Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 310 side story ( A Feng story)


__ADS_3

Para pelayan yang melihat kepergian Sima Feng dengan marah hanya bisa menunduk takut tanpa memberikan salam.


Salah satu dari mereka bergegas pergi untuk melaporkan apa yang terjadi pada sang ratu, Ziyan.


"Jadi mereka bertengkar dan A Feng terlihat sangat marah? " Ulang ziyan menyimpulkan laporan pelayan yang menjadi mata-matanya.


Mata Ziyan dan Sima rui beradu, seolah mengerti apa yang sedang terjadi.


" Benar Yang mulia ratu. " Balas sang pelayan penuh hormat.


" Baiklah. Terima kasih atas laporannya. Tolong tetap awasi mereka dan bantu Liu ru agar bisa beradaptasi dengan lingkungan istana. Sebagai pelayan pribadinya, aku harap kau bisa berhubungan baik dengannya. "


Sengaja, Ziyan menempatkan salah satu pelayan kepercayaannya untuk diam-diam membantu Liu ru.


" Saya akan berusaha Yang mulia. " Setelah berkata, pelayan itu mundur untuk kembali ke tempat Liu ru.


Ziyan beralih melihat suaminya yang sejak tadi diam. Meski begitu ia tetap memasang telinga mendengarkan laporan pelayan suruhan Ziyan tadi.


Tak lama beberapa pelayan datang membawa kudapan yang sebelumnya di minta oleh Ziyan.


" Kue ini sangat enak. Aku khusus meminta mereka membelinya di ibukota. Cobalah. Ini enak. " Ziyan menyodorkan piring ke depan Sima rui.


Di ambilnya satu dan menggigitnya. " Kau benar ratu ku. Ini enak. "


Ziyan tersenyum. Senang sekali jika sang suami menyukai makanan yang disiapkannya.


" Yang mulia, bagaimana menurut mu sikap A Feng? Aku takut pengendalian dirinya masih tidak cukup baik. " Begitu khawatirnya Ziyan saat memikirkan kondisi putra keduanya itu.


" Meski tidak sempurna, tapi jauh lebih baik. Aku yakin perlahan ia akan bisa mengendalikan amarahnya. "


" Ah andai saja mendiang jenderal Rong masih hidup. Aku mungkin akan memintanya untuk mengajar A Feng. Sama seperti ia mengajarkan mu dulu. " Ziyan berandai.


Sima Rui tersenyum, lalu menarik tangan Ziyan agar berdiri lalu membawanya ke pangkuannya.


" Jenderal Jiang juga tidak buruk. Ia melakukan tugasnya dengan baik. Bocah itu setidaknya berhenti menjadi mesin pembunuh. "


Ziyan mendengus kesal. " Iya benar putra kita tidak menjadi mesin pembunuh, tapi ia berubah menjadi mesin pencetak anak. Siapa yang akan menduga bahwa sifat iblis itu akan membuatnya merudapaksa seorang gadis tidak bersalah. Bahkan gadis yang menolongnya pula. "


Lalu melanjutkan, " Ah sungguh, aku malu sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Itu juga bukan sepenuhnya salah A Feng. Jika bukan karena pengaruh racun dari tanaman liar itu, ia tidak akan kehilangan kewarasannya. "


Melihat istrinya marah dan justru menyalahkan sebuah tanaman. Sima rui tak tahan untuk tidak tertawa.


" Semua itu sudah berlalu. Lebih baik kita lihat saja bagaimana A Feng menyelesaikan masalahnya. Dia bukan pria kecil lagi, berhenti mengkhawatirkannya. "


Menghela napas, Ziyan juga setuju dengan ucapan sima rui. " Baiklah. Tapi bisakah kau berbicara dengannya. Aku pikir sebagai orang tua tidak ada salahnya memberi sedikit bantuan untuknya. "


" Aku akan melakukannya. "

__ADS_1


**********


Di kamar, Liu ru masih bersembunyi di balik selimut. Sejak tadi ia hanya duduk di ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Ia masih ketakutan dengan ancaman Sima Feng. Masih terbayang dengan jelas bagaimana dinginnya sorot mata pria itu dengan aura membunuh yang terasa begitu nyata.


Kini keraguan mulai datang, apakah Ia benar-benar akan menikahi pria itu? Pria yang bisa kapan saja membunuhnya, batinnya mulai menimbang.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu yang selanjutnya panggilan dari pelayan pribadinya terdengar.


" A-ada apa? " Liu ru ketakutan mengira pelayannya datang untuk memberitahu kedatangan Sima Feng.


" Saatnya makan malam nona. Jadi anda harus bersiap pergi ke istana ratu untuk makan malam bersama. " Jelasnya.


Makan malam?


Tahu kedatangan pelayan karena alasan lain, Liu ru memintanya masuk.


" Apakah makan malam selalu di istana ratu? " Tanyanya karena merasa aneh. Setahu dirinya orang-orang istana biasanya makan malam di istana masing-masing.


Pelayan yang sedang sibuk mengganti pakaian dan merapikan rambut Liu ru itu tersenyum. " Tidak setiap hari. Hanya saat sarapan mereka akan makan bersama. Namun khusus hari ini, Yang mulia ratu mengajak semua anggota keluarga makan bersama karena beliau ingin menyambut kedatangan anda dan pangeran kecil. "


Liu yi karena memiliki darah Sima, secara otomatis langsung menjadi anggota kerajaan dan segera ia dianugerahi status sebagai Pangeran, cucu kaisar. Sedangkan Liu ru, saat ini hanya sebagai ibu pangeran. Jadi ia tetap dipanggil nona. Bukan putri permaisuri atau istri pangeran.


