Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 260 Side story ( A Guang story)


__ADS_3

Ada sedikit kelegaan saat A Hua ternyata tidak berniat untuk menyebarkan rahasia Na li. Dirinya justru tertarik ingin berteman dengannya.


Namun meski demikian, peringatan A Hua yang mengatakan bahwa tak selamanya rahasia bisa tersimpan membuat perasaan A Guang sedikit was-was. Karena sanksi karena menipu akademi tidaklah ringan.


' Apapun yang akan terjadi, aku akan melindunginya. ' Tekad A Guang.Masih belum menyadari akan perasaan yang ia rasakan pada teman sekamarnya tersebut.


Menurutnya bentuk perhatian yang ia berikan pada gadis itu sebatas karena ia temannya dan mereka tinggal bersama.


Setelah obrolan tersebut, tak terasa pesta perjamuan ulang tahun dan penyambutan utusan Kerajaan wei tiba.


Istana yang biasanya tampak tenang, saat ini begitu meriah.


Bahkan beberapa keluarga pejabat istana juga ikut di undang dalam perjamuan tersebut.


" Bu, bolehkan aku hadir sebentar saja. Aku sedikit tidak nyaman dengan keramaian ini. " Pinta A Guang pada ziyan.


Ziyan tahu dengan sifat putra sulungnya yang tidak menyukai perjamuan istana seperti ini. Karena itu ia tidak ingin memaksanya.


" Baiklah. Asal kau ada di sana saat perjamuan utama itu sudah cukup. "


A Guang memeluk ziyan. " Terima kasih bu. Kau memang yang terbaik. "


" Lepaskan istri ku. " Ucap sima rui tiba-tiba.


Melihat pawang ibunya datang. A Guang mengangkat tangannya seakan-akan dirinya menyerah.


" Ayah kau sungguh keterlaluan. Dia adalah ibuku. Tapi kau selalu memonopoli, sama sekali tidak membiarkan aku memeluk ibu. " Keluh A Guang pura-pura bersedih.


" Sebelum menjadi ibu mu, wanita cantik ini adalah istri ku. Jika kau ingin memeluk seseorang maka cepatlah menikah. Maka kau akan memiliki seorang istri yang bisa kau peluk dan tak melulu mengganggu istri ku. "


Jika sang ayah sudah menunjukan sikap kepemilikan pada istri tercintanya maka tidak ada tempat bagi A Guang untuk berdebat. Secara alami ia akan terusir dari dunia Kedua orang tuanya.


A Guang yang merasa terasingkan memilih keluar dari ruang ibunya. Ia berjalan tak tentu arah.


Tiba-tiba ia bertemu perdana menteri kerajaan, Jiang wu.


" Selamat siang Putra Mahkota. " Sapa Jiang wu.


" Selamat siang juga perdana menteri. Apakah kau datang lebih awal untuk menyambut urusan kerajaan wei? " Tanya A Guang.


Meski acara di adakan saat malam. Namun beberapa pejabat istana sudah banyak yang tiba mengingat acara penyambutan kerajaan wei yang sebentar lagi.


" Benar Yang mulia. Apakah anda juga akan mengikuti penyambutan itu? "


" Begitulah perdana menteri. Kalau begitu, mari kita bersama ke aula tengah. "


Kedua pria beda generasi tersebut akhirnya berjalan bersama menuju tempat penyambutan.


A Guang masih tidak menduga, bahwa ia akan bermusuhan dengan Jiang Jinfu. Sementara ia sendiri memiliki hubungan baik dengan ayahnya.


" Aku dengar perdana menteri memiliki putra yang berada di Akademi swasta. Bisa masuk ke sana membuktikan bahwa putra mu pasti sangat berbakat perdana menteri. "


" Anda terlalu memuji Yang mulia. Anak itu hanya anak biasa dengan kenakalan yang membuatku mengelus dada " Ujar sang perdana menteri berusaha merendah.


Meski sebenarnya ia sendiri masih tidak mengetahui perihal kelakuan putranya di Akademi. Ia hanya melihat putranya berkelakuan baik selama di rumah.


" Kabarnya anda juga masuk ke akademi swasta Yang mulia? Apakah rumor itu benar? "


A Guang tak ingin berbohong, jadi ia memutuskan untuk berkata jujur. Lagi pula ia tidak menggunakan marga sima di akademi. Jadi ia tak perlu khawatir jika indentitasnya terbongkar.


