirip kepada ayahnya.


" Kau kemana saja nak? uhuk uhuk. " Ayah sese yang sedang dalam kondisi tidak sehat terus terbatuk. Sese marasa bersalah karena tindakan egoisnya membuat kondisi sang ayah menurun.


" Ayah tak apa? maafkan sese ayah karena sudah membuat ayah khawatir dan memperburuk kesehatan ayah. " Sesal sese. Ia kemudian menuntun sang ayah untuk masuk ke dalam rumah.


Kini semua orang sudah duduk di ruang tengah. Ibu sese menyajikan minum dan beberapa kudapan. Setelah itu ia kembali duduk di samping xiaoqi.


Xiaoqi sudah lelah untuk menolak, jadi ia hanya duduk diam menerima perhatian ibu sese. Meski xiaoqi galak dan acuh tak acuh, namun ia sangat menghormati orang tua. Atau mungkin jauh dalam hatinya, secara tidak sadar ia sudah menerima sese. Sedangkan ayah sese sejak mengetahui xiaoqi adalah calon menantunya menatap tak suka xiaoqi. Tentu saja pernyataan itu berasal dari ibu sese dan di iyakan oleh sese.


"Kalian tinggallah di sini selama melakukan pencarian. Bagaimana pun kalian sudah merawat sese saat berada di ibukota. Tolong jangan menolak penawaran kami. Ini sebagai bentuk terima kasih kami. " Ucap ayah sese.


Ziyan melihat suaminya yang mengangguk setuju. " Baiklah. Terima kasih sudah memperbolehkan kami tinggal. Saya minta maaf karena sudah merepotkan. "


Setelah itu semuanya di antar ke kamar masing-masing. Didalam kamar, ziyan memperhatikan suaminya yang sejak tadi lebih banyak diam.


" Ada apa? Kau sepertinya lebih banyak diam dari biasanya. Apa kau sedang memikirkan sesuatu? " tanya ziyan melihat suaminya.


Melihat suaminya yang bersikap tidak biasa. Ziyan tahu bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


" Entahlah. Sejak tadi ada perasaan tidak nyaman. Aku merasa sangatnberat ketika harus melangkah masuk terowongan. " Adu sima rui.


" Apa kau pernah datang kesini suamiku? "


" Sepertinya tidak. Aku rasa ini pertama kalinya aku datang ke sini. " Sima rui terlihat ragu.


"Kau yakin? " Pancing ziyan.


Sima rui memeluk pinggang ziyan, lalu menenggelamkan wajahnya diperut datar sang istri.


" Aku tidak yakin. " Sima rui mencium aroma tubuh ziyan yang menenangkan. " Tetaplah seperti ini. Sungguh ini membuatku nyaman. "


Ziyan tak lagi bertanya. Ia membalas pelukan Sima rui dan mendekap erat masuk ke dalam pelukannya.


**********


Luyi terus memantau pencarian tuan Mo. Berkat prajurit tambahan yang di kirim Sima rui. Evakuasi berlangsung cepat.

__ADS_1


" Kita menemukan mayat. " Teriak seorang prajurit.


Hati luyi penuh kecemasan. Ia berharap bahwa mayat itu bukanlah Tuan Mo.


__ADS_2