
Nasib tragis Lijin sampai ke telinga ziyan. Berdasarkan laporan haocun, hal mengerikan itu dilakukan oleh Xumu. Sepertinya tindakan Lijin yang menjadikannya sebagai kambing hitam mematik amarah xumu.
Tak ada yang menyangka bahwa situasi akan berbalik dengan mudah. Anak buah Lijin yang di lepas xumu sebelumnya lah yang melaporkan sang ketua pada biro penyidik. Setelah menyampaikan pesan xumu pada Lijin. Bergegas ia melaksanakan tugas xumu selanjutnya, yaitu menyampaikan bukti-bukti keterlibatan Lijin pada biro penyidik. Ia tega mengkhianati sang mantan ketua demi menyelamatkan nyawanya sendiri.
Xumu yang tidak pernah menganggap Lijin sebagai tuannya, sudah pasti tidak pernah menaruh kepercayaan padanya. Sedari awal keputusannya bergabung adalah demi melampiaskan hasrat membunuh dalam dirinya. Berkat insting kuatnya sebagai predator, membuatnya senantiasa untuk bersikap waspada. Karena itu, ia sudah menyimpan semua bukti kejahatan Lijin, berjaga-jaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
" Lalu dimana xumu saat ini. " tanya ziyan pada bingjie.
" Haocun masih mencari. Belum ada laporan terbaru darinya. " Jawab bingjie.
Kemudian bingjie kembali melanjutkan. " Dari biro penyidik juga sudah menutup kasus xumu. Setelah salah satu bawahan Lijin melapor, diketahui penculikan serta pembunuhan para petugas penyidik dilakukan oleh Lijin. Pernyataan itu disertai dengan beberapa bukti yang mendukung. Jadi secara otomatis kasus itu ditutup begitu saja. Mengingat pelaku utama di temukan tewas. "
" Bawahan Lijin? bagaimana bisa? Apakah dia berkhianat? " Ziyan bertanya ragu.
" Untuk itu maaf, kami belum menemukan alasannya bos. "
Ziyan membuang napas, " Sudahlah. Pada akhirnya masalah selesai dengan sendirinya. Shugua juga untuk sementara waktu akan sibuk dan tidak akan mengganggu chuntian. "
" Sekarang kau kembalilah. Tetap awasi Chuntian. Setelah ini mungkin aku tidak bisa berkunjung ke sana sampai aku melahirkan. Jadi selama periode itu aku percayakan Chuntian pada mu " Imbuh ziyan.
************
Kereta kuda keluarga Mo berhenti tepat di depan gerbang kediaman Sima rui. Wanita paruh baya yang masih tampak cantik keluar dari dalam gerbong.
" Nyonya besar Mo selamat datang? " Sambut pelayan di kediaman pangeran saat melihat kedatangan ibu ziyan.
Nyonya mo mengangguk. " Apa wangfei ada? "
__ADS_1
" Ada nyonya. Mari ikut saya. " Dan nyonya mo mengikuti langkah si pelayan di belakangnya.
" Silakan. Anda bisa menunggu wangfei disini nyonya. " Ucap pelayan begitu tiba di ruang tunggu. Kemudian bergegas memanggil ziyan.
Ziyan yang mengetahui kedatangan sang ibu segera pergi menemuinya.
" Ibu ada ap- " Sebelum ziyan menyelesaikan kalimatnya, nyonya mo sudah berlari memeluk ziyan. Menangis mengeluarkan beban yang sejak tadi menyesakan dada.
Melihat sang ibu menangis, ziyan langsung bertanya dengan khawatir. " Bu ada apa? Apakah sesuatu telah terjadi? "
Nyonya mo melerai pelukannya, memberi jarak agar bisa melihat putrinya.
" Ayahmu. Ayah mu menghilang? " Kata nyonya mo memberitahu. Ia menghapus air matanya dengan sapu tangan.
" Bagaimana bisa bu? Apa yang terjadi dengan ayah? " Tanya ziyan. Ia menggiring ibunya agar duduk terlebih dulu.
" Sudah dua hari? Kenapa tidak langsung memberitahu ku bu? "
" Maaf nak. Ibu hanya tidak ingin menambah beban untuk mu. Apa lagi sekarang kau sedang hamil muda. Usia kandungan mu yang belum genap tiga bulan rawan sekali keguguran jika kau terlalu stres atau lelah. Maafkan ibu nak. "
Melihat ibunya kembali menangis ziyan tak tega untuk memarahinya. Ia pun menarik napas panjang lalu membuangnya. Mengumpulkan kembali ketenangan yang sebelumnya telah berhamburan.
