Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 426 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

" Astaga... " A Fei mengerang kesal. Drama apa lagi ini. Baru juga dirinya selesai berdoa, bukannya mendapat ketenangan, ini justru kembali mendapat keributan.


Sementara semua orang kini sedang menatap A Fei curiga seolah ia adalah pelaku pembunuhan.


Jinfu, pria itu masih diam. Tidak percaya, jika wanita yang disukainya itu mendorong Bai Fulan. Tapi ada juga sedikit keraguan mengingat sikap A Fei yang kadang bersikap keras.


" Kak Jinfu, apa kau percaya dengan ucapan pelayan itu? " A Fei bertanya. Ia penasaran akan respon pria itu. Memilih percaya atau ikut mencurigainya.


" Aku.. " Ragu, Jinfu tak tahu harus berkata apa.


Satu sudut bibir A Fei naik, sudah tak perlu lagi di katakan. A Fei tahu pria itu juga meragukannya.


Meski kecewa, A Fei akhirnya sadar bahwa Jinfu bukan pria yang baik untuknya. Jadi keputusannya untuk menjaga jarak sudah tepat.


Di balik wajahnya yang bersembunyi di dada Jinfu, Bai Fulan tersenyum tipis. Akhirnya ia bisa membuat hubungan mereka renggang. Setelah ini, ia akan membuat Jinfu membenci A Fei.


Bahkan sebenarnya tanpa Bai Fulan melakukan apapun, hubungan A Fei dan Jinfu sudah tidak lagi sama. Seolah ada jarak tak kasat mata yang memisahkan keduanya.


" Jangan katakan apapun. Aku tahu apa yang kau pikirkan Kak Jinfu. " Ia tersenyum tipis. Jelas sekali rasa kecewa di balik senyum itu.


Kaki A Fei kemudian berjalan ke arah pelayan Bai Fulan. Berdiri tepat di depan wanita yang sejak tadi sedang bersujud padanya.


" Angkat kepala mu. " Suara A Fei begitu menekan. Pelayan Fulan merasa tubuhnya gemetar.


Hanya suara saja mampu membuatnya gemetar. Bagaimana jika ketahuan dirinya berbohong. Membayangkan saja sudah membuat punggungnya mengeluarkan keringat dingin.


Deg!


Pupil mata pelayan Bai Fulan bergetar saat melihat wajah dingin A Fei.


" Katakan pada ku. Apa kau melihat ku mendorongnya? "


Pelayan itu kembali menunduk takut, berpikir apa yang harus ia jawab. Ia ingin berkata jujur tapi takut dengan hukuman keluarga Bai. Tapi jika ia berbohong, ia akan di hukum oleh Kaisar karena sudah memfitnah anggota kerajaan.


" Lihat aku! katakan yang sebenarnya. Apa kau melihat sendiri bahwa aku mendorong nona mu? " Sentak A Fei. Semakin ketakutan pelayan Bai Fulan.

__ADS_1


" I-itu.. Maaf.. saya tidak melihatnya dengan jelas. " Akhirnya pelayan Bai Fulan putuskan untuk tidak memilih keduanya.


A Fei mendengus, " tidak melihatnya dengan jelas tapi tadi kau mengatakan dengan begitu lantang seolah kata-kata mu menunjukkan bahwa aku sudah mendorongnya. Siapa di sini yang ingin coba kau bodohi? "


Melihat ketakutan pelayannya, Bai Fulan maju. Ia sampai berjalan merangkak dan menyentuh kaki A Fei.


" Putri, tolong jangan desak pelayan ku. Ia pasti begitu ketakutan sampai ucapannya menjadi tidak jelas. Mari kita anggap semua tidak terjadi dan kau tidak mendorong ku. "


Ha.... A Fei membuang napas frustasi. Wanita ini benar-benar bermuka dua, sangat cocok berdiri di atas panggung opera.


" Mendengar ucapan mu, secara tidak langsung kau baru saja mengatakan bahwa aku mengancam dan memaksanya? dan apa kau bilang tadi, anggap tidak terjadi dan aku tidak mendorong mu? Ck... Kau terlalu palsu nona Bai. "


" Tidak, bukan itu maksud ku. " Bai Fulan kini menangis dengan air mata tertindas.


Ah air mata. Apa perlu dia sampai menangis begitu tersedu seolah ia baru saja menindasnya. A Fei semakin muak melihat drama Fulan ini.


" Omong kosong. Jelas-jelas kau mengatakan seperti itu. Dengar nona Bai, aku tidak tahu apa motif mu memfitnah ku mendorong mu. Tapi satu hal yang harus kau tahu, jika aku benar-benar ingin mendorong dan membunuh mu. Aku tidak akan dengan bodoh melakukannya sekarang. Aku akan memilih mengajak mu bertemu berdua lalu diam-diam mendorong mu. " Sekalian saja A Fei mengatakan jalan pikirannya.


