
Hari pernikahan Liu ru dan A Feng tiba. Pria berpakaian serba merah itu memimpin iring-iringan pengantin yang akan menjemput sang mempelai wanita. Membuat jalan menuju kediaman pangeran penuh dengan kerumunan yang memang berniat melihatnya.
Liu ru berada di kediaman pangeran menunggu kedatangan Sima Feng yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Ia melihat pantulan dirinya di cermin, dan tersenyum. Tak menyangka bahwa ia akan terlihat cantik.
Riasan tipis dengan kepala berhiaskan mahkota Phoenix dibalut dengan pakaian pengantin berwarna merah. Membuat penampilannya seperti bunga mawar segar yang baru saja mekar.
Hatinya berdegup kencang dengan rasa gugup yang menderanya. Meski ia telah memiliki seorang anak. Namun tetap saja ini merupakan pernikahan pertama baginya.
" Huft... tarik napas buang napas, tarik buang. Tarik lagi buang lagi. " Terus Liu ru bergumam sembari mempraktekkan ucapannya.
" Nona, pangeran sudah ada di depan. " Suara Xiao Su membuat rasa gugup Liu ru semakin besar.
" Anda gugup? " Ucap Xiao Su menyadari kaki majikannya yang gemetar.
Liu ru mengangguk, Kemudian dengan bantuan Xiao Su, Liu ru keluar dari kamar menuju ruang tengah dimana Sima Feng telah menunggu.
Setelah berpindah ke dalam tandu dengan Sima Feng yang sebelumnya menggendong dirinya.
Liu ru kini sudah tiba di halaman utama istana. Selama perjalanan tadi, tak henti-hentinya ia melatih paru-parunya dengan senam pernapasan.
Menghembuskan napas untuk yang kesekian kalinya, Liu ru berharap hal tersebut dapat mengurangi rasa gugupnya.
Matanya kini melihat pada sosok pria tampan yang baru saja membuka penutup tandu.
' Tampan sekali suami ku. ' Batinnya terperangah. Meski wajahnya tertutup, namun samar ia bisa melihat wajah Sima Feng.
Baru sadar jika suaminya tampan. Apalagi dengan pakaian pengantin warna khas tersebut. Membuat aura dominan pria itu semakin keluar.
Liu ru menyambut uluran tangan Sima Feng dan dengan hati-hati keluar dari tandu.
Sima Feng mengernyit saat merasakan dinginnya tangan sang istri.
" Ini musim semi. Kenapa tangan mu dingin sekali. " Bisiknya saat ia menunduk membantu Liu ru.
" Aku terlalu gugup. Bahkan aku sampai lupa bagaimana mengatur napas ku. " Balas Liu ru masih dengan suara lirih.
" Tak apa jika kau lupa caranya bernapas. Saat kau tak sadarkan diri, aku akan memberi mu napas buatan. Jadi kau tidak perlu khawatir akan membuatku menjadi seorang duda di hari pernikahan ku. "
Liu ru memutar bola matanya. ' Apakah ia baru saja mengutuk ku yang baru saja menjadi istrinya untuk segera mati. ' Batinnya kesal.
__ADS_1
Karena rasa dongkol tersebut, Liu ru perlahan melupakan rasa gugupnya. Disampingnya, diam-diam Sima Feng tersenyum tipis melirik Liu ru yang tangannya sudah sedikit lebih hangat.
Segera Liu ru berjalan bersama Sima Feng dengan kedua tangan mereka saling bertaut.
Liu ru mendongak dan melihat tangga tinggi dan lebar di depannya. Dan di ujung tangga inilah, aula utama dimana ia akan menyembah bumi dan langit sebagai saksi pernikahan mereka.
Karena begitu gugup. Pikiran negatif mulai muncul di kepala Liu ru. Ia pun bergumam. " Tolong jalan perlahan. Aku takut menginjak pakaian ku dan berakhir dengan jatuh terguling. Bukan kah itu akan sangat memalukan. " Liu ru mendadak mulas saat memikirkan kemungkinan konyol yang baru saja ia ucapkan.
Kali ini Sima Feng tak tahan untuk tidak tersenyum menanggapi kekhawatiran istrinya tersebut.
" Tenang saja. Aku rasa jatuh dari ketinggian ini tidak akan membuat ku menjadi seorang duda. Aku hanya takut saat kau terjatuh, kau akan hilang ingatan dan lupa bahwa sebenarnya kau telah menikah. Aku tak ingin menjadi suami yang terlupakan. "
Jika saat ini dirinya tidak sedang menjadi pusat perhatian. Liu ru mungkin sudah menjambak rambut suaminya ini karena kesal.
Pria ini terlalu santai menanggapi semua kekhawatirannya.
" Tidak bisakah kau berhenti mengutuk dirimu sendiri agar cepat menjadi duda. Kau mungkin ingin menjadi duda. Namun aku tidak ingin menjadi janda sebelum kau membayar semua hutang mu pada ku yang merawat Xiao Yi seorang diri. " Ujar Liu ru meluapkan kekesalannya meski dengan suara lirih dan mulut yang hampir tak terbuka saat bicara, bahkan tatapannya masih lurus ke depan.
Sima Feng tak membalas. Ia hanya tersenyum tipis. Kini ia tahu satu hal, istrinya mudah sekali kesal. Membuat fokus istrinya tersebut sangat mudah teralihkan. Jadi Mudah baginya membuat sang istri melupakan rasa gugupnya.
