
Sejak awal, A Feng sudah bisa menebak akan seperti apa ekspresi semua keluarganya saat ini. Tidak ada satu pun yang tidak terkejut. Bahkan sang ayah yang selalu berwajah dingin juga menunjukkan keterkejutannya.
Beruntung kedua orang tuanya tak satupun yang mengidap penyakit jantung atau jika tidak, sudah di pastikan akan ada drama duka setelah ini.
Jadi sekali lagi, A Feng mengenalkan wanita yang ada di sampingnya dan bocah dua tahun yang masih setia memeluk kaki ibunya tersebut pada keluarganya yang masih tercengang.
" Ibu ayah, dia Liu ru dan anak laki-laki ini Liu yi. " A Feng memberikan jeda kemudian melanjutkan kembali.
" Apa yang ku katakan tadi benar dan anak ini adalah putra ku. "
Hening,
Semua orang tampak masih menahan napas mereka. Dan sekali lagi, A Feng menegaskan identitas kedua orang asing itu pada mereka.
" Kakak, apakah anak mu lahir dengan cara dimuntahkan. Kenapa pertama kali melihat anak mu sudah begitu besar. " Celetuk A Fei, begitu mendapatkan kembali kesadarannya.
Sungguh kabar ini memukul kewarasan semua anggota keluarganya.
Ia masih mengamati bocah kecil yang wajahnya begitu mirip dengan saudara kembarnya tersebut. Jika sudah begini, siapa pun tidak akan ada yang menyangkal bahwa anak ini adalah putra saudaranya. Benar-benar putra Sima Feng. Kalaupun ada orang yang berani menyangkalnya. A Fei sangat yakin bahwa orang itu jika tidak bodoh maka buta.
A Fei tak tahan untuk tidak mengagumi sosok bocah itu. Begitu menggemaskan dan juga lucu. Ingin sekali ia menarik pipi bulatnya lalu menciumnya. Namun ia menahannya, tak ingin membuat bocah itu takut.
" A Fei jaga bicara mu. A Yi mendengarnya. " Ziyan menegur putri satu-satunya tersebut. Lalu ia beralih menatap bola mata jernih Liu yi.
' Ah ini cucu ku. Ternyata aku sudah menjadi seorang nenek. ' Batin ziyan.
" A Yi kemarilah. Aku adalah nenek mu dan ini adalah bibi mu. Coba kau panggil nenek .. " Bujuknya. Tangan kecil Liu Yi terulur menyambut uluran tangan ziyan.
" Nainai* ( nenek) " Patuh sekali A Yi. Ia mengikuti apa yang ziyan katakan. Membuat istri Sima rui itu semakin gemas pada batita itu. " Lucunya. "
Dikecupnya kedua pipi bocah itu. Dan saat ia akan kembali mengecup kening, sima rui terbatuk cukup keras memberikan ziyan kode agar berhenti menciumnya.
__ADS_1
Karena bagi sima rui, tidak peduli sekecil apa bocah itu, ia tetap adalah seorang laki-laki.
Tidak hanya Ziyan yang terkena virus kelucuan Liu Yi tapi juga, Sima Fei. Melihat bagaimana patuh nya bocah itu mengikuti kata-kata ibunya, membuat A Fei ingin melakukan hal yang sama pada Liu Yi.
" A Yī, Coba kau katakan Ayí. " Tekan A Fei.
" A Yī. " Ulangnya namun dengan nada berbeda. Ia justru menyebut nama sendiri.
"Bukan itu. " A Fei mengoreksi. Sayangnya Bocah 2 tahun lebih itu masih tak mengerti.
Sudahlah. Tak mungkin menyalahkan bocah dua tahun. Sedangkan menyalahkan bahasa mereka juga lebih tidak mungkin.
( note : yí dalam kata bibi menggunakan nada naik. Sedangkan Yī dalam arti satu menggunakan nada datar. )
Anak itu menatap A Fei dengan ekspresi bingung dan wajah kebingungannya justru semakin membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Jadi lagi-lagi A Fei memeluk dan mengusapkan pipinya pada pipi bulat bocah itu.