" Maafkan aku bu. Aku tidak bermaksud marah pada mu. Aku hanya kecewa karena kalian seperti tidak menganggap ku sebagai putri kalian. " Ziyan menunduk sedih.
Nyonya mo menggeleng kuat. " Tidak nak. Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu. Bagi kami kau adalah putri kami, putri kandung kami. " Nyonya mo memeluk ziyan mencurahkan rasa sayangnya pada ziyan. Demi Tuhan, ia begitu menyayangi ziyan.
" Aku tahu ibu sangat menyayangi ku. Tapi tolong bu, jangan lagi segan untuk meminta bantuan padaku. Apa yang ku miliki adalah milik kalian juga. Tak akan ada ziyan seperti sekarang, jika tidak ada kalian berdua sebagai orang tua ku bu. "
__ADS_1
Nyonya terharu mendengar ungkapan hati ziyan. Ia memeluk erat putrinya dan mengucapkan puluhan terima kasih karena datang dalam kehidupan mereka dan memberikan kebahagiaan yang sempat hilang saat kematian Yaner.
" Bu.. Bisakah kau ceritakan sekarang bagaimana musibah itu bisa terjadi? "
Nyonya mo mengangguk dan mengalirlah cerita dari bibir ibu paruh baya itu.
Kerajaan Jin yang sebagian besar terletak di dataran tinggi memang memiliki potensi longsor lebih tinggi dibandingkan dengan Kerajaan lain yang berada di dataran rendah. Bencana longsor yang sering terjadi menjadi hal umum bagi sebagian orang. Mereka berpikir bahwa itu adalah resiko dari letak Kerajaan yang berada di wilayah pegunungan. Namun mereka tidak berpikir bahwa itu semua terjadi karena penebangan pohon yang semakin marak terjadi. Beberapa wilayah hutan sudah terlihat gundul. Mereka masih belum tahu bahwa efek penggundulan hutan adalah longsor.
Saat itu di desa lain yang letaknya tak jauh dari tianguan. Tuan mo sedang memeriksa perkembangan pembangunan desa setelah sebelumnya dilanda bencana longsor. Bahkan ziyan juga mengirimkan bantuan untuk mempercepat pekerjaan tuan mo tersebut.
Ada desa tertutup bernama Tianguan. Untuk memasuki desa tersebut, harus melewati sebuah terowongan tebing. Perbukitan yang mengelilingi desa itu membuat desa seolah terlihat seperti penjara secara tidak langsung.
Tuan mo menerima laporan bahwa salah satu sisi bukit mengalami longsor. Meski tidak sebesar longsor di desa sebelumnya. Namun tetap menelan beberapa rumah warga, beruntung tidak ada korban jiwa.
Hari itu hujan turun dengan sangat deras. Tuan mo yang masih berada di desa tian guan tak menyangka akan mengalami kemalangan. Hujan deras mengakibatkan beban tanah semakin berat membuat akar pohon tak lagi mampu menahannya. Dan kejadian tragis itu akhirnya terjadi.
Salah satu bukit mulai longsor. Tuan mo beserta rombongan mulai menyelamatkan diri. Tanpa sengaja, tuan mo melihat seorang balita yang terjebak di rumahnya sementara tanah terus berjalan menelan rumah yang dilewatinya.
Tuan mo dengan cepat menyelamatkan anak tersebut, namun naas, gerakan tanah lebih cepat. Mengubur rumah beserta tuan mo dan balita tersebut.
Luyi berusaha menolong tuan mo, namun tubuhnya juga ikut terhempas bersama batang-batang pohon.
Hingga akhirnya para prajurit melakukan pencarian. Mereka menemukan luyi yang tak sadarkan diri. Beruntung dia tak mengalami luka serius hanya beberapa lecet di tubuhnya.
" Hingga kini masih belum ada kabar mengenai nasib ayah mu. Membayangkan dirinya terkubur, membuat hati ibu benar-benar... " Nyonya Mo tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Air matanya kembali mengalir deras. Sosok suami yang selama ini menemaninya tidak di ketahui nasibnya.
" Ibu tenang saja. Selama ayah belum di temukan. Masih ada harapan bahwa ayah akan kembali hidup-hidup. Aku akan meminta pangeran mengerahkan sebagian prajuritnya untuk melakukan pencarian. " Hibur ziyan berharap sang ibu tidak terlalu stres. Ia takut hal tersebut akan mempengaruhi kesehatannya.
__ADS_1
Namun ziyan tak akan pernah tahu bahwa di desa tersebut, ia akan membuka tabir rahasia yang selama ini tersembunyi. Tentang masa lalu sima rui dan juga xumu.