Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 404 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

Jinfu mengenal Arthur sebagai bangsawan kerajaan Shu dan termasuk orang terkaya di negara tersebut. Terlebih ia memiliki hubungan dekat dengan Kaisar dan Ratu Jin. Tentu ia tidak bisa sembarangan memperlakukannya.


" Itu... " Jinfu ragu harus menjawab apa. Apakah ia harus jujur bahwa ia sengaja kesini karena ingin menemui A Fei dan mengajaknya pergi keluar.


" Paman, berhenti menekannya. Kak Jinfu datang kesini karena kak A Feng yang menyuruhnya. Ada urusan yang harus kami bahas perihal masalah di kabupaten Wuyuan. " A Fei beralasan. Jujur, ia sendiri sebenarnya juga tidak tahu untuk apa Jinfu datang menemuinya.


Lega rasanya A Fei membantunya mencari alasan, pikir Jinfu.


" Benarkah? " Terlihat jelas bahwa Arthur masih tidak percaya dengan penjelasan A Fei.


Jinfu mengangguk cepat, sebelum Arthur akan kembali memberikan pertanyaan interogasi padanya. Menatap sejenak pada putra Jiang Wu tersebut sebelum Arthur mengedarkan lagi pandangannya seolah mencari sesuatu.


" Siapa yang paman cari? "


" Pengawal mu. Dimana dia? "


" Jingu? dia ada di.. " A Fei ikut mengedarkan matanya dan terkejut saat tak melihat Jingu. " Aku pikir tadi ada di belakang ku. Mungkin ia sedang ke belakang. Kenapa paman mencarinya? "


" Tidak ada apa-apa. " Arthur masih penasaran, merasa bahwa ia pernah melihat Jingu. Tapi dimana? otaknya benar-benar tidak mau bekerja sama.


Obrolan masih berlanjut meski hanya dua pihak yang terlibat. Keberadaan Jinfu benar-benar di abaikan oleh Arthur. Sebelum akhirnya arthur pamit pergi begitu pula dengan Jinfu.

__ADS_1


Jingu kembali tak lama setelah kepergian Arthur.


" Jingu, kau pergi kemana? " Tanya A Fei segera setelah melihat Jingu.


" Maaf putri, saya sedikit mulas tadi. "


" Benarkah? tampaknya perut mu selalu mulas di waktu yang tak terduga. " Sebenarnya A Fei hanya berbicara asal namun Jingu justru berpikir lain. Ia merasa kata-kata A Fei seolah memiliki maksud lain.


Rasa cemas semakin besar, takut jika A Fei sudah mengetahui penyamarannya.


' Tampaknya aku harus segera pergi sebelum penyamaran ku terungkap. ' Putus Jingu dalam hati.


Saat tengah malam, Jingu diam-diam menyelinap masuk ke kamar A Fei. Ia memandang wajah damai A Fei yang tampak pulas.


Bodohnya Jingu mengutuk dirinya yang terus saja ragu.


Sementara di istana lain tepatnya istana Sima Feng. Sang pemilik istana tersebut baru saja menerima laporan dari anak buahnya.


Informan yang pria itu kirim untuk memeriksa kampung bandit akhirnya mengirim laporannya. Sima Feng segera membacanya dengan tidak sabar, perlahan raut wajahnya yang tenang berubah tegang.


Ia meremas kertas di tangannya seolah itu adalah seseorang yang ia benci saat ini.

__ADS_1


" Bajingan itu.. beraninya! " Geram Sima Feng.


" Dimana dia? " Tanyanya pada Ling He.


" Masih di istana tuan putri, pangeran. Tampaknya malam ini dia juga menyelinap ke kamar putri. "


Wajah A Feng berubah semakin gelap. Masih diam seolah menunjukkan ketenangan sebelum badai. Meski begitu, Ling He yang berada di ruangan itu merasa suhu mendadak jatuh hingga membuat bulu halusnya merinding.


" Suruh mereka untuk tetap mengawasinya. " Titahnya.


Ia bangkit dan bergegas menuju istana A Fei. Langkahnya lembar dan cepat, membuat setiap langkah memiliki aura mencekam. Kemarahan pun tampak jelas di wajah pria yang berstatus sebagai putra mahkota itu.


Jingu mendengar langkah kaki mendekat. Ia segera keluar namun aksinya lebih dulu di lihat oleh Sima Feng. Amarahnya semakin bertambah terlebih setelah melihat Jingu yang berani-beraninya menyelinap masuk ke kamar adiknya.


Pengejaran pun terjadi. Hingga akhirnya Sima Feng mampu menyusul dan menyudutkan Jingu tanpa jalan untuk melarikan diri lagi.


" Jingu, aku pasti akan membunuh mu hari ini. " Terlihat jelas kebencian yang begitu besar di mata Sima Feng.


" Pangeran mohon maafkan saya. Saya tidak bermaksud jahat. Saya hanya ingin melihat putri, tidak lebih. Tolong percaya padaku. " Jingu tidak tahu bahwa Sima Feng mengejarnya karena alasan lain. Ia masih berpikir bahwa Sima Feng marah karena ia menyelinap ke kamar A Fei.


" Hentikan sandiwara mu Jingu, atau mungkin aku harus memanggilmu pangeran kelima. "

__ADS_1


Tubuh Jingu menegang. Tak menduga bahwa identitasnya bisa diketahui begitu cepat. Raut wajah Jingu seketika berubah. Tidak ada lagi jejak bandit, yang terlihat kini wajah dingin dan serius seorang pangeran.


__ADS_2