Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 234


__ADS_3

Suasana penginapan tepatnya di kamar Sima rui terlihat tenang. Setelah berhasil membawa kembali ziyan, Sima rui segera membawa istrinya untuk beristirahat di kamarnya. Tentunya setelah ia menendang keluar junyi. Pria malang yang harus terhempas begitu belahan jiwa sang tuan kembali.


Ketenangan tersebut berbanding terbalik dengan suasana di tempat xumu. Mencekam. Satu kata yang sangat tepat digunakan untuk menggambarkan suasana di sana.


Setelah mengetahui ziyan kabur. Xumu mengamuk, Ia bahkan langsung menebas kepala penjaga yang sebelumnya berjaga di depan rumah ziyan. Ceceran darah menodai lantai hingga dinding. Bahkan para bawahan xumu yang terbiasa melihat pembunuhan pun masih bergidik ngeri ketika melihat betapa brutalnya tuan mereka.


" Apa yang kalian semua lakukan. Bagaimana bisa seorang wanita kabur begitu saja. Apa perlu, aku mencongkel mata kalian karena mata yang tidak berguna itu. " Xumu mengucapkan kata-kata menakutkan itu dengan wajah tenang. Namun ketenangan xumu adalah badai kecil sebelum badai besar datang. Siapapun tahu bahwa semakin tenang pria itu maka semakin besar pula amarahnya.


Semua bawahan xumu menunduk takut.


Setelah lengsernya mendiang ibu suri, pelatihan rahasia yang di ciptakan wanita itu akhirnya jatuh ke tangan xumu.


Ya, setelah pembakaran yang dilakukan oleh pihak britania. Xumu yang berhasil menyelamatkan diri berhasil di temukan oleh ibu suri. Ia pun melatih xumu dalam pelatihan yang diciptakannya.


" Lapor tuan. Sepertinya ada orang lain yang membawa wanita itu kabur. Kami menemukan salah satu orang kita tewas dan tubuhnya di temukan di dalam kuil dekat bendungan air tanpa selembar pakaian. "


Ingatan xumu langsung kembali pada saat ia menyerahkan makan malam ziyan pada seorang bawahannya. Sekilas ia memang melihat ragu pria itu. Namun karena rasa percaya dirinya, ia mengenyahkan kecurigaannya dan memilih untuk menutup mata.


" Sima Rui.... " Geram xumu. Ia yakin sekali bahwa pria itu adalah Sima rui. Punggung tegap dan lebar yang dilihatnya, ia yakin itu adalah Sima rui.


Beberapa detik kemudian ia tertawa terbahak. Membuat jantung semua bawahannya langsung melompat.


' Aduh, tuan tertawa. Apakah sebentar lagi akan ada pertumpahan darah lagi? '


' Tidak. Aku tidak ingin mati. '


' Ya dewa, selamatkan nyawa ku. Aku tidak ingin mati muda. '


Para bawahan xumu diam-diam berdoa dalam hati. Tawa yang seharusnya membuat semua orang senang kini terlihat begitu menyeramkan. Tak ada satu mulut pun yang berani ikut tertawa bersama xumu.


Xumu menoleh pada bawahan yang tadi melapor. " Kau... "


Deg deg Jantung bawahan xumu berdetak semakin kencang. Keringat dingin terus mengucur keluar dari kulitnya.


" I-iya tuan. " Jawabnya terbata.


" Singkirkan mayat itu, bakar di halaman belakang. " Tunjuk xumu pada mayat penjaga yang sudah terpisah badan dengan kepalanya.


' Tidak ku sangka, aku benar-benar kalah taruhan. ' Batin xumu mengingat taruhannya dengan ziyan. Ia kembali tertawa kecil.


*******


Di kamar, Sima rui memeluk istrinya yang berbaring di dadanya. Setelah dua hari tak bisa memeluk sang istri. Akhirnya malam nanti tak perlu lagi dirinya merasakan dinginnya malam tanpa adanya sang istri yang menemani.


" Sebentar lagi fajar, apa kau tidak ingin tidur sebentar istriku? " Ucap sima rui sembari mengelus surai hitam wanita hamil itu.


" Tidak. Biarkan seperti ini. Aku merindukan dada bidang suami ku. " Jari Ziyan membuat gambar hati di dada sima rui.


Mendapat sentuhan ziyan. Membuat darah sima rui mendesir. Sekuat tenaga ia mencoba menahan hewan buas dalam dirinya. Mengingat istrinya sedang hamil muda dan juga yang masih tampak lelah.


Sima rui menahan tangan ziyan. " Jangan memancing ku. Aku tak ingin kau bertambah lelah. "


Ziyan terkekeh, semakin dalam wajahnya ia usapkan di dada Sima rui. Wanita hamil itu begitu senang menggoda suaminya. Ada kesenangan sendiri saat melihat suaminya tersebut sekuat tenaga menahan hasratnya.

