
" Komandan jiang, apakah suku bar-bar masih menyerang? " Tanya ziyan.
" Masih. Meski bukan serangan besar. "
" Lalu kapan terakhir mereka menyerang? "
Komandan jiang tampak berpikir mencoba mengingat. " Benar juga. Jeda waktu kali ini cukup lama. Biasanya dalam satu bulan mereka akan menyerang beberapa kali. Namun bulan ini mereka sama sekali belum menyerang. "
Deg,
Penjelasan komandan jiang seolah memberikan ziyan sebuah jawaban. Wajah ziyan yang selalu tampak tenang kini tersirat kekhawatiran.
" Komandan jiang, tampaknya sebentar lagi prajurit jin akan menerima kejutan besar dari suku bar-bar. Jika tebakanku benar. Maka bala bantuan suku bar-bar ini akan sangat merepotkan dan juga mematikan. " Ucap ziyan serius.
" Bibi kita tidak ada waktu untuk mencari tanaman racun sekarang. Kita harus menyampaikan apa yang kita lihat ini pada Pangeran. Jika tidak cepat, kita tidak akan memiliki waktu untuk persiapan. "
Semua orang bingung dengan apa yang ziyan ucapkan. Namun wajah panik ziyan menjelaskan bahwa mereka sedang dalam situasi yang tidak baik.
***********
Tiga hari kemudian,
Suara terompet tanda perang akan di mulai berbunyi. Disusul suara bedug sebagai tanda bahwa pasukan musuh telah mendekati benteng. Sima rui sebagai jenderal bersama dengan para komandan perang telah bersiap di posisi. Begitu pun dengan para prajurit yang mendapatkan tugas khusus.
Barisan prajurit suku bar-bar berjalan semakin dekat dengan pintu utama benteng. Nampak beberapa pelontar di antara mereka. Gemuruh kata 'serang' dari para prajurit suku bar-bar terdengar bagai nyala api yang berkobar membakar semangat mereka. Pemimpin pasukan suku bar-bar yang menunggang kuda berdiri di barisan terdepan. Ia mengangkat tangannya yang memegang pedang ke atas sebagai tanda aba-aba darinya.
" Lempar! " Teriak sang pemimpin.
Segera pelontar yang mereka bawa pun dengan cepat melemparkan benda yang langsung terbang ke area kerajaan jin. Bukan bom atau batu api yang mereka lempar, melainkan sarang lebah iblis yang berisi puluhan lebah beracun tersebut.
Pemimpin suku bar-bar terbahak ketika melihat pelontar pasukannya mulai bekerja. " Rasakan itu pasukan jin. "
__ADS_1
Ia yakin bahwa strateginya kali ini pasti akan berhasil. Mereka tidak akan menyangka suku bar-bar akan menggunakan pasukan kecil yang bahkan lebih mematikan dari manusia.
Sayangnya, pemimpin suku bar-bar tersebut harus menelan tawanya kembali saat pasukan khusus prajurit jin membentangkan jaring besar untuk menghalau sarang lebah tersebut, dan melemparkan kembali pada suku bar-bar.
Tampak prajurit suku bar-bar yang berlarian menghindari sengatan lebah. Ziyan yang berada di atas benteng bisa melihat bagaimana pucatnya wajah sang pemimpin dari balik teleskop buatannya.
' Inilah yang dinamakan senjata makan tuan. ' Batin ziyan senang.
Jika saja saat itu ziyan tak menyadari rencana mereka, mungkin kini yang mengalami panas sengatan lebah itu adalah para prajurit jin. Beruntung Sima rui bergerak cepat memberikan arahan pada para komandan pasukannya agar menyiapkan apa yang menjadi rencananya. Tak hanya itu, untuk berjaga-jaga Sima rui juga menyediakan obat penawar racun lebah iblis.
Bagi lucy yang mengenali lebah iblis seperti Asian giant hornet, membuat penawarnya tentu saja mudah. Karena itu dengan persiapan matang dari pasukan jin. Suku bar-bar akhirnya bisa di pukul mundur. Sekali lagi, kerajaan jin kembali mendapatkan kemenangannya.
