Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 258 Side story ( A Guang story)


__ADS_3

" Kau tidak pulang ke rumah mu? " Tanya A Guang pada Na li yang masih diam tanpa mengepak pakaiannya.


A Guang merapikan barang yang hendak di bawanya pulang. Besok adalah pesta ulang tahun kedua adik kembarnya, Sima Feng dan Sima Fei. Sebenarnya ulang tahun mereka masih dua minggu lagi. Namun karena permintaan A Fei yang ingin merayakan pesta ulang tahunnya bersama dengan pangeran wei, acaranya itu pun akhirnya di percepat.


" Tidak. Aku akan tinggal di asrama. "


" Benarkah? apa tidak membosankan tinggal di asrama sementara teman yang lain kembali ke rumah? "


" Tidak juga. Kepergian mereka justru memberikan ketenangan dan aku cukup menyukainya. " Ucap Na li beralasan.


Sebenarnya A Guang ingin bertanya kenapa wanita itu tak pernah sekalipun kembali ke rumahnya. Namun dirinya segan, dan merasa itu bukan wilayahnya untuk ikut campur. Jadi A Guang hanya mengangguk mengerti.


Junyi yang bertugas menjemput A Guang sudah siap di depan gerbang akademi.


" Paman junyi, sebenarnya kau tak perlu menjemput ku. Aku bisa pulang sendiri. " Ucap A Guang sembari menyerahkan barangnya pada junyi.


" Kau selalu mengucapkan kalimat yang sama Yang mulia. Tapi saat aku terlambat datang, kau selalu menunggu ku. Jadi dari pada aku tidak datang dan membiarkan kau menunggu seharian lebih baik aku tetap menjemput mu. " Ungkap junyi mengingatkan tuan mudanya tersebut.


A Guang salah tingkah kala diingatkan dengan hal yang cukup membuatnya malu.


" Ehem. Sudah lah. Ayo kita jalan. " A Guang menyudahi pembicaraan yang mengungkit kekonyolannya tersebut. Bergegas naik ke dalam gerbong kereta.


Kereta kuda A Guang tiba di istana. Segala persiapan perjamuan membuat semua pelayan tampak sibuk.


" Kau sudah tiba, putra ku. " Ziyan menyambut kedatangan A Guang dengan sebuah pelukan.


Meski baru seminggu yang lalu mereka bertemu. Tetap saja, ziyan begitu merindukan putra sulungnya tersebut.


" Ibu aku merindukan mu. " Kata A Guang membalas pelukan sang ibu.


" Bagaimana perjalanan mu? "


" Bu, pertanyaan mu seperti aku baru saja datang dari tempat jauh. Aku hanya kembali dari akademi bukan dari kerajaan tetangga. " seloroh A Guang.


Ia tahu bahwa yang di maksud ibunya bukanlah benar-benar tentang perjalanannya melainkan tentang kehidupan akademi setelah kejadian minggu kemarin.


" Ibu tenang saja, semuanya aman. Aku yakin selama seminggu ini, kedua orang itu pasti sudah merasakan akibat dari perbuatannya. "


Ziyan mengangguk puas.


Kedatangan pelayan yang membawa kudapan untuk keduanya membuat pembicaraan terhenti sejenak.


" Terima kasih. Kalian bisa keluar. " Titah ziyan.


Setelah semua pelayan pergi. Ziyan kembali membuka suaranya.

__ADS_1


"Kau sudah menyiapkan kado untuk kedua adik mu. " Tanya ziyan tiba-tiba.


Tubuh A Guang mendadak kaku. Kue yang dipegangnya jatuh. Pertanyaan ibunya berhasil membuatnya tersadar bahwa ia sudah melupakan sesuatu yang penting.


A Feng mungkin tidak mempersalahkannya, namun berbeda dengan A Fei, yang akan menekuk wajahnya jika ia melupakan hadiah untuk nya dan parahnya lagi menolak berbicara selama berhari-hari.


Pernah sekali A Guang melupakan hadiah untuk adik perempuannya itu. Dan setelahnya, gadis itu mendiamkannya sama sekali tidak mengajaknya bicara. Setelah usaha keras yang di lakukan A Guang untuk membujuk A Fei. Akhirnya ia berhasil juga meluluhkannya. Barulah setelah itu ia tahu bahwa bagi A Fei hadiah memiliki makna sebagai bentuk perhatian dari anggota keluarganya. Jadi tidak peduli nilai hadiah tersebut, yang terpenting adalah ketulusannya.


" Kau tidak perlu menjawabnya. Dari reaksi mu, ibu sudah tahu bahwa kau melupakannya. "


A Guang hanya meringis mendengar ucapan sang ibu yang begitu menohok tepat menusuk jantungnya.


" Bu, aku hanya belum menyiapkannya bukan berarti aku melupakannya. Aku berencana akan pergi ke ibukota setelah ini. " A Guang beralasan.


" Baguslah jika kau tidak lupa. Jangan sampai kejadian saat itu terulang lagi. "


A Guang menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk sebuah lingkaran sebagai tanda oke.


*******


A Guang menatap nanar toko di depannya.


Sesuai janjinya pada sang ibu. Ia tidak akan melupakan kado untuk sang adik. Karena itu lah saat ini ia sedang berada di depan toko aksesoris terbesar di ibukota.


" Paman. Bisakah kau masuk dan belikan beberapa aksesoris untuk ku. Lihatlah! bagaimana bisa aku masuk jika ada lautan wanita di sana. Bukankah kedatangan ku akan sangat kontras dan menarik perhatian. " Adu A Guang.


" Tentu saja berbeda. Jika aku yang masuk, maka bisa dipastikan pandangan para wanita di sana akan berubah menjadi tatapan lapar bak hewan buas yang siap menerkam mangsanya. Sedangkan jika paman yang masuk, aku sangat yakin bahwa tak kan ada seorang pun yang akan melirik paman. " Jelas Sima Guang yang sukses membuat junyi mimisan karena kesal.


Tahu semua alasan tidak akan berguna. Maka junyi hanya bisa menggunakan nama A Fei.


" Yang mulia. Aku tidak masalah masuk dan membelikan anda aksesoris. Tapi jika putri sampai tahu bahwa hadiah yang diberikan untuknya bukan anda sendiri yang memilih. Aku yakin sekali ia akan sangat sedih. Bukankah anda tahu sendiri bila yang terpenting bagi putri adalah ketulusannya. "


Bayang-bayang ayahnya murka muncul. Jika ia sampai membuat A Fei menangis maka ayah dan juga A Feng pasti akan langsung memukulinya.


" Sudah. Jangan kau ingatkan aku lagi. Baiklah aku akan masuk sendiri. " Terpaksa A Guang masuk.


Ia menelan ludah kasar saat melihat kerumunan wanita di depannya. Lalu dengan langkah amat berat berjalan memasuki toko.


Napas A Guang seolah terhenti saat pandangan para wanita mengarah padanya. Seperti lampu sorot, tiba-tiba ia merasa menjadi pusat perhatian. Bahkan mendadak tubuhnya membeku membuat langkahnya kaku seperti boneka kayu.


Dari kejauhan, junyi dengan sangat keras mencoba menahan tawanya.


' Ternyata tuan muda ku begitu polos. ' Pikirnya.


Tanpa membuang waktu, A Guang bergegas memilih aksesoris yang menurutnya cocok untuk A Fei. Sebuah aksesoris perak berbentuk daun.

__ADS_1


Dengan langkah kakinya yang panjang ia segera menuju kasir.


Di bawah tatapan lapar wanita yang terpesona dengan ketampanan A Guang. Ia mencoba bersikap acuh tak acuh meski dalam hati gemetar. Baginya mereka lebih menakutkan dari pada para bandit yang bisa dengan mudah ia kalahkan.


Saat matanya mencoba mencari kesibukan dengan menatap arah lain. A Guang sekilas melihat sosok yang dikenalnya.


' Bukankah itu Na li? ' Batin A Guang ragu.


Saat ingin memfokuskan pandangannya, seorang wanita paru baya yang ada di belakang A Guang menepuk pundaknya.


" Pria tampan, apa kau tidak ingin membayar? lihatlah, orang di depan mu sudah selesai. " Lalu mengedipkan matanya.


A Guang merasakan geleyar aneh yang membuat seluruh badannya merinding kala menerima kedipan wanita itu.


" Ma-maaf. " Dan segera A Guang menyelesaikan pembayarannya.


Tak ingin berada lebih lama di tempat itu. A Guang segera melangkah keluar.


Di depan pintu keluar, A Guang lagi-lagi melihat sosok mirip dengan Na li, namun dengan memakai pakaian wanita.


" Apakah itu wujud Na li yang sesungguhnya. " Gumam A Guang.


Tidak ingin ketinggalan jejak. A Guang segera mengikuti. Bahkan karena terlalu fokus, A Guang sampai tak mendengar panggilan junyi.


A Guang terus mengikuti langkah Na li hingga akhirnya ia tiba di sebuah paviliun cukup besar bernama 'Lianhua'.


" Tempat apa ini? " Tanya A Guang pada diri sendiri.


Saat A Guang ingin melangkah masuk. Seseorang menepuk pundaknya.


A Guang tersentak dan menoleh.


" Paman junyi? apa yang kau lakukan disini? " Karena terlalu fokus mengikuti Na li, A Guang sampai melupakan keberadaan Junyi.


" Seharusnya aku yang bertanya pada anda Yang mulia? apa yang sedang anda lakukan disini? apakah karena anda sudah terlalu tidak sabar hingga melupakan keberadaan ku. "


" Aku memang sudah tidak sabar. Aku ingin masuk kedalam. Baru saja aku lihat salah satu teman ku masuk. Kenapa? "


A Guang melihat reaksi junyi yang terlihat aneh.


" Anda ingin masuk ke sana? Astaga Yang mulia. Jika anda menyukai kegiatan tersebut tak perlu sampai datang ke tempat ini. Anda hanya perlu memanggil mereka dan meminta mereka datang ke istana. Lagi pula ini masih siang, bahkan meskipun anda seorang putra mahkota.Tidaklah pantas jika anda bermain dengan mereka di siang hari. "


" Apa maksud mu paman Junyi? memanggil mereka? siapa yang kau maksud dengan mereka? " A Guang masih tak mengerti dengan arah pembicaraan junyi.


" Mereka yang aku maksud ya tentu saja para pelacur. Lianhua adalah tempat pelacuran terbesar di ibukota. "

__ADS_1


Kedua mata A Guang terbelalak. Bahkan mulutnya terbuka lebar sembari menoleh pada bangunan megah di depannya.


__ADS_2