" Benar Perdana menteri. "

__ADS_1


" Sungguh? " Jiang wu tertawa. " Aku harap putra ku menjadi salah satu teman anda Yang mulia. "


A Guang hanya bisa tersenyum kaku menanggapi celetukan Jiang wu.


' Paman, harapan mu sepertinya mustahil. Bahkan putra mu hampir saja membuat ku cidera. ' Batin A Guang.


Keduanya tiba di aula dan tak lama terdengar pemberitahuan bahwa utusan kerajaan wei telah tiba.


A Guang bisa melihat ayah dan ibunya yang sudah duduk di singgasana masing-masing.


Ia berdiri bersama kedua adiknya yang juga ikut serta dalam penyambutan ini.


Keberadaan A Fei menjadi corak berbeda di aula. Keberadaan putri bungsu kaisar itu terlihat mempesona. Semakin bertambahnya usia, paras A Fei semakin cantik. Membuat para pejabat istana yang memiliki putra serempak mulai memiliki pikiran liar untuk menjadikan A Fei sebagai menantu mereka.


Utusan kerajaan wei mulai memasuki istana. Satu pria paruh baya dan satu lagi pria muda yang di yakini sebagai Pangeran kerajaan Wei, Li chenlan.


Keduanya memberi hormat setelah tiba di depan sima rui dan ziyan.


" Aku harap kalian menyukai perjamuan sederhana kami. " Ujar Sima rui.


" Kami hanya utusan dari Kerajaan kecil. Namun anda memberikan pesta perjamuan untuk menyambut kami. Sungguh sebuah keberuntungan bagi kami Yang mulia. " Ucap pria paruh baya yang merupakan menteri luar negeri Kerajaan wei itu.


Lalu sima rui beralih melihat laki-laki remaja di samping pria paruh baya itu.


" Kau pangeran Wei, Li chenlan? kerajaan Jin menyambut mu. Karena ini kunjungan resmi pertama mu datang kemari. Aku harap kau merasa nyaman berada di sini. "


" Terima kasih Yang mulia atas perhatian dan sambutannya. Kerajaan Jin begitu indah, saya yakin akan nyaman tinggal di sini. "


Mata A Fei tampak berbinar saat melihat chenlan. Meski terbiasa melihat ketampanan kakak dan ayahnya. Namun ia mengakui bahwa paras pangeran wei juga tidak kalah dengan mereka.


" Air liur mu menetes. " Bisik A Guang menggoda A Fei.


Buru-buru gadis itu segera mengusap sudut bibirnya.


" Auw. Kau galak sekali. " Pekik A Guang dengan suara lirih.


" Itu hukuman karena kau membohongi ku. "


A Guang terkekeh melihat wajah adiknya yang cemberut.


" Aku tidak berbohong. Kau melihat pangeran wei dengan tatapan lapar. Aku takut kau menganggapnya sebagai daging segar lalu menerkamnya. Seharusnya kau berterima kasih padaku karena sudah menyadarkan mu. "


" Apa kau pikir aku binatang buas kak? Aku hanya mengagumi wajahnya. Bahkan jika aku lapar, aku tak akan menurunkan harga diri ku untuk menerkamnya terlebih dulu. Aku selalu mengingat pesan Ibu yang selalu yang berkata jadilah wanita dengan harga diri tinggi. Agar laki-laki menghormati dan tidak merendahkan mu. "


Mendengar ucapan bijak sang adik, A Guang bertambah gemas. Tanpa sadar menarik pipi A Fei hingga gadis itu memekik kesakitan.


" Kalian berdua berhenti bercanda. Tidak kah kalian lihat bahwa ayah sedang berbicara. " A Feng menasehati kedua saudaranya.


" Itu bukan salah ku. Kak A Guang lah yang menggoda ku terlebih dulu. Mengatakan bahwa ada air liur di bibir ku. "


" Berhenti mengeluh, lihatlah ibu sudah memberikan tatapan peringatan pada kalian. " A Feng berkata dengan tatapan masih menghadap ke depan.


A Guang dan A fei melihat ziyan. Dan benar saja, sang ibu sudah memberikan tatapan tajam seolah berteriak pada kedua untuk menutup mulut mereka.


Keduanya kembali tenang dengan wajah menunduk.


Tanpa sadar, pandangan A Fei dan Chenlan bertemu.


Deg.


Jantung A Fei berdebar. Saat tatapan mereka bertemu seolah ada anak panah yang menancap tepat di jantungnya.

