
Sima Feng selalu berhati-hati. Karena itu ia tahu bahwa seseorang tengah menguping pembicaraan mereka. Ia menarik pedang lalu menusuk salah satu jendela sampai pedang itu menembus keluar.
Pria itu bisa mendengar teriakan terkejut seseorang dan detik selanjutnya teriakan itu berubah menjadi umpatan.
" Sima Feng apa kau ingin membunuh saudari mu, hah? " Sengaja wanita itu marah untuk menutupi kejahatannya karena menguping pembicaraan mereka.
Gegas Sima Feng membuka jendela untuk menemukan A Fei yang tampak marah menatap tajam padanya.
" Aku tidak tahu itu kau. Lagipula untuk apa kau berdiri di sini seolah kau sedang mencuri dengar percakapan orang lain. "
A Fei tergagap. " Ja-jangan sembarangan menuduh. Siapa pula yang menguping pembicaraan mu. Aku hanya penasaran dan tidak sengaja mendengarnya. " Kata A Fei beralasan.
Namun ketika melihat Sima Feng tetap diam dengan tatapan seolah mengejek. Ia segera menepuk mulutnya.
Bodoh! ketahuan juga kan akhirnya. Rontok sudah harga dirinya dimata Sima Feng, tahu dirinya benar-benar melakukan tindakan tercela itu.
" Baiklah. Aku akui, aku memang menguping. Tapi bukan itu masalah. Cepat katakan apa maksud ucapan mu tadi. Jangan coba mengelak atau berbohong padaku. "
Sima Feng tak ada pilihan lain selain menjawab pertanyaan A Fei. Ia tahu percuma saja menghindar disaat wanita ini memiliki rasa penasaran tinggi. Saudaranya itu akan bertingkah layaknya binatang karnivora yang menggigit mangsa dan enggan melepaskannya sebelum mangsanya tersebut lemah tak berdaya.
" Kita bicara di dalam. "
Begitu masuk ruangan, A Fei melihat bawahan Sima Feng yang tadi di lihatnya itu memberikan hormat padanya kemudian kembali menunduk.
" Kau boleh pergi. " Sima Feng meminta bawahannya untuk pergi. Memberikan ruang bagi dirinya dan A Fei untuk berbicara.
" Sekarang katakan! " Desak A Fei tidak sabar. Kedua tangannya terlipat di depan mirip sekali dengan atasan yang mengawasi kerja bawahannya.
Wajah Sima Feng yanga awalnya biasa saja berubah serius. Sembari bicara ia juga memberikan catatan informasi mengenai keberadaan A Guang.
A Fei membaca sekilas bersamaan telinganya mendengarkan penjelasan saudaranya.
" Baru saja aku mendengar laporan bahwa kak A Guang sebenarnya masih hidup. "
Hah?
Mungkin itulah tanggapan A Fei saat ini. Kosong seketika isi kepalanya.
Sunyi,
A Fei masih tak bereaksi, wajahnya juga masih datar. Detik selanjutnya barulah ia tertawa kecil seolah ia baru saja mendengarkan sebuah lelucon.
Dibantingnya kertas di tangannya ke atas meja. " Itu tidak lucu. Aku tidak suka dengan lelucon mu ini. "
" Aku berkata sungguh-sungguh. Aku akan membicarakan ini pada ayah dan memintanya untuk diam-diam membongkar makam kak A Guang. "
Terserah A Fei percaya atau tidak. Sima Feng hanya memberitahu apa yang ia ketahui dan akan ia lakukan.
" Membongkarnya? apakah itu harus? " Jujur A Fei kurang setuju dengan langkah tersebut. Ia takut informasi ini salah dan justru mengganggu peristirahatan terakhir kakaknya.
Tapi melihat wajah seriusnya, A Fei kini hanya bisa yakin bahwa saudara kembarnya itu sedang tidak bercanda.
" Bagaimana bisa? " Gumam A Fei yang masih bisa di dengar oleh A Feng. Terlihat jelas ia sedang terguncang bukan karena mendengar kabar buruk tapi justru kabar bahagia yang masih sulit untuk ia percaya.
" Aku tidak yakin, tapi ini mungkin ada hubungannya dengan Jingu. Fakta ini aku temukan setelah secara diam-diam mengikuti putra mahkota Nan yang ternyata berhubungan dengan Jingu. "
Jingu!
Nama yang akhir-akhir ini selalu mengganggu pikiran A Fei.
" Jadi, menurut mu apakah Jingu ada hubungannya dengan hidupnya kak A Guang? " Tanya A Fei ragu-ragu.
