
Li Chenlan berjalan menuju istana putri mahkota. Ini pertemuan pertama mereka setelah kedatangan A Fei ke Kerajaan Wei.
Dari jauh, ia bisa melihat calon istrinya sedang menikmati makan siang. Jadi begitu sampai, ia melarang pelayan untuk mengumumkan kedatangannya.
" Apa kau menikmati makanannya? " Tanyanya tiba-tiba.
Pertanyaan Chenlan tersebut berhasil mengejutkan A Fei. Kedatangannya yang tiba-tiba itu hampir saja membuat A Fei melontarkan bakpao yang saat ini ada di mulutnya.
" Itu sangat nikmat sebelum kedatangan mu yang sangat mengejutkan, Yang mulia. " A Fei berkata setelah membersihkan sisa makanan di mulutnya dengan sapu tangan.
Li Chenlan terkekeh. " Maaf, aku hanya ingin secepatnya melihat mu. Selain itu, aku juga ingin minta maaf untuk kemarin karena tak bisa menyambut mu, aku harus pergi ke luar untuk menyelesaikan tugas dari ayah raja. "
" Tidak masalah. Aku tahu bagaimana sibuknya seorang putra mahkota jadi kau tidak perlu khawatir, Yang mulia. " Ujar A Fei mencoba mengerti, tapi yang di dengar Chenlan justru berbeda.
" Putri, kenapa ucapan mu terdengar seolah sedang menyindir ku. "
" Benarkah? " A Fei tertawa kecil. " Kalau begitu anggap saja seperti itu. "
Li Chenlan tanpa sungkan duduk sementara A Fei sudah lebih dulu meminta pelayan menyiapkan makanan untuk pria itu.
Mereka tampak harmonis, seolah keduanya adalah pasangan tua yang sudah hidup bersama selama bertahun-tahun.
Keduanya juga terlibat perbincangan ringan membuat suasana menjadi hangat bahkan meskipun saat ini cuaca di luar sedang musim dingin.
" Sebulan lagi pernikahan kita dan kau akan benar-benar menjadi putri mahkota ku. Aku sangat senang hanya dengan memikirkan itu. " Sungguh manis sekali mulut Li Chenlan sukses membuat kedua pipi A Fei bersemu merah.
Gadis itu masih tak menyangka bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang istri dari pria yang diam-diam sudah dikaguminya sejak kecil.
" Aku juga menantikannya. Aku harap aku bisa menjadi satu-satunya istri mu, Yang mulia. " Ucap Sima Fei malu-malu. Ah saat ini jantungnya berdetak sangat cepat, ia sendiri sampai takut jika jantungnya akan melompat keluar karena begitu besar debarannya.
Sungguh naif pikiran A fei. Gadis itu tak tahu bahwa pria di depannya tidak sebaik yang dipikirkannya.
" Tentu. Aku juga berharap begitu. "
Meski bibir berkata demikian tapi jauh di dalam hatinya, pria itu mencibir.
' Bagaimana mungkin seorang pria hanya memiliki satu wanita. Hanya wanita egois yang berpikir demikian. ' Tentu saja ini hanya diucapkan Li Chenlan dalam hati.
__ADS_1
Setelah makan siang mereka yang hangat itu selesai, Li Chenlan pergi. Ekspresi wajahnya seketika berubah datar. Tak ada jejak kehangatan di wajahnya seperti sebelumnya, sungguh sangat berbeda dengan wajahnya saat bersama A Fei.
*********
Di ruang baca raja,
" Apa kau sudah menemui A Fei, putra mahkota? " Tanya raja Wei pada putranya.
Setelah bertemu A Fei, Li Chenlan menemui ayah rajanya. Selain untuk melaporkan hasil pekerjaannya, juga membahas seputar persiapan pernikahannya.
Li Chenlan menyesap tehnya sebelum berbicara. " Sudah Ayah. Kami juga baru saja menikmati makan siang bersama. "
" Baguslah. Pernikahan kalian sebulan lagi, karena itu bisakah kau akhiri hubungan mu dengan nona Fu sebelum pernikahan kalian. Aku tak ingin A Fei sakit hati saat mengetahui fakta ini lalu meminta pembatalan pernikahan. Aku juga meminta mu agar tidak mengambil selir setelah kalian menikah. Apa kau mengerti, putra mahkota? "
Li Chenlan sebenarnya keberatan dengan perintah ayahnya tersebut. Namun ia tak ingin repot-repot berdebat, tapi juga tak ingin sepenuhnya patuh.
" Aku mengerti ayah. Aku akan berusaha untuk tidak mengambil selir setelah menikah. "
' Karena aku akan mengambil selir sebelum menikah. ' Batinnya.
Raja Wei tampak puas dengan jawaban sang putra, tanpa tahu niat jahat yang sedang di susunnya di kepala.
" Tampaknya ayah sangat menyayangi A Fei. Jika orang lain melihat bagaimana perhatiannya ayah padanya. Aku yakin orang akan berpikir bahwa justru dialah anak mu bukan aku. "
Raja Wei mengerutkan keningnya heran." Apakah aneh jika aku menyayanginya? selain dia putri paman mu, A Fei gadis yang baik dan hangat. Kau pasti akan bahagia jika menikah dengannya. "
Dalam hati Li Chenlan mendengus, ' Bagaimana bisa kau menyebutnya paman saat kami bahkan tak berhubungan darah. '
Li Chenlan tahu bahwa ayahnya dan kaisar Jin tak ada hubungan darah. Meski begitu hubungan keduanya masih sangat baik layaknya saudara.
