
Setelah kekacauan besar yang diciptakan pasangan bibi dan keponakan itu. Istana kembali menjadi tenang setelah sebelumnya panas.
Sima shao yang awalnya ingin marah pada sang istri langsung kehilangan taringnya begitu Fu Xin justru memarahi balik tindakan Sima shao yang datang ke akademi. Ia memang membiarkan A Hua menyembunyikan identitasnya karena ziyan memang sudah mengatakan padanya.
lagi pula itu tidak buruk. Setidaknya tanpa status yang mengikuti mereka. Anak-anak akhirnya tahu mana saja yang tulus berteman dengan mereka.
Karena situasi sudah tak memungkinkan bagi A Guang dan A Hua untuk kembali ke akademi. Maka mereka memutuskan untuk mengeluarkan keduanya, itu juga sudah termasuk dalam isi kesepakatan mereka.
Meski sudah tampak damai, namun A Guang dan A Hua masih menikmati hukuman mereka. Menyalin kitab sebanyak seratus kali.
" Ini sudah lebih dari seminggu dan kita belum menyelesaikannya. " Keluh A Hua. Ia melempar kuas di tangan dan memijat pelan pergelangannya.
Ia merasa tangannya sebentar lagi akan patah jika terus menulis. Karena itu, A Hua akan menulis sebentar lalu istirahat lebih lama.
" Jangan menyebut kita. Karena aku hampir menyelesaikannya. " Balas A Guang acuh tak acuh dan masih fokus pada kertas tugasnya. Ia terus menerus menyalin akhirnya bisa menyelesaikan salinan yang ke seratus.
A Hua melihat hasil salinan A Guang dan tak tahan untuk tidak bersorak. " Wow, ini salinan mu yang ke seratus. Sungguh kau memang hebat Keponakan ku. Seandainya... "
" Tidak ada seandainya dan aku tidak akan membantu mu. " Potong A Guang cepat. Ia sudah bisa menebak apa yang akan di ucapkan A Hua.
A Hua mengerucutkan bibirnya dan berkata dengan kesal. " Kau sungguh apatis. Pantas saja Xu xiang pergi. "
A Hua yang berkata tanpa sadar langsung menepuk mulutnya begitu ia menyadari kesalahannya. Lalu bergumam maaf.
A Guang yang sempat berhenti sesaat, kembali menulis. Mencoba kembali fokus pada tugasnya.
" Tidak apa. Aku baik-baik saja. " Jawabnya seolah acuh tak acuh. Namun di dalam, ia merasakan kembali kesepian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
A Hua menatap sedih keponakannya tersebut. Ia benci perubahannya. Bagaimana tidak, A Guang sekarang jauh lebih pendiam dari sebelumnya. Ia juga semakin menutup diri. Memilih menghabiskan waktu dengan hal membosankan seperti belajar. Ia juga mulai membantu kakaknya menyelesaikan beberapa masalah kerajaan.
__ADS_1
Baru juga seminggu Xu xiang pergi. Dan manusia ini sudah berubah seperti mayat hidup.
Sorot matanya yang dulu hidup dan cerah pun seolah telah padam.
" Kau benar. Aku tidak perlu mengkhawatirkan mu. Paling parah, kau hanya akan menjadi pria kesepian. "
A Guang mengangkat kepalanya dan melihat wajah bibinya yang sedang cemberut. Lalu dengan datar berbicara.
" Dari pada kau sibuk memikirkan ku. Kenapa kau tidak fokus pada usaha mu membujuk kakek agar merestui kalian. Jadi guru Yan bisa secepatnya menikahi mu. Sudah seminggu berlalu dan kau masih belum bisa meyakinkan kakek. Apa kau sudah menyerah? "
" Itu bukan salah ku karena tidak ada kemajuan. Aku sudah berusaha keras sampai sini. Jadi jangan berpikir aku akan menyerah begitu saja. "
A Guang menatap A Hua dalam diam. Sesuatu seolah baru saja memukul alam bawah sadarnya seolah membisikkan padanya bahwa kejadian kemarin bukan sepenuhnya suatu kebetulan.