" Itu masih belum pasti, tapi kita akan segera tahu setelah aku menyelidiki semuanya. "
Jauh di dalam hati, A Fei sangat berharap apa yang di pikirannya saat ini benar-benar terjadi.
Sima Feng segera menyampaikan informasi itu pada kedua orang tuanya. Bahkan tanpa menunggu lama, mereka segera melakukan pembongkaran makam A Guang.
Kosong.
__ADS_1
Tak ditemukan kerangka atau apapun jejak mayat A Guang di sana. Hal itu membuktikan bahwa laporan bawahan Sima Feng itu kemungkinan besar benar.
Ziyan begitu bahagia, ia sampai menangis. Tidak menyangka bahwa akan ada keajaiban yang membuatnya kembali bersatu dengan putra sulungnya itu.
" Suami ku, aku ingin bertemu A Guang. " Tidak sabar rasanya bertemu sang putra.
" Kita akan segera bertemu. Tapi tidak sekarang, saat ini dia berada bersama putra mahkota Nan. Entah apa yang bisa ia lakukan pada A Guang jika kita berbuat nekat. Kita masih belum mengetahui motif kenapa putra mahkota Nan menyembunyikan A Guang selama ini. " Jelas Sima Rui pada sang istri meski sangat sulit rasanya menolak permintaan wanita yang dicintainya itu.
Mereka tidak boleh gegabah. Masih belum jelas, putra mahkota Nan ini lawan atau kawan. Tapi satu yang Sima Rui yakin bahwa kemungkinan besar ada hubungannya dengan perang yang akan segera terjadi.
Karena itu dengan alasan keberangkatan menuju perbatasan negara Nan. Sima Rui meminta putranya untuk diam-diam menemui Putra Mahkota Nan. Ia secara khusus meminta Sima Feng sendiri untuk menemui putra mahkota Nan berharap agar ia mengerti jika mereka tidak memiliki maksud lain selain untuk melakukan negoisasi.
Sima Feng meminta salah satu penjaga bayangan untuk sementara waktu menggantikannya bersama Ling He yang menemani sang pengganti menuju Perbatasan. Hal itu dilakukan agar tak ada seorang pun yang curiga.
Sima Feng memacu kudanya sangat cepat, bersama dengannya di belakang mengikuti Xiao Wen, pengawal A Guang sebelumnya.
Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya mereka tiba di sebuah rumah kecil.
A Feng turun dari kuda, matanya mengedar ke sekeliling.
Baru selangkah memasuki pekarangan, sebuah anak panah meluncur dan menancap tanah tepat di samping kakinya. Andai ia berjalan lebih maju sedikit saja, tidak sampai satu senti dan benda itu benar-benar akan menancap punggung kakinya.
" Keluarlah. Aku datang bukan sebagai musuh. "
Dan tidak lama keluarlah seseorang, itu bukan A Guang.
Dia tersenyum lalu berjalan mendekat. " Aiyo.. Putra mahkota Kekaisaran Jin, Sima Feng. Sudah lama aku menunggu mu. Akhirnya kau datang juga. Aku yakin salah satu anak buah mu pasti sudah memberitahu mu. Maaf juga atas sambutan yang sangat hangat ini. "
Ya, putra mahkota Nan tahu bahwa dirinya sedang di ikuti. Setelah memastikan bahwa orang itu mata-mata Sima Feng, ia pun sengaja membiarkannya.
" Kau putra mahkota Nan? dimana kakak ku? " Terus terang sekali Sima Feng tidak peduli dengan 'sambutan hangat' Putra Mahkota Nan.
" Dia ada di dalam. Masuklah. "
A Feng segera masuk dan langsung di antar menuju ruang makan.
" A Feng, kau akhirnya datang juga. " A Guang tak tahu harus berkata apa. Entahlah, ia bingung bagaimana mengungkapkan rasa rindunya.
Sima Feng masih tidak menjawab. Perlahan ia berjalan mendekat. Kakinya masih sedikit gemetar. Saat tepat di depan A Guang, tanpa ada keraguan, A Feng langsung memeluk sang kakak.
A Guang menepuk pelan punggung adiknya tersebut yang tampak bergetar.
A Feng menangis. Meski tak bersuara, tapi A Guang tahu adik yang selalu berwajah dingin itu kini sedang menangis.
Kakaknya, sosok yang menjadi panutannya setelah sang ayah akhirnya kembali.
