
Saat ini A Fei bersama kepala desa sedang memantau ladang untuk melihat hasil setelah pemberian anti hama. Namun tiba-tiba datang pasang suami istri dengan wajah panik.
" Kepala desa tolong kami. Putra ku hilang dan masih belum ditemukan sampai sekarang. " Adu wanita itu pada kepala desa.
" Apakah kau sudah mencarinya? "
" Sudah. Terakhir terlihat ada di tepi hutan ketika bermain bersama teman-temannya. Aku sudah bertanya pada salah satu temannya. Mereka berkata bahwa ia melihat seekor kelinci dan ingin menangkapnya. Jadi ia masuk ke dalam hutan seorang diri. " Wanita itu kembali menangis begitu selesai menjelaskan kronologi kejadian sebelum sang putra menghilang.
Sang suami dengan sabar menenangkan istrinya yang menangis karena khawatir. Meski tampak lebih tegar, nyatanya A Fei masih bisa melihat gurat kesedihan di mata pria itu.
" Nyonya, kau tenang saja. Aku akan meminta petugas setempat untuk membantu mencari. " Ujar kepala desa.
A Fei melihat kepala desa, " Kepala desa, kita bisa minta beberapa pria dewasa untuk membantu pencarian. Aku juga akan meminta beberapa pengawal untuk membantu. Semakin banyak orang mencari akan semakin cepat kita menemukan anak itu. " Lalu melihat pada pasangan suami istri itu. " Kalian tenang saja. Aku juga akan mencari putra mu. "
" Terima kasih putri, terima kasih..." lagi, wanita itu menangis haru ungkapkan rasa terima kasih.
Pencarian pun akhirnya dimulai. A Fei pun ikut turun tangan mencari. Namun semangatnya perlahan menguap karena keberadaan dua orang.
" Bisakah kalian berdua mencari di tempat lain? kenapa kalian justru mengikuti ku? " A Fei kesal karena Jingu dan Jinfu yang terus mengekor padanya.
" Tidak putri. Aku adalah pengawal mu. Sudah tugas ku untuk melindungi mu. Karena itu hal yang wajar jika aku mengikuti mu. Berbeda dengannya, saat ini kau sedang tidak bekerja jadi kau tidak memerlukan seorang asisten. " Tolak Jingu, lalu beralih melihat Jinfu. " Jadi tuan muda Jiang, lebih baik kau mencari ditempat lain. Jangan khawatirkan keselamatan putri karena ia aman bersama ku. "
" Aku.. " Belum juga Jinfu membela diri, A Fei sudah lebih dulu menyela.
" Benar apa yang dikatakan Jingu. Akan sangat cepat bila kita berpencar. Kak Jinfu, kau bisa mencari bersama Xiao Er. Bagaimana? "
Tak ada alasan untuk menolak, akhirnya Jinfu setuju meski terpaksa. " Baiklah. Tolong untuk selalu berhati-hati putri. "
__ADS_1
Bagaimana pun juga, Jinfu sudah berjanji pada Sima Feng untuk menjaga A Fei. Jika sampai hal buruk terjadi. Ia yakin pria itu akan memberikan mimpi buruk padanya.
Setelah itu mereka berpisah dan mulai mencari di tempat berbeda. Namun saat sedang fokus mencari, sekelompok pria berpakaian hitam menghadang A Fei.
Jingu dengan cepat menarik A Fei ke belakang. Badannya yang menjulang langsung melindunginya.
" Putri, Hati-hati. Aku akan mencoba menghalau mereka. Ketika mereka sibuk, kau pergilah. Larilah sejauh mungkin. Para penjaga bayangan akan melindungi mu. " Bisik Jingu.
A Fei tahu ia memiliki empat penjaga bayangan yang setia mengawasinya. Jadi meskipun ia ragu untuk meninggalkan Jingu seorang diri melawan kelompok itu. Ia tidak memiliki pilihan lain. Ia hanya berpikir untuk lari dan meminta bantuan secepat mungkin.
Jadi ia mengangguk setuju dan tidak lama kemudian pertarungan pun di mulai. Di saat para musuh sedang fokus melawan Jingu, A Fei perlahan mundur dan lari.
" Jangan mati, aku akan segera membawa bantuan untuk menyelamatkanmu. " Teriak A Fei sebelum pergi.
Sudut mata Jingu melihat para penjaga bayangan juga pergi mengikuti A Fei. Lega, karena kini wanita itu sudah aman.
Pertarungan masih berlanjut, Jingu sama sekali tidak mengurangi kekuatannya. Meski kemampuan Jingu tidak sekuat Sima Feng tapi jika untuk melawan kelompok tersebut ia masih sangat mampu.
" Katakan, kenapa kalian bergerak sekarang. Bukankah sudah ku katakan untuk tidak bergerak. Apa kalian ingin Sima Feng curiga. "
" Maaf pangeran. Tapi Kaisar meminta kami untuk bergerak. Yang mulia berkata bahwa anda terlalu lama bergerak dan Yang mulia tak menyukai itu. Ia tidak sabar untuk segera melakukan penyerangan. "
" Tapi tidak saat ini. Kekaisaran Jin saat ini sedang dalam posisi waspada. Menyerang saat ini sama saja dengan bunuh diri. Katakan pada ayah untuk sedikit bersabar. Menunggu sedikit lama lebih baik dari pada kekalahan besar. Bahkan ia tak keberatan menunggu puluhan tahun. Jadi beberapa hari kenapa itu menjadi begitu berat? "
"Baik pangeran, akan kami sampaikan. "
Setelah berkata, para pria berpakaian hitam itu segera menghilang. Namun yang tidak Jingu ketahui ialah ayahnya, kaisar Nan sudah mengirim kelompok lain untuk menyerang A Fei. Ia sudah menduga bahwa putranya akan membelok dan justru melindungi wanita itu.
__ADS_1
A Fei tak pernah menyangka bahwa hari ini akan menjadi hari terburuk lain setelah penculikan itu. Masalah dengan mantan suaminya yang posesif selesai. Kini berganti dengan para pembunuh yang mencoba mengambil nyawanya.
Dan yang terparah adalah kantong tempat ia menyimpan racun terjatuh entah dimana. Sungguh sial nasib A Fei hari ini.
Sayangnya A Fei tak memiliki waktu untuk mengeluh. Ia berusaha keras berlari setelah empat penjaga bayangannya berusaha keras melawan kelompok tersebut.
" Ada berapa banyak sebenarnya yang mereka kirim. Kenapa kelompok itu tak ada habisnya. " Sungguh, A Fei sudah sangat lelah.
Kakinya lemas hingga bergetar ketika berhenti. Disaat ia berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang sudah sekarat, ia melihat ada sebuah gua.
Matanya berbinar, akhirnya ia menemukan tempat untuk beristirahat dan mengisi kantong paru-parunya dengan oksigen.
Dengan semangat ia menyeret kaki lelahnya yang begitu berat seolah keduanya sudah berubah menjadi bongkahan semen yang mengeras. Namun nasib baik tampaknya belum berpihak pada gadis itu.
Keberadaan seekor ular tak terlihat oleh A Fei dan gerakan gadis itu seolah menjadi provokasi binatang berdarah dingin itu. Dengan cepat ular itu mematuk kaki A Fei dan pergi begitu saja setelah menyalurkan racunnya.
" Argh!!! " Ia terjatuh ke tanah.
" Ah sial. kenapa malang sekali nasib ku hari ini. " A Fei mengutuk semua kemalangan yang terjadi hari ini. Ditengah mulutnya yang terus memaki dan mengumpat, tangannya sibuk mengikat kakinya agar racun ular itu tidak menyebar. Ia melakukannya dengan cepat.
Tanpa sadar air matanya mulai merembes keluar, membentuk genangan di pelupuk mata. Entah karena efek racun atau lelah, ia berubah menjadi gadis lemah.
" Duh.. bagaimana ini. Aku hanya memiliki waktu kurang dari tiga jam. Aku tak rela jika harus mati sekarang. Aku tidak keberatan jika mati dengan status janda tapi setidaknya aku ingin mati di tengah-tengah keluarga ku tidak sendirian di dalam gua ini. Jika aku benar-benar mati sekarang, aku pasti akan menjadi hantu kesepian. "
A Fei mulai melindur, meracau tidak jelas. sesungguhnya ia sedang menghibur diri sendiri di tengah rasa putus asanya.
Kakinya yang mulai mati rasa membuatnya kesulitan bergerak. Ah jangankan untuk berjalan, untuk bergerak saja terasa sulit.
__ADS_1
Hiks hiks..
Ditengah sunyinya gua, isak tangis A Fei terdengar menakutkan. Jika anak kecil mendengarnya mungkin ia berpikir ada hantu di tempat tersebut.