" Apa? kenapa kau menatap ku seperti itu? " Tanya A Hua cemas. Ia bisa melihat keraguan dari tatapan A Guang.
" Jie.. Katakan pada ku. Sebenarnya kejadian kemarin itu bukan karena kau terpeleset tapi karena kau dengan sengaja menjatuhkan diri. Apakah yang ku katakan benar? "
A Hua membuka mulutnya tercengang. Kemudian mengatupkan bibir atas bawahnya masuk kedalam.
Lalu dengan canggung ia berbicara. " Haha apa yang kau katakan, aku tidak mengerti maksud mu. "
" Berhenti mengelak bi. Aku tahu kau sedang berbohong. Lihatlah, kau selalu menggesek jari telunjuk dan ibu jari mu saat berbohong."
A Hua menghentikan gerakan jarinya, dan berdiri dengan tiba-tiba. Ia menatap A Guang dengan tatapan menyipit.
A Guang menatap bingung bibinya. Ia bersikap waspada takut jika wanita itu tiba-tiba mengamuk.
" Bibi mau apa? " A Guang bertanya saat A Hua berjalan ke arah meja miliknya.
__ADS_1
A Hua masih diam, saat tiba di depan meja, ia langsung duduk di kursi yang berada tepat di depan A Guang yang hanya terpisah oleh sebuah meja besar.
" Katakan padaku. Dari mana kau tahu hal itu? Apa kau sungguh-sungguh bukan peramal? kenapa kau selalu mengetahui apa yang coba ku sembunyikan. " Alih-alih marah padanya karena A Guang mengetahui rahasia besarnya, A Hua justru terlihat penasaran dengan hal lain.
A Guang memutar bola matanya. " Itu mudah bagi ku. Hanya sepotong kue. "
Lalu kembali berbicara serius. " Jadi sekarang, jelaskan pada ku kenapa kau sampai berbuat sejauh itu? "
A Hua menghela napas. " Aku hanya tidak sengaja memikirkan tindakan tersebut. Awalnya aku hanya ingin menarik perhatian Guru Yan, siapa yang menduga bahwa shenshen akan melihatnya dan tak lama hal itu di ketahui oleh guru luo. Bahkan setelah guru luo tahu, insiden itu justru semakin besar. Karena itulah saat di kantor kepala sekolah aku berpura-pura menangis agar aku terlihat seperti korban. "
Mulut A Guang menganga lebar. Sungguh ia tak pernah menyangka bahwa bibinya yang jujur bisa bertindak seperti penipu.
Ia memijat pangkal hidungnya, kemudian memberikan masukan. " Lain kali jangan lakukan hal aneh seperti itu lagi. Apa kau tak memikirkan dampak setelahnya. "
" Iya maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi. Lagi pula guru Yan juga sudah berniat ingin menikahi ku. Jadi tidak ada alasan bagi ku untuk mengulang. "
A Guang menyipitkan matanya, terganggu dengan kalian A Hua. " Jadi jika masih ada alasannya, kau akan tetap melakukan tindakan bodoh itu?
A Hua segera menggeleng cepat. " Tidak. Tidak akan. Kau tenang saja. "
" Jadi.. " A Hua kembali berkata, memasang wajah penuh senyum. Tapi senyum tersebut tampak menakutkan bagi A Guang.
Jadi ia segera berbicara. " Hentikan senyum mu. Aku tahu apa yang kau inginkan. Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun juga. "
A Hua senang, dan tak tahan memberikan sebuah pelukan untuk keponakan kecilnya itu. Lalu pergi keluar meninggalkan tugasnya yang belum selesai.
Sendirian, A Guang masih sibuk dengan tugasnya. Namun pikirannya entah sudah melanglang kemana.
Saat sepi seperti ini, ia akan terus mengingat tentang kepergian Xu xiang. Awalnya ia tidak terlalu kehilangan, tapi setelah beberapa rasa itu semakin kuat dan membuatnya sesak.
__ADS_1