" Kakak.. Syukurlah kau masih hidup. " Suara Sima Feng terdengar parau.
A Feng tak ingin banyak bertanya saat ini. Ia hanya ingin kakaknya, A Guang tahu bahwa ia sangat bahagia karena sang kakak sudah kembali, hidup kembali.
" Terima kasih kak sudah kembali hidup. Terima kasih. "
Setelah beberapa saat momen melepas rindu tersebut. Kini Sima Feng bersama putra mahkota Nan duduk saling berhadapan.
" Jadi apa yang kau inginkan? " Tanya Sima Feng langsung.
Jika itu orang lain, mungkin akan merasa tertekan dengan aura mendominasi Sima Feng. Tapi Putra Mahkota Nan masih tampak tenang seolah tak terpengaruh sama sekali. Kuat sekali mentalnya, mungkin karena terlalu sering mendengar cacian ayahnya.
Ia terkekeh mendengar pertanyaan langsung Sima Feng. Dituangkannya teh kedalam cangkir Putra Mahkota Jin itu, " Minumlah. Kita bisa berbicara secara perlahan. "
Sima Feng mengambil cangkir tersebut dan langsung menenggaknya.
Putra mahkota Nan terkekeh, " Sepertinya kau tidak bisa menikmati seni minum teh, Yang mulia. " Sima Feng masih diam.
Putra mahkota Nan kembali berbicara. " Seperti menyeduh teh. Jika daun teh terendam terlalu lama, air teh yang di hasilkan akan terasa pahit. Begitu pula jika sebaliknya. Jika kita merendamnya terlalu cepat, air teh akan terasa hambar. "
" Baiknya adalah tahu sampai kapan daun itu harus terendam dan membuangnya. Agar air teh yang di hasilkan terasa segar dan nikmat. " Sambungnya.
Putra mahkota Nan menyesap tehnya. Anggun sekali gerakannya, terlihat sekali sangat menikmati acara minum tehnya.
__ADS_1
" Seperti halnya hidup ini. Jika kau terlalu lama memerintah suatu negara. Terkadang bukan semakin bagus, tapi semakin buruk cara memerintahnya. Dan pada akhirnya pihak yang paling menderita adalah rakyat. "
Diam sejenak, Putra Mahkota Nan kemudian melihat Sima Feng dengan tatapan serius.
" Kau pasti bisa menebak ke arah pembicaraan ini. " Tanyanya pada Sima Feng.
" Kau ingin menggunakan perang besok untuk menggulingkan Kaisar Nan saat ini. Apakah aku benar? "
Putra mahkota Nan mengangguk. " Tidak heran kau selalu memenangkan peperangan. Ternyata mudah bagi mu untuk membaca pikiran lawan. Kau memang benar, aku ingin menggulingkan Kaisar saat ini. Tapi tidak hanya dia, tapi juga kaki tangannya. Karena itu, aku ingin menggunakan kalian. "
********
Satu minggu berlalu setelah pertemuan rahasia itu.
Pasukan Jin sudah sejak lama tiba di perbatasan. Mereka bahkan sudah mengepung pintu masuk Kekaisaran Nan. Dan tidak butuh waktu lama hingga akhirnya pasukan Jin bisa merebut kota yang sebelumnya milik Kerajaan Nan tersebut.
" Yang mulia, pasukan Kerajaan Jin sudah tiba di kota perbatasan. Pertahanan kita di sana juga berhasil di lumpuhkan. Meski mereka tidak melukai warga sipil, tapi semua prajurit kita sudah mereka kalahkan. Tidak ada pilihan lain selain melepas kota perbatasan dan meningkatkan pertahanan di kota selanjutnya. "
" Saya tidak setuju Yang mulia. Kita harus merebut kembali kota kita. Jika kita melepaskannya, itu sama saja dengan kekalahan kita Yang mulia. "
" Apa menurut mu masih bisa kita merebutnya setelah kota tersebut di kuasai mereka. Jika kekuatan militer kita masih seperti dulu, itu bukan perkara sulit. Tapi faktanya, kekuatan militer kita juga sedang tidak baik-baik saja. "
perdebatan kedua menteri Kerajaan itu membuat Kaisar Nan dilema. Ia juga bingung dengan langkah yang harus diambilnya.