" Lupakan. Lebih baik kau di panggil Yi er. Bagaimana? apa kau menyukainya? "
Yi er mengangguk patuh dan lagi-lagi bocah itu menerima serangan cinta dari A Fei.
" Aku tidak menyembunyikannya. Aku bahkan tak mengetahui keberadaannya sebelum tanpa sengaja bertemu mereka saat perjalanan pulang. " Jujur A Feng menjelaskan. Namun kejujurannya justru membuat suasana yang sebelumnya sudah menghangat kembali jatuh ke titik beku.
Suasana mendadak hening. Pernyataan A Feng memberi kesimpulan bahwa kelahiran Liu Yi merupakan sebuah kecelakaan. Dan bodohnya sang pemilik bibit tak mengetahui bahwa salah satu benihnya telah tumbuh subur di rahim wanita lain.
Semua orang tegang. Bahkan Liu ru yang merupakan tokoh penting dalam kekacauan ini juga memilih bungkam.
Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah A Guang.
Melihat kedatangan orang baru, Liu Yi segera berlari dan kembali memeluk kaki Liu ru.
Suasana yang tegang membuat seseorang yang baru datang itu bingung. Lalu saat mengedarkan pandangannya dan melihat Liu Yi, A Guang terkekeh. Namun detik berikutnya wajahnya seolah retak karena syok.
__ADS_1
" Ayah, ibu, anak ini? " Cicit A Guang.
" Dia keponakan mu. Putra A Feng. " Ibunya menjawab dan berhasil membuat wajah putra sulungnya itu retak karena terkejut.
A Feng masih diam. Dia memperhatikan ekspresi kakaknya dan menanti pertanyaan apa yang akan dia lontarkan.
" Dia benar-benar putra mu A Feng? " Masih tidak percaya, A Guang menoleh dan bertanya pada A Feng.
Dan semakin tercengang saat adiknya itu mengangguk sebagai jawaban.
" Berapa usianya? " A Guang yang masih tercengang kembali bertanya.
Namun bagi A Feng, ia tampak seperti sedang melakukan interogasi.
" Dua tahun. " Jawabnya singkat.
" APA! " Pekiknya. "Jadi kau membuatnya saat usia mu masih 18 tahun? " Siapa yang menduga bahwa sima Feng yang dingin akan melakukan hal tak terduga saat usianya masih muda.
Dan sialnya, A Guang justru fokus pada usia A Feng saat itu. Bukan pada bagaimana hal itu bisa terjadi.
" Berhenti kak. Apakah itu masalah? kenapa kau justru fokus pada usia A Feng saat itu? seharusnya yang kau tanyakan bagaimana caranya A Feng membuat bocah yang begitu menggemaskan ini. Jadi kau bisa mencobanya dengan Kak Xu xiang saat mengetahui caranya nanti. Jadi aku bisa secepatnya memiliki keponakan baru. " Pungkas A Fei.
A Feng memutar bola matanya jengah mendengar ungkapan A Fei.
"Kalian berhenti bercanda. " Sima rui menghentikan candaan putra sulung dan putri bungsunya tersebut.
Kemudian ia melanjutkan. " A Fei bawa Yi er pergi. Ajak lah dia main. "
A Fei tahu, sudah saatnya para orang dewasa berbicara. Jadi gadis itu segera membawa keponakan kecilnya keluar untuk bermain.
" Aku tidak akan bertanya bagaimana bisa terjadi. Aku hanya ingin bertanya, bagaimana langkah mu setelah ini? " Tanya sima rui langsung.
__ADS_1
Sekilas, Sima Feng melirik Liu ru. Kemudian ia menjawab.
" Aku akan menikahinya. Aku akan bertanggung jawab terhadap mereka. Jadi ayah, ibu, tolong berikan restu kalian. " Mohon A Feng.