__ADS_1


Sedangkan Sima rui yang sekuat tenaga menahan gejolak gairahnya harus menggigit bibirnya kuat-kuat agar tak terpancing oleh istrinya yang tiba-tiba berubah menjadi siluman rubah tersebut.


" Sial! " Umpatnya menyerah.


Dan tanpa membuang waktu sima rui segera menerkam ziyan dan terjadilah pergulatan panas.


Sima rui menyalurkan seluruh kerinduannya dan gejolak gairah dengan masih menahan diri agar tidak melukai kedua makhluk yang menjadi hidupnya saat ini.


Desah*n dan juga erangan memenuhi ruang kamar yang tak terlalu besar itu hingga keluar kamar.


Di depan, junyi hendak mengetuk pintu. Namun urung dilakukan ketika telinganya tanpa sengaja mendengar suara laknat dari dalam kamar tuannya.


Ia menghela napas, ' Musim dingin dengan cepat berubah menjadi musim panas.'


Tak ingin mengganggu, akhirnya junyi memutuskan untuk kembali ke kamarnya menjauhi kamar yang bisa membuatnya terbakar.


Kembali di dalam kamar. Pergulatan baru saja selesai. Sima rui hanya bermain singkat tidak seperti biasanya yang sampai berjam-jam.


" Sudah nyonya. Jangan menggoda ku lagi. Aku benar-benar tak ingin membuat mu terlalu lelah. " Erang Sima rui.


" Apa kau sudah puas? " Tanya ziyan dengan senyum menggoda.


Sima rui meraih dagu ziyan. " Bohong jika aku mengatakan sudah puas. Memakan mu tidak akan pernah membuat ku puas, yang ada justru ingin lagi dan lagi. Jadi jangan membuatku menjadi pria jahat yang menyakiti istri dan anak ku. "


Ziyan terkekeh saat melihat Sima rui memohon padanya untuk tidak menggodanya.


" Baiklah. Maafkan aku tuan. " Ziyan mengikuti panggilan Sima rui. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.


Ziyan duduk dengan selimut masih menutupi tubuhnya kemudian menatap serius sima rui.


Sima rui mengerutkan kening kala melihat atmosfir yang berubah cepat.


" Ada apa? " Tanya Sima rui serius. Ia dudukan tubuhnya mengikuti sang istri.


" Sepertinya xumu juga seperti mu suamiku. " ziyan yang melihat suaminya tampak bingung kembali menjelaskan. "Jadi, saat kemarin aku dibawa olehnya. Ia menceritakan beberapa hal. Termasuk siapa dirinya yang sebenarnya. "


Sima rui masih menyimak ucapan sang istri tanpa menyela sedikit pun.


" Saat kecil, ia diculik dan dijadikan sebagai kelinci percobaan pada eksperimen humanoid. Namun karena suatu hal, suatu hari, laboratorium itu terbakar dan membunuh hampir seluruh orang di laboratorium tersebut termasuk para humanoid yang masih berada dalam tahap metamorfosis. Tapi sepertinya tidak semua orang tewas. Xumu berhasil lolos dari kebakaran maut itu dan menjadi satu-satunya korban selamat. Ah dan satu lagi fakta yang aku ketahui. Xumu sepertinya memiliki kepribadian ganda. "


Sima rui mengernyitkan. " Kepribadian ganda? "


" Jadi kepribadian ganda itu dimana satu orang memiliki beberapa kepribadian. Seperti xumu, terkadang ia kejam, terkadang ia seperti anak-anak, terkadang ia baik. Intinya kita tidak tahu sifat orang tersebut. Kelihatannya hal itu muncul karena trauma saat dirinya kecil yang membuatnya seperti itu. Jadi kita harus berhati-hati dengannya. Karena orang yang dengan kepribadian ganda lebih berbahaya dari orang pada umumnya. Kita tidak tahu apa yang akan ia lakukan. " Peringat ziyan pada Sima rui.


" Jadi aku berencana menemui bibi lucy setelah ini. Mungkin saja ia tahu sesuatu tentang eksperimen humanoid di dunia ini. " Ziyan kembali menambahkan.


" Aku akan menemani mu. " Sima rui tak ingin lagi kehilangan istrinya. Selama dirinya bisa menemani sang istri, ia akan melakukannya. Tidak peduli orang lain akan berpikiran picik dan menganggapnya memiliki kecemburuan delusional.


"Baiklah. Kita akan menemuinya bersama setelah kita menyelesaikan masalah di sini. " Ziyan senang Sima rui bisa menemaninya. Jadi ia bisa dengan mudah bertanya mengenai pria itu juga.


Setelah mengatakan semua fakta tersebut. Rasa kantuk tiba-tiba mendera matanya. Perlahan mata ziyan tertutup. Sedangkan sang surya justru sudah mulai menampakan dirinya.