" Yang mulia, saran saya lebih baik kita melepas kota perbatasan dan fokus memperkuat pertahanan di kota selanjutnya. Selain presentase kemenangan jauh lebih besar kita juga harus melihat dana militer yang terus menipis. Pendapatan negara kian berkurang dan kebutuhan dana perang juga semakin besar. Jika perang terus berlangsung tanpa kemenangan. Saya yakin tidak butuh waktu lama untuk kas negara benar-benar kosong. "
Penjelasan panjang menteri pendapatan membuat semua menteri dan pejabat kini bungkam. Mereka seolah disadarkan akan fakta kurangnya pendapatan negara.
Setelah Kerajaan lain menghentikan kerja sama, sumber satu-satunya pendapatan hanya berasal dari pajak. Kesulitan ekonomi juga dirasa oleh rakyat karena buruknya hubungan Kerajaan Nan dengan Kerajaan lain. Itu membuat beberapa rakyat mendapatkan pembebasan pajak yang akhirnya berimbas pada berkurangnya pendapatan negara.
Semua seperti efek domino yang meruntuhkan satu persatu bangunan.
Kaisar segera memberikan perintah pada Jingu. Ia bergegas menuju kota dimana dirinya akan memimpin pasukan. Kabar jatuhnya kota perbatasan juga sudah sampai di telinganya.
" Apa kau sudah mendengar kabar putra mahkota? " Tanyanya pada pengawal pribadinya.
" Kabarnya, beliau sudah tiba di Kerajaan Shu pangeran. Sebelumnya, putra mahkota juga sempat mampir ke kota perbatasan Jin selama beberapa hari. Untuk alasan apa, saya masih belum tahu. "
Jika pengawal pribadinya saja tidak tahu, maka mata-mata ayahnya juga pasti tidak mengetahuinya. Jingu sedikit bersyukur, itu berarti sang kakak sudah berhasil bertemu dengan Sima Feng.
" Apa anda ingin saya mencari tahu apa yang di lakukan putra mahkota di sana Pangeran? "
" Tidak perlu. Saat ini lebih baik kita fokus pada perang ini. Aku tidak ingin ayah semakin murka jika kita mengalami kekalahan lain. "
Sementara di kota perbatasan, A Fei tengah sibuk mengobati para prajurit yang terluka. Keberadaan A Fei membawa dampak besar. Jika sebelumnya para tabib mengobati para korban dengan asal dan serampangan. Tidak setelah A Fei memberikan teguran keras pada mereka.
Bahkan A Fei tak segan-segan untuk menghukum tabib yang terbukti lalai dan justru mengambil kesempatan untuk melakukan penggelapan dana yang seharusnya untuk pembelian kebutuhan perawatan.
" Aku senang sekali, berkat tuan putri para prajurit yang terluka bisa mendapatkan pengobatan yang layak. Tidak seperti dulu, aku yang hanya luka kecil sampai takut mati karena begitu buruknya penanganan mereka. "
" Aku juga berpikir hal yang sama. Sekarang meski kita melawan prajurit musuh dan terluka parah. Aku tidak perlu khawatir lagi. Karena ada tuan putri yang mengobati kita dengan sangat baik. Membuatku semakin semangat untuk terus menekan musuh dan kembali ke ke keluarga kita secepatnya. "
" Benar. Ayo kita lebih semangat lagi bertarung dan secepatnya kalahkan mereka. "
Para prajurit yang terlibat obrolan itu tidak tahu bahwa Sima Feng tengah menguping pembicaraan. Pria yang jarang sekali tersenyum di depan orang lain selain keluarganya itu kini tengah melengkungkan bibirnya meski hanya sekilas.
Ling He melihat itu dan tahu jika sang tuan sedang bahagia karena mendengar pujian para prajurit untuk adiknya.
" Berikan daging pada mereka. Anggap ini sebagai pesta kemenangan pertama kita. " Sima Feng memberikan perintah.
Ling He segara menjalankan perintah putra mahkota Jin tersebut. Hal itu disambut suka cita para prajurit. Akhirnya mereka bisa menikmati makanan enak setelah kerja keras mereka.
" Apakah tidak apa kalian memberikan daging? aku pikir masih terlalu dini untuk merayakan kemenangan. " A Fei yang muncul di belakang Ling He berhasil mengejutkan jantung pria itu.
" Putri, anda membuatku terkejut. Tahukah putri, anda hampir membuat jantung ku berpindah ke tenggorokan. "
A Fei mencibir. " Ck.. itu berarti jantung mu sangat lemah, datanglah ke tenda ku dan aku akan memberimu obat kuat. "
Entah apa memang otak Ling He yang kotor atau memang kalimat A Fei yang aneh. Ucapan gadis itu terdengar ambigu di telinganya.
__ADS_1