" Apakah masih ada hal lain lagi yang ingin dibicarakan, ayah? "
" Tidak ada. Kau boleh pergi. " Tangan Raja Wei melambai mengusir Chenlan.
Pria itu menatap sedih ayahnya sebelum pergi. Ada luka di matanya, ' ayah apakah kau begitu menyayangi A Fei karena ia putri wanita itu. '
Tiba-tiba Li Chenlan merindukan ibunya. Jadi ia bergegas menuju istana permaisuri. Tempat yang selalu ia kunjungi saat hatinya sedih ataupun bimbang.
__ADS_1
" Ibu, bagaimana kabar mu? " Li Chenlan segera memeluk sang ibu begitu melihat wanita yang melahirkannya itu.
Ia memperhatikan wajah ibunya yang masih tampak cantik, kulitnya juga masih kencang meski usianya hampir mencapai 40 tahun. Bahkan di antara selir ayahnya, tak ada yang lebih cantik dari ibunya. Tapi kenapa...
Rong Feiyue melihat putranya melamun. Ia tahu bahwa putranya sedang banyak pikiran saat ini. Anak laki-lakinya tersebut akan menemuinya saat pikirannya kalut ataupun suasana hatinya sedih.
" Apa kau memiliki sesuatu yang mengganggu pikiran mu anak ku? " Begitu perhatiannya Rong Feiyue dengan putranya. Satu-satunya anaknya dengan Sima Yan.
" Tidak. Aku baru saja bertemu ayah dan tiba-tiba merindukan mu bu. Karena itu aku datang kemari. Apakah aku tidak boleh menemui mu bu? "
Rong Feiyue terkekeh. " Kau sudah besar. Tidak bisakah kau bersikap lebih dewasa. Jangan merajuk seperti anak kecil dan memasang wajah seolah kau anak anjing yang terlantar. "
Li Chenlan ikut tersenyum saat lihat ibunya tertawa.
" Ibu jangan berpura-pura lagi, meskipun kau berkata seperti itu, aku tahu ibu masih menganggap ku seperti anak kecil. Apakah yang aku katakan ini salah? "
Rong Feiyue menuangkan teh pada cangkir Li Chenlan. " Di mata seorang ibu, sebesar apapun anak mereka. Ia akan selalu terlihat seperti bayi kecilnya. Begitu pun dengan ku. Aku masih berpikir bahwa baru kemarin aku melahirkan mu, tapi lihatlah sekarang, kau sudah sangat besar seperti beruang hutan. "
" Aku tahu, ibu paling menyayangi ku begitupun dengan ku yang sangat menyayangi ibu. "
" Mulut mu sungguh manis. Pantas saja banyak wanita yang terpikat dengan mu. Kau dan ayah mu benar-benar mirip. "
Li Chenlan memperhatikan ekspresi ibunya yang terlihat bahagia saat membahas tentang ayahnya. Namun ia tahu bahwa itu semua hanya fasad untuk menutupi luka dan kesedihan ibunya.
Tiba-tiba kebencian yang sudah lama tertanam di hatinya tumbuh semakin subur. Ia semakin tak sabar untuk menjalankan rencananya. Namun ia harus bersabar jangan sampai semuanya berantakan.
" Bu, apa kau menyukai A Fei? apa menurut ibu aku juga akan bahagia jika menikah dengannya, sama seperti apa yang ayah katakan pada ku? "
Rong Feiyue melihat keraguan di mata putranya. Ia menggenggam tangan Li Chenlan kemudian dengan lembut menasehatinya.
" Selain A Fei adalah putri Kekaisaran Jin. Sebenarnya ia adalah gadis yang baik. Sifatnya hangat seperti ratu, namun ia juga tegas seperti kaisar. Dia pasangan yang cocok untuk mu. Ia bisa membantu mu memimpin kerajaan sebagai permaisuri dimana depan. Jadi ibu sangat setuju jika kalian bisa menikah. Apa kau masih memiliki sesuatu yang mengganjal di hati mu, nak? "
Li Chenlan tak ingin memberitahu ibunya. Jadi Ia menggeleng sebagai respon. Lagipula jika ia memberitahu ibunya, wanita itu pasti akan kecewa padanya. Ia tak ingin membuat kecewa ibunya atau pun membuatnya sedih.
Setelah berbincang sejenak dengan ibunya. Li Chenlan memutuskan kembali ke istananya.
Di tengah jalan, ia melihat A Fei sedang mengagumi bunga di taman. Senja sore hari membuat wajahnya agak kemerahan dan itu terlihat sangat cantik di mata laki-laki itu. Untuk sesaat ia terpana. Namun dengan cepat ia menyangkal dan menemukan kembali ambisinya yang tersembunyi.
__ADS_1
' Ingatlah Li Chenlan, dialah yang akan membayar kesalahan wanita itu. ' Monolognya dalam hati.
Sorot mata yang sebelumnya penuh kekaguman dengan cepat berubah gelap. Tatapannya dingin seolah mampu membekukan siapapun yang di lihatnya.