Perlahan dan dengan anggun Liu ru menaiki satu persatu anak tangga. Hati-hati sekali ia melangkah. Takut jika satu langkahnya salah dan menginjak baju pengantinnya.
Saat sampai di atas, ia menghembuskan napas lega karena ketakutannya tak terjadi.
Liu yi yang kini telah berubah marga menjadi Sima Yi duduk bersama Sima Fei. Bibi mudanya itu terlihat sangat senang dengan keberadaan putranya tersebut.
Ia mencengkeram ujung lengan Sima Feng. Menarik napas lalu membuangnya.
" Jangan gugup ada aku disini. " Sima Feng mencoba menenangkan Liu ru.
Lagi-lagi istrinya gugup, tampaknya istri kecilnya ini mudah sekali gugup dan Sima Feng kembali akan berusaha menenangkannya.
**********
Acara pernikahan Sima Feng dan Liu ru tampak lebih sederhana dibanding dengan pernikahan Sima Guang. Itu adalah kesepakatan keduanya yang menginginkan pernikahan mereka dilakukan sederhana.
Jadi hanya beberapa tamu penting yang hadir di istana saat upacara pernikahan tersebut.
Malam pernikahan, Kedua mempelai sudah berada di kamar pengantin dan baru saja menyelesaikan ritual terakhir.
Setelah membuka penutup kepala Liu ru. Sima Feng ditarik keluar oleh Sima Guang. Ia akan mengganggu saudaranya menghabiskan malam panas.
__ADS_1
Anggap ini sebagai pembalasan saat malam pengantin dirinya dulu. Gara-gara tindakan Sima Feng yang menghebohkan karena membawa seorang wanita dan anaknya dulu. Ia dan Xu xiang harus menunda kegiatan panas mereka. Dan A Guang, bertekad melakukan hal yang sama.
Liu ru meremas baju pengantinnya. Saat ini ia sendirian di kamar dan merasa sangat gugup. Membuat perutnya mulas. Ingin keluar, namun ia harus menunggu kedatangan sang suami.
' Kenapa aku gugup sekali. Sangat memalukan. Seolah aku gadis perawan saja. ' Gerutu Liu ru dalam hati.
Meski ia dan Sima Feng sudah pernah melakukannya. Bahkan memiliki seorang putra. Tapi tetap saja membuat wanita yang kini berstatus istri Sima Feng itu merasa tegang.
Jadi untuk mengusir ketegangan, Liu ru menuangkan air dari teko yang ada di atas meja kedalam cangkir. Lalu Menenggaknya dengan cepat.
Ia mengernyit saat merasakan rasa air yang sedikit pahit baru saja melintas di tenggorokannya. " Ini arak? " Gumamnya. Ia pikir yang ada di dalam teko adalah air biasa.
Dengan toleransi alkohol Liu ru yang sangat menyedihkan. Maka cukup dengan satu gelas saja berhasil membuat pikirannya mendadak tumpul.
Jadi, Ia kembali menuangkan arak ke dalam cangkir dan menenggaknya hingga habis. Ia lakukan berulang-ulang hingga seluruh arak di dalam teko habis tak tersisa.
Sima Feng yang berhasil menipu A Guang kembali ke kamarnya. Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah sang istri yang tertidur di atas meja.
Ia menuangkan teko namun tak ada air yang keluar. Jadi Sima Feng menduga bahwa sang istri bukan tertidur melainkan tumbang karena mabuk.
Ia menepuk pelan pipi Liu ru. " Istri ku bangun. Kau akan sakit jika tertidur di sini. " Sayangnya hal itu sia-sia. Liu ru masih bergeming sama sekali tak terlihat akan bangun.
Tahu sang istri sudah tertidur seperti kayu gelondongan. Jadi ia menggendongnya dan memindahkannya ke ranjang mereka.
Setelah menyelimuti dan bersiap untuk beranjak keluar. Sebuah tangan tiba-tiba memeluk Sima Feng dari belakang.
" Kau mau kemana? Xiao Yi, jangan pergi. Disini temani ibu. " Gumam Liu ru tak sadar. Ia bermimpi bahwa orang yang sedang ia peluk adalah putranya.
Setelah membalikkan badan. Sima Feng hanya menatap Liu ru tanpa bicara.
" Kenapa kau besar sekali Xiao Yi? kau tumbuh sangat cepat ternyata. " Liu ru masih berbicara ngelantur. Kali ini ia bahkan mencubit pipi Sima Feng karena gemas.
" Lihat baik-baik. Aku bukan Xiao yi. " Tak tahan dengan cubitan Liu ru di pipinya. Akhirnya Sima Feng membuka mulutnya.
Lekat sekali Liu ru menatap wajah Sima Feng. Ia bahkan sampai menakup kedua pipinya dan mendekatkan wajah mereka.
Mata Liu ru menyipit, " Xiao Yi kau benar-benar jahat. Bagaimana bisa kau berbohong pada ibu mu. Kau harus di hukum. "
Liu ru tiba-tiba menjepit bibir atas bawah Sima rui dengan jari seolah dirinya sedang memegang roti isi.
Dan tanpa Sima Feng duga, ia menggigit bibirnya seolah sedang memotong roti tersebut.
__ADS_1
" Hei! " Pekik Sima Feng namun terlambat. Karena saat ini Liu ru sudah selesai menggigitnya hingga terlihat jelas cetak gigi di bibir pria itu.