__ADS_1


" Kakak, sepertinya ada yang salah dengan jantung ku. " Lirih A Fei pada A Guang. Gadis itu meremas dadanya namun tatapan matanya masih lurus ke depan.


Melihat adiknya yang memegang dadanya. A Guang pikir gadis itu benar-benar memiliki masalah dengan jantungnya. Namun kembali ia menepis pikiran itu, mengingat adiknya yang kadang bersikap luar biasa konyol.


" Bukan jantung mu yang bermasalah. Tapi isi kepala mu. "


********


Akhirnya langit berubah gelap dan perjamuan ulang tahun anak kembar Sima akhirnya tiba.


A Feng tampak biasa masih dengan wajah lempeng nya, sementara A Fei tampak lebih antusias. Ia bahkan sudah merampok hadiah dari kedua kakaknya.


" Karena kau sudah mengambil hadiah mu. Bisakah aku melewatkan perjamuannya tuan putri? Kau tahu betul sehari dua perjamuan sungguh terlalu banyak untuk ku. " A Guang mengiba.


" Kau seorang putra mahkota, tapi kau jarang sekali tampil di depan publik. Orang-orang akan salah paham dan berpikir bahwa kau sudah di buang oleh ayah dan ibu. "


A Guang ingin sekali tertawa keras.


" Baiklah. Jadi bolehkah aku melewatkannya. "


Menghela napas, A Fei mengangguk.


A Guang memeluk sang adik yang kini sebentar lagi berusia empat belas tahun.


" Selamat ulang tahun. Aku harap kebahagiaan selalu menyertaimu. " Ucap A Guang tulus. Ia juga mengusap surai panjang A Fei.


" Terima kasih kak dan semoga kebahagiaan yang sama juga menyertaimu. Kita semua akan bahagia. "


" Ehem.. Bisakah kalian berhenti bertingkah berlebihan seolah ini adalah hari perpisahan. Hari ulang tahun seharusnya dilewati dengan bahagia bukan dengan adegan haru seperti ini. " Sela A Feng jengah dengan tingkah kedua saudaranya itu.


" Ayolah A Feng. Aku tahu kau iri karena kak A Guang hanya memberi ku hadiah dan juga doa nya. Jadi berhenti bertindak menyebalkan dan menganggap tingkah kami berlebihan. " Sungut A Fei tidak ingin kalah.


" Tidak. Aku seorang pria, dan seorang pria dewasa tidak menerima kado. Jadi berhenti menyamakan aku dengan mu. "


A Fei mencibir. " Usiamu bahkan tak lebih dari lima menit dengan ku. Dan kau sudah menganggap diri mu dewasa. "


A Guang merasa telinganya sudah mulai berdengung dengan pertengkaran kedua adiknya tersebut. Karena itu ia memutuskan untuk segera angkat kaki.


" Kalian lanjutkan. Aku akan pergi dulu. "


Gegas A Guang pergi meninggalkan keduanya.


A Guang yang berjalan menuju istana miliknya terpaksa melewati lorong yang tak jauh dari aula perjamuan.


" Sial! kenapa harus bertemu dengannya? " Gumam A Guang pelan. Ia merutuki nasib buruknya karena tanpa sengaja bertemu dengan seseorang yang baru-baru ini menjadi musuhnya.


" Hoh, lihatlah. Siapa ini? Tak di sangka orang biasa seperti mu bisa datang ke perjamuan istana. Apakah kau datang sebagai tamu atau diam-diam menyelinap. " Hina Jiang Jinfu.


Ya, seseorang itu adalah Jinfu. Tidak heran jika ia berada di perjamuan juga. Mengingat ayahnya adalah perdana menteri.


Mulut Jinfu masih saja pedas dan kotor. Menghina A Guang seolah dirinya orang rendahan yang tak pantas menginjak istana.


" Kenapa kau masih diam? apa kau tak pu- " Kalimat Jinfu terputus saat Jiang wu datang menyela.


" Jinfu sedang apa kau di sana. " Jiang wu belum menyadari keberadaan A Guang.


Saat Jiang wu berjalan semakin dekat. Barulah matanya menangkap sosok A Guang.


" Yang mulia putra mahkota? " Ucap Jiang wu tanpa sadar.


Dan sontak Jinfu menoleh dengan mata melotot, terkejut dengan panggilan yang baru saja keluar dari mulut ayahnya.

__ADS_1


" Siapa? " Jinfu dengan bodohnya masih bertanya. Sementara di sana hanya ada mereka bertiga.


__ADS_2