A Fei kemudian berbalik dan hendak melangkah pergi. Samar ia mendengar anak kecil merengek pada ibunya.


Bai Fulan mendadak panik. Mungkin dia tidak mengira bahwa ada orang yang melihat sandiwaranya.


" Anak kecil, kau jangan berbohong. Kau masih kecil tapi kenapa ucapan mu penuh kebohongan. " Bai Fulan benar-benar memojokkan anak itu. Tidak peduli jika sikapnya itu bisa menjatuhkan mental sang anak.


" Aku tidak berbohong dan aku juga bukan pembohongan. " Jerit anak itu, mata jernihnya mulai berkaca-kaca hingga akhirnya tumpah juga air matanya. Anak itu menangis.


" Sayang, apa kau benar-benar melihat kakak ini melompat dan bukan di dorong? " Sang ibu mencoba bertanya. Tak tahu dia, A Fei di belakang mendelik begitu mendengar ucapannya.


" Tidak bu. Aku melihatnya dengan jelas, dia melompat sendiri. " Kekeh anak kecil itu, tak mau pernyataannya di anggap salah.


" Kau.. " Bai Fulan ingin menggertak anak kecil itu lagi. Tapi urung saat melihat A Fei mendekat.


A Fei berdeham, ibu dan anak itu menoleh. Sang ibu melotot karena terkejut. Mungkin ia merasa tak enak karena baru saja secara tidak langsung ikut menuduhnya mendorong Bai Fulan.


Mengabaikan sang ibu, A Fei berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan anak tersebut.

__ADS_1


" Anak kecil, apa kau melihat dengan jelas kakak itu melompat dan bukan di dorong atau tersenggol? " Tanya A Fei. Lemah lembut ia bertanya pada anak kecil itu. Mengusap pipinya yang terdapat jejak air mata.


Dengan wajah polos, dia mengangguk. " Aku melihatnya sangat jelas. Badannya miring lalu terjatuh. " Bahkan anak itu memperagakan bagaimana Bai Fulan terjatuh. Membuat beberapa orang yang menonton tertawa karena tingkah anak itu.


A Fei terkekeh lalu membantu anak itu bangun dan membersihkan bajunya yang terkena tanah.


Kini orang-orang melihat ke arah Bai Fulan dengan tatapan aneh. " Tidak. Jangan dengarkan anak ini. Aku yakin dia salah satu anak yang dia perintahkan untuk berbicara seperti itu. "


Paniknya dia hingga tanpa sadar berbalik menuduh A Fei.


A Fei yang di tuduh seperti itu terlalu malas untuk menimpali. Dia hanya menggeleng karena tanpa ia menjelaskan pun kini orang-orang mulai melihat wajah asli Bai Fulan.


" Putri, bukankah sudah ku katakan kita anggap saja tidak terjadi apa-apa. Tapi kenapa kau justru berbohong dan membuat seolah aku mencoba memfitnah mu. "


Bai Fulan kembali mengeluarkan air matanya membuat dirinya terlihat semakin menyedihkan.


A Fei menarik napas dalam lalu berkata. " Dengar nona Bai. Silakan kau lanjutkan drama mu sendiri. Aku ingin pulang dan tidur. "


Baru beberapa langkah, A Fei berhenti. Tanpa menoleh ia berkata lagi. " Kau mungkin tidak sadar tapi semakin kau banyak berbicara. Secara tidak langsung kau membuka kebohongan mu sendiri. Sesuai keinginan mu, kita anggap semuanya tidak terjadi."


A Fei pergi begitu saja. Jinfu ingin menyusul tapi baru ingat jika pakaiannya basah. Jadilah ia pulang meninggalkan Bai Fulan sendiri.


Sudah seharian kesal karena tingkah Bai Fulan, ingin rasanya A Fei segera merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Tapi niat itu urung begitu ia melihat salah satu bawahan A Feng datang.


Intuisinya berkata bahwa ia harus mengikuti. Jadi dengan rasa penasaran yang begitu besar, ia memutuskan untuk menguping.


" Putri tolong jangan lakukan ini. Pangeran pasti marah jika tahu kita berniat menguping pembicaraan. " Khawatir Xiao Er akan kemarahan A Feng.


" Kau tunggu saja di sini kalau begitu. Biarkan aku melakukannya sendiri. "


" Tapi.. " Tidak peduli dengan protes Xiao Er. A Fei melanjutkan kembali.


" Jadi kakakku masih hidup? apa kau yakin? " Ucapan itu berhasil membuat tubuh A Fei seketika membeku.


' Kakak? siapa kakak yang di maksud oleh A Feng? ' Batinnya bertanya.

__ADS_1


__ADS_2