
Setelah seharian sibuk dengan urusan masing-masing. Seperti biasa baik ziyan dan sima rui akan berbagi cerita di ranjang sembari menunggu rasa kantuk. Begitulah pillow talk menjadi rutinitas baru mereka setelah menikah.
" Jadi pada akhirnya kau memutuskan menjadi penasehat ayahanda. " Sima rui menyimpulkan setelah mendengar cerita ziyan. Ia masuk ke dalam selimut menyusul ziyan yang sudah terlebih dulu berada di ranjang.
Ziyan menggeleng. " Bukan, tapi penasehat yelu. Meski sebenarnya dia tidak membutuhkannya. "
" Mungkin semua orang berpikir bahwa segala pencapaiannya tak lepas dari campur tangan keluarganya. Namun yang semua orang tak tahu bahwa dia lebih mampu dari yang terlihat. Hanya saja sifatnya yang tidak ingin menonjol membuatnya seperti permata yang terkubur dalam lumpur. " Sambung ziyan.
Sima rui mengusap kepala ziyan yang bersandar pada pundaknya. " Kau sudah bekerja keras. "
__ADS_1
" Aku tahu. " Kemudian ziyan menatap Sima rui. " Apa kau tak cemburu? menjadi penasehat yelu, secara otomatis akan banyak interaksi dengannya. " Tanya ziyan, mengingat bagaimana sifat suaminya.
Tidak ada jawaban, namun selang beberapa detik Sima rui memberikan tatapan lembut pada sang istri namun menyiratkan rasa posesif, sebelum akhirnya ia membuka mulutnya. " Jika mungkin, aku ingin sekali mengunci mu di kamar ini hingga hanya aku yang bisa melihatmu. Tapi aku sadar, jika aku melakukan hal itu kau akan membenciku. Kau menyukai kebebasan, selalu bekerja keras, dan identitas bos zi sangat mencerminkan kepribadian mu. Kau bahagia dengan semua yang kau lakukan. Itulah kenapa aku lebih memilih menekan rasa cemburu ku dari pada melihat istriku sedih. "
" Lagi pula... " Sima rui menjeda ucapannya sementara Ziyan mengangkat satu alisnya menunggu Sima rui melanjutkan dengan rasa penasaran.
" Aku tahu kau melakukan semua itu demi saudari mu, chufeng. Bagaimana pun memberikan status pada yelu juga berarti memberi manfaat bagi chufeng. " Ucap Sima rui dengan senyum kemenangan, seolah menegaskan pada sang istri bahwa ia mengetahui apapun yang dipikirkannya. Karena bagi Sima rui, ziyan adalah belahan jiwanya.
Ziyan terkekeh, " Pada akhirnya kau menyadarinya. "
__ADS_1
" Kau benar, itu memang tujuan ku yang lain. membuat Yelu memiliki kedudukan sehingga ia bisa menjaga chufeng. Hanya menjadi kaya tapi tidak ada kekuasaan itu tidaklah cukup. Apa yang aku pahami adalah bahwa orang miskin takut dengan orang kaya, orang kaya takut dengan orang yang memiliki kekuasaan. Namun dari semuanya, memiliki kekayaan dan kekuasaan adalah yang terbaik. " Jelas ziyan.
" Jadi pangeran, apakah menurutmu aku curang karena mengambil kesempatan dari permintaan Yang mulia? " Tanya ziyan. Ia masih tidak enak karena menolak permintaan sang mertua.
" Tidak. Kau tidak curang. Kau hanya berperut hitam (licik). "
Ziyan terkejut karena tanggapan Sima rui. Kedua sudut bibirnya kemudian terangkat. " Jika ada yang lebih berperut hitam maka aku bisa menunjuk dirimu. "
Jadi begitulah, alasan sebenarnya ziyan mengusulkan Yelu, selain karena kemampuannya. Tapi juga karena pria itu akan menjadi calon iparnya. Bagaimanapun ia harus bisa melindungi chufeng.
__ADS_1
" Baik, sekarang kita istirahat. " Ucap Sima rui sembari menarik istrinya ke dalam pelukannya. Ziyan bisa mendengar detak jantung Sima rui. Meski hanya suara jantung, namun hal itu menjadi alunan musik merdu di telinga ziyan dan membuatnya tertidur.
*******