" Bersulang.... "
Pesta kemenangan di rayakan pada malam harinya. Semua prajurit jin, secara bergantian merayakan kemenangan mereka. Sima rui tak mengijinkan para bawahannya merayakan secara bersamaan. Ia selalu menekankan pada bawahannya untuk selalu waspada. Karena di area perang, kita tidak tahu kapan musuh akan menyerang.
" Terima kasih pada nona Mo karena memberikan berita penting itu. Jika tidak kita semua akan berakhir mengenaskan seperti suku bar-bar. " Ucap salah seorang komandan pada ziyan sembari mengangkat gelas minumannya sebagai ungkapan terima kasih.
Semuanya pun ikut bersorak mendengar ucapan ziyan. Kini bertambah satu lagi orang yang mereka kagumi setelah Sima rui. Mata mereka penuh dengan kekaguman pada ziyan.
Sima rui yang melihat binar mata para bawahannya merasa kesal karena wanitanya di tatap dengan mata penuh pemujaan. Namun apa yang bisa ia lakukan. Nyatanya ziyan memang memiliki kemampuan membuat siapapun memujanya, termasuk dirinya.
Sima rui batuk dengan suara keras membuat semua orang langsung mengalihkan pandangannya.
" Hari sudah malam. Kau harus beristirahat. " Ucap Sima rui pada ziyan.
" Bukankah sekarang baru jam 8 malam. Menurutku belum terlalu larut. " Ziyan tampaknya tak menangkap sinyal cemburu tunangannya tersebut. Ia berpikir bahwa Sima rui mungkin tak ingin ia terlalu lelah.
Namun tidak dengan keempat komandan Sima rui. Mereka jelas tahu bahwa pria dingin itu sedang berusaha menyembunyikan tunangannya agar tak di lirik oleh pria lain.
' Lihatlah, bagaimana posesifnya dia. Apakah salah mengagumi wanita sehebat nona mo? '
__ADS_1
' Pria ini cukup licik untuk tak membiarkan pria lain mengagumi istrinya. '
' Kasihan nona mo. Setelah menikah pasti pangeran akan mengurungnya di istana. '
Semua komandan sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya komandan jian yang bersikap acuh.
" Aku ingin kau istirahat lebih awal, karena besok aku ingin mengajak mu pergi ke suatu tempat. " Jelas Sima rui.
Raut wajah ziyan berubah cerah saat mendengar ucapan Sima rui. Ia memang menanti pria itu mengajaknya jalan-jalan. Bukan karena ia tidak bisa pergi sendiri. Hanya saja Sima rui yang tak memberikan ijin.
Karena berada di perbatasan, desa yang berada tak jauh dari sini pun tak luput dari jarahan atau serangan suku bar-bar. Karena itulah Sima rui bersikap protektif. Padahal jika dilihat dari kemapuan, justru suku bar-bar lah yang sepertinya beruntung tidak bertemu dengan ziyan.
********
Keesokan harinya Sima rui memenuhi ucapannya. Ia mengajak ziyan ke sebuah desa yang tak jauh dari markas militer mereka.
" Desa ini kenapa nampak begitu memprihatinkan? " Ucap ziyan melihat dari balik tirai kereta kudanya.
Banyak pengemis dan juga orang kelaparan di jalanan. Toko-toko dan kedai-kedai juga tampak sepi.
" Karena dekat dengan perbatasan, tak jarang Suku bar-bar menyerang desa ini. Menjarah dan merampok warga. "
" Dan kalian tidak melakukan apapun? " Tanya ziyan sedikit emosi.
Sima rui yang mendengar nada lain dari ziyan, mengangkat sudut bibirnya. " Kami sudah berusaha mengusir mereka, namun hal itu terus terjadi lagi dan lagi. Kami bahkan sudah mengerahkan penjagaan bergilir namun tetap tak berhasil. Seakan mereka bisa melihat celah dari semua rencana kami. "
" Apakah mereka bekerja sama dengan pemerintah setempat? " Ziyan jadi teringat dengan kasus di kota lingguang.
" Tidak. Mereka bersih. Aku sudah menyelidikinya. "
" Lalu.. " Ziyan tahu Sima rui memiliki maksud tersembunyi kenapa ia mengajaknya melihat desa ini. Ziyan tak ingin menebak tapi ia tahu bahwa hal tersebut adalah sebuah tantangan besar untuknya.
__ADS_1