" Sang ratu sungguh sangat baik. Aku merasa keluarga ini sangat hangat. "


" Anda juga bisa merasakannya? Dari semua keluarga kerajaan, mungkin keluarga ini yang sangat harmonis tanpa ada persaingan tahta di dalamnya. "


Mendengar ucapan pelayan pribadinya, Liu ru tiba-tiba teringat dengan ucapannya pada Sima Feng sebelumnya.


Mungkinkah ucapan ku sudah menyinggungnya, karena itu ia terlihat sangat marah? Pikirnya masih pada kejadian menakutkan tadi.


" Hm...Xiao Su. Itu nama mu bukan? " Tanya Liu ru dan dijawab anggukan oleh Xiao Su. " Apa hubungan pangeran Feng dan semua saudaranya baik? " Hati-hati sekali Liu ru bertanya.


Masih dengan senyum, Xiao Su menjawab. " Semua keluarga Sima berhubungan baik. Tidak hanya sesama keluarga inti, bahkan dengan keluarga kaisar agung juga sama. " Terlihat jelas kebanggaan di mata Xiao Su saat menceritakan tentang keluarga tuannya tersebut.


Sekilas dari apa yang diceritakan oleh Xiao su, sama dengan rumor yang selama ini di dengar oleh Liu ru. Bahwa keluarga Sima sangat harmonis.


Ada setitik rasa syukur, mengetahuinya jika putranya akan tumbuh di keluarga yang begitu penuh kehangatan ini.


" Nona, pangeran Feng datang menjemput anda. "


Deg!


Tiba-tiba tubuh Liu ru menegang saat mendengar suara pelayan yang menyebutkan nama seseorang yang belum lama ini membuatnya ketakutan.

__ADS_1


' Gawat gawat gawat. Bagaimana ini? Apakah aku harus pergi dengannya? Aku tidak mau. Aku takut sekali. Lihatlah kaki ku bahkan terus gemetar karena tahu ia akan berjalan bersama pria menakutkan itu. ' Liu ru menjerit menolak keras dalam hati. Ia meremas kuat tangannya karena rasa panik yang tiba-tiba datang menyerang.


" Anda tegang sekali nona. Pasti karena anda sudah tidak sabar berjalan bersama pangeran. " Goda Xiao Su tanpa tahu bahwa yang di ucapannya berbanding terbalik dengan fakta sebenarnya.


' Tidak sabar kentut mu. Apakah aku terlihat begitu menginginkan berjalan bersamanya. Tidakkah kau lihat bahwa tegang ku bukan karena gugup tapi karena takut. ' Lagi-lagi, Liu ru hanya bisa memaki dalam hati.


Ia tersenyum kaku, " Ayo kita berangkat. " Menghela napas, dan kemudian melangkah keluar.


Mendengar pintu terbuka, Sima Feng menoleh.


Deg.


Tiba-tiba Mata keduanya bertemu, dan A Feng terperangah. Liu ru dengan riasan tipisnya membuatnya terlihat semakin cantik. Membuat A Feng merasa sungkan untuk melepas pandangannya.


Keduanya saling berpandangan mengabaikan keberadaan Xiao su dan Lin hen di sana.


Ah keduanya bagaikan udara yang tak kasat mata. Begitulah yang dipikirkan kedua orang yang di abaikan itu.


" Ehem..." Lin He berdehem menyela. Membuat baik Liu ru maupun A Feng tersentak dan langsung membuang muka mereka.


Sima Feng merasa kesal, dan langsung memberikan tatapan tajam pada Lin he. Entah kenapa ia tidak suka dengan tindakan pengawal pribadinya itu.


Sedangkan Lin He tak sadar atas kesalahan yang baru saja Ia lakukan. ' Kenapa pangeran menatap tajam padaku? apakah aku membuat kesalahan?' Batinnya.


" Yang mulia, kita harus segera berangkat. " Lin he mengingatkan mengabaikan kebingungan batinnya.


Tanpa sadar A Feng merasa gugup sendiri saat kembali melihat ke arah Liu ru. Dan untuk menutupinya, ia berusaha tetap menampilkan wajah datar dengan aura dingin.


' Lihatlah. Wajahnya begitu lempeng. Apa dia masih marah dengan ucapan ku tadi. ' Monolog Liu ru dalam hati.


Salah paham kan jadinya.


Keduanya berangkat ke istana dalam hening. Sibuk dengan kegugupan masing-masing. Mungkin hanya sima Feng yang merasa gugup, sedangkan Liu ru justru was-was takut jika sima Feng kembali mengamuk.


Sesekali Sima Feng melirik Liu ru. Ia mengernyit saat melihat wajah wanita itu.


' Kenapa dengan wajahnya? apakah ia sedang menahan dan terlalu malu untuk mengatakannya? ' Pikir Sima Feng.


" Ingat kak, kau harus lebih perhatian. Bagaimana pun ia calon istri mu, dan ibu dari putra mu. " Teringat pesan yang diberikan oleh Sima Fei padanya.


Sudah diputuskan. Jadi A Feng menghentikan langkahnya. Lalu menoleh pada Liu ru.


Wanita itu sedikit terkejut karena A Feng berhenti secara tiba-tiba. " A-ada apa? " Tanyanya terbata.


" Wajah mu kaku sekali. Jangan menahannya. Lebih baik kau pergi ke toilet sekarang. Sebelum kita masuk kedalam. Aku akan tetap di sini menunggu sampai kau selesai. "


Liu ru tercengang. Tidak bisa berkata-kata dia saat Sima Feng mengira dirinya sedang menahan untuk pergi membuang hajat.

__ADS_1


********


__ADS_2