Setelah memastikan istrinya tidur dengan pulas. Sima rui bangkit dan segera menulis surat untuk ayahnya. Ia melaporkan semuanya, tak hanya masalah bendungan juga masalah xumu yang memimpin orang-orang dari pelatihan mendiang ibu suri. Karena ini menyangkut urusan negara tak hanya masalah istrinya seorang, maka ayahnya yang lebih berhak mengambil keputusan.

__ADS_1


" Kirim surat ini pada ayah raja. Ingat! harus kau sendiri yang mengirimkannya. " Perintah Sima rui pada junyi.


Jika tuannya memerintahkan dirinya yang harus mengirim tanpa memperbolehkan orang lain menyentuhnya, maka sudah bisa di pastikan bahwa isi surat itu penting dengan kepentingan mendesak.


Jadi dengan cepat, junyi membawa kudanya berlari dengan kecepatan maksimal menuju istana.


Sima shao yang sedang bermain dengan kumpulan laporan di ruang bacanya menoleh saat seorang kasim datang.


" Yang mulia. Pengawal junyi datang ingin menghadap. Dia membawa pesan dari pangeran pertama. "


" Pesan rui er? " Gumam Sima shao. Ia tahu bahwa saat ini putranya sedang menemani ziyan mencari tuan Mo. Tapi kenapa ia mengirim pesan?


" Suruh dia masuk. " Titah Sima shao.


Junyi masuk begitu kasim menyampaikan ijin Sima shao.


" Salam Yang mulia. Semoga anda selalu sehat dan panjang umur. "


" Hm. Kau membawa pesan rui er? " Tanya Sima shao langsung. Jika putranya sampai mengirim junyi untuk mengirim pesan, maka sudah pasti isi pesan itu sangat penting.


" Silakan Yang mulia. " Junyi menyerahkan gulungan surat tersebut.


Sima shao membuka dan langsung membaca isi pesan sima rui. Ekspresi wajahnya semakin serius semakin mendekati akhir pesan.


" Panggil pangeran ketiga menghadap. " Meski tanpa menyebutkan pada siapa ia memberikan perintah. Tapi kasim liu paham betul bahwa itu adalah tugas untuknya.


Kasim liu segera pergi untuk memanggil pangeran ketiga negara jin, Sima Dan.


Junyi masih berdiri dan menunggu dengan sabar datangnya pangeran ketiga mereka. Berhadapan dengan penguasa kerajaan tentu bukan hal mudah untuk pengawal kecil sepertinya.


Tiap menit yang terbuang saat menunggu Sima Dan membuat junyi seolah sedang terombang-ambing ditengah laut, bingung. Satu kata yang bisa ia katakan saat ini. Ia tidak tahu harus melakukan apa.


" Kenapa kau masih berdiri? Duduklah dan minum teh dulu. Kau pasti haus karena perjalanan jauh. " Sima shao melihat pengawal anaknya itu masih berdiri di tempat yang sama seperti tiang.


" Terima kasih Yang mulia. Saya berdiri saja. Saya tidak lelah atau pun haus. " Ujar junyi bohong.


Tentu saja yang sebenarnya ia sangat lelah dan juga haus. Setelah semalaman ia tidak tidur, lalu menerjang angin demi mengantar pesan. Tidak mungkin ia tidak lelah. Namun berkat latihan berat selama ini, rasa lelahnya tidak begitu terasa jika dibandingkan dengan orang biasa yang merasakannya.


Dan untuk menerima tawaran sang kaisar. Tentu juga bukan pilihan baik. Ia begitu sungkan karena bukan sikap yang baik, saat orang dengan status tinggi bekerja sementara dia yang hanya remahan keripik justru duduk santai dengan segelas teh hangat.


" Ayah raja memanggil ku. " Sima Dan masuk, ia heran saat melihat junyi juga ada di sana.


" Ikutlah ke desa tianguan bersama junyi dan bawa juga ratusan prajurit bersama mu. Kita harus melakukan pembersihan di sana, orang-orang yang dulu dilatih mendiang ibu suri sudah di temukan. Menurut kakak mu, pimpinan mereka adalah orang yang selama ini kau cari. " Jelas Sima shao.


Raut wajah Sima Dan menegang, detik berikutnya berubah dingin.


Kemudian Sima shao kembali bertanya. " Siapa orang yang kau cari? "


" Pembunuh heimian ayah. "


Sima shao mengangguk paham. Lalu ia menyerahkan token militer miliknya. " Gunakan token ini untuk memimpin prajurit yang kau bawa. "


Sima Dan menerima token tersebut. " Baik ayah. Saya akan melakukan tugas ini sebaik mungkin. "

__ADS_1


Baik junyi dan juga Sima Dan akhirnya berangkat ke desa tianguan dengan membawa ratusan prajurit bersama mereka.


__ADS_2