
Pasukan Nan berhasil di lumpuhkan. Mereka tidak menyangka bahwa rencana penyergapan yang sudah begitu matang nyatanya justru berbalik pada mereka. Pasukan Nan tertipu, ternyata semua penderitaan pasukan Jin yang terlihat selama ini hanya jebakan yang sudah di siapkan untuk melumpuhkan mereka dalam sekejap.
Begitu pasukan Nan memasuki perkemahan dan mulai menyerang, sekilas mereka tampak menguasai situasi. Namun seketika situasi berubah saat pasukan lain Kekaisaran Jin datang mengepung dan mulai menghujani mereka dengan ratusan anak panas.
Sementara ratusan pasukan Nan terluka oleh hujan panah tersebut. Pasukan Jin yang sudah memiliki persiapan bersembunyi di balik perisai lengkap dengan baju zirah besi yang membuat mereka terlindung dari serangan itu.
Dalam hitungan jam, pasukan Nan berhasil di lumpuhkan.
" Sayang sekali, meski sudah menggunakan cara licik tapi nyatanya masih tak bisa mengalahkan kami. Aku yakin harga diri kalian terluka saat ini. " Ejek salah satu pasukan Jin pada empat komandan Nan yang sudah berubah menjadi tawanan.
" Harga diri apa? mereka sudah tak memiliki itu. Terbukti dengan cara kotor yang mereka gunakan. " Lagi, ejekan terdengar dari prajurit lain.
" Itu benar. Aku tidak menyangka jika.. Heh kenapa punggung ku mendadak dingin. " Kata-kata salah satu prajurit Jin urung selesai ketika merasa aura dingin di punggungnya.
" Kau benar, aku juga merasa merinding seolah ada iblis di sekitar ku. " Timpal rekannya tanpa menyadari wajah Sima Feng yang sudah semakin gelap.
" Benar. Aku lah iblis itu. " Suara berat Sima Feng mampu membuat roh mereka melompat keluar karena terkejut.
Niat hati ingin melihat para tawanan perang, Sima Feng justru mendengar bawahannya menyebutnya iblis.
" Je-jenderal... " lirih mereka terbata.
' Ya dewa cabutlah nyawa ku saat ini. ' Tidak ada keinginan lain selain hal itu. Pikir mereka itu lebih baik dari pada harus mendapat hukuman militer dari Sima Feng.
" Hm... " Sima Feng mengabaikan salam hormat keduanya dan langsung melihat para tawanannya.
Matanya menyapu para komandan pasukan Nan yang tampak putus asa. Satu sudut bibirnya naik seolah mencibir empat pria di depannya tersebut.
__ADS_1
" Karena kalian berani meracuni prajurit ku. Maka akan ku buat kalian merasakannya. Agar kalian tahu bagaimana menderitanya mereka. "
Tak ada ampun bagi musuh. Menurut Sima Feng hutang mata dibayar mata, hutang gigi dibayar gigi. Begitu pun dengan penderitaan para prajuritnya, akan ia buat mereka merasakannya juga.
Tak hanya itu, Sima Feng juga akan memberikan 'pelayanan' lain yang akan membuat mereka berharap kematian alih-alih sebuah pengampunan. Begitu kejam memang Sima Feng. Tapi itulah yang pantas untuk mereka.
Langkah Sima Feng terhenti ketika baru saja melewati dua bawahannya yang berjaga menjaga para tawanan.
Aura Sima Feng membuat mereka tertekan, bahkan kedua kaki mereka tanpa sadar gemetar.
" Apakah kalian merasa begitu bosan untuk menjaga para tawanan ini hingga membuat kalian bisa bercengkrama dengan begitu santai tanpa merasa waspada sama sekali. Tidak kah kalian pikir mereka bisa saja melarikan diri kapan pun itu di saat kalian lengah. "
Bukan salah Sima Feng jika ia menjadi pria pendendam. Ia hanya merealisasikan ucapan bawahannya yang menganggapnya iblis.
Keduanya hanya bisa menunduk merasa bersalah. Ketika Sima Feng menegur mereka. Yakin sekali jika jenderalnya itu pasti akan memberi mereka hukuman.
" Lapor jenderal, putri Fei sudah datang. "
Gegas Sima Feng hendak menemui sang adik melupakan dia prajurit nya yang sudah bernapas lega. Dalam hati berharap agar Sima Feng melupakan hukuman mereka. Sayangnya mereka salah besar, Sima Feng tetap memberikan hukuman pada akhirnya.
" Kau sudah datang? bagaimana? apa pelarian mu menyenangkan? "
Sungguh, mendengar ucapan Sima Feng tanpa beban itu membuat A Fei memiliki niat untuk menyumpal mulut saudaranya itu dengan sepatu.
" Kau berhutang penjelasan. " Kata singkat A Fei menuntut.
Sima Feng melirik Jingu. " Dia tak menjelaskan padamu? "
__ADS_1
" Sudah, tapi aku ingin mendengar dari mulut mu juga. " Sungguh, A Fei merasa di permainkan oleh kedua pria ini. Tampaknya keduanya memiliki sifat sama, senang membuat dirinya kesal.
Sima Feng membuang napas berat sebelum akhirnya berbicara. Ia mulai menceritakan mengenai Jingu yang diam-diam datang padanya beberapa hari yang lalu dan memberitahu rencana para komandan Nan. Awalnya mereka berencana ingin menghindari jebakan itu. Namun itu hanya akan menciptakan rencana licik lain. Jadi Sima Feng memutuskan untuk membiarkan beberapa pasukannya menderita demi membuat mereka yakin bahwa rencana mereka berhasil.
Sesuai perkiraan, pasukan Nan menyerang bahkan sampai mengepung mereka dengan kekuatan penuh. Hal itu di manfaat Sima Feng untuk mengalahkan pasukan Nan secara total.
Dan begitulah akhirnya, mereka berhasil di kalahkan.
" Kenapa kau tidak mengatakan padaku? tahukah kau bagaimana takutnya aku. Memikirkan nasib mu dan seluruh prajurit. Tapi ternyata... " A Fei tertawa mengejek dirinya. " .. Semua hanya sebuah sandiwara. "
Melihat kekecewaan adiknya, Sima Feng langsung menepuk lembut kepala A Fei.
" Maaf. Bukan maksud ku untuk tidak mengatakannya. Aku hanya ingin membuat mereka percaya. Semua gerakan mu di awasi oleh mata-mata mereka. Jadi aku tidak ingin mengambil resiko. Sekali lagi maafkan aku. "
Saudaranya yang dingin minta maaf. Inilah kelemahan A Fei. Ia tak bisa marah terlalu lama jika A Feng sudah mengatakan maaf.
" Aku yakin, Jingu pasti menjaga mu. Karena itu aku tidak terlalu khawatir pada keselamatan mu. " Ucap Sima Feng tiba-tiba.
Jingu merasa alarm bahaya. Ia segera menyela dan berkata. " Itu benar. Hari ini sangat melelahkan. Aku pikir sebaiknya putri istirahat terlebih dulu. Kita bisa melakukan pembahasan ini lagi nanti setelah kau beristirahat. "
" kau benar. Istirahat lah terlebih dulu. " A Feng setuju.
" lalu bagaimana dengan prajurit yang sakit? " Niat awal A Fei, setelah dirinya berbicara pada sang kakak. Ia akan langsung mengobati para korban. Tapi sepertinya itu harus di tunda. Benar kata Jingu, Ia sangat lelah dan membutuhkan istirahat .
Diam-diam Jingu menghela napas lega. Takut sekali, jika Sima Feng sampai tahu apa yang mereka lewati tadi malam. Mungkin ia akan dibuat menjadi kasim detik itu juga. Meskipun keduanya tidak sampai sejauh itu, tapi Jingu yakin Sima Feng akan menganggap bahwa ia adalah pria mesum yang melecehkan adiknya.
Sepertinya perjalanannya mendapatkan restu keluarga besar Sima masih sangat